
Setelah begitu panjang waktu saat kita berdua berjalan jalan didalam wisata akuarium, kami pun pergi kedalam toko suvenir yang menjual banyak sekali suvenir dengan bentuk hewan hewan laut seperti tempatnya.
Terdapat topi berbentuk hiu, ikan pari, kerang dan lainnya, hingga ada beberapa aksesoris seperti kalung, cincin, kacamata, yang memiliki bentuk hewan lautnya.
"Aoyama, lihat... yang ini sangat bagus bukan?." Sambil menunjuk bantal leher berwarna biru dengan kepala anal hiu yang terlihat menggemaskan.
"Menurutku iya..."
"Aku ingin membeli dua deh... tetapi aku tidak ingin membeli yang bentuknya sama..."
"Bagaimana dengan yang ini?."
Aku membantunya memilih dan menunjuk bantal leher berbentuk seperti ikan Nemo.
"Warnanya terlihat sangat bagus... kalau begitu aku akan mengambil yang ini juga.."
Belum selesai dengan yang itu, dia pun berjalan ketempat yang lainnya.
"Uwah! bonekanya sangat lucu!."
"Sepertinya aku ingin membelikan untuk Mai, yang ini...." Aku mengambil boneka ikan pari berwarna biru dan ukurannya pun tidak terlalu besar.
"Aoyama! aku akan membeli yang ini.." Wajahnya menunjukkan begitu antusiasnya dia ingin membeli boneka tersebut.
Tetapi aku langsung terkejut karena boneka yang ingin dia beli besarnya setengah dari tubuhnya, dengan boneka lumba lumba sebesar itu aku penasaran dimana dia mengambilnya.
"Kau yakin ingin membeli ini?."
"Y-Yah... aku hanya ingin boneka yang bisa aku peluk... j-jadi lumba lumba ini sangat besar dan lembut..."
"Kalau kau ingin itu, aku tidak melarangnya."
"Apa kamu sudah membeli sesuatu?."
"Hanya untuk Mai saja... aku yakin dia menyukainya..."
"Begitu ya.."
"Kau masih ingin membeli yang lain?."
Dia menggelengkan kepalanya karena tangannya sudah terlihat penuh dan tidak bisa membawa barang lain lagi.
"Aku sudah cukup kok."
"Kalau begitu langsung saja kita ketempat kasirnya."
"Um."
Begitu aku berjalan, aku melihat ada aksesoris kecil yang berada diujung rak dan aku memikirkan sesuatu dan ingin membelinya.
"Yuuki, maaf, kau duluan saja... aku ingin membeli sesuatu yang aku lupakan."
"Benarkah? apa ingin aku temani?."
"Tidak usah, daripada antriannya menjadi panjang... kau duluan saja."
"Kalau begitu baiklah... aku tunggu didepan jika sudah selesai."
"Ya."
Dia pun pergi duluan ketempat pembayaran dan aku pergi untuk mengambil sebuah aksesoris yang ingin aku beli untuk seseorang.
......................
Beberapa menit kemudian aku pun selesai membayar belanjaanku, lalu aku segera keluar dan mendekati Yuuki yang duduk ditempat bangku umum.
"Maaf menunggu lama."
"Tidak apa apa... apa sekarang kita akan pulang?."
Aku melihat jam didalam ponselku yang sudah menunjukkan pukul 16.20 dan langit sudah mulai gelap.
"Tempat ini tutup empat puluh menit lagi... dan juga sudah sore... sebaiknya kita pulang saja."
"B-Benar juga... lebih baik kita pulang."
Lalu kami berdua selesai berjalan jalan disana dan lanjut berjalan pulang kerumah yang harus menaiki kereta karena jaraknya yang sedikit jauh dari daerah tempat tinggal kita.
Saat kita berdiri didalam kereta karena tempat duduk sudah terlihat penuh, aku melihat Yuuki yang sepertinya keberatan dengan barang bawaannya.
"Apa aku saja yang membawanya?."
"T-Tidak usah, aku masih sanggu-."
Pada saat itu tiba tiba kereta mengerem dan membuatnya yang tidak berpegangan dengan apapun hampir ingin terjatuh.
Tetapi aku langsung menahannya dengan tanganku untuk menahan punggungnya.
"Kau tidak apa-apa?."
"M-Maaf, aku sedikit terkejut...."
"Berikan itu padaku... kau tidak bisa berpegangan dan nantinya akan jadi bahaya."
Karena perkataanku ada benarnya, dia pun memberikan barang bawaannya untuk aku pegang... aku masih bisa memegang dua tas bawaan dengan satu tangan agar tangan satunya untuk berpegang pada pegangan kereta yang berada diatas.
Tetapi tetap saja tangan dia tidak sampai untuk mencapai pegangannya, karena dia sudah berusaha menggapainya tetapi itu terlalu sulit karena tangannya harus lurus agar bisa memegangnya.
"Kalau kau tidak keberatan pegang saja lenganku."
"Eh? t-tidak perlu... aku bisa."
"Apa kau kuat bertahan dengan posisi seperti itu sampai stasiun tujuan?."
"Ya... aku usahakan.."
"Jangan keras kepala, jika kau jatuh aku juga yang repot.." Aku menawarkan lenganku yang memegang pegangan itu.
