
"..."
"Hei, aku sudah mencarimu didepan toko tetapi kamu tidak ada disana."
"Mai."
"Kamu habis kemana saja?."
"Aku hanya... lupakan saja, sebelumnya aku ingin minta maaf."
"Ada apa? kenapa kamu... bersikap aneh?."
"Apa kamu bisa pulang sendirian?."
"Memangnya kenapa?."
Sebelum aku ingin menjelaskannya kepada Mai, Kak Danki yang sudah mengambil jaketnya datang menemui tempatku.
"Oh..."
Saat dia tahu kalau aku sedang bersama adikku, dia langsung bergerak mundur sedikit untuk memberikanku waktu berbicara pada Mai.
"Mai, apa kamu kenal dia? Kak Danki."
"Kak Danki... bukannya dia kakaknya kak Senki? teman kakak dulu."
"Benar... tetapi sekarang."
Aku menoleh kearahnya, dan dia hanya menganggukkan kepalanya kepadaku.
"Beberapa waktu lalu Senki mengalami kecelakaan."
"!!."
"Dan sampai saat ini, kondisinya sangat buruk... aku tidak tahu seburuk apa namun, sangat buruk."
"..."
"Dan saat ini aku ingin menemuinya bersama dengan Kak Danki, jadi aku ingin pergi dari sini, dan meninggalkanmu sendiri pulang kerumah."
Sempat terlihat dirinya yang merasa syok, namun dia berusaha untuk tenang dan mengatur nafasnya.
Dia menggelengkan kepalanya dalam diam, lalu memegang salah satu tanganku dengan lembut.
"Aku tidak apa apa... Kamu pergi saja, karena pasti hal ini lebih penting dari apapun disaat seperti ini bukan?."
"Kamu benar... terima kasih."
"Kalau begitu aku pulang duluan."
"Ya, hati hati."
"Um."
Dia pun pergi pulang terlebih dahulu meninggalkan kita berdua.
"Ternyata hubungan kalian terlihat lebih akrab dari dulu."
"Banyak hal yang terjadi, dan semua itu membuat hubungan seseorang berubah."
"Kamu benar, oh ya.. motorku ada dibelakang tempat parkir, sekalian saja."
"Baik."
Aku pun mengikutinya kebelakang tempat parkir dan disana terdapat sebuah motor sports yang begitu besar dan terlihat cukup mahal.
Aku pernah melihat motor ini sebelumnya, namun itu bukan miliknya, tapi milik pamannya... karena tidak ada anak sekolah dasar yang bisa membawa motor besar seperti ini.
"Motor ini, jadi punya anda sekarang?."
"Oh ya... sejak paman meninggal, dia memberikan motor ini untukku."
"Aku turut berduka cita."
"Ya..."
Aku mengamati motor tersebut, namun anehnya tidak ada bekas kerusakan atau apapun itu setelah kecelakaan.
Karena itu aku pun mempertanyakannya kepada dia.
"Motor ini... tidak ada kerusakan sama sekali akibat kecelakaan lalu?."
"Bukan yang ini."
"Eh?."
"Kalau itu aku menggunakan motor hasil tabunganku, karena aku ingin menunjukkan kepadanya motor hasil dari jerih payahku... tetapi motor itu sudah hancur dan... aku tidak tahu ingin memperbaikinya atau tidak."
"Lebih baik diperbaiki, karena itu motor hasil dari usaha anda."
"Sepertinya iya... tapi..."
Aku mengerti disaat melihat wajahnya yang kembali mengingat kejadian kecelakaan tersebut... pasti setiap orang akan memiliki trauma akan hal itu, apalagi motor tersebut adalah motor miliknya.
"Semua pasti akan ada jalannya, seperti anda berjuang untuk membeli motor itu bukan?."
"Kamu benar."
Suara motornya begitu menggelegar, hampir saja aku kehilangan telingaku sesaat dia menarik gasnya.
Dan cara dia mengendarai motor sports sangat lihai dan handal, seperti sudah bertahun-tahun dia membawa motor seperti ini dalam hidupnya.
Perjalanan memakan waktu hampir setengah jam, dan akhirnya kita telah sampai didepan rumah sakit besar yang tidak asing bagiku... karena aku cukup sering melewati rumah sakit ini jika menaiki kereta dan melihatnya dari dalam.
Selama ini aku melewati rumah sakit yang saat ini Senki sedang berada didalamnya... dan aku tidak pernah menyadari hal itu.
