My Youth Bond Increase!!

My Youth Bond Increase!!
Chapter 203



"( Tubuhku sangat dingin... tapi kenapa.... bibirku terasa begitu hangat...? )"


"?!!"


"Uhuk uhuk!!"


"Aoyama? syukurlah..."


"Aku... apa yang sedang aku lakukan?"


"Kamu tenggelam dan hampir kehabisan nafas..."


"Aku..."


Aku melihat dirinya yang juga masih basah kuyup dengan gaun putih yang sudah rusak... bagian bawahnya seperti disobek hingga gaunnya hanya sampai di pahanya.


"Kamu..."


"Karena aku tidak bisa berbuat apa apa dengan gaun panjangnya, jadi terpaksa aku merobeknya..."


"Maaf, dan juga terima kasih sudah menyelamatkanku."


"Um, ini juga berkat Azumi yang menyelamatkan kita."


Aku pun sadar jika kita sedang berada di sebuah kapal kecil yang sedang dikemudikan oleh seseorang.


"Azumi..."


"Kau terlalu ceroboh, melompat langsung dari atas... untung saja kalian berdua beruntung."


"Terima kasih..."


"Tidak, justru aku yang harus berterimakasih... aku sudah sadar sekarang."


"..."


"Bahwa perasaan ada untuk tidak dipermainkan... apapun itu alasannya, karena itu aku juga minta maaf kepadamu, Shiraishi Yuuki."


"Aku mengerti bagaimana perasaanmu, aku juga salah karena tidak bisa berbuat apa apa."


"Dan juga... sejak beberapa menit yang lalu setelah kejadian tadi, polisi sudah datang dan berada di kapal itu... jadi semua masalahnya telah selesai."


"Begitu ya..."


"Tentu saja, aku akan bertanggung jawab bersama dengan ayahku... meskipun hal ini tidak akan membuat semua kesalahanku terbalaskan."


"Kau tidak bersalah..."


"..."


Saat kami sampai di daratan bersama dengan kapal pesiar mewah tersebut, para polisi langsung keluar bersama dengan orang orang yang telah terbukti sebagai seorang penjahat, termasuk juga Sakamura dan Adam.


Dan begitu kami bertiga sampai... melihat beberapa polisi yang datang mendekati kita, membuat Azumi mengerti bagaimana akhirnya.


Dia pun mengangkat kedua tangannya ke depan seperti menyerahkan dirinya, namun bukannya ia ditangkap dan diikat, polisi itu hanya melewati kita bertiga bersama dengan yang lainnya.


"Kenapa..."


"Sudah kukatakan... kau tidak bersalah."


"..."


"Ini semua adalah tanggung jawab Sakamura, begitu juga dengan dirimu... mereka pun mengerti akan hal itