My Youth Bond Increase!!

My Youth Bond Increase!!
Chapter 167



"Kakak, sudah lagi, ayo bangun."


"Mmhh!? tidak, aku tidak mau bangun."


"Ayo kakak! nanti kakak telat untuk berangkat ke sekolah."


"Tidak peduli dengan itu."


"..."


Saat itu aku tidak ingin pergi dari mana-mana selain tempat tidurku... diriku juga tidak bisa melakukan apapun untuk diriku sendiri.


Di setiap harinya hanya meliriknya sebentar lalu berpikir untuk sadar...


Dan melakukan hal seperti itu benar-benar membuatku menjadi sangat bosan.


Yang sekarang ingin aku lakukan hanya tidur seharian tanpa memikirkan apapun, dan tidak ingin lagi bertemu denganny-.


"Ka...kak... bang..un!!."


*Bruk!!


Saat aku sedang memejamkan mataku, tiba-tiba Mai melompat dari sisi tempat tidur lalu jatuh dengan kedua kakinya berada diatas punggung diriku.


"Uhuk!."


......................


"Kau hampir ingin membunuhku."


"Aku tidak bermaksud seperti itu! aku hanya... aku hanya ingin membangunkan kakak saja!."


"Tetap saja, itu benar-benar sakit.."


"Aku... tidak tahu.."


Wajahnya memelas dan kurasa saat itu dia ingin menangis.


"Ayolah, lagipula semuanya sudah terjadi... maksud Mai baik untuk membangunkan kamu agar kamu tidak telat pergi ke sekolah... jangan marahi dia, dia tidak bisa melakukan apa apa selain melakukan seperti itu untuk membangunkan kamu."


"..."


"Minta maaf padanya."


"Baiklah... Mai, maafkan aku... aku hanya sedikit terkejut dan jadi memarahi kau."


Dengan posisi diriku sebagai seorang kakak, sudah sebaiknya aku yang meminta maaf duluan dan mengalah... dan juga aku tidak akan sanggup jika melihatnya menangis.


"..."


"Ayo, Mai juga harus minta maaf... melalui seperti itu juga tetap tidak boleh, Mai harus melakukan orang dengan lembut dan baik."


"..."


Sebelum air matanya ingin terjatuh, dia sudah lebih dulu mengerti akibat perkataan dari nenek, lalu dia berjalan mendekatiku dengan tatapan menghadap kebawah memutari meja makan.


"Mai juga... minta maaf.."


"Aku tahu, terima kasih."


"K-Kakak... tidak marah lagi?."


Aku hanya menggelengkan kepala saking tidak bisa berbuat marah ataupun benci kepadanya...


"Aku tidak akan marah."


Wajahnya langsung kembali gembira dan memelukku karena saking senangnya.


"Kalau begitu Aoyama, cepat habiskan sarapannya lalu pergi ke sekolah, nanti telah lho."


"Tapi aku... merasa tidak ada niat untuk pergi ke sekolah."


"Ada apa?."


"Hanya tidak niat saja... aku tidak ingin bertemu... dengan mereka..."


Dengan melihat wajahmu saja, nenek langsung mengerti bagaimana keadaan diriku saat itu, lalu dia mendekatiku dan mengelus kepalaku.


"Kalau kamu mempunyai masalah, kamu harus menghadapinya... jangan pernah sekalipun menghindar dari tanggungjawab..."


"Tapi aku sama sekali tidak ada tanggung jawab soal itu."


"Bukan bagian itu yang kamu harus pikirkan... tapi bagian yang ada didalam isi hatimu... karena semua hal negatif yang kamu simpan pasti muncul dari isi hatimu."


"..."


"Cobalah untuk memikirkannya... pasti apapun itu ada jalan yang bisa kamu ambil, jangan takut untuk melakukan hal yang harus kamu lakukan."


"..." Setelah mendengarkan nasihat dari nenek, aku merasa ada yang salah pada diriku...


"Sekarang kamu mengerti?."


"Mengerti nek... terima kasih."


"Baguslah, kalau begitu, ayo berangkat ke sekolah... Mai juga siap siap untuk berangkat sekolah juga."


"Um!."


"Baiklah..."


Dari nasihatnya... aku memikirkan diriku yang sedari awal sudah termakan oleh omongan Senki beberapa hari yang lalu saat berada di tempat wahana bermain...


Dan dari sana aku ingin merubah pemikiran diriku, atau bisa dikatakan bukan merubah, namun mengembalikan pemikiran diriku yang sebelumnya.


Dari awal aku sudah menetapkan pilihan untuk mengungkapkan perasaanku padanya, namun saat itu tidak sempat karena sebuah kecelakaan.


Jadi aku hanya perlu melakukannya kembali, dan membuat sebuah jalan lurus tanpa adanya jalan berbelok.


Jika gagal maka aku pasti akan menemukan sebuah jalan buntu, namun jika aku berhasil dan... dia menerimanya... hidupku akan berjalan dimana semestinya aku berjalan.


Dan sekarang aku memutuskan untuk berangkat sekolah, lalu membuat rencana kembali saat aku bisa mengungkapkan perasaanku langsung kepadanya.


Sampai di sekolah, aku bertemu dengan mereka berdua... nampaknya hubungan kita sama lain masih berantakan dan saling menjauhi... Senki maupun diriku sendiri, yang sejauh ini sudah menjauhi Sakura dan membuatnya jadi hanya sendirian.


