
Setelah tes fisik yang begitu melelahkan, kita semua pun pergi makan didalam kantin, dan disana mempunyai apapun yang mungkin mereka mau... seperti yang diharapkan dari keluarga besar...
Tetapi aku hanya memesan kopi dan sepiring nasi kari, karena aku tidak ingin terlalu banyak memakannya.
Dan karena masalah tadi saat aku tidak sengaja melihatnya, dia menjadi menjaga jarak dariku... yah, memang seperti itu yang aku rencanakan padanya, agar kita tidak terlihat dekat... tetapi dia hanya menjaga jarak dua atau tiga meter saja... karena aku duduk dimeja ujung ruangan, dan tidak ingin berkumpul dengan yang lainnya.
Saat aku ingin menyeruput kopi milikku, tiba tiba seseorang mengisi bangku seberang mejaku.
"Apa ak- saya boleh duduk disini?." Dengan datar, dia sedikit salah bicara namun masih bisa membenarkan.
"Aku tidak mempermasalahkannya..."
Dia pun duduk dengan izinku meskipun ini adalah tempat umum, padahal dia bisa duduk disana kapanpun, tanpa perlu meminta izin kepadaku.
"Bagaimana anda bisa mengenalnya?." Dia melirik kebelakang seperti memberi gerakan kode tepatnya kearah Sakura.
"Apa kau ingin langsung berbicara kedalam privasiku secara tiba-tiba?."
"Aku hanya untuk memastikan... hubunganmu dengannya, agar jelas bahwa kau bukan halangan untuk tuan Azumi."
Dengan tatapan yang penuh pertanyaan, dia bertanya tentang Sakura padaku... ya, dia adalah Lawliet Erlic.
"Aku hanya tidak sengaja mengena-."
Dia memberikan sebuah kertas yang dia geser dari atas meja.
Didalamnya terlihat sebuah data pribadiku, pendidikanku, dan yang berhubungan.
Sekolah kanak kanak hingga menengah atas... semuanya tercatat disana... dan nama Mai yaitu saudaraku, dan juga kedua irang tuanya...
"Apa anda bisa menjelaskan bagaimana kehidupannu yang begitu mencurigakan? karena didalam data ini terlihat... anda bukanlah keluarga dari sauda-."
*Buk!!
Tiba tiba diruangan yang sedikit sunyi itu menjadi sangat sunyi saat suara dari gebrakan meja.
Mereka semua melihat kearah kita berdua, karena suara itu... karena aku yang membuat suara itu.
Sakura pun juga melihat dengan khawatir dan was-was...
Saat aku memukul meja itu cukup keras diatas kertas yang sudah lecek, dia terdiam melihatku dengan tatapan yang sedikit serius, dan ekspresi yang datar...
"Aku sudah membiarkanmu untuk menggangguku... tetapi jangan coba-coba untuk mengganggu saudaraku maupun keluarganya..."
"..."
"Jika kau memiliki urusan denganku... berbicara semuanya didepan mataku... daripada melakukan hal yang menyambungkan diriku dengan orang lain... aku sedikit tidak menyukai orang yang terlalu ikut campur denganku lebih dalam..."
Aku langsung pergi meninggalkannya dengan membuang harapannya untuk berbicara padaku...
"Tunggu... dulu..."
Dia sempat ingin menahanku, tetapi dia merasa sudah terlambat untuk itu...
Aku merasa jika semua yang dia katakan membuat kepalaku sakit... dan juga aku memperhatikan adik tiriku yang dengan mudahnya dia bisa mendapatkan banyak informasi tersebut...
Rasanya begitu menjengkelkan... dia bisa seenaknya mengetahui masa lalu seseorang... hanya dengan posisinya tersebut.
Karena aku yang meninggalkan tempat itu, aku pun tidak sempat memakan sedikitpun makanan...
Meskipun lapar, tetapi aku sudah begitu malas untuk pergi kesana, dan hanya masuk kedalam kamarku dan duduk dipinggir tempat tidurku.
Jika memang dia ingin mengetahui hubunganku dengan Yuuki, apa memang layak dia berbuat sejauh itu? apakah dia tidak merasa bersalah? memangnya aku adalah ******* atau penjahat yang seluruh informasi pribadinya dibongkar dengan santai.
Jelas saja hal itu terlalu kelewatan, dan bahkan dia menanyakan hubunganku dengan Sakura... sebenarnya apa yang dia ingin lakukan...
