
"Daging, sayur, saus... huh... bisa bisanya mereka lupa membeli bahan bakar bakarannya..."
Karena mereka yang lupa dengan makanannya, hanya membawa alat alat untuk bakarannya saja... jadi aku terpaksa membeli bahan makanannya.
.
.
.
Sesampainya disana, aku mengambil makanan yang sudah dicatat untuk dibeli, satu persatu aku mengambil hingga semuanya sudah lengkap.
"Seharusnya... ini lebih dari yang diinginkan.." Sambil melihat isi belanjaanku yang menumpuk.
Aku pun pergi ke meja kasir untuk membayar semuanya... uang untuk membeli ini tidak hanya uangku saja, tetapi uang dari masing masing dari mereka semua, jadi tidak ada kerugian meski harus aku yang pergi kesini.
"Saatnya kembali ketempat mereka... hm?."
"Aduh... kakak, bolehkah aku pergi dan mengambil uangnya dulu? aku benar-benar ketinggalan dompet."
"Tapi, sebelum anda membayarnya, anda tidak dibolehkan membawa barangnya."
"Kumohon, saudaraku sedang membutuhkan obat ini secepatnya."
"Meski anda mengatakan seperti itu... kami tidak bisa melakukannya."
"Bagaimana ini..."
"Biar aku yang membayarnya." Sambil meletakkan sejumlah uang keatas meja kasirnya."
"T-Tunggu kawan! aku tidak bisa merepotkanmu."
"Kau sedang membutuhkan obat itu secepatnya bukan? tidak ada waktu untuk mencegah kebaikan orang lain."
"..."
"Terima kasih banyak!! aku akan membalas kebaikanmu!." Dia sedikit membungkuk kepadaku menandakan rasa terimakasih nya, lalu mengambil obat itu dan bergegas pergi.
"Huh... cepat cepat balik saja deh."
......................
"Aoyama, kenapa kau lama sekali?."
"Banyak hal yang tidak bisa kau perkirakan... intinya aku sudah membeli semua yang ada... sisanya kalian."
"Kita buat jadi sate saja? dengan begitu sayuran dan daging menjadi seimbang." usul Sakura.
"Ide bagus! biar aku bantu menusuknya." Yuuki dengan cepat ikut membantu Sakura.
"Terima kasih."
"Bagaimana kalau kita bertiga yang membuat bumbu bakarnya?." Nami mengajak Rina dan juga Mai untuk membuat bumbunya.
"Ayo, Rina!."
"Um!."
"..."
Para gadis yang sedang sibuk dengan makanannya, tidak memberikan kami sedikitpun pekerjaan.
"Sekarang apa yang akan kita lakukan?."
"Bahkan aku tidak dibolehkan membakar satenya."
"Sibuk tugas OSIS?." Aku melihat Kuchima dengan laptopnya yang sedang sibuk sambil duduk diatas pasir pantai.
"Ah... iya, masih ada beberapa urusan kecil yang bisa diselesaikan diluar area sekolah."
"Terlihat berat mengurusi itu semua... bahkan waktu liburmu terpakai."
"Ahaha... ini sudah sepatutnya aku sebagai ketua OSIS... jadi aku tidak merasa keberatan dengan hal ini."
Melihat orang yang gila pekerjaan sepertinya membuatku yang hanya diam didalam kamarku menikmati betapa senangnya sendiri melakukan banyak hal... aku bersyukur bisa merasakan kehidupan yang damai meskipun sedikit gangguan yang tidak bisa diperbaiki.
Melihat Touya yang akhirnya diperbolehkan untuk membakar sate sate yang mereka buat, sedangkan aku tidak mempunyai pekerjaan yang dilakukan.
Pikiranku berubah saat melihat guru Baki yang sedang tertidur pulas didalam minibus.
"..."
Aku pergi menjauh dari mereka dan mencari tempat yang nyaman yaitu diatas batu besar dipinggir pantai.
Ombaknya yang menghantam batu besar membuat cipratan nya mengenaiku sedikit demi sedikit.
Angin kencang yang berhembus dari lepas pantai membuat perasaan nyaman.
"..."
"Disini kamu rupanya.."
"Nami? ada apa?."
"Huh... kamu ini, masih tanya kenapa... aku disuruh memanggilmu karena beberapa sudah matang.
"Oh..."
"Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan padamu." Dia duduk di sampingku.
"Kau bilang jika kita harus kembali kesana?."
"Hanya sebentar saja, lagipula mereka masih sibuk dan aku tidak ingin mengganggu mereka."
"..."
"Aoyama... sebenarnya apa hubunganmu dengan Yuuki?."
"Aku hanya ingin mengetahuinya saja."
"Tidak ada apa apa diantara kita berdua... mungkin hanya sebatas pekerjaan yang menghubungkanku dengannya."
"Lalu... bagaimana dengan Sakura?."
