My Youth Bond Increase!!

My Youth Bond Increase!!
Chapter 137



*Kringg!! Kringg!!


"Mmhh..."


*Klek!


Pagi yang cukup dingin... dan aku yang terbangun dari tidur nyenyak...


Mimpi yang begitu indah, namun itu adalah sebuah kenyataan...


Aku meregangkan tanganku, dan tersadar saat Sakura sudah tidak ada disampingku, dan aku berpikir dia sedang berada di dapur..


.


.


Aku berjalan menuju ke dapur, dan sama sekali tidak mendengar sesuatu dari sana..


"Sakura?."


Aku memanggil namanya, namun tidak ada balasan sedikitpun...


Karena sudah begitu penasaran, aku mencoba mengecek diseluruh ruangan, dan aku tidak menemukannya dirinya sama sekali...


"Apa dia sudah berangkat kesekolah duluan? kenapa dia tidak membangunkanku..."


Perasaanku sedikit khawatir, namun aku akan segera bertemu dengannya disekolah nanti...


......................


"Izin?."


"Aoyama... kau benar-benar tidak tahu apapun dari kemarin... memangnya apa yang sudah kau lakukan selama ini?."


Ucapan Touya yang membuatku terdiam, namun aku begitu kebingungan dengan apa yang terjadi saat ini...


Sakura izin untuk tidak mengikuti pelajaran hari ini... dan dia tidak memberitahukan apapun padaku...


Jam pelajaran pertama telah dimulai... dan aku duduk seperti biasa dan tidak bisa memikirkan dua bangku kosong yang berada didepanku...


Kepalaku terus memaksaku untuk memikirkan sesuatu, namun aku benar-benar tidak bisa memahami situasi ini karena aku bahkan tidak pernah mendengar sesuatu...


"Baiklah anak-anak, ambil buku pelajaran kalian dan kita akan segera mempelajari materi yang akan keluar dari ujian akhir minggu depan..."


"( Benar juga... aku harus fokus untuk ujian yang akan datang... aku tidak boleh berpikir berlebihan pada...nya...)"


Saat aku ingin mengambil buku didalam tasku, aku menemukan sebuah kertas dan pita biru yang tentu saja aku mengetahuinya...


Itu adalah pita penjepit rambut yang aku berikan dulu, kepadanya...


Dan surat yang berisikan sebuah kata-kata...


Aku membacanya dalam diam... dan perlahan detak jantungku semakin cepat... keringatku yang keluar secara tiba-tiba... nafasku menjadi lebih berat dan sesak...


"Aoyama?."


"Kizuku Aoyama?."


"..!!"


Aku langsung tersadar saat guru yang berada tepat didepanku memanggil namaku berkali-kali.


"Kizuku, ada apa denganmu? jika kamu sedang sakit, lebih baik beristirahat saja di ruang kesehatan..."


"T-Tidak apa apa... saya... baik baik saja.."


"Tapi keringatmu banyak sekali, dan juga tanganmu gemetaran... apa ingin saya antar?."


"Tidak usah... saya baik baik saja.."


Aku terus berkata seperti itu sambil melamun...


"Maaf pak, biar saya saja yang mengantarkan Aoyama ke ruang kesehatan."


"Baiklah..."


Touya langsung berdiri dan membawaku yang kini hanya diam dengan tatapan kosong, tubuhku bergetar dan aku tidak bisa berkata-kata disaat Touya yang sedang menarik tanganku untuk pergi ke ruang kesehatan.


.


.


.


"..."


"Aku akan mengambil teh hangat untukmu sebentar."


Saat Touya ingin pergi keluar untuk membeli teh hangat di kantin, tapi aku menghentikan langkahnya saat aku berbicara kepadanya.


"Aku menyesal..."


"..."


"Seharusnya... aku tidak memiliki kehidupan seperti ini..."


"Jangan berbicara yang tidak-tidak, aku akan segera kembali."


"Semuanya terasa seperti hanya kenyataan yang tidak bisa aku lepaskan... padahal, dari awal aku tidak menginginkannya.."


"..."


Dia langsung menarik kerah seragamku, dengan tatapan yang begitu terlihat amarah yang dia berikan.


"Memangnya... apa yang kau rasakan selama ini!!??."


"..."


"Bagaimana bisa... pikiran seperti itu ada didalam kepalamu..."


"Kenyataannya memang seperti itu... takdir yang aku jalani ini hanyalah sebuah kesalahan..."


"Jadi... Apa sedari awal... kau hanya membohongi diriku... apa kau benar-benar orang seperti itu? Aoyama!!."


