My Youth Bond Increase!!

My Youth Bond Increase!!
Chapter 43



"Jadi... untuk perempuan bisa tidur didalam ruang perpustakaan... kalian bisa mengatur suhu pendingin ruangannya, dan menyalakan penghangatnya... kami berada diluar jadi jika ada hal yang ingin diperlukan, kalian bisa meminta aku, Aoyama, dan juga Touya... dan hanya kalian yang memegang kunci ruangannya agar bisa dikunci dari dalam. " Kuchima menjelaskan tentang letak tempat tidur mereka yang sudah disiapkan.


"Tapi bukannya salah satu dari kalian memegang duplikatnya?. "


"Kami ada diluar... tidak perlu khawatir tentang itu. " Balas ku.


"Dan juga masih ada aku dan yang lainnya untuk berjaga jaga sembari menyelesaikan beberapa tugas. "


Touya yang ikut tingga disini bersama beberapa teman ekskul nya yang masih menyelesaikan beberapa tugas dan juga memang mereka juga ingin menginap disini untuk bersenang-senang.


"Ada juga beberapa anggota OSIS ku di dalam, dia juga memegang kuncinya dan tidak akan ada masalah. " Ucap Kuchima.


"Kita sudah merasa aman, karena masih ada banyak yang menginap disini untuk menghabiskan hari terakhir festival ini dengan bersenang-senang..." Melihat para murid yang masih bersemangat, Touya merasa hari ini adalah hari yang tidak bisa ia lewatkan.


"Kalau begitu sayang jika malam ini kita melewatkannya dengan tertidur... bagaimana jika kita bermain sesuatu?. " Ucap Nami sambil mengeluarkan beberapa alat permainan.


"Bagaimana dengan kartu?. " Usul Sakura.


"Itu terdengar bagus... bagaimana Yuuki? apa kamu ingin ikut?."


"Um... aku akan ikut."


"Bagaimana dengan para laki laki?."


"Aku ingin ikut juga sih... tapi... " Touya yang berharap ingin ikut bermain dengan mereka, tetapi pekerjaannya masih belum selesai.


"Kau masih ada beberapa tugas yang belum selesai... cepat bergerak, aku akan membantumu." Ucapku menahannya.


"Apa aku tidak bisa ikut bersenang-senang?." Ucapnya dengan murung.


"Berhenti memasang wajah yang tidak enak dilihat... setelah pekerjaan ini selesai kau bebas ingin melakukan apapun yang kau mau."


"Benarkah?? kalau begitu aku akan menyelesaikannya dengan cepat!." Dengan semangatnya yang membara, dia langsung mengambil peralatan dan pergi ke depan sekolah untuk melakukan pekerjaannya.


"Kalau begitu aku juga masih ada yang akan aku urus di ruang OSIS... jika ada yang ingin diperlukan jangan sungkan untuk datang." Lanjut Kuchima yang pergi ke ruang OSIS.


"Kalau begitu aku ju-."


"Tunggu sebentar. " Mai menghentikanku untuk pergi membantu Touya.


"Ada apa?. "


"Apa aku boleh meminjam ponsel kakak?. "


"Boleh... apa ada yang kau perlukan?. " Sambil mengeluarkan ponsel didalam kantungku.


"Aku ingin menelepon tante, apa nenek baik baik saja dirumah... ponselku sedang di charge didalam."


"Baiklah." Aku menyerahkan ponselku kepadanya.


"Hanya sebentar saja kok."


"Kau pegang saja... aku hanya ingin keluar membantu touya mendirikan gapuranya."


"Um... terima kasih."


Lalu aku pergi ke depan halaman sekolah membantu touya disana, Yuuki yang melihatku sambil melamun membuat Sakura penasaran saat melihat Yuuki.


.


.


.


*Tok tok tok


Suara palu yang sedang di pukul terdengar cukup nyaring diluar halaman yang diterangi oleh lampu yang berukuran cukup besar dari atas dinding sekolah.


Aku pun menghampirinya yang serius melakukan pekerjaannya...


"Jika kau melakukannya seperti itu, suaranya bisa mengganggu sekitar." Aku memperingatinya sambil memberikan beberapa paku.


"Ah maaf, aku terlalu bersemangat... hehe. "


"Berikan saja kepadaku... kau coba untuk merekat tali untuk didirikan disana."


"Oh baiklah." Dia menyerahkan palunya kepadaku.


Dia mengambil beberapa tali untuk mengangkat gapuranya didirikan didepan pintu masuk gerbang sekolah.


"Apa perlu lebih dibuat beberapa ikatan lagi?."


Dia menunjukkannya kepadaku.


"Di bagian ini lebih diperkuat... agar tidak mudah jatuh oleh angin ataupun tersenggol."


"Siap!. "


"... "


"... "


Kami berdua sedang fokus dengan pekerjaannya dengan cepat... karena cuacanya yang begitu dingin membuat kita semakin ingin untuk bergerak lebih cepat agar tidak merasa kedinginan.


"Bagaimana dengan adikmu? tidak apa apa dia ditinggal sendiri?. "


"Tidak apa apa, dia sudah hampir sama dewasanya seperti adikmu itu... apa yang ingin dia lakukan juga tidak ingin dibantu olehku lagi... benar benar sudah bukan seperti anak kecil lagi.."


"Baguslah kalau begitu... tapi bagaimana dengan orang tuamu?. "


"Keduanya sibuk bekerja diluar kota maupun negeri... setiap hari selalu berpindah tempat dan tidak ingin membuat aku dan Rina tidak bisa fokus untuk belajar."


