My Youth Bond Increase!!

My Youth Bond Increase!!
Chapter 89



*Ding dong


Setelah aku memencet bel rumahku, beberapa detik kemudian pintu itu terbuka.


"Kakak! kenapa kamu lama se...kali."


Mai terdiam karena melihatku yang sedang membawa seseorang dengan luka yang ada diseluruh wajahnya.


"K-Kakak... apa yang sedang kamu lakukan?."


"Aku hanya menolongnya... lebih baik cepat beri aku masuk."


"U-Um.."


Tanpa bertanya lebih banyak lagi, Mai membukakan pintunya lebih lebar agar mempermudah aku untuk masuk.


Sesampainya aku di ruang tamu, Touya dan Yuuki yang sedang mengobrol langsung dikejutkan oleh kehadiranku yang membawa seseorang dengan banyak perban dan plester diwajahnya...


"Tung- Aoyama! kau sedang membawa siapa??."


Touya langsung berdiri dan membantuku untuk menaruhnya di sofa.


"Aoyama... dia."


"Maaf, tapi aku hanya bisa melakukan ini, apa kau keberatan?."


Lawliet Erlic adalah asisten Azumi, dan tentunya hal itu tidak bisa dilupakan oleh Yuuki, jadi aku mencoba untuk meminta pendapatnya agar tidak ada yang merasa keberatan.


"Apa yang kamu katakan? dia sedang terluka, apa dia benar benar baik baik saja jika dibawa kesini?."


Tidak kuduga ternyata Yuuki lebih mengkhawatirkan keadaannya daripada dirinya sendiri, dan hal itu membuatku sedikit lega.


"Benar, apa tidak sebaiknya kita bawa dia kerumah sakit?." Touya menambahkan.


Dari kondisinya, dia masih setengah sadar dan menahan sakitnya, tetapi dia sendiri yang menolak untuk dilarikan kerumah sakit.


"Dia sendiri tidak menginginkannya... daripada dia mati ditengah jalan, aku tidak ingin menjadi pembunuh."


"K-Kalau begitu sih tidak ada pilihan lain."


"Kenapa dia mendapatkan luka sebanyak ini?." Memasang wajah khawatir dia merasa tidak sanggup untuk melihat hal seperti ini.


"Mai, boleh tolong bawakan air hangat dan handuk kecil?."


"Baiklah, Mai akan segera mengambilnya." lalu Mai pergi kebelakang untuk mengambil air hangat dan handuk kecil.


Begitu selang beberapa menit, tiba tiba Sakura yang sedari tadi berada didalam dapur pun keluar untuk melihat situasinya karena mungkin Mai yang memberitahukan kepadanya.


"Aoyama, Yuuki..."


"Sakura."


Berbeda dengan kami, justru Sakura terlihat begitu ketakutan dan langsung mendekatiku.


"Aoyama, ikut aku sebentar."


"Sakura, tidak perlu terlalu waspada..m saat ini dia sedang terluka." Yuuki mencoba untuk menenangkannya.


"Pokoknya ikut denganku sebentar."


"Baiklah baiklah, aku akan ikut denganmu... Touya, jaga mereka sebentar."


"Serahkan saja padaku."


Lalu aku pasrah dan mengikuti Sakura kedalam kamarku sendiri dan dia menutup pintu itu rapat rapat.


"Bukannya ini kamarku?."


"Ao, apa kamu tidak mengerti? dia adalah asisten dari Azumi! dan jika kamu membawanya kesini, bisa bisa Azumi tahu jika Yuuki memiliki tempat tinggal lain."


"Tapi, aku tidak bisa membiarkannya begitu saja."


"Aku tahu kalau kamu berniat ingin membantu, tetapi bagaimana jika dia mencoba untuk menjebak kita? dan pada akhirnya kamu juga ikut dalam masalah!."


Melihatnya yang begitu marah dengan caraku, aku langsung terdiam karenanya... percayalah, tidak ada yang berani melawannya saat sedang marah.


"Maaf, aku tahu kau begitu keras melindungi Yuuki, tapi sekarang aku pun juga bekerja untu-."


Dia mendekati wajahku dengan tatapan yang sedikit serius.


"Saat ini... aku benar-benar hanya, menghawatirkan dirimu saja."


"Eh? aku?."


"Huh... dari dulu sifatmu itu tidak bisa berubah... selalu melakukan apapun yang kamu mau... tapi minimal pikirkan dirimu juga dong."


"Ya... maaf."


"Kalau begitu... bagaimana sekarang?."


"Aku membawanya kesini karena sepertinya dia sangat kelaparan... dia tidak ingin dibawa kerumah sakit, karena jika Azumi tahu, itu hanya membuat dirinya membebani Azumi."


"Jadi... kamu memintaku untuk membuatkan makanan untuknya?."


"Seperti itu."


"..." Dia hanya menyipitkan matanya kepadaku.


