
Dari Nanami Sakura
Selamat pagi Aoyama, mungkin kamu akan membaca ini saat kamu melihat isi tasnya...
Maafkan aku karena pergi tanpa memberitahukan dirimu, dan menyapa pagi harimu yang begitu indah disaat aku bisa membuka mataku dan menatap wajahmu yang masih tertidur pulas...
Namun sayang... Aku tidak bisa menemani hari-hari yang sangat berharga bersamamu kembali... Jika saja takdir ini tidak pernah terjadi kepadaku, maka aku ingin terus bersamamu...
Karena takdir itu... Aku tidak bisa bersamamu lebih lama lagi...
Malam itu, adalah malam terakhir bagi kita untuk bersama... aku sangat senang sekali.
Disaat itu, kamu mengatakan sebuah kata-kata yang membuatku hanya bisa memikirkan dirimu... Rasa bahagia ini begitu mengalir didalam perasaanku...
Aku senang saat kamu mengatakan itu, aku sangat senang... Namun pada akhirnya, aku tidak bisa mengubah perasaan bahagia tersebut menjadi sebuah kenyataan.
Aku tidak tahu, apakah kita bisa bertemu kembali, atau hari ini adalah hari terakhirku bisa menggenggam tanganmu.
Tapi aku harap... Kamu bisa mengerti untuk terakhir kalinya... Dan relakan diriku, lalu mencari kebahagiaan baru untukmu.
Terima kasih untuk segalanya... Sejak dulu, aku tidak pernah menghilangkan rasa cinta ini kepadamu, karena dimanapun tempatku nanti, aku akan tetap mencintaimu...
Untuk Aoyama, orang tercinta...
Sebuah surat yang ia berikan kepadaku... disaat baru saja diriku ini begitu bahagia saat dia menerima pernyataan itu...
Terkadang sesuatu bisa terjadi kapan saja, dan tidak bisa diketahui, dan seperti perasaan ini yang hancur hanya dalam beberapa saat aku merasakan dimana sebelumnya perasaanku begitu senang...
Musim dingin menjadi semakin dingin... aku berjalan pulang selepas sekolah, dan setiap langkah tanpa adanya sebuah kehadiran menjadikannya kehampaan yang begitu kosong...
Entah berapa lama lagi aku larut didalam kesedihan ini... namun didalamnya juga terdapat sebuah penyesalan, dimana aku tidak bisa menolong penyakitnya yang membuat dirinya seperti ini...
Aku tahu begitu membaca surat itu... jika itu adalah masalah penyakit parah yang dialami olehnya dan selama ini dia menyembunyikan sesuatu yang sudah aku ketahui...
Rasanya diriku yang tidak berguna ini justru menikmati setiap waktu bersamanya, dan terlupakan tentang perihnya kehidupan yang ia alami.
Aku benar-benar menyesal...
Begitu menyesal hingga tidak ada air mata yang keluar dari mataku...
Sesaat diujung jalan, aku melihat rumah yang tepat berasa disebelah rumahku, dipenuhi dengan barang-barang yang berada diluar teras, dan juga orang-orang yang sedang mengangkut semua barang itu kedalam sebuah Truk Kotak.
Seketika diriku langsung bergegas mendekati salah satu dari mereka, dengan tampang sedikit panik dan kebingungan.
"M-Maaf... apa yang kalian lakukan dengan barang-barang itu??."
"Lakukan? tentu saja mengangkutnya."
"Kenapa?."
"Karena rumah ini akan dijual kembali... pemiliknya sudah tidak tinggal disini lagi."
"( Eh? tidak mungkin... apa yang saat ini terjadi... benar-benar nyata...??.)"
"Nak? kamu baik-baik saja?."
Setelah tersadar dari lamunanku, aku langsung meninggalkan orang itu dan berlari ke suatu tempat...
Langit yang sudah mulai gelap, dan cahaya jingga menyinari seluruh jalannya...
Aku berlari tanpa henti menuju ke stasiun kereta, dan masuk kedalam untuk pergi ketempatnya.
"( Dia tidak mungkin meninggalkanku... aku yakin... dia pasti membutuhkan seseorang untuk menemaninya... )"
......................
*Ding Dong! Ding Dong!
*Krek!
"Tunggu sebe- nak? apa yang kamu lakukan disini? dan juga, kenapa seluruh pakaianmu basah kuyup seperti ini?."
