
Setelah pulang sekolah, aku harus mengikuti rapat acara yang biasa dilakukan akhir akhir ini.
Aku sudah memberikan pesan kepada Sakura untuk pulang bersama Yuuki saja ... saat dia membalasku dan mengatakan iya, aku pun merasa lega karena aku takut dia kelelahan karena menunggu aku disini.
"Kamu ... sepertinya akhir-akhir ini sedang sibuk?."
Celestia yang duduk disebelahku langsung menyadarkan diriku yang saat itu masih menatap layar ponselku.
"Yah ... ada banyak yang telah dilakukan."
"Benar sih ... saat jam istirahat tadi saja, kamu tidak kesana."
"M-Maaf saja kalau begitu."
"Aku paham kok, bagaimana jika setelah ini? apa kamu ada waktu? aku ingin membaca novel lanjutan yang kemarin, bukannya kamu bilang, kamu mempunyai semua seri lengkapnya?."
"Ya ... aku mempunyainya."
"Bagaimana kalau aku ke rumahmu??."
"Sepertinya ... aku tidak bisa ... karena aku harus mengurusi sesuatu."
"Begitu yau."
"Bagaimana kalau besok, aku akan memberikan semua seri lengkapnya kepadamu saja?."
"Karena besok adalah rapat terakhir, jadi ya ... baiklah, daripada tidak sama sekali."
"Kalau begitu aku akan membawanya besok."
"Um."
Lalu kita melanjutkan rapatnya hingga rapat kali ini hampir menghabiskan waktuku selama dua jam-an..
Lalu aku keluar dari sana sekalian bersama Celestia, sedangkan Touya masih ada keperluan dengan ekskulnya.
"Menurutku lebih baik berjalan dengan seadanya bukan? jika memilih keegoisan karakter sampingannya."
"Tetapi bisa mendapatkan banyak hal yang didapatkan karakter utamanya untuk pengalamannya."
"Kamu benar juga."
Saat kami sedang mengobrol sambil berjalan keluar gedung, aku langsung melihat Sakura yang masih duduk didepan sekolah menungguku.
"Sakura... kenapa dia menungguku disini?."
"Ada apa?."
"Celestia, sepertinya aku tidak bisa menemanimu, aku sudah ditunggu olehnya."
Sambil menunjuk kearah Sakura yang masih belum melihatku.
"Hm~ jadi pacarmu itu dia?."
"Apa yang kau kata- eh ... benar juga."
"Jadi benar???."
"Y-Yah ... akhir akhir ini."
"Tidak aku duga ... gerakan kamu cepat juga."
"Justru hal ini sangat terbilang terlalu lambat."
"Memangnya kenapa?."
"Aku sudah mengenalnya dari kecil ... jadi baru kali ini."
"Haah~ ternyata teman masa kecil yang akhirnya menjadi pasangan kah ... tidak buruk."
"Jadi begitu, kau bisa mengerti bukan?."
"Tenang saja, aku mengerti."
"Baguslah kalau begitu, karena dia tidak mau hubungan kita terbong-."
Tiba tiba dia sudah berjalan mendekati Sakura.
"O-Orang itu..."
"Aku langsung bergegas menyusulnya."
.
.
.
"Hai, kamu... Sakura kan?."
Sakura yang terkejut langsung berdiri dan kebingungan akan kehadirannya.
"Eh, um... benar."
"Sakura..."
"Ao? kamu sudah selesai?."
"Ya... bukannya aku sudah mengatakan kalau jangan menunggu-."
"Aku Celestia, salam kenal."
Dia langsung mengambil giliran bicaraku untuk berbicara pada Sakura.
"Aku... Sakura."
"Tidak aku duga, ternyata kamu adalah pacarnya Aoyama."
"Eh?."
"A-Ada banyak hal yang terjadi... jadi..."
"Tenang saja, aku tidak akan memberitahukan kepada siapapun."
"Kalau begitu... baiklah."
Untuk sementara aku bisa tenang...
"Enaknya ya... kamu mendapatkan orang yang lumayan sempurna meskipun ada banyak kurangnya."
"Apa maksudmu? kau mengejekku?."
"Aku sedang memujimu."
"Aku tidak merasa seperti itu.."
"..."
"Celestia... apa... pandanganmu kepada... Ao."
"..."
"Eh~ kamu cemburu padaku?."
"..."
Pandangan Sakura pada Celestia begitu serius ketika mempertanyakan bagaimana Celestia melihatku...
Tetapi Celestia yang sangat menyebalkan, perlahan mendekati tanganku dan saat ingin menyentuhku tiba tiba Sakura menarik lenganku hingga aku sedikit terkejut.
"Kenapa kamu menariknya?."
"..."
"Walah.."
Perkataannya yang membuatku menjadi salah tingkah hingga tidak sanggup untuk melihatnya yang kini sedang melindungi diriku dari Celestia.
