My Youth Bond Increase!!

My Youth Bond Increase!!
Chapter 189



"Adam memang cukup berbahaya, dan kau juga dalam situasi yang berbahaya... namun semua itu berakhir pada pilihan dirimu sendiri."


"Aku tahu... semua menjadi resiko ku."


"Aku juga akan menanggung resiko tersebut, karena aku yang membuatmu melakukan hal seperti ini."


"Intinya kita bersama."


"Kau benar..."


"..."


"Erlic... saat dia memberitahu semua kejadian sebenarnya tentang kecelakaan tersebut... dia pun tidak menemukan tubuh adikku di sekeliling tempat kejadian tersebut... jika adikku selamat dalam kecelakaan itu, berarti ada seseorang yang tidak sengaja menemukan dirinya."


"..."


"Sedangkan tempat itu adalah area projek antar tiga keluarga, seharusnya yang menemukan adikku adalah orang yang berhubungan juga dengan salah satu dari keluarga mereka."


"..."


"Apa kau bisa menolongku untuk mencari tahu soal itu?."


"Eh, ya... B-Baik, aku akan mencari tahu informasi tentang hal itu."


"Terima kasih... aku masih berharap bahwa adikku masih hidup hingga saat ini, walaupun keberadaannya sudah menghilang sejak kecelakaan itu."


"Benar... aku juga yakin, akan hal itu."


"..."


"Kalau begitu, aku pergi dulu..."


"Ya, hati hati."


"..."


Lalu dia pergi dengan mobil sedan hitamnya setelah mengantarkan aku dan Mai ke rumah besar yang saat ini Mai tinggali.


"Eh, dia sudah pergi?."


"Ya, baru saja."


"Baru saja aku ingin menyediakan teh untuk kalian berdua, kalau begitu kamu bilang ingin mengatakan sesuatu padaku."


"Ya.."


"Kalau begitu didalam saja, Ayah juga sedang tidak ada dirumah."


"Maaf, tapi... bisakah kita berbicara di tempat yang lebih sejuk?."


"Bisa sih... memang sebenarnya apa yang ingin kamu katakan?."


"Pokoknya kita cari tempat yang nyaman terlebih dahulu."


"Baiklah, aku ikuti perkataanmu."


Waktu yang sudah menunjukkan pukul 20.10 malam, dan cuaca dingin yang menyelimuti tubuhku, kita berdua berjalan santai menelusuri jalan besar yang mengelilingi bukit dimana di puncaknya adalah rumah yang sebelumnya aku ada disana.


Jalan yang mengelilingi bukit ini membuat pinggirnya memberikan sebuah pemandangan kota yang sangat indah, dengan langit malam dengan bintang dan bulan yang menghiasinya.


"Sudah lama, kita tidak berbicara setenang ini."


"Wajar saja, akhir-akhir ini memang dipenuhi oleh kesibukan kita masing-masing."


"Yah... rasanya seperti ingin kembali ke masa lalu, aku hanya memikirkan cara bersenang-senang."


"Aku juga merindukan masa masa itu."


"Apa kamu merasa bahagia?"


"Hm?."


"Selama ini, apa kamu merasa bahagia?."


"Aku... merasa cukup bahagia sampai aku tidak ingin melupakan saat saat itu, dan merasa ingin waktu dulu berjalan lambat lalu mengulang kembali selamanya."


"Itu terdengar sedikit menyeramkan."


"Tapi bagiku itu adalah suatu keinginan dari hatiku."


"..."


"Tapi menghabiskan waktu seperti ini juga tidak buruk, aku juga tidak ingin waktu berulang-ulang setiap harinya... karena tidak ada yang bisa mengubah kenyataannya, lagipula aku juga sangat bersyukur atas apa yang telah aku jalani, maupun diriku sendiri, atau bersamamu."


"..."


"Apa ada suatu hal yang sebenarnya ingin kamu katakan?."


"Tadi pagi... saat aku mengobrol dengannya, dia memberitahukan semuanya kepadaku, dari hubungannya dengan ayahku, dan juga kejadian lepas kecelakaan lalu."


"..."


"Dan juga selama ini... aku telah salah, aku telah salah melihat bagaimana sesuatu hal yang selama ini telah aku anggap buruk.."


"A-Apa yang kamu maksud?."


"Aku membenci mereka yang berpisah meninggalkan dirimu kesepian, namun... alasan mereka berpisah, itu adalah a-."


Tiba tiba dia memelukku seakan tidak ingin aku mengucapkan kelanjutannya.


"Tidak ada yang perlu disalahkan, itu semua bukanlah salahmu... tidak ada yang menyalahkan dirimu."


"..."


"Masalah orang tuaku bukanlah salahmu, itu semua hanyalah keputusan yang dibuat oleh ibukota sendiri."


