My Youth Bond Increase!!

My Youth Bond Increase!!
Chapter 59



Dibawah langit biru, diatas bukit rumput hijau dengan angin yang berhembus pelan terasa sejuk.


"Bagaimana? tempat ini sangat menenangkan bukan?."


"Kau benar... rasanya tidur disini juga tidak buruk."


"Hahaha, kalau mau tidur saja... aku sudah berkali-kali tidur disini." Sambil menjatuhkan badannya diatas rumput hijau yang sangat nyaman.


"Tidak ada yang menegurnya?."


"Tidak ada tidak ada... ini adalah taman kosong... kita juga tidak merusaknya... hanya menidurkannya... kau juga tiduran saja disini."


Sesaat aku merasakan seluruh tubuhku seperti sangat ringan... suara rumputnya yang bergoyang karena angin... sangat menenangkan.


"Terpukau kan? saat pertama kali aku kesini... aku juga merasakan hal yang sama sepertimu sekarang."


"Disini sangat menyejukkan... bagaimana kau bisa menemukan tempat ini?."


"Hm... sudah lama sekali jadi aku sedikit lupa... intinya tempat ini adalah tempat saat aku dan Sakura bertemu pertama kali saat kecil."


"Senki... aku sudah penasaran selama ini... apa kau menyukai Sakura?."


"Eh? bagaimana kau tahu?."


"Kau sangat buruk sekali menyembunyikan niatmu bodoh."


"Akkhh aku tidak ingin pergi sekolah lagi..."


"Aku tidak akan memberitahukan kepadanya... aku bukan orang yang mudah berbicara kau tahu?."


"Aku percaya padamu...hehe."


Kami berdua berbaring sambil menatap birunya langit dengan hiasan awan awan putih yang terlihat lembut.


"Kau tahu... sejak dulu aku dengannya selalu bersama... kami berdua seperti layaknya saudara adik kakak... dulu aku sangat senang mengenalnya... entah kenapa lama lama aku merasakan perasaan yang lain seiring waktu kita bersama... di satu sisi aku ingin memilikinya... tapi di satu sisi yang lain aku takut merusak hubungan kita... dan itulah mengapa aku masih tidak berani mengatakannya."


"..."


"Seandainya saja aku mempunyai keberanian... mungkin aku bisa merasakan sebuah kebahagiaan yang tidak terkira dari dulu... aku ini memang pengecut, dan seorang yang hanya bisa berharap tanpa melakukan."


"Kau sama sekali bukanlah seorang pengecut... kau menahan perasaanmu untuk menjaga hubungan baikmu dengannya... kau sudah melakukan hal yang baik... kau tidak ingin kehilangannya kan?."


"Jelas aku tidak ingin kehilangannya!."


"Kalau begitu, aku akan menunggumu dan mendukungmu hingga kau bisa menyatakan perasaan padanya."


"Aoyama... terima kasih... aku sangat beruntung mempunyai teman sepertimu..."


"Jangan berharap juga padaku... aku hanya mendukungmu saja."


"Iya iya! aku tahu!."


Semua ini jika diingat kembali... seperti sebuah mimpi yang tidak bisa menjadi nyata.


Seperti semua ini tidak pernah terjadi.


.


.


.


2 Tahun kemudian ditempat yang sama.


"..."


"Senki.."


"Mengapa kau kesini?."


"Maaf..."


"Kupikir kau adalah satu satunya sahabatku yang serius mendukungku... tetapi..."


"Aku pun juga... aku pun juga tidak bisa menyimpan perasaan ini selamanya!.'


"Jadi benar? dia menolakku... apakah Sakura menolakku karena kau!?."


"..."


"Jadi semua keresahanku benar... semuanya benar... aku bukanlah seseorang yang bisa mendampinginya sebagai seorang yang spesial bagi dirinya... jika dia menolakku, karena dia menyukai sahabatku... lalu kau ini apa!! kau sahabatku bukan! dua tahun lalu disini!! kau bilang kau akan mendukungku! kau akan membantu cintaku padanya!! tapi kau justru merebut hatinya dariku! kau ini sahabatku atau bukan!!." Air matanya yang mengalir melewati pipinya dan jatuh diatas rumput yang telah hampir mati...


"Memangnya Sakura menolakmu karena dia menyukaiku! apakah kau merasakan seperti itu! aku memang menyukainya, tapi aku tidak pernah membuatnya menyukaiku! aku sudah berusaha untuk memendam perasaan ini... karena aku tidak ingin mengkhianati sahabatku sendiri... tapi kau menyalahkanku? jangan bercanda! aku... aku bukanlah-!."


......................


*Bummm!!!


"Aku bukanlah orang yang meninggalkan seseorang hanya demi diriku sendiri!."


"Aoyama..."


"Siapa bocah satu ini? darimana dia datang?."


"Kau yang mengatakannya... kau yang berpikir seperti itu... kau yang menyalahkannya..."


"..."


"Apakah aku pernah mengatakan satu hal pun masalahku padamu?."


"Kenapa dia malah mengoceh, kalian hajar dia!."


Tiga orang dari mereka berlari kearahku, satu persatu datang menyerangku.