"Baiklah, ayo."
"Ya."
Aku mengikuti jalan Kak Danki masuk kedalam rumah sakit dan naik ke lantai 3 di gedung rumah sakit ini.
Lalu kita memasuki ruangan yang telah diisolasi, dengan sebuah kaca yang memisahkan kita dengan ruangan yang ada didalam.
Entah kenapa tubuhku menjadi kaku dan gemetaran, sesaat aku hanya perlu berjalan beberapa langkah lagi untuk melihat dirinya.
Aku tidak sanggup melihatnya yang menderita akibat semua ini.
"Kamu tidak apa-apa?."
Kak Danki yang melihatku berhenti pun ikut berhenti dan menanyakan kondisi diriku.
"Saya hanya..."
"Tidak apa-apa... kamu pasti bisa melakukannya."
"..."
"Tapi jika kamu masih tidak sanggup, aku akan menunggumu didepan."
"Tidak... saya sudah siap."
"Baiklah..."
Kak Danki membuka sebuah pintu yang terdapat ruangan kecil dengan sebuah kaca yang begitu lebar, dengan memperlihatkan sebuah ruangan yang kini terbaring seorang laki-laki yang begitu kurus, lemah tak berdaya dan seluruh tubuhnya dipasangkan kabel atau alat alat yang terus berada didalam dirinya.
"..."
Aku melihatnya dari balik kaca, dan rasanya begitu menyakitkan hati... bagaimana bisa aku melihat dirinya dengan keadaan seperti ini.
"Penyakit yang dialaminya membuat dirinya dikondisikan seperti itu..."
"..."
"Dia mengalami gegar otak, dan beberapa sarafnya sudah rusak, hingga membuatnya menjadi koma selama ini... bahkan dokter terbaik disini cukup tidak menduga akan hal ini... dia bisa bertahan atas semua yang telah ia rasakan."
Tanganku menggapai kaca yang memisahkan ruangan ini... begitu dingin dan sunyi...
Hanya terdengar suara alat yang menghubungkannya, dan mempertahankan kehidupannya...
"Selama berbulan-bulan... dia terus berjuang mempertahankan rasa sakitnya... dengan alat alat yang serba adanya... aku mempertaruhkan segalanya untuk biaya kehidupannya... dibantu juga oleh keluarga yang lainnya."
"..."
"Aku tahu, tidak ada kesempatan baginya untuk bisa kembali merasakan kehidupan yang normal... namun sampai saat ini... aku ingin melihatnya membuka matanya dan berbicara... aku mengharapkan hal itu setiap aku datang melihatnya."
"..."
Aku tidak bisa berkata-kata... rasanya dadaku terasa sesak dan sakit... entah itu rasa bersalah, ataupun aku bisa merasakan rasa sakitnya...
"Apa saat ini... dia bisa mendengar suara kita..."
"Jika kita berbicara disampingnya... mungkin kita masih bisa berharap dia bisa mendengar suara kita... dokter mengatakan seperti itu."
"Saya... ingin memberitahukannya tentang Sakura... namun itu tidak mungkin."
"..."
Entah perasaan apa yang ada didalam hatiku... amarah, rasa bersalah, kesedihan.. semuanya bercampur aduk didalamnya.
Amarah yang tidak bisa aku ungkapkan karena melihat sebuah kenyataan yang berdampingan bersama sebuah takdir... yang dimilikinya...
Rasa bersalah yang terus menghantuiku dan membuat keresahan didalam hatiku...
Dan kesedihan membayangkan kondisinya saat tahu keadaan Sakura saat ini... bahkan aku tidak sanggup menganggap Sakura telah pergi.
Aku tidak ingin... diriku tidak ingin menerimanya...
Sulit membayangkan jika mereka berdua pergi meninggalkan diriku sendiri disini.. semuanya terasa hanya sementara.. kebahagiaan yang tidak selamanya bisa kurasakan.
Semua ini hanyalah sebuah pinjaman...
"Aku akan masuk untuk menemaninya lebih dekat... kamu ingin ikut?." Ucap Kak Danki yang sedang memakai sebuah baju lapisan khusus untuk masuk kedalam sana agar tetap steril.
"Ya..."
Dengan langkah yang berat aku berjalan untuk memakai baju lapisan tersebut...
Untuk melihatnya lebih dekat, dan aku ingin berbicara kepadanya... mengenai janji kita.
"Senki..."