
"..."
"U-Uangnya..."
"Dia membuangnya..."
"..."
"Apa yang kau lakukan?."
"Menolak kesepakatan."
"Jika kurang banyak, aku bisa menambah berkali-kali lipat untukmu."
"Terdengar menggiurkan, tetapi sekarang aku sedang membutuhkannya untuk hidupku."
"( A-Apa yang dia katakan! terdengar ambigu tahu!.)"
Lalu mereka semua mendekat kepada kami, dan aku bersiap-siap untuk bergerak...
"Berhenti!!." Suara seseorang dari belakang kerumunan.
"..."
Muncul seseorang yang memakai jas hitam dan sebuah topeng.
"..."
Suasana menjadi hening seketika... untuk menunggu orang itu berbicara.
"..."
"Kerja bagus..."
"Ha?."
Orang itu melepaskan topengnya didepanku.
"S-Shiraishi Kishimura..."
"Sepertinya kau bisa bekerja sekali lagi... aku akan menerimanya."
"Maksud anda... ini..."
"Ini hanya ujian untukmu saja, jangan terlalu diseriusi."
"Jadi begitu..." Aku melirik Yuuki yang berada disebelahku, tetapi dia memalingkan wajahnya seakan tidak ingin tahu.
"Dan juga, untuk sekarang, aku akan pergi ada urusan penting... sisanya biarkan Yuuki yang memberikan informasinya."
"Baik, terima kasih untuk pekerjaannya..." karena beliau sedang terburu-buru, aku tidak ingin menghalanginya walaupun masih banyak yang ingin aku katakan...
Dari mendapatkan masalah dengannya, tiba tiba juga langsung diterima tanpa perbincangan panjang... hal itu membuatku berpikir apakah ini memang cara keluarga mereka mengerjakan sesuatu...
Lalu beliau dan bawahannya pun pergi dari tempat itu meninggalkan kami berdua.
"Jadi... apa ada yang ingin kau katakan?."
"Ti- maksudku iya..."
"Apa itu?."
"Tentang... pekerjaan?."
"..." Aku terus menatapnya hingga ia jujur.
"Um..."
"..."
"Jangan menatapku.. seperti itu."
"..."
"Baiklah baiklah! aku minta maaf! aku sudah membohongimu dan membuatmu berusaha menolongku!."
"Apa yang sedang kau katakan?."
"Eh? bukannya itu yang ingin kamu dengar?!."
"Tidak... aku ingin mendengar lebih jelas tentang yang dikatakan ayahmu."
Saat itu dia langsung terkejut hingga merasa malu, mukanya memerah seperti ingin menangis.
"Aoyama bodoh! bodoh bodoh! aku tidak mau tahu, kamu harus mentraktirku makan setelah ini! hmph!."
"Ha? kenapa tiba tiba kau marah? dan juga kenapa aku harus mentraktirmu!."
"Anggap saja sebagai perayaan karena kamu diterima bekerja lagi."
"Tapi kenapa harus itu?."
"Aku sudah memutuskan, kita pergi sekarang."
"Kenapa kau yang memutuskan!."
"Memangnya kenapa? ayo ce- aw!." Saat dia berjalan, tiba-tiba ia ingin terjatuh karena kesakitan.
"Oi, ada apa denganmu?."
"Sepertinya... kakiku terkilir..."
"Kau sedang tidak membohongiku lagi bukan?."
"Aku tidak berbohong... kakiku tidak bisa berjalan... mungkin karena tadi saat kita berlari."
"Huhh... tidak ada pilihan lain... naik ke punggungku." Aku membungkuk agar ia mudah untuk naik.
"T-Tunggu! kenapa?."
"Kenapa? kau kesulitan berjalan kan? kalau begitu aku akan menggendongmu."
"T-Tapi..."
"Sudahlah... cepat naik atau aku tinggal."
"J-Jangan meninggalkanku! baiklah aku akan naik!."
Dengan perlahan dia naik keatas punggungku, dan aku berjalan sambil menggendongnya...
"Kamu tidak keberatan?."
"Sangat berat."
"B-Benarkah?? kalau begitu biar aku turun saja!." Dia terlihat khawatir.
"Aku hanya bercanda, ini tidak seberapa..."
"Duh, jangan seperti itu! aku takut kamu tidak bisa bertahan."
"Memangnya dengan siapa kau berbicara? yang seperti ini sudah sangat mudah untukku."
"Begitu... kalau begitu aku tidak perlu khawatir." Dia memelukku sangat erat saat kepalanya bersandar dibelakangku.
"Kau mencekik leherku.."
"Aku tidak memeluk sekeras itu... jadi biarkan seperti ini."
Melewati banyak masalah hari ini langsung terbayarkan dengannya saat ini... sambil memeluknya, dia pun tidak ingin melewatkan waktu seperti ini sedetikpun...
"..."
......................
"Terima kasih... sudah menemaniku jalan jalan."
"Tidak, aku yang berterimakasih karena sudah membantuku mendapatkan pekerjaan kembali."
"Um! oh iya! untuk informasinya, aku akan menghubungimu nanti malam ya!."
"Kenapa nanti malam? aku sibuk."
"Apa yang kamu lakukan? aku hanya memberikan informasi lewat telepon hanya sebentar saja, atau kamu tidak bersungguh-sungguh?."
"Huh... baiklah baiklah, hubungi saja." Lalu aku beranjak pergi.
"Dah Aoyama! hari ini... aku benar-benar terimakasih banyak!."