"Kau akan merasakan hal yang sama dengan bocah itu!."


"Jangan menggangguku.."


*Bukk!


Aku yang berdiri diatas tumpukan tong itu langsung melompat dan menendang salah satu kepala dari ketiga orang itu hingga tidak sadarkan diri.


"Dasar bocah kurang aja!." Beberapa orang kini mulai maju.


Dia mengayunkan tongkat bisbol kearahku.


*Buk!


Tapi aku menahannya dengan lenganku, hingga rasanya tulangku hampir retak.


"Tck!." Aku meninju Wajahnya tepat pada hidungnya.


"Arghh!."


Satu lagi menendang bahuku hingga aku terdorong dan dia langsung mengayunkan batang kayu padaku.


Aku langsung menghindari serangannya dan langsung menyerang celahnya pada bagian samping perutnya.


"Ugh! aku kesulitan bernafas!."


Lalu aku mendekati Senki untuk menolongnya.


"Tidak ada waktu untuk berdebat... kuharap kau masih bisa bergerak." Aku mengulurkan tanganku padanya.


"Uhuk! aku tidak lumpuh.." Lalu dia memegang tanganku untuk berdiri.


"Memangnya kalian berdua bisa apa? apa aku hanya mempunyai anak buah yang sedikit? lihatlah!."


Hampir lebih dari sepuluh orang datang dari pintu belakang dengan wajah wajah menyeramkan mereka.


"Kita tidak bisa kabur kan?."


"Menurutmu?."


"Aku seperti mengulangi kejadian yang sama seperti dulu... tapi mungkin ini akhirnya."


"Kau ingin mati tanpa bisa melihatnya?."


"Memangnya aku punya kesempatan untuk melihatnya?."


"Entahlah."


"Haha... aku masih merasa sebal melihat tingkah lakumu yang cuek."


"Aku sudah terbiasa dengan itu."


"Apa kalian sudah selesai berbicara?! kalau begitu, kalian akan mati disini!!."


Kami berdua dikelilingi oleh beberapa orang dengan senjata tumpul ditangan mereka.


"Aoyama.' Dia memberikan tanda padaku.


"Ya." Aku mengangguk memahami maksudnya.


"Kalian semua! habisi mereka berdua!."


Mereka semua maju dengan bersiap siap mengayunkan senjata mereka.


Aku langsung berlari kearah tong tong yang jatuh tadi dan menggelindingkannya ke segala arah.


Itu membuat beberapa dari mereka terjatuh, dan yang tidak terjatuh hanya tersisa sedikit.


"Senki!." Aku melemparkan sebuah tongkat bisbol kepadanya.


Saat Senki menangkapnya, dia langsung menunduk saat ada yang menyerangnya, dan memukul balik kaki orang itu hingga terjatuh.


Aku melompat turun kebawah dan mengambil sebuah batang kayu dan mulai menyerang mereka kembali.


Kita berdua saling mendekat dan bekerja satu sama lain.


"Belakangmu! menunduk!."


Lalu Senki menunduk dan aku menyerang orang dibelakangnya.


Begitupun dengan Senki yang juga memukul orang dibelakangku.


"Mereka dipukuli berapa kalipun tidak menyerah juga!."


"Aoyama! sebelahm- guhuk!." Senki terpukul mundur di perutnya hingga terjatuh.


"Senki! sial!." Aku berusaha menyerang beberapa yang mendekat, tetapi mereka secara bersamaan menahannya dan menjatuhkan kayu itu.


Tanpa senjata aku masih berusaha menahan dan menghindari ayunan bisbol mereka yang bersamaan menyerangku.


Di waktu yang sama Senki kewalahan melawan mereka semua dan berakhir dipukuli beberapa kali oleh mereka.


Keadaan kita satu sama lain terdesak melawan puluhan orang dewasa yang bersenjata.


"( Apa aku akan berakhir disini! sial!..)."


Saat keadaan kita berdua sudah berada di ambang batas, tiba tiba terdengar suara sirine polisi dari luar dan membuat semua orang terkejut panik.


"Polisi? kenapa mereka ada disini?!!."


*Brakk!!!


Pintu depan dengan mudah hancur dan tidak ada waktu bagi mereka untuk lari, karena pintu belakang pun juga terbuka.


"Oyama!!." Terdengar suara Guru dari pintu depan yang hancur itu.


"Guru!."


"Kalian semua berlutut!! kalian sudah terkepung! bergerak lagi kami akan langsung menembak kepala kalian!!."


Semuanya yang tidak ingin menyia-nyiakan nyawa mereka langsung menunduk.


"Senki... bertahan sedikit lagi." Aku langsung mendekati Senki yang duduk lemas.


"Kepalaku hanya sedikit pusing..."


"Senki!!." Suara dari jauh kini datang kearah kita.


Dengan membawa sebuah pistol dan baju petugas keamanan polisi, dia adalah kakaknya Senki yaitu Murasaki Danki.


"Kak Danki."


"Kau...Aoyama? tenang saja, dia hanya terluka bagian luar, kalian berdua keluar dari gedung ini dan dokter akan mengobati luka kalian diluar."