Dia mendorongku hingga aku terjatuh dan terhantam ke dinding ruangan...


"..."


"Apa yang kau lakukan..."


"Seharusnya kau mengerti... namun kau berkata seperti itu, seolah kau tidak pernah mengerti..."


"Memangnya... apa yang harus dimengerti... kamu bahkan tidak mengerti yang sebenarnya.."


"Yang sebenarnya... aku tidak perlu mengetahui yang sebenarnya... karena cukup melihatmu sa-."


*Buk!!


Aku langsung berdiri dan memukul wajahnya yang penuh dengan amarah.


"Anggapanku tidaklah berguna untukmu... kau berpikir seperti itu bukan?."


"Tch..."


"Dari awal... dirimu yang datang, dan mengatakan hak yang tidak masuk akal... utang budi? hanya itu sebatas pertemanan yang kamu inginkan buka-."


*Buk!!


Tiba tiba dia juga langsung membalas memukul wajahku...


"Aku pikir kau bisa menggunakan otakmu seperti biasanya... namun sepertinya kepalamu sudah rusak."


"Siapa yang kau bilang rusak!."


*Buk!!


"Rasanya sangat sakit, sialan!."


*Buk!!


Kita berdua saling memberikan pukulan dan bertengkar dengan cepat...


"Dari awal aku hanyalah sampah yang sudah kau anggap seperti itu bukan?."


"Sepertinya kau harus cepat sadar..."


"Aku sudah begitu sadar... bahwa selama ini aku tidak sadar, keberadaan diriku hanyalah sebuah masalah bagi orang lain..."


"Apa kau sedang diam-diam mengejekku? kalau kau ingin merendahkan orang lain... langsung saja berikan dengan nama yang sebenarnya!!."


"Mengatakannya berkali-kali pun... kau tidak bisa memahami, persoalan mudah seperti itu!."


Dengan penuh emosi aku mengayunkan tanganku dan ingin kembali memukulnya, namun dia langsung menghindar dengan mudah, dan menjatuhkan tubuhku dengan menendang kakiku.


"Khk!!."


"Kau benar... aku tidak bisa memahami dirimu, sejak awal."


"..."


"Aku sudah berusaha memahami jalan pikiran yang kau selalu buat... namun tetap saja, aku tidak bisa menggapainya... aku sudah berusaha selama ini... dan setelah mendengar perkataanmu, aku merasa diriku hanyalah orang bodoh yang dibutakan oleh kenyataan..."


Dia yang berada diatas tubuhku dan berusaha untuk menahan tangannya yang ingin memukul wajah menyedihkan ini...


Namun masih ada hal lain yang lebih penting, daripada saling memberikan rasa sakit yang tidak ada habisnya untuk dirasakan...


"Aoyama... apa kau pikir, dengan menyalahkan takdirmu sendiri, itu akan membuat mereka senang?."


"..."


"Jika kau menyesali semua hal yang telah kau lewati... tidak hanya aku... Nami, Kuchima, Mai, Yuuki dan juga Sakura, atau mungkin lebih banyak lagi orang yang mengisi waktu bersamamu... mereka tidak akan senang mendengar itu, bodoh!!."


Dia berbicara dengan penuh amarah dan masih menggenggam kerah seragamku yang kini diriku sudah tidak bisa bangkit dibawahnya...namun amarahnya itu yang berusaha untuk menyadarkan seseorang yang kini telah kehilangan arah dan melupakan arti dari semua ini.


"Jika kau menganggap diriku hanya mempermainkanmu... pertemanan beralaskan balas budi... aku tidak akan repot-repot disini mengatakan segala hal hanya untukmu..."


Setelah itu, dia bangkit dan berjalan menuju pintu ruangan dan berencana ingin keluar.


"Aku memang hanya mengenalmu beberapa tahun... maaf saja... jadi aku hanya bisa mengatakan hal itu kepadamu, karena aku bukanlah seseorang yang sedang mendapati masalah... benar begitu? Aoyama..."


Aku hanya terdiam dibawah lantai dan duduk menghadap balik dirinya... hingga dirinya sudah keluar dari ruangan ini, dan yang tersisa hanyalah diriku...


Aku sendiri pun juga tidak tahu... kapan sifat negatif ini muncul didalam pikiranku... aku hanya menganggap pemikiran itu benar, dan langsung menjadikannya sebuah alasan untuk menyerang diriku sendiri...


Diriku benar-benar tidak bisa berpikir positif kembali... dan surat itu... benar-benar membuatku jatuh didalam pikiran negatif yang aku ciptakan sendiri...