
"Aku rasa, apa yang sudah dipersiapkan oleh mereka sudah begitu cukup untuk semua kelas, apalagi akan ada tambahan dari setiap murid yang akan membawa perbekalan mereka sendiri... untuk kekurangannya kita masih memiliki dana tabungan dari setiap kelas yang sudah disisipkan dan dikumpulkan dengan jumlah yang sudah lebih dari cukup."
"Aku mengerti dengan apa yang kamu katakan... tetapi tempat wisata yang akan kita kunjungi memiliki beberapa titik wisata fasilitas yang akan dikunjungi, namun karena banyaknya murid yang ikut, kapasitas dari fasilitas tersebut tidak akan bisa mencakup semuanya."
"Maka dari itu, kita akan membagi setiap murid minimal lima atau enam orang agar kita bisa bergantian masuk kedalam wisatanya."
"Kalau seperti itu, kita akan kekurangan waktu."
"( Ketua OSIS yang satu ini sangat merepotkan... setiap ide yang sudah aku berikan selalu dibantah dengan alasan yang tidak perlu dipermasalahkan... lagipula kenapa dia mengatakan semua ini kepadaku? aku hanya salah satu dari beberapa ketua pengawas, dan juga aku pun bukanlah seorang ketuanya...)"
Hari libur yang harusnya bisa aku nikmati, tetapi aku masih harus mengurus berbagai hal yang akan disiapkan saat acara wisata sekolah tersebut, hal itu sangatlah merepotkan untukku, tapi tidak ada pilihan lain selain pasrah akan keadaan.
Dan hasil dari perbincangan diriku dengan ketua OSIS didalam telepon akhirnya berakhir dengan suatu kesepakatan dan dia akan memverifikasi kembali dengan yang lainnya..
Aku adalah tipe orang yang hanya bisa membantu berbagi ide dan cara dalam suatu masalah, tanpa mengeksekusi langsung hal itu...
Menurutku bekerja dibelakang panggung lebih mudah daripada didepan panggung... karena aku tidak akan sanggup bersikap aktif dan terlihat membawakan sebuah hal yang bisa dinikmati semua orang...
Lebih baik menutup diri dengan mengerjakan hal hal yang menurut mereka merepotkan, tetapi menurutku itu adalah pekerjaan yang cocok untuk diriku ini...
"Padahal banyak hal yang ingin aku lakukan sekarang... tetapi rasanya begitu malas.."
Saat aku ingin bermain game, rasanya begitu membosankan hingga aku tidak ingin memegang ponselku kembali.
Aku sempat memikirkan Sakura yang dari kemarin tidak menghubungiku setelah dia pergi bersama teman temannya.
Dan beberapa saat kemudian, aku kembali teringat kejadian kemarin saat apa yang Yuuki katakan kepadaku, dan saat dia tiba tiba melakukan hal seperti itu lalu memberikan perasaannya padaku tanpa meminta sebuah jawaban.
Aku memikirkan semua itu saat sedang menuju ke kamar mandi, dan pada saat itu aku sama sekali tidak melihat sekitarku sehingga aku tidak sengaja menginjak sabun yang entah mengapa berada dibawah lantai lamar mandi, sehingga aku terjatuh dan kepalaku terbentur dengan tembok.
"Aduh duh! sakit sekali!."
Karena terlalu banyak melamun, aku menjadi mengalami kecelakaan yang tidak terduga...
Aku kembali bangkit dan mencoba untuk meredakan sakitnya dengan berdiri diam, tetapi kepalaku masih terasa begitu pusing.
"Kenapa menjadi sangat pusing seperti ini..."
Aku berencana untuk kembali kedalam kamarku untuk beristirahat, dan berbaring sebentar agar bisa kembali membaik...
Tetapi kepalaku justru semakin pusing dan sakit hingga jalanku terhuyung-huyung... aku yang hampir kehilangan keseimbangan saat masuk kedalam kamarku, langsung menahan diriku dengan memegang meja belajarku...
Salah satu tanganku yang masih memegang kepalaku yang kini semakin lama semakin sakit.
*Clek!
Aku memegang sesuatu benda diatas meja, dan saat aku lihat, benda itu adalah sebuah liontin yang terdapat sebuah foto didalamnya.
"..."
"Kakak!."
"..!."
Sebuah suara terdengar didalam kepalaku, dan aku langsung terdiam untuk menenangkan diriku.
"Aoyama.."
"..."
Suara suara itu kembali terdengar didalam kepalaku, dan kepalaku kembali merasakan rasa sakit yang amat mendalam.