Aku melepaskan pelukannya dan menatapnya tidak percaya akan semua kenyataan ini.


"..."


"Kenapa kamu tidak mengatakannya??"


"Aku tidak bisa."


Dia memalingkan wajahnya yang kini telah mengalir air mata yang sudah tidak bisa ia tahan.


"Selama ini kamu menyembunyikan hal itu padaku? kenapa..."


"..."


"Kenapa kamu menyembunyikannya... Mai..?."


"Karena aku tidak ingin kehilanganmu!."


Dia mengatakannya dengan cukup keras, sampai aku dibuat diam olehnya.


"..."


"Aku tahu, jika aku mengatakan hal itu, kamu pasti akan pergi dan menghilang! aku tidak mau hal itu terjadi! maka dari itu... aku tidak ingin."


"Tapi... aku merasa sangat bersalah padamu, karena kehadiranku membuat orang tuamu berpisah, dan membuatmu kesepian-."


"Sudah lama."


"..."


"Aku sudah lama merasakan kesepian, bahkan sejak aku sama sekali belum mengenal maupun bertemu denganmu."


"..."


"Semuanya hanya melihatku sebagai anak yang tidak perlu diperhatikan, dan aku tidak pernah merasakan kehangatan mereka sejak lama, bahkan kamu belum hadir pada saat itu."


"..."


"Namun ketika kamu hadir dalam hidupku, semuanya berubah... aku tidak merasakan kesepian lagi... yang ada didalam pikiranku hanyalah ingin berada di dekatmu, bahkan begitu aku tahu alasan mengapa kedua orang tuaku berpisah... aku tetap menganggap dirimu sebagai seseorang yang paling berharga seperti nenek." Air matanya berjatuhan, namun dia tetap memaksa untuk tersenyum di depanku.


"..."


"Maafkan aku telah menyembunyikan hal itu padamu, aku terima jika kamu membenciku, karena memang semua ini adalah kesalahan padaku."


Aku perlahan mendekatinya dan memeluknya yang saat ini tengah menangis tersedu-sedu.


"Terima kasih."


"..."


"Kamu sudah menemaniku sampai saat ini... dan menanggap diriku berharga... bagiku, kamu juga seseorang yang berharga, bahkan jika aku masih belum menemukan ingatan lamaku, kamu orang yang sangat aku sayangi... kamu dan nenek, kalian berdua adalah orang yang berharga bagiku."


Jika aku terlahir di keluarga yang sama dengannya, aku tidak akan menyesalinya... semua hal yang telah aku lalui bersamanya, seperti sudah tergambar setiap momen didalam hatiku.


Dia menyadarkan diriku apa itu sebuah kasih sayang, perhatian, dan juga kebersamaan yang baru...


Mengisi sebuah memori yang terpotong oleh suatu hal, dan melanjutkannya dengan sebuah memori yang indah.


Sangat disayangkan pikirku, ketika mengingat bahwa kita hanyalah saudara tiri.


Namun aku tetap menyayangi dirinya apapun ikatan yang terjalin antara kita...


"Ka...kak."


"Kamu boleh menganggap diriku apa... sebagai seorang kakak, ataupun orang lain... namun apapun yang telah kamu anggap diriku ini sebagai sesuatu untukmu... aku tetap akan menjagamu selalu."


Tangisannya semakin jadi, ketika hatinya telah dipenuhi oleh rasa kebahagiaan...


Begitu juga dengan diriku yang merasa begitu lega, ketika aku berhasil mengatakan semua ini kepadanya.


Dan aku pun terus menemaninya menangis di malam yang dingin ini, sampai dirinya sudah cukup tenang.


.


.


"Kurasa malam ini cukup hangat daripada biasanya."


"Kamu benar."


"Aku rasa... aku berpikir sesuatu selama ini."


"Apa itu?."


"Aku ingin merasakan bagaimana rasanya saat aku memanggilmu kata cinta."


"Apa yang kamu maksud?."


"Kata cinta, seperti... sayang? atau memanggil namamu dengan perasaan yang lebih berdebar dari biasanya."


"Meskipun begitu, aku tetap ingin menganggap dirimu sebagai adikku."


"Kenapa aku tidak boleh menjadi seseorang yang bisa bersamamu selamanya?."


"Karena kamu adalah orang yang berharga untukku, dan maka dari itu.. aku ingin melihatmu bahagia, dengan jalan yang berbeda denganku... aku ingin terus mengawasi dirimu, sampai kamu tidak pernah menyadari keberadaanku."


"Kata katamu selalu sulit untuk dimengerti."


"Aku sudah berusaha semampuku."


"Um... tapi aku, tetap menyayangimu."