Seorang satpam rumah yang menjaga rumah besar ini, begitu terkejut dan kebingungan setelah melihatku yang sudah basah kuyup dan tersengal-sengal.
"Maaf... tapi... ini apakah benar ini... rumah kediaman keluarga Nanami.."
"Benar, memangnya ada apa? kalau ingin bertemu dengan tuan nyonya, mereka sedang benar-benar sibuk sekarang, dan tidak mempunyai waktu."
"Tidak, saya kesini... untuk mencari, Nanami Sakura."
"Benar! apa dia ada disini??."
Wajahnya kini langsung berubah ketika aku menanyakan hal tersebut.
"Maaf... saat ini, Nona Sakura sedang tidak ada disini..."
"Kalau begitu, dia sedang berada dimana??."
"Sebelum itu, aku ingin tahu, siapa namamu nak?."
"Saya, Kizuku Aoyama."
"Kizuku... jadi kamu.."
"Apa maksud anda? dimana Sakura berada??."
"Maaf... saat ini, tidak ada yang boleh mengetahui keadaan Nona Sakura sekarang... dan juga, mulai dari sekarang... Anda tidak boleh mencari Nona Sakura kembali.."
"Tunggu... kenapa seperti itu!? dimana Sakura?!."
"Saya harap kamu mengerti... dan pergi dari sini."
Setelah memberikan perkataan yang berbeda sari sebelumnya, dia langsung menutup pintunya dan meninggalkanku didepan rumahnya.
"..."
Aku sudah tidak tahu apa yang harus aku lakukan... aku tidak tahu dimana keberadaannya sekarang ini...
Bagaimana caranya agar aku bisa bertemu dengannya...
.
.
Langit malam yang sudah begitu gelap dan dingin... aku berjalan tak beraturan karena menggigil... namun aku tidak memperdulikan diriku hingga hanya ada dirinya yang berada didalam kepalaku.
Dan ditengah kesedihan itu, rintikan air hujan yang turun di malam hari ini, membasahi seluruh tubuhku.
Beberapa kali suara petir menyambar dan menghasilkan suara yang begitu kencang...
"Hujan? benar juga... Sakura pasti saat ini sedang ketakutan! aku harus segera menemaninya!."
Dengan pikiran yang sudah berantakan, aku bergegas pergi dan berlari tanpa arah... lalu berhenti dan berdiri dibawah sinar bulan dengan air hujan yang semakin deras.
"Menemaninya... memangnya dia ada dimana... bahkan... aku tidak bisa hadir disebelahnya saat dia sedang ketakutan... padahal aku sudah berjanji... konyol sekali."
Tanpa disadari, air mataku mengalir dari mataku dan bercampur dengan air hujan yang sudah membungkus wajah menyedihkan ini dari awal.
"Sakura... kenapa kamu meninggalkanku disaat semua ini baru saja dimulai... bukannya kamu yang mengatakannya... kalau kamu ingin kita bersama selamanya?."
Kakiku yang bergetar dan tidak sanggup lagi untuk berdiri, lalu terjatuh dan terduduk ditengah jalan besar yang begitu sepi dan sunyi...
"Padahal baru saja... baru saja aku bisa merasakan perasaan yang selama ini aku inginkan... memangnya apa yang salah dariku, hingga dia meninggalkanku... aku memang menyedihkan... aku memang seorang pecundang yang tidak pantas untuk hidup... namun aku tidak ingin siksaan dari perasaan ini... sial!."
Aku memukuli tanah yang basah dan keras... hingga rasa sakit ini tidak bisa dirasakan lagi.
"Aku hanya ingin menikmati kebahagiaanku... apa hanya itu saja, aku tidak bisa merasakannya?."
Perasaan ini mulai menuju kehampaan dan kekosongan... tubuhku sudah terlalu lelah, dan tidak bisa mencarinya lagi.
Seandainya aku tahu hal ini akan terjadi... aku tidak ingin membuatnya bersamaku... aku tidak ingin membuatnya bersedih...
Lebih baik aku hidup sendiri... tanpa adanya momen bahagia disetiap harinya aku membuka mataku dan menjalani kehidupan ini...
Dunia terasa tidak adil...
Mereka mengambil segalanya bagiku...
Dan diriku yang hanya menjalani hidup seperti biasa... tidak akan bisa merasakan hal yang lebih dari itu.
Mungkin ini memanglah sebuah takdir untukku...
Untuk kembali kedalam ruangan yang gelap dan sunyi...
Sendirian.