Saat aku masih memikirkan itu semua hingga melamun, tiba tiba pintu kamarku terbuka dan Sakura yang ternyata masuk sambil membawa sebuah makanan... tetapi aku hanya melamun dan tidak tahu akan kehadirannya.
Dia melihatku khawatir hingga meletakkan piring itu diatas meja dan perlahan duduk disebelahku.
"Kamu harus lebih menahan emosimu..."
"Kau mendengar semuanya?."
"Sepertinya... iya."
"Huh... entahlah... pada saat itu aku hanya berpikir untuk membungkamnya... dia mencari informasi Mai dan keluarganya... lalu begitu juga denganmu... seperti aku memiliki dosa besar yang harus ditanggung kalian..."
"Ao..."
"Maaf... aku hanya perlu istirahat... kepalaku sedikit pusing..."
"Tidak boleh... kamu harus mengisi perutmu terlebih dahulu... karena kamu belum makan dari pagi bukan?."
"Aku sangat malas untuk pergi kesana lagi..."
Sambil memberikan sepiring nasi kari tersebut.
"Kau mengambilkan ini untukku?."
"Memangnya ada apa? bukannya aku prihatin padamu... aku hanya tidak ingin melihat makanan yang terbuang."
"Kalau begitu terima kasih..."
Aku memakannya sedikit lahap karena aku sudah sangat kelaparan... dan dia hanya duduk melihatku sedang makan.
"Apa kamu marah karena adik tersayangmu merasa diganggu?."
"Uhuk!! uhuk!."
Saat di berbicara hal itu, aku langsung tersedak karena terkejut.
"M-Maaf! i-ini minumlah.."
Dia memberikanku air putih dan aju langsung meminumnya.
"Ternyata kamu tidak pernah berubah dari dulu..." Sambil menempelkan telapak tangannya pada wajahnya dipinggir.
"Berisik..."
"Aku ingat... saat aku menjahili Mai dulu... kamu langsung memarahiku dan merajuk padaku."
"Bisakah kau tidak mengungkitnya?."
"Sepertinya tidak..."
Setelah selesai menghabiskan makanan itu, aku menaruhnya di atas meja.
"Kau juga... sama seperti dulu saat merajuk padaku..."
"I-Itu tidak sama!."
"Itu sama... bahkan aku sampai melakukan segala hal untuk membuatmu kembali seperti biasa.."
"Karena kamu terlihat tidak ingin dijauhi... aku hanya merasa kasih-."
"Bahkan sekarang pun aku masih berusaha keras untuk membuatmu kembali seperti biasa..."
Dia terdiam memikirkan kata-kataku, lalu wajahnya memerah saat menatapku.
"M-Maksudmu... kamu kesini untuk..."
"Y-Yah seperti itu... karena kau begitu lama menjauhik-."
Tiba tiba dia berdiri dan menutup mulutku, dan saat dia mendorong wajahku untuk menutup mulutku, kakinya terpeleset hingga dia terjatuh didepanku dan aku juga tertidur diatas kasur.
Dia menutup wajahnya didepan badanku, dan masih menutup mulutku meskipun hanya menyentuhnya.
"..."
Suaranya tertatih-tatih dan tidak berani menunjukkan wajahnya.
"Jangan terus menerus melakukan hal yang memberikan harapan palsu padaku... itu sangat menyakitkan..."
"Sakura..."
"Kamu tidak pernah memperdulikan perasaanku... bahkan kamu tidak menyadarinya... Ao sangat bodoh..."
"..."
"Aku hanya ingin kau kembali seperti dulu... disaat dimana Ao yang aku kenal terus berbicara padaku... hanya kepadaku..."
Suaranya semakin pelan karena tertutup oleh suara tangis kecilnya...
"Kamu terus datang kepadaku saat sedang ada masalah maupun hal baik... memarahiku jika aku menyebalkan... membalas menjahiliku jika aku menjahilimu... dan terus ada ddidekatku... aku ingin seperti itu ada didepanku..."
"..."
Sebuah permintaan untuk merubahku seperti dulu, padahal yang sebenarnya dia yang merubah diriku menjadi seperti ini... disaat sebuah robekan besar yang dijahit... dan itu masih membekas disana...
"Maaf... aku mengatakan hal yang aneh... aku terlihat egois kepadamu."
Dia langsung bangun dari atas tubuhku, dan menghapus air mata yang ada di pipinya.
Saat dia ingin pergi, aku menahan lengannya saat aku sudah terbangun.
"..."
"Maaf..."