"Sudah kubilang aku yang.... berterima kasih..." Saat aku berbalik, dia sudah masuk kedalam rumahnya tanpa mendengar perkataanku terlebih dahulu.
"Ao?." Dan dari belakangku, Sakura memanggilku sambil membawa sekantung sayuran.
"Ah, um! kamu juga baru pulang dari rumah Tuan Kishimura?."
"Ya... baru saja."
"Bagaimana? berhasil?."
"Bisa dibilang berhasil sempurna..."
"Syukurlah! benar juga! bagaimana jika kamu makan disini? aku akan memasakkan masakan yang spesial hari ini!."
"Tapi, aku tidak ingin merepotkanmu."
"Itu sama sekali tidak merepotkanku, lagipula pasti Yuuki juga setuju dengan ini..."
Aku ingin menolaknya, tetapi wajahnya yang terlihat polos terus menatapku.
"Baiklah, aku menyerah."
"Bagus! ayo masuk!."
Aku berakhir pasrah dan mengikutinya masuk.
"Yuuki, aku pulang!."
"Sakuraa! aku punya berita ba- A...Aoyama! k-kenapa kamu ada disini?!."
"Aku mengajaknya untuk makan malam bersama kita, sebagai perayaan karena dia sudah diterima pekerjaan."
"B-begitu..."
Model pakaian Yuuki didalam rumah, hanya menggunakan kaos putih polos dan juga celana pendek... rambutnya yang dikuncir membuatnya terlihat berbeda dengan biasanya.
Kaki putih mulusnya juga lebih terlihat saat dia hanya memakai celana pendek... entah mengapa aku menganalisanya dengan vepat saat melihatnya.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu...?."
"Tidak... aku tidak melihat kakimu."
"Ka- apa maksudmu dasar bodoh!."
"Kalian tunggu saja, aku akan memasak makanan yang spesial." Sambil membawa belanjaannya kedalam dapur.
"Bagaimana jika aku bantu?."
"Yuuki, bagaimana dengan Aoyama? kasihan dia dibiarkan sendiri."
"Dia memang sukanya menyendiri, jadi tidak perlu dipikirkan."
"Ya ya, aku sendiri saja disini."
"Pokoknya, Yuuki... kamu temani Aoyama! aku akan masak dulu."
"Baiklah..."
"Terlihat tidak senang gadis ini..."
"Berisik! duduk saja disana!."
"Aku baru mengalami pelayanan seperti ini..."
Saat kami berdua duduk... Sakura datang membawa dua cangkir kopi.
"Sambil menunggu, minumlah."
"Terima kasih, Sakura."
"Sama sama... kalau begitu, aku kembali dulu."
Saat aku ingin meminumnya, dia melirikku diam diam sambil menyeruput kopi susunya.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?."
"Tidak, tidak ada apa apa." Wajahnya yang dilipat dan tidak menyenangkan.
"Baiklah terserahmu..." Lalu aku menyeruput kopinya.
"Apa... kamu pernah mempunyai perasaan dengan Sakura?."
"Pfft!! k-kenapa tiba tiba menanyakan hal seperti itu??." Saking terkejutnya, aku hampir saja tersedak.
"Lagian... kalian terlihat seperti... bukan teman masa kecil biasa."
"Tidak... aku pikir kami seperti teman masa kecil biasanya."
"Tidaak, kalian tidak terlihat seperti itu."
"Lagipula memang seperti ini dari dulu..."
"Tapi, kamu belum menjawab pertanyaannya..."
"Pertanyaan apa yang kau maksud?."
"Apa kamu pernah mempunyai perasaan pada Sakura?."
"Tidak."
"Tidak salah lagi?."
"Tidak benar!."
"Justru kamu yang tidak benar! bertahun-tahun bersamanya, tetapi tidak memiliki perasaan apapun... aneh sekali!."
"Terserah, kau bisa menyebutnya aneh atau apapun itu..."
"Hmph!."
"Yuuki! Aoyama! cepat kemari! makanannya sudah siap!."
Kami berdua pun segera pergi kedalam untuk makan malam.
"Waahh! terlihat enak!."
"Ayo makan, mumpung masih hangat."
"Baiklah, selamat makan!."
Kami mencoba masakannya dengan lahap.
"B-Bagaimana?."
"Mmm!! enak sekali! masakan Sakura selalu enak!."
"Benar... rasanya sangat enak."
"Fiuh! syukurlah kalian menyukainya!."
"Aku beruntung sekali bisa memakan masakanmu setiap hari seperti ini.."
"Kau hanya malas memasak saja bukan?."
"A-Aku juga kadang kadang yang memasak!."
"Pasti karena kurang enak, jadi Sakura yang lebih sering memasak.."
"Enak saja! masakanku juga enak!."
"Oh..."
"Apa apaan 'Oh' yang terdengar tidak menyakinkan itu!."
"Tidak, aku hanya sedang mengunyah... jadi malas untuk membalas."
"Hahaha... sudah, habiskan dulu makanannya... jika ingin menambah lagi, bilang saja!."
"Aku ingin nambah!."
"Oi! makanan di piringmu saja belum habis!."
"Terserahku! bisa bisa nanti habis jika tidak cepat!."
"Memangnya seberapa banyak kau ingin makan?."
"Sebanyak-banyaknya!."
"Aku masih membuat banyak... jadi jangan berebutan seperti itu..."
Makan malam dihari itu sangat ramai dan menyenangkan bagi mereka... itu juga cukup lumayan memuaskanku dan juga isi dompetku.