"Biar kami yang mengurus penjahat itu."


Mereka berdua menahan semua penjahat itu dan mengikatnya dengan tali lalu membawa mereka menggunakan truk.


......................


"Mereka adalah tim perampok yang sudah dicari cari dari lama... akhirnya kita berhasil menangkapnya."


"Fiuhh... aku tidak bisa membalaskan luka muridku deh... rasanya aku seperti pernah melakukan seperti ini sebelumnya."


"Abang..."


"Obati dulu lukamu... kau tidak bersalah karena ini termasuk penipuan... aku akan pergi mengurus mereka dulu."


"Baik."


"Oyama, kau baik baik saja bukan?."


"Tanganku hanya sedikit cedera... agak pegal juga."


"Kau ini... belum sembuh seutuhnya saat kejadian lalu... sekarang babak belur lagi... aku merasa harus memberikan latihan tambahan yang sulit untukmu."


"T-Tolong jangan kejam... aku baru saja terluka."


"Tidak kusangka kalian masih berhubungan."


"Aku masih diajarkan olehnya... syukurnya aku bisa hidup hingga sekarang."


"Kalau bukan karena ajaranku, kau bisa lebih babak belur dari ini."


"Terima kasih ajarannya, selanjutnya tolong ajari lebih banyak."


"Baiklah, aku pergi dulu... aku ingin mengambil komisinya.."


Lalu Guru Baki juga pergi, dan disini masih ada beberapa polisi yang masih mencari bukti kejahatan mereka.


"..."


"Aoyama... terima kasih."


"Kau tidak perlu berterimakasih padaku... aku hanya melakukan apa yang ingin kulakukan."


"Aku... masih saja terlihat pengecut... aku sudah melakukan hal yang ilegal untuk mendapatkan sertifikat beasiswa itu untuk hadiahnya... bodoh sekali."


"untuk kali ini aku tidak akan menyangkalnya... tapi aku percaya kau bertujuan baik untuknya... aku juga minta maaf atas semuanya."


"Hentikanlah... aku sudah melupakan semuanya..." dia berdiri dan meregangkan badannya.


"..."


"Baiklah, aku akan pergi... aku tidak akan melakukan hal bodoh lagi.. dan juga..."


"..."


"Jaga dia untukku... sahabat."


Dia menepuk pundakku dengan senyuman perpisahan.


"Kau tidak ingin bertemu dengannya?."


"Tidak perlu... aku tidak bisa menunjukkan wajahku padanya... aku tidak pantas..."


"..."


"Baiklah, sampai bertemu kembali... Aoyama."


"Senki... jangan bertemu denganku saat kita masih menyukai orang yang sama.."


"Hahaha... baiklah!"


Lalu dia pergi dengan semua luka yang dia tinggalkan dimalam yang dingin ini.


"Aoyama!!."


"Yuuki... Sakura... kenapa kalian ada disini?."


"Kau tidak ada dirumahmu, dan aku mendengar ada penangkapan penjahat disini... jadi aku berpikir kau ada disini."


"Aoyama... kamu baik baik saja kan?."


"Syukurlah aku baik baik saja.... Sakura.... ada yang ingin kukatakan padamu.."


......................


Berjalan ditengah kegelapan... hanya ada lampu jalan dan bulan yang menerangi...


Perihnya luka yang masih terasa di sekujur tubuh... tapi hal itu tidak bisa dibandingkan dengan rasa sakit dihatinya.


"Senki!!."


Dia berhenti melangkah saat seseorang memanggilnya dari belakang.


Lalu dia berbalik melihat orang yang memanggilnya.


"Sakura..."


"Maaf saat itu aku melukaimu!! aku... aku benar benar menyesal!." Dia menangis didepannya.


"Aku sudah tidak apa apa... jadi kumohon jangan menangis."


"Senki... aku ingin kita kembali seperti dulu... kita bertiga."


"Aku juga sangat menginginkan itu... tapi masih ada hal yang harus kulakukan sebelum kita bisa bersama lagi... jadi..."


"Senki.."


"Jaga dirimu baik baik... aku sudah tidak bisa membantumu mengerjakan tugas sekolahmu! jadi kau harus menjadi orang yang rajin sekarang!."


"S-Senki.." Air mata yang menetes di pipinya saat melihat sahabat kecilnya.


"Sakura... aku sangat mencintaimu..."


Dia pergi meninggalkan Sakura yang berdiri mengharapkannya kembali... tetapi Senki sudah memutuskan dirinya untuk mengubah hidupnya.


Dibalik dinding yang memisahkannya dengan Sakura... dia bersandar dan menggenggam sebuah foto... foto saat mereka bertiga bersama sama menghabiskan masa kecil yang indah... memori yang tidak bisa dilupakan.


"Padahal aku memintanya jangan menangis... aku.. benar benar..." Sambil melihat foto itu, air matanya jatuh diatasnya...


Hal yang sudah ia hancurkan, dia harus segera membuatnya kembali utuh...


Meskipun hati ini menjadi korban... tapi hal itu adalah yang terbaik... untuk membuat ulang yang baru dan yang lebih sempurna dari ini.