
"Mmhh!! haahh... akhirnya selesai juga... tetapi tidak aku sangka, ternyata yang menemaniku mengecek busana acara ternyata yang terpilih kamu."
"Benar benar meresahkan... bagaimana lagi, aku tidak bisa memintanya untuk mengganti dengan orang lain."
"Tetapi jika bukan kamu yang terpilih juga, aku tetap meminta kamu yang menemaniku."
Sambil menjulurkan sedikit lidahnya seperti sedang mengejekku.
"Perempuan memang sangat sulit diketahui isi pikirannya."
"Tapi mereka sangat ceroboh jika menjaga isi hatinya..."
"Apa maksudnya?."
"Kecuali didepan orang yang sama sekali tidak peka."
Dia langsung membuang mukanya dariku.
"Jangan membicarakan yang lain dulu... jadi bagaimana? mumpung masih ada waktu."
"Kalau kamu memang maunya sekarang juga, aku tidak keberatan kok."
"Lebih cepat lebih baik... tapi sepertinya aku mulai kehabisan energi."
"Kalau begitu nanti kita makan siang didekat toko busana milikku, aku sering makan disana dan makanannya sangat enak."
"Kalau begitu baiklah."
Karena hasil rapat tadi, aku terpilih menjadi orang yang menemani Celestia untuk mengecek busana busana yang akan dikirimkan ke acara liburan nanti untuk digunakan pada kontes busana, agar saat disana tidak ada baju yang mengalami kerusakan maupun kesalahan ukuran...
Semua baju baju itu sudah disiapkan semuanya di toko busana miliknya, dan pada hari acara, semua busana itu akan segera dibawa bersamaan dengan seluruh murid.
Dan kami berdua menaiki sebuah taksi untuk pergi kesana lebih cepat, agar semua pekerjaan ini tidak selesai sampai matahari terbenam...
"Tetapi aku tidak menyangka, kau mempunyai sebuah toko busana... sepertinya kita jauh berbeda."
"T-Tidak ah, jangan membuatku malu... lagipula toko itu awalnya dijalankan oleh mamaku, tapi karena mamaku sudah membangun satu lagi di daerah lain, jadi aku yang bertanggung jawab untuk menjalankannya."
"Hebat sekali, biasanya gadis zaman sekarang kebanyakan hanya fokus untuk kehidupan remaja mereka yang mereka banggakan."
"Dulunya aku pun juga seperti itu kok... namun saat papa meninggal dunia... jadi aku hanya hidup bersama mamaku saja... lalu kita sama sama berjuang untuk kehidupan kita, dan akhirnya toko busana yang mamaku jalankan sukses besar, hingga setiap harinya semakin banyak orang yang menggunakan toko busana kita dan bekerja sama... seperti acara ini."
"Maaf, aku jadi membuatmu bercerita."
"Tidak apa apa... bercerita seperti ini juga membuatku sedikit lebih lega."
"Syukurlah kalau begitu..."
Perjalanannya yang masih cukup panjang dikarenakan tokonya berada diluar kota, dan jadinya memakan waktu hampir sekitar dua jam hingga sampai kesana...
Dan selama perjalanan itu, aku melihatnya yang sudah sangat mengantuk hingga dia berusaha untuk tidak menjatuhkan kepalanya saat dia ingin tertidur.
"Aku tidak keberatan jika kau tidur bersandar pada pundakku."
"Eh? tidak... aku masih sang...gup."
Berbanding terbalik dengan omongannya, tubuhnya langsung bersandar pada tubuhku dan kepalanya yang sudah menempel dengan pundakku...
Meskipun agak sulit, tapi melihatnya yang sudah berusaha sebagai seorang remaja yang berjuang untuk kehidupan keluarganya... aku merasa gadis sepertinya sangat jarang ditemukan... apalagi hobinya yang sama denganku...
Aku bisa mendengar suara nafasnya yang begitu dekat denganku, dan juga aroma rambutnya yang sangat wangi padahal dia sudah seharian ini berada disekolah...
Salah satu tangannya yang berada diatas pahaku terasa sangat ringan, sampai sampai aku tidak bisa menggerakkan tubuhku karena takut untuk membangunkannya.
Yahh... sepertinya aku memang harus berusaha.
......................
"Mmhh.."
"Celestia..."
"Hm?."
"Kita sudah sampai..."
"Begitu ya..."
"..."
"..."
"Eh? tunggu... apa daritadi aku tertidur disamping tubuhmu??."
"Yah... seperti itu."
"M-Maaf! aku benar-benar tidak bisa menahannya."
"Tidak apa apa, yang lebih penting sebaiknya kita turun dulu."
"B-Benar juga."
Setelah kita turun dari mobil, aku disuguhkan oleh sebuah toko dengan model seperti rumah tradisional yang seluruhnya terbuat dari kayu yang terlihat sangat halus dan berwarna coklat tua.
"I-Ini... toko milikmu?."
"Um, masuklah."
Aku tidak bisa berkata-kata dibuat olehnya... karena isi dari toko ini dipenuhi oleh baju baju yang kelihatannya sangat berkualitas tinggi, sampai aku menyentuh salah satu dari baku baju itu, dan lembutnya sudah tidak bisa dibandingkan oleh baju dari toko yang biasanya aku datangi... mungkin ini adalah toko busana paling terbaik yang pernah aku kunjungi seumur hidupku.
"Oh iya, untuk baju yang sudah dipesan, semuanya ada didalam ruangan disebelah sana ya, aku ingin mengurus sesuatu terlebih dahulu."
