
"Aku hanya ingin memberikan ini... untuk jadwal tampil kelas kita." Aku menyerahkan kepadanya.
"Um... terima kasih."
Setelah beberapa jam yang lalu saat kita berdua pergi keluar, aku masih mengingatnya meskipun aku tidak terlalu membawa hal itu untuk dipikirkan saat melihatnya.
"Kau terlihat sibuk... apa ada yang bisa aku bantu?." Melihatnya yang masih fokus dengan apa yang dia kerjakan.
"Jarang sekali melihatmu menawarkan bantuan." Dia meledekku saat melihatku seperti itu.
"Aku tidak ingin menawarkannya... aku memberikannya."
"Tetapi tetap saja aku akan menolak... aku sudah mengambil ini semua sendiri jadi aku akan melakukannya sendiri."
"Jarang sekali melihatmu sangat bekerja keras."
"Benar juga... mungkin suasana hatiku sedang baik hari ini." Wajahnya yang terlihat sangat berbunga bunga tidak bisa dihindarkan.
"Aku harap itu baik..."
"Aku pun juga berpikir seperti itu... ehem." Dia tersenyum sambil menempelkan jarinya tepat dibibirnya.
"Aku menyerah, aku pergi dulu."
"Omong omong, tadi Mai mencarimu kesini... tapi kamu tidak ada jadi dia pergi ke kelas Yuuki."
"Oh... terima kasih, aku akan menyusulnya."
"Apa sebelumnya kamu bertemu dengannya?."
"Siapa?."
"Dengan Yuuki... hari ini dia terlihat kurang bersemangat seperti biasanya."
"Aku beberapa saat yang lalu bertemu dengannya dibawah... dia terlihat biasa saja."
"Benarkah? apa hanya perasaanku saja?."
"Mungkin... tapi jika kau khawatir dengannya, kenapa kau tidak menemuinya saja."
"Mm.." Dia menatapku dengan sinis sambil menunjukkan tumpukan tugasnya.
"Kau belum menyelesaikan tugas akhir?."
"Satupun.."
"Baiklah kalau begitu biar aku sendiri yang kesana... aku tidak akan menggangu kesenanganmu lagi."
"Ah~." Wajahnya sudah menunjukkan siaga satu.
"(Bahaya! mundur!.) A-Aku pergi.."
Menurut para ahli... wanita itu seperti hewan buas... kadang mereka jinak, dan terkadang juga sentuh sedikit tewas... mundur hanya satu satunya jalan untuk keluar dari situasi ini..
Jadi jika aku ingin terus hidup aman dan nyaman, aku lebih memilih pergi dan tidak mengganggunya lagi.
Aku pun pergi ke kelas Yuuki untuk menyusul Mai yang sedang mencariku...
Biasanya di saat saat seperti ini aku harusnya tidur di perpustakaan dan mengisi kembali energiku.
Saat aku sudah berada di depan kelasnya, suasananya memang cukup ramai... karena banyak kelas yang mengadakan acara seperti kelas mereka, jadi beberapa pengunjung juga ada yang memilih kelas yang lain.
Aku pun masuk kedalam kelas mereka dengan persiapan hati yang sudah ku tetapkan...
Melihat mereka yang memakai kostum Maid atau pelayan cafe dengan baju berumbai khasnya dan tidak lupa dengan cara mereka melayani para pengunjung.
"Selamat datang di kafe kami tuan... silahkan duduk di tempat yang nyaman." Mereka menyapa para pengunjung dengan senyum ramahnya yang menarik orang-orang agar nyaman disana.
"Ah kakak! sebelah sini." Suara yang tidak terasa asing lagi bagiku memanggilku.
Aku pun meresponnya dalam diam agar tidak terlalu menarik perhatian pengunjung yang lainnya, dan aku mendekatinya yang sepertinya dia sedang bersama Rina, dan juga ada satu murid yang sedang melayani mereka berdua.
"Aku mendengar dari Sakura jika kau mencariku."
"Um, benar... tapi karena kakak tidak ada disana, jadi aku dan Rina duluan kesini."
"Jadi?."
"Jadi aku ingin mengajakmu kesini bersama... tadinya juga aku ingin mengajak kak Sakura dan kak Touya, tetapi mereka berdua sedang sibuk..."
"Tapi... sepertinya kalian berdua saja yang menikmatinya disini, aku bisa menunggu diluar... ( Aku akan terlihat seperti seseorang yang aneh jika menemani dua anak gadis disini.)
" Eh? kenapa??."
"Rasanya... seperti agak itu saja... aku disini juga laki laki."
"Tapi kan disini juga ada kak Yuuki."
"Yuuki?."
Orang yang berada di meja mereka berdua terlihat mendapatkan respon saat pundaknya naik keatas seperti ikut terkejut.
Dan dia pun berbalik kearahku sambil menutup setengah wajah bagian bawahnya dengan nampan bulat.
"( Uwaahh~ sangat gawat...)" Aku mencoba menenangkan diriku sendiri agar wajahku tidak terlihat seperti melihatnya begitu serius.
Dia terlihat begitu kaku dan tangannya yang masih memegang nampan untuk menutupi wajahnya yang tidak bisa kulihat...
Situasinya menjadi sangat canggung, dan keresahanku ini begitu muncul di saat saat yang tidak bisa dikendalikan.