"K-Kalau begitu."
Dia pasrah dan pada akhirnya dia memegang lenganku meskipun terasa memegangnya begitu pelan.
Aku tidak memikirkan itu asal dia tidak terjatuh saat ada guncangan dari keretanya.
......................
Kami berdua berjalan ditengah perumahan yang langitnya sudah gelap gulita dan hanya cahaya dari lampu jalan yang menyinari kami berdua...
Disana terlalu sunyi bahkan aku bisa mendengar bunyi sepatu kita yang berjalan diatas jalan beraspal, dan juga angin malam yang dingin berhembus melewati telingaku.
"Terima kasih..."
"Ha?."
Tiba tiba dia mengucapkan terimakasih yang membuat aku seketika kebingungan.
"Kamu sudah ingin menemaniku bersenang senang hari ini... terima kasih."
"Sudah berapa kali aku mendengar kata-kata itu darimu?."
"L-Lalu apa yang harus kukatakan selain terimakasih? kamu memang benar-benar m-membantuku kok..."
"Dari awal ini adalah tugas kelompok kita... meskipun pada akhirnya tidak berjalan seperti itu, tapi aku juga merasa lumayan bersenang-senang.."
"Oh iya! aku lupa memberikanmu ini."
Dia mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
Dan ternyata itu adalah sebuah foto yang sudah dicetak oleh orang yang memfoto kita saat disana.
"K-Kau meminta cetakannya??."
"H-Hanya sekalian saja... daripada terbuang sia sia..."
Saat aku melihat beberapa dari foto itu, aku merasa itu bukanlah diriku... sampai pada saat aku melihat sebuah foto yang tidak aku ketahui kapan dia memotretnya.
"Ini... kenapa ada foto saat aku mengenakan topeng gurita??."
"O-Oh itu... a-aku juga tidak tahu, tiba tiba orang itu memberikanku ini... mereka pikir... kamu sedang melakukan suatu hal... yang r-romantis."
"Kenapa jadi terlihat begitu salah paham? huh..."
Ternyata orang itu juga memotret saat aku yang berusaha sedang membuat Yuuki kembali dari perasaan merasa bersalahnya... aku berpikir bagaimana caranya dia bisa memotret kejadian itu?.
"Kupikir... sebaiknya kau saja yang menyimpan itu... tentu saja terserahmu ingin melakukan apa dengan foto foto ini."
"Eh? kamu tidak ingin mengambil beberapa?."
"Sebenarnya... aku merasa melihat diriku yang berbeda, dan itu terlihat... agak seperti... sulit dijelaskan."
Begitu melihatku yang berbicara terbata bata, dia tertawa sambil menutup mulutnya.
"Ada apa? kenapa kau tertawa?."
"T-Tidak... hanya saja... ternyata seorang Aoyama bisa merasa tidak nyaman melihat foto dirinya sendiri..."
"Berisik..."
"Hm~ kamu ingin melihat beberapa? disini terlihat bagus."
"Tidak, singkirkan semua foto itu dari wajahku."
"Ayolah, melihatnya sedikit saja."
"Tidak."
Dia mencari-cari foto yang menurutnya lebih bagus lagi untuk menjahiliku, tapi dia langsung terkejut saat melihat salah satu foto dan langsung menyembunyikannya dibelakang punggungnya.
"Ada apa?."
"T-Tidak... tidak ada apa apa!."
Wajahnya terlihat memerah seperti tomat.
"Apa kau menyembunyikan sesuatu?."
"T-Tidak! aku tidak menyembunyikan apa apa!."
"Sepertinya ada foto yang tidak ingin kau perlihatkan padaku... apa itu foto jelekmu?."
"..."
Dia hanya diam dan melihat kearah lain.
"Berikan foto itu, aku ingin melihatnya."
"F-Foto apa?? aku tidak... mengerti."
"Kau mencoba mengelak... jadi benar kau menyembunyikan sesuatu."
"S-Sudahlah, tidak ada apa apa juga kok! sebaiknya kita bergegas pulang.."
Dia langsung berjalan sedikit lebih cepat meskipun wajahnya sangat merah.
"Apa itu... tidak adil sekali.."
Lalu akhirnya kita berdua sampai dirumah, dan kami berdua berpisah hingga bertemu kembali pada esok hari...
.
.
.
"Ahh! kenapa ada foto itu?! kenapa orang itu memotretnya?! kenapa jadi seperti ini?!."
Dia berguling guling diatas kasurnya sambil memegang salah satu foto yang saat tadi dia sembunyikan.
Dia melihatinya begitu lama dan lama kelamaan wajahnya memerah kembali dan menutup wajahnya dengan bantal.
"Aahh bodoh! sangat bodoh! kenapa aku harus menyembunyikannya?! Yuuki, kamu sangat bodoh!."
Foto yang ia sembunyikan itu adalah foto dimana saat dia memeluk Aoyama saat dia begitu senang hingga terbawa suasana... foto itu sangat jelas dan dengan sudut pandang yang sangat bagus... hingga foto itu terlihat seperti sebuah pasangan yang begitu romantis... maka dari itu Yuuki benar benar menyimpannya dengan aman dan tidak jadi membuangnya...