"( Justru aku yang terkena serangannya... Sakura... ternyata begitu...)"
"..."
"Jangan terlalu serius seperti itu... justru itu yang ingin aku lihat..."
"Eh?."
"Jangan biarkan apa yang kamu punya direbut oleh orang lain... karena jika kamu merasakannya... rasanya akan menjadi rasa yang tidak bisa kamu lupakan."
Celestia mengatakan sebuah hal yang membuatku terdiam... kalau tidak salah dia pernah mengatakan... kalau dia pernah ditinggalkan begitu saat dia sedang mengharapkan seseorang.
"Aku pergi dulu, tapi ingat..."
Celestia mendekati Sakura dan membisikkan sesuatu kepadanya.
"Jika kamu tidak melindunginya dengan baik... maka aku akan merebutnya lho."
"..."
"Dah..."
Lalu dia pergi tanpa mengatakan sesuatu lagi kepadaku.
"Barusan... apa yang dia bisikkan padamu?."
"Bukan apa-apa.."
"Benarkah? kau terlihat langsung terdiam, saat mendengarnya."
"Sebaiknya kita langsung pulang saja."
Sakura langsung berjalan meninggalkanku terlebih dahulu dengan jalannya yang cukup cepat.
"Sakura, tunggu."
"..."
Hingga kita berdua sudah pergi cukup jauh, dan ternyata dia masih berada dibalik dinding gedung sekolah...
"Ternyata... aku keduluan ya... sayang sekali."
Didalam dunia ini, siapa yang bisa mendapatkannya maka dia akan bisa memilikinya... maka manusia tidak pernah berpikir untuk tidak ragu dalam mendapatkan sesuatu, sebelum mereka menyesal saat tidak mendapatkannya...
......................
"Sakura..."
"Ao... aku ingin bertanya sesuatu padamu..."
"Apa itu?."
"Apa kamu... masih mencintaiku?."
Matanya menatapku begitu serius saat dia berbalik kearahku.
"K-Kenapa tiba tiba seperti itu?."
"Jawab saja."
"Bukannya aku sudah pernah mengatakannya."
"Aku ingin kepastian yang lebih."
"Huh... kau ini memang pacarku yang merepotkan..."
"..."
"Dari dulu hingga sekarang... bahkan aku masih menyimpan perasaan ini dan tidak bisa melupakannya semudah itu... dan aku pikir aku sudah tidak bisa memilikinya selamanya... tetapi, sekarang aku sudah memilikinya... aku tidak ingin membuang-buang apa yang sudah aku inginkan dari dulu..."
"..."
"Meskipun agak tiba tiba, tetapi asal kau bisa berada bersamaku... sampai kapanpun aku tidak akan berpaling darimu."
Mendengar hal itu, wajahnya memerah tersipu malu, dan kembali berbalik membelakangiku.
"A-Ayo kita pulang..."
"Eh? begitu saja?."
"..."
"Kau tidak membalasku tentang ini?."
"..."
Aku pun menghembuskan nafasku karena sikapnya yang sedikit sulit untuk ditaklukkan.
"Baiklah, kalau kau tidak ingin membalasnya... meskipun aku sedikit sedi-."
Dia menutup mulutku dengan jarinya, dan wajahnya yang memerah tak berani menatapku menjadikan parasnya yang sangat imut.
"Nanti... aku akan membalasnya saat dirumah."
"A-."
Aku tidak bisa berkata-kata kembali, dan hanya bisa memiliki keinginan untuk melihatnya seperti ini terus menerus tanpa henti.
.
.
.
"Omong omong... bukannya tadi kau pulang bersama Yuuki?."
"Ohh itu... tadi saat kita keluar... dia dijemput oleh mobil keluarganya, dan jadinya dia tidak bisa pulang bersama denganku."
"Akhir akhir ini... dia juga tidak mengatakan sesuatu kepadaku."
"Yuuki juga tidak membolehkan aku untuk ikut... karena saat kemarin aku sakit, dia menjadi sangat khawatir kepadaku."
"( Apa Yuuki sudah tahu... tentang penyakitnya..)"
Saat aku sedang memikirkan tentang dia, tiba tiba Sakura berhenti berjalan saat melihat sesuatu.
Aku pun melihat apa yang sedang dia lihat, dan itu adalah sebuah tempat hiburan yang baru saja buka dan banyak sekali hal yang menarik disana..
Aku pun langsung mengerti apa yang dia inginkan... lalu aku meraih tangannya dan menggenggamnya.
"..."
"Kau... menginginkannya bukan?."
"Tapi... mana mungkin, aku..."
"Selama ada aku, kau boleh pergi kemana saja yang kau mau... jadi, ayo."
Matanya begitu berbinar-binar saat melihat wajahku yang sedang berkata demikian.
"Um!."