"Ah, ya..."
Aku berjalan menuju kearah yang dia tunjukkan, sambil melihat-lihat semua busana yang terpajang di seluruh sudutnya.
"Sepertinya kamar yang ini... bukan?."
Aku pun membuka pintu kamar tersebut, dan mataku langsung berhenti berkedip begitu melihat isi kamar yang ternyata kamar ini bukanlah kamar yang aku cari...
Didalamnya kamar tersebut, dipenuhi oleh poster dari karakter novel maupun manga yang beberapa ada yang aku tahu, tidak hanya itu... kasur, selimut, maupun bantalnya juga memiliki desain dengan gambar karakter entah itu laki laki, maupun perempuan...
Dia bergegas menutup kamar itu dan tidak membiarkanku untuk mendekati pintunya lagi...
"A-Apa kamu sudah melihat semuanya?."
"S-Sudah terlanjur..."
"Aahh, duh! malu sekali!."
Wajahnya yang memerah seketika saat menutup wajahnya karena tidak berani melihatku.
"M-Menurutku itu wajar... jika memang seseorang mempunyai kesukaan mereka sendiri, maka dia boleh melakukan apapun selama tidak membuat orang lain terganggu.."
"Aku juga berpikir seperti itu... tetapi tetap saja ini sangat memalukan.."
"Anggap saja tadi tidak terjadi... jadi dimana kamarnya? aku takut memasuki kamar yang salah lagi."
"T-Tidak ada yang seperti ini lagi! kamar nya ada disebelah sini."
Aku dipandu olehnya kedalam kamar itu dan begitu masuk, semua busananya telah dirapihkan begitu sempurna, hingga aku bisa begitu mudah untuk mengecek satu persatu pakaian.
Hingga akhirnya aku selesai mengecek semua pakaiannya dan berencana untuk segera pulang mumpung hari masih sore.
"Kamu tidak ingin beristirahat disini dulu?."
"Maaf, tapi takutnya aku bisa pulang terlalu malam."
"Pfft hahaha, kamu sudah seperti anak gadis yang harus pulang dibawah jam malam."
Dia tertawa begitu mendengar perkataanku.
"Apa maksudmu... lagipula aku tidak mau terlalu lama berada didalam satu rumah dengan seorang gadis."
"Memangnya kenapa? aku tidak keberatan... apalagi kamu bisa menemaniku membaca novel."
"Didalam kamar yang itu?."
"Y-Yaudah aku menyerah! aku minta maaf! tolong lupakan isi kamar itu!."
"Aku tidak tahu bisa melupakannya atau tidak."
"Duh..."
Dia tertawa kecil begitu menikmati percakapan ini bersamaku, lalu bersandar di dinding didekatnya.
"Apa kamu benar-benar tidak sedang berpacaran dengan salah satu dari mereka?."
"Sudah aku katakan berkali-kali... mereka bukanlah pacarku."
"Tapi, kamu menyukainya bukan?."
"Bagaimana kau bisa menyimpulkan hal itu?."
"Hanya menebak saja, insting seorang gadis tidak pernah meleset."
"Kau sendiri?."
"Aku sih... tidak terlalu berpikir untuk berpacaran... karena aku sedikit mengalami trauma akan hal itu..."
"Maaf."
"Tidak apa apa... dulu saat aku masih menjadi seorang gadis yang begitu terobsesi akan cinta... hingga disaat hati ini butuh harapan yang besar... dia langsung menjatuhkan harapan ini dan meninggalkanku tanpa adanya kabar..."
"Sepertinya kau harus mencari laki laki yang bisa lebih kau percayai."
"Sepertimu?."
"Tidak tidak, bahkan jika kau mempercayaiku, aku bukanlah orang yang baik."
"Siapa yang mengatakan kamu bukan orang yang baik?."
"Aku sendiri merasa seperti itu."
"Saat pandangan pertama aku melihatmu, aku bisa melihat dirimu langsung dari tatapan matamu, meskipun awalnya seperti orang yang jahat... tetapi dibaliknya kamu orang yang lembut dan baik hati."
"Aku tidak bisa membedakan pujian atau ejekan disana."
"Ahaha..."
Lalu setelah menunggu beberapa saat kemudian, akhirnya mobil taksi yang sudah aku pesan datang..
"Mobilnya sudah datang, aku pergi dulu... terima kasih atas waktunya."
"Justru aku yang berterimakasih... hati hati dijalan ya."
"Memangnya kau ibuku?."
"Apa tidak bisa dianggap sebagai pasangan?."
"Terserahmu saja... aku pergi dulu."
"Um..."
Lalu aku masuk kedalam mobil dan melihat senyumannya yang lembut dari jendela mobil tersebut...
Meskipun melelahkan... aku mendapatkan sesuatu hal berharga yang didapatkan darinya... yaitu sebuah usaha yang memiliki keinginan bisa memperkuat perasaannya...
Dan karenanya, kini kondisiku menjadi lebih baik...
.
.
Setelah beberapa jam akhirnya aku sampai tepat didepan jalan besar rumahku, karena hari itu sudah begitu malam, dan aku merasa sangat mengantuk... mumpung aku melewati minimarket, aku sekalian Belanja bahan dapur yang sepertinya sudah habis...
Karena Mai sudah tidak ada disana untuk mengisi segala hal, akhirnya aku yang melakukan semua itu...
Namun begitu aku masuk... aku tidak sengaja melihat dia yang juga sedang berbelanja disini...