"Begitu... "


"Bagaimana denganmu?. "


"Apanya?. "


"Tentang hidupmu sekarang... bukannya kau sudah berhenti bekerja dengan keluarga Yuuki?. "


"Ohh itu... rencananya aku ingin bekerja di cafe yang dekat dengan jalan besar dirumahku... tapi masih sedang kupikirkan."


"Kenapa kau tidak kembali bekerja dengan keluarga Yuuki?. "


"Itu tidaklah mudah untuk dipikirkan."


"Memangnya mengapa? kau tidak berbuat kesalahan maupun mendapatkan hukuman selama ini... jadi tidak ada salahnya."


"Bukan itu masalahnya... ini lebih rumit dari yang kau pikirkan."


"Iya sih... aku juga tidak pernah merasakan seperti apa menjadi yang kau lakukan. "


"Apa yang kau katakan... jika kau sudah mendapatkan hak yang jelas... itu sudah menjadi urusanmu sendiri. "


"Tapi ini adalah soal kedua hubungan keluarga besar... jika Sakura memang sudah dianggap keluarga oleh mereka... sedangkan aku sendiri... bahkan aku tidak memiliki keluarga sendiri."


"Jangan mengatakan seperti itu... aku juga selalu bisa kau andalkan... jadi aku sudah seperti keluargamu kan?. "


"Aku tidak tahu apa yang kau rencanakan, tetapi aku tidak akan pernah memberikan adikku kepada orang sepertimu. "


"Bukan itu yang aku maksud!! tunggu...apa maksudnya orang sepertiku hah?."


"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana yang ingin dibayangkan."


"Aku tidak seburuk itu... padahal aku sudah berbicara seserius ini..."


"Aku hanya bercanda... terserah apa yang ingin kau lakukan... asal itu tidak mengangguku.."


"Bagaimanapun kau mengatakannya... aku akan tetap mengganggumu.."


"Lebih baik kau urusi adikmu saja..."


"Berisik.."


Lalu kami berdua melanjutkan pekerjaannya lagi...


.


.


.


Beberapa saat kemudian, akhirnya gapura besar itu sudah selesai dibuat, dan hanya tinggal didirikan didepan gerbang masuk saja.


"Aoyama...Touya... bagaimana? sudah?." Kuchima datang dengan beberapa orang untuk membantu mengangkat gapura tersebut.


"Ya... semuanya sudah selesai, tinggal didirikan saja." Jelas Touya.


"Terima kasih banyak... sekarang kita dirikan terlebih dahulu benda ini."


Lalu semua orang mengambil posisinya masing-masing untuk bekerjasama mendirikan gapura ini.


Saat semua sudah berada di posisi mereka, Kuchima memberikan aba aba untuk bersiap.


"Satu... dua... tiga! angkat!."


Ada yang menariknya dengan tali, dan ada juga yang mengangkatnya dari bawah, semua mengeluarkan tenaganya yang tersisa untuk mengangkatnya...


Dan berkat kerja keras mereka semua, gapuranya berhasil didirikan dengan sempurna...


"Kerja yang bagus semuanya... sekarang buat penyangganya agar tidak mudah roboh." Kuchima menggerakkan anggotanya untuk membuat penyangganya.


"Apa ada yang kurang?." Aku mendekatinya dan bertanya kepadanya.


"Sepertinya tidak ada... semua sudah beres..."


"Baiklah kalau begitu."


"Terimakasih untuk bantuannya." Dia berterimakasih kepadaku dengan sangat tulus.


"Jangan berlebihan... aku tidak melakukan banyak." Aku menolak ketulusannya.


"Kalau begitu, bagaimana jika aku traktir minuman?."


"Jangan repot re-."


"Kalau begitu aku kopi susu saja!." Dari belakang Touya langsung memintanya.


"Apa kau tidak tahu malu?."


"Tidak ada kata malu di pertemanan, benar kan?."


"Ya, kau benar... kalau begitu aku akan membelinya untuk kalian."


"Tapi aku-."


"Sudahlah Aoyama... kapan lagi kita bisa mendapatkan minuman gratis?."


"Mudahnya kau berbicara seperti itu didepan orangnya langsung..."


"Haha, tidak apa apa... justru aku senang kalian tidak canggung maupun takut jika berbicara denganku... karena aku adalah ketua OSIS...banyak yang seperti itu."


"..."


"Kalau itu tenang saja... jika Aoyama orangnya, kita bebas melakukan apa saja."


"Kenapa kau mengatasnamakan aku sendiri?."


"tidak ada aturan..." Lalu dia meninggalkan kami dengan santai.


"Orang itu... maaf jika dia mengganggumu."


"Ah tidak tidak... sama sekali tidak menganggu... aku penasaran bagaimana dia bisa akrab denganmu."


"Jangan bertanya kepadaku... aku pun tidak tahu kenapa."


"Tapi bagus bukan? orang seperti dia sangat sulit untuk diajak akrab... karena kebanyakan orang seperti dia hanya ingin berhubungan dengan yang sama sepertinya."


"Perasaan manusia tidak ada yang bisa ditebak."


"Kamu benar... jadi? kau mau apa?."


"..."


"Hm?." Dia menatapku dengan senyum tidak ingin mendengar penolakan.


"Baiklah... kopi hitam tanpa gula." Dengan terpaksa...


"Ok.." Lalu dia pergi untuk membelikan minuman.


Lalu aku pergi keluar untuk menghirup udara segar di malam hari yang dingin ini...


Angin yang lewat sangat terasa lembut tetapi membawa kedinginan yang menggigil...


Menatap kekosongan malam pada langit yang diisi oleh bintang bintang bersinar terang seperti menemani bulan yang sedang berada sendiri disana...


Sambil menghela nafasku..


"Aku belum mengisi daily gameku..."