"Kenapa? apa ada bahan masakan yang kurang?."


"Oh."


"( Bagaimana ini? apa dia sedang marah denganku? lalu apa yang sebaiknya aku lakukan? aku benar-benar tidak bisa berpikir jika yang seperti ini...)"


"..."


"S-Sakura?."


"..."


Dia tetap tidak ingin berbalik kearahku dan masih merajuk.


"Baiklah, kalau begitu kau boleh memotong jatah makananku saja, bagaimana?."


Melihat diriku yang sangat sangat tidak peka, dia hanya menghembuskan nafasnya karena tidak sanggup menghadapiku


"Sudahlah, lupakan saja... kamu ingin aku memasakkan makanan bukan? kalau begitu aku akan segera pergi memasak."


Dia pergi dengan hati yang begitu penuh emosi, karena perlakuanku yang begitu tidak bisa memerhatikan dirinya yang sudah mengenal lebih dari 8 tahun.


Aku sendiri tahu hal ini akan sangat merepotkan jika dia marah, banyak sekali ingatan ingatanku tentangnya saat dia sedang marah denganku, maka dari itu aku tidak bisa tinggal diam saja melihatnya pergi dengan kesal.


Aku langsung memegang tangannya dan menahannya agar tidak pergi.


"Ada apa? kamu ingin menyuruhku lagi?." Suaranya yang sangat jutek tanpa melihat kearahku.


"( Wanita yang satu ini memang sangat merepotkan... aku harus benar benar mengorbankan salah satu aset milikku, karena hanya itu satu satunya cara untuk membuatnya kembali ceria..)"


Memang hal ini sungguh menyebalkan, tapi melihatnya yang terus-menerus marah kepadaku itu akan lebih menyebalkan.


"Maaf, kalau begitu sebagai gantinya... aku akan membelikan apapun yang kau mau nanti."


"Bohong."


"Tidak, aku benar-benar serius."


"Kamu ingin membelikan apa yang aku mau?."


"Ya."


"Apapun itu?."


"Y-Ya, apapun yang kau mau."


"Janji jari kelingking?."


"Apa omonganku masih belum pasti?."


"Karena Ao sangat menyebalkan."


"Baiklah baiklah, aku mengerti."


Lalu aku membuat janji jari kelingking dengannya, agar dia bisa lebih percaya denganku.


Setelah itu tiba tiba ekspresi wajahnya yang sebelumnya masam, kini seketika langsung cerah dan tersenyum manis dihadapanku.


"Ini baru Ao yang kukenal, kamu harus ingat janjinya ya? kalau begitu aku pergi memasak dulu, kasihan mereka sudah kelaparan."


Dengan suasana hati yang gembira, dia keluar dan langsung memasakan masakan untuk kami.


"..."


"Dasar wanita yang menyebalkan... kenapa juga aku mengatakan seperti itu... apa uangku cukup untuk membelikan barang yang mungkin saja harganya diatas rata rata... terserah deh, asal dia tidak marah kepadaku lagi..."


Setelah itu aku kembali ketempat mereka, dan melihat Touya yang sedang mengobatinya, tetapi itu terlihat tidak baik baik saja.


"Jangan banyak bergerak! aku sedang mengobatimu!."


"T-Tapi tenagamu sangat kuat! yang ada lukaku akan tambah parah! aw!."


"Sudahlah, jangan seperti anak kecil, kau memang masih anak kecil bukan?."


"Siapa yang kau sebut anak kecil?! kita hnya berbeda dua tahun saja."


"Kalau begitu ikuti apa yang orang yang lebih tua katakan!."


"Tidak perlu! kau tidak ada pengalaman mengobati orang, hentikan saja."


Melihat sifatnya yang seperti ini menjadi terlihat begitu berbeda dari biasanya, dia yang begitu diam profesional menjadi seorang asisten keluarga besar, kini hanya anak 15 tahun yang sedang kesakitan karena Touya yang mengobatinya sembarangan.


"Aoyama... bagaimana dengan Sakura?." Yuuki yang melihatku khawatir tentang Sakura dan langsung bertanya kepadaku begitu aku keluar.


"Semua aman, mungkin hanya dompetku yang tidak aman."


"Hm?."


"Tidak, lupakan saja."


"Aoyama... saat ini saya mempunyai utang budi kepadamu, tetapi bukan berarti saya mengizinkanmu untuk mendekati nona Yuuki."


"( Keadaan seperti ini masih bisa mempertahankan logat bicaranya...)"


"Apa yang kau bicarakan? diam dan aku akan mengobati lukamu secepatnya."


"Tidak! jangan lagi! aw! sudah kubilang jangan menekannya terlalu kuat!."


"Diamlah! dan terimalah jurus penyembuhanku! tapak ibu jari!."


"Itu bukan jurus penyembuhan! itu jurus pembunuhan!!."