"Sebenarnya apa yang ingin kau mau... menginterogasiku seperti ini."
"Aku orangnya tidak ingin menyembunyikan sesuatu jika berbicara dengan orang lain... karena kamu terlihat sangat dekat dengan mereka berdua... dan juga aku yang selalu berada didekat Yuuki menjadi penasaran denganmu."
"Tidak masalah jika kau ingin tahu hubungan seperti apa yang aku miliki... karena aku tidak terlalu memikirkannya... Sakura hanya teman masa kecilku saja, tidak lebih dari itu."
"Tidak lebih dari itu? kata kata itu untuk meyakinkanku atau ada sesuatu yang menarik diantara kalian?."
"Kau bebas menganggapnya apa... dan bertanya lebih lagi tentang ini sudah termasuk berbicara tentang privasi pribadi."
"Aku tahu... tapi sayang sekali ya, dia tidak mendapatkan keunggulannya."
"Siapa yang kau maksud?."
"Entahlah... ayo kembali, mereka pasti sudah menunggu kita." Lalu dia berdiri dan pergi duluan.
"..."
"( Padahal daritadi dia yang menginterogasiku... kenapa pertanyaan sederhana seperti itu tidak ingin dia jawab...)"
Dengan begitu, aku pun ikut kembali dengan mereka.
Kami semua menghabiskan waktu malam ini dengan sangat meriah... setelah makan kita bermain kembang api untuk bersenang-senang...
Hingga seluruh tenaga dan energi kami sudah habis terkuras oleh waktu yang berlalu sangat cepat...
Diakhir kami merapihkan alat alat dan barang bawaan kami dan memasukannya kedalam bagasi minibus itu...
"Apa ada yang tertinggal?."
"Tunggu... dimana Yuuki dan Mai?." Sakura yang mencari sekitar dan tidak menemukan mereka berdua.
"Mungkin sedang pergi ke toilet?."
"Mereka berdua ada disana." Aku menunjuk mereka yang sedang bergegas berjalan kearah sini.
"Maaf menunggu lama, kami berdua habis dari belakang."
"Baiklah, kalian cek barang barang kalian... apa ada yang tertinggal?."
Semua mengecek kembali bawaan mereka agar tidak ada masalah dalam perjalanan pulang.
"Yosh, saatnya pulang...!."
*Brrmm
Lalu kami memulai perjalanan pulang kami menuju rumah... jaraknya memang sedikit jauh, karena wilayah daerah tempat tinggal kami dengan pinggiran pulau hanya pantai ini saja yang terdekat.
"Guru sudah lama tidur dari tadi siang, sekarang giliran kita yang tidur kan!." Touya yang sudah kehabisan banyak tenaga hari ini, dan sudah siap untuk melepaskan semua kelelahannya.
"Ya ya, kalian jika ingin tidur ya tidur saja, aku pastikan akan mengantarkan kalian dengan aman."
"Yeahh!! saatnya kita maun kartu! bagaimana?."
"Aku ingin tidur, kau saja main sendiri." Aku memakai earphone dan menutup mataku dengan penutup mata agar tidurku lebih nyaman.
"Bukannya kamu yang bilang sendiri jika kamu ingin tidur?." Tanya Sakura.
"Tapi rasanya sayang sekali... waktunya terpakai hanya untuk tidur... bukannya pulang nanti kita juga akan tidur bukan?."
"Tapi yang lainnya juga kelelahan... jadi mungkin lebih baik istirahat saja."
"Kalau begitu Kuchima! bagaimana kalau kita bermain berdua sa- woi!! cepat sekali tidurnya!."
Saat dia melihat ke bangku belakang, ternyata Kuchima pun juga sudah tertidur pulas.
"Huh... mending aku main sendiri saja deh... "
Saat sebagian melepas lelah mereka dengan tidur didalam sana, sebagian lagi sibuk dengan urusan mereka masing-masing...
Tetapi perjalanan pulang ini tidak terlihat akan berjalan lancar.
"Eh? ada apa ini?." Guru Baki yang terlihat panik.
"Paman, ada apa?." Yuuki yang duduk dibelakang dekat Guru Baki pun ikut panik.
"Gasnya tidak bisa digunakan... padahal bensinnya sudah terisi penuh.."
"K-Kalau begitu baiknya kita menepi terlebih dahulu saja."
"Kamu benar."
Dengan masalah yang terjadi dengan minibus milik Guru baki, kita semua terpaksa keluar terlebih dahulu untuk mengetahui ada masalah apa.
"Baru saja aku bermimpi... sudah ditarik oleh kenyataan kembali."
"Sepertinya ada yang rusak di mesininya." Lalu Guru Baki mencoba melihat bagian bawah mesin untuk melihat masalahnya.
"Haduh..."
"Kenapa, guru?."
"Sepertinya... mesinnya rusak parah..."
"..."
"Haaahhh!!!???."