"Ugh..."
Kesadaranku perlahan mulai menghilang, dan tubuhku terasa begitu berat hingga aku terjatuh sebelum sampai diatas tempat tidurku.
"..."
Dan aku pun kehilangan kesadaranku sepenuhnya hingga entah sampai kapan aku mengalami pingsan seperti ini.
......................
Dulu... aku adalah seorang anak yang begitu ceria...
Aku sangat menyukai bermain dengan banyak teman-teman yang aku punya... begitu juga aku sangat menyayangi adikku yang selalu mengikutiku saat aku bermain...
Ibuku selalu menemaniku disaat apapun yang ingin aku lakukan... sambil menjaga adikku, dia selalu bermain bersamaku entah sampai kapan hingga aku tertidur pulas didalam pelukannya.
Seringkali saat adikku menangis, aku selalu berusaha untuk menenangkannya agar tidak mengganggu ibuku saat dia sedang memasak maupun hal lainnya.
Aku selalu dibanggakan oleh kedua orang tuaku, ayahku pun selalu memberikanku dan adikku hadiah setiap kali dia pulang..
Namun semua kenangan itu telah menghilang tanpa adanya jejak didalam sebuah ingatan yang kini telah hidup selama beberapa tahun...
Sejak kecelakaan itu...
Aku seperti diberikan sebuah kehidupan yang baru dan tidak pernah aku rasakan...
Setiap harinya diriku ini terus dipenuhi oleh sebuah hal yang selalu mengganggu pikiranku...
Aku tidak bisa berbicara dengan teman temanku, bermain dengannya, bahkan memberikan sebuah ekspresi yang seharusnya seorang anak harus memilki sebuah kebahagiaan dalam hidupnya..
Hening dan sunyi...
Bahkan aku tidak bisa merasakan hembusan angin disekitar tubuhku...
"Apa ini? aku sedang berada dimana??."
Aku berkeliling dengan rasa panik yang terus menerus mengganggu pikiranku.
Berlari, berjalan, bahkan berdiam diri pun tidak ada yang berubah...
"Aku dimana??! tolong!!."
Aku berteriak ditengah ruangan yang begitu gelap, aku tidak bisa menemukan ujungnya.
"Kamu mengecewakanku..."
"..!"
Aku berbalik menuju suara yang terdengar masuk kedalam telingaku.
Sosok anak kecil yang wajahnya begitu mirip denganku...
"S-Siapa kau?."
"Aku adalah dirimu... dirimu yang sebenarnya."
"Apa maksudmu...?"
"Aku adalah ingatan yang sudah kamu lupakan..."
"..."
"Bagaimana kamu bisa hidup setenang itu... selama ini... apa yang telah kamu rasakan."
Aku terdiam seakan menatapi sebuah keburukan yang sampai kini tidak pernah aku sadari.
"Siapa dirimu sebenarnya..."
"Hentikan..."
"Apa yang sudah kamu lakukan hingga tidak bisa mengingat semua itu."
"Kumohon... hentikan..."
"Bagaimana kamu memilih takdirmu.."
"Tidak...berhenti berbicara kepadaku!."
"Bagaimana caranya... kamu bisa hidup tanpa memikirkan apapun yang telah mengikuti dirimu dari belakang.."
Aku sudah tidak kuat dan kedua tanganku mencoba untuk menutup telingaku agar aku tidak mendengar perkataannya.
"Kenapa kau harus mengingatnya kembali..."
Kini sebuah suara yang begitu mirip dengan diriku, terdengar tepat dibelakangku.
Sebuah sosok diriku yang sekarang.. aku seperti melihat diriku sendiri didepan cermin.
"..."
"Hidupmu yang sekarang sudah berjalan lebih baik bukan?."
"..."
"Kau telah menemukan banyak hal yang merubah hidupmu hingga sekarang ini... kau masih memiliki sebuah tanggung jawab."
"..."
"Dia menunggumu."
"Dia menunggumu."
Secara bersamaan, suara mereka mengepung diriku yang sudah tidak ingin mendengarnya lagi.
"Siapa yang akan kau pilih."
"Siapa yang akan kamu cari."
Aku mengerti jika diriku sudah berada ditengah-tengah sosok diriku yang memiliki perasaan yang berbeda...
Aku hanya ingin hidup seperti manusia manusia yang menjalani setiap pekerjaannya dengan damai dan bahagia...
"Maka dari itu... aku akan mengakhiri semua ini, aku akan..."
"Pilihlah!."
"Carilah!."