"S-Selamat datang tuan... silahkan... duduk." Dia berusaha untuk berbicara seperti seorang Maid dengan baik... tetapi itu justru membuatnya lebih terlihat... imut.
Semakin sulit untukku menjaga kondisi wajahku, dan tanpa disadari aku mengikuti apa yang dia ucapkan dan aku duduk tepat di hadapan mereka berdua.
"S-Silahkan pesanannya."
Dia memposisikan dirinya sedikit membungkuk kearahku agar dia bisa menunjukkan menu makanan itu kepadaku... tetapi di satu sisi dia terlihat sangat gugup dan berusaha menahan rasa malunya dengan menggigit bawah bibirnya... dan itu terlihat sangat berbahaya.
Aku berusaha sebisaku untuk memilih apa yang kuinginkan didalam menu makanan itu... tetapi saat aku melihatnya... dia menatapku sangat dekat dan pipinya yang terlihat memerah itu sangat jelas di depan mataku.
"C-Coffee au lait... dominan kopinya." Aku akhirnya berhasil memesan pesananku sambil memalingkan wajahku ke arah yang sebaliknya.
"Baik... mohon untuk menunggu sebentar."
lalu dengan melangkah kecil dan sedikit terburu buru, dia segera pergi untuk memenuhi pesananku... tetapi secara tidak disengaja, kakinya tersandung oleh bajunya sendiri hingga dia ingin terjatuh.
"Awas!."
*Bruk!!
Suara itu menarik perhatian para pengunjung yang sedikit ramai dengan melihat kearah suara itu..
"Uhh... kau tidak apa apa?."
Dia terjatuh, tetapi disaat waktu yang tepat sepertinya aku berhasil menolongnya dan terjatuh diatas tubuhku yang sempat langsung menolongnya
Dan dalam waktu sesaat dia menatapku dari atas dengan resah... hingga beberapa waktu kami saling bertatapan dengan jarak yang sangat dekat.
"M-Maaf! aku tidak sengaja terjatuh! kamu baik baik saja??." Lalu dia langsung tersadar dan bangun dari atas tubuhku.
"Yah... syukurlah tidak ada yang terluka." Dan aku juga ikut berdiri dari sana.
"Kakak tidak apa apa??."
"Aku baik baik sa...ja." Saat aku berdiri, aku merasakan nyeri dibagian lengan kiriku.
"Tanganmu terluka?!." Yuuki yang melihat ada bekas memar di lengan kiriku.
"Oh...ya... sepertinya aku tidak sengaja menyenggol meja."
"Biar kuobati lukamu terlebih dahulu."
"Ah tidak usah... hanya memar kecil saja."
"Lenganmu terluka seperti itu... aku tidak bisa membiarkannya."
"Tapi..."
"Kakak obati saja lukamu dulu... aku dan Rina akan menunggu disini... lebamnya terlihat cukup parah."
"Huh... baiklah, aku akan obati."
Lalu dengan terpaksa aku menuruti permintaan Yuuki dan ikut dengannya ke ruang kesehatan.
......................
"Duduk saja disini, aku akan mengambil salepnya."
"Ya.."
Lalu dia membuka laci dibawah meja untuk mencari obat salep untuk mengobati luka memar ku.
"Tunjukkan lukanya."
"Aku bisa sendiri.."
"Jangan keras kepala! biar aku saja yang mengoleskan nya.." Dia dengan sedikit keras memaksaku untuk menyerahkan lukanya... tetapi terlihat diwajahnya merasa sangat khawatir padaku.
"A-Agak pelan pelan sedikit.."
"Terlalu keras? maaf... aku akan mencoba lebih lembut."
"..."
Disaat dia mengobati luka memar ku, aku tidak sadar jika mataku tertuju fokus kepadanya.
Terlihat seperti aku diobati oleh seorang pelayan yang cantik dan imut dengan wajah khawatirnya itu... aku tidak bisa mengalihkan pandanganku saat dia sedang fokus mengobati lukanya.
"Sudah baikan?."
"Ya, terima kasih."
"Maaf... aku sangat ceroboh." Dia merasa sangat bersalah.
"Jangan khawatir... untung saja kau tidak apa apa."
"Tapi karenaku... kamu jadi terluka seperti ini..." Dia sangat murung dan tidak bisa mengangkat wajahnya karena kejadian ini.
"Sakura bilang... kau sedang tidak seperti biasanya... apa ada yang kau sembunyikan?."
"..." Dia terlihat tidak ingin menjawabnya.
"Aku tidak memintamu untuk memberitahukan kepadaku... tapi Sakura mengkhawatirkanmu."
"Aku... tidak tahu harus bagaimana... aku merasa jika aku selalu membuat kalian kerepotan... aku tidak ingin menambah masalah lagi."
"Kalau begitu kau bisa menceritakannya kepadaku... meskipun aku bukan siapa siapa, tetapi jika aku bisa membantunya... itu tidak masalah."
"Aku sudah melukaimu... aku merasa tidak sanggup memberitahukan kepadamu."
"Huh... seperti biasa, keras kepalamu itu sangat sulit diladeni."
Aku berdiri dari hadapannya dan matanya kini berubah pandangan kearahku.
Aku menunjukkan luka yang dia perban, dan menatapnya.
"Kalau begitu... sebagai gantinya... aku ingin kau memberitahukan masalahmu kepadaku.."
"Eh?."