......................


"Ao... kemarin, apa kamu sakit?."


"Tidak..."


"Apa kamu... masih marah padaku?."


"..."


"Jangan menjauhiku seperti apa yang dilakukan oleh Senki... aku benar-benar tidak ingin kamu ataupun Senki sengaja menjauhiku.."


"..."


Aku mengerti apa yang selama ini sudah dia rasakan, saat aku dan Senki menjauhi dirinya setiap hari dan sama sekali tidak berbicara satu sama lain.


Aku tidak tahu alasan apa yang membuat Senki mendiaminya... tapi kalau diriku tidak lain perasaan rasa bersalah kepada dirinya dan menyadari posisiku sebagai seorang yang merusak hubungan mereka.


Namun setelah ini aku ingin memastikan, apa diriku benar-benar hanya seorang perusak hubungan... atau aku adalah seseorang yang bisa mendapatkan hati Sakura.


"Pulang sekolah... apa kau ada waktu..?."


"Eh?."


"..."


"Memangnya... kenapa?."


"Ada hal yang ingin aku bicarakan padamu..."


"..."


Wajahnya terlihat sedikit ragu-ragu, namun dia ingin menjawab perkataanku yang saat ini akhirnya aku berbicara padanya.


"Maaf... kalau hari ini, setelah sekolah sampai malam aku sangat sibuk.."


"..."


Kenyataan yang sulit... namun ingin bagaimana lagi, karena aku tidak bisa berbuat apapun kepadanya dan memaksanya.


"Baiklah... lain kali saja."


"..."


Dan hari itu pun rencananya tertunda, sampai hari esok aku menanyakan kepadanya kembali.


Namun sayangnya hari itu dia juga tidka bisa... sampai keesokan harinya... keesokan harinya dan keesokan harinya... dan hari terakhir akhirnya dia merubah perkataannya..


"Besok, saat pulang sekolah... aku bisa berbicara padamu."


"Benarkah?."


Dia mengangguk sambil tersenyum tipis tak sebaik dari biasanya... namun aku tidak mempedulikan hal itu, karena akhirnya aku mempunyai kesempatan untuk menyatakan perasaan diriku padanya.


Dan aku pun langsung berpikir untuk mencari sebuah kata-kata yang harus aku katakan nantinya.. namun justru pikiranku langsung membeku dan tidak bisa memikirkan apa apa karena saking senangnya saat dia bisa menerima waktu untukku besok.


Saat di perjalanan pulang aku masih sibuk untuk memikirkan kata yang bagus dan baik agar dia bisa menerimaku... semua itu sangatlah sulit jika benar-benar serius untuk dipikirkan.


"Apa yang ingin kau lakukan..."


Begitu aku berjalan... tiba tiba seseorang berkata kepadaku hingga membuatku berbalik dan mengetahui orang tersebut.


"Apa maksudmu..."


"Dari beberapa hari yang lalu... kau selalu mendekatinya dan mengatakan sesuatu kepadanya... apa yang sedang kau rencanakan kepadanya."


"Sejak kapan kau menjadi penasaran dengan apa yang aku lakukan...?."


"..."


"Namun jika kau masih bersikeras untuk mengetahuinya... maka satu satunya jawaban yang pasti aku berikan untukmu hanyalah."


"..."


"Itu bukanlah urusanmu."


Aku langsung pergi meninggalkan dirinya yang ekspresi wajahnya yang sudah begitu kesal kepadaku... namun memang jawaban seperti itu yang akhirnya membuatku tenang dan bisa menghadapi dirinya.


Aku tidak ingin memikirkan apapun masalah yang bisa membuat rencana yang sudah aku buat dengan susah payah menjadi berantakan.


Dan aku harus memikirkan cara yang terbaik untuk menyatakan perasaanku esok hari kepadanya...


......................


"Aku pulang..."


"Sakura, kamu sudah pulang."


"Ayah? ibu? kalian ada disini?."


"Benar... memangnya kenapa?."


"Bukannya kemarin ibu bilang masih sibuk mengurus pekerjaan di luar kota?."


"Semuanya sudah selesai, lagipula ada urusan yang harus ibu kerjakan disini... yaitu tentang perpindahan sekolahmu besok."


"..."


"Besok ayah dan ibu akan datang ke sekolahmu dan mengajukan surat perpindahan sekolah, dan besok terserahmu ingin masuk atau tidak... karena besok sudah menjadi hari terakhir kamu di sekolah itu."


"..."


"Berpamitan pada teman-temanmu besok, tidak apa apa kan?."


"Baik... aku tidak apa apa."


Mereka tersenyum manis kepadanya... dan saat ini dia merasa sedikit bersalah memikirkan perkataan dirinya kepadaku... karena dia sudah berjanji untuk menemui ku besok.


Dari beberapa hari kemarin, dia memang benar-benar sibuk dengan urusan perpindahan sekolahnya, dan juga dia harus melaksanakan ujian masuk selama sepulang sekolah kemarin.


Begitu ujiannya selesai, jadi dia berencana ingin meluangkan waktu sebentar denganku.


Namun tidak disangka-sangka... jika pertemuannya kepadaku besok...


Akan menjadi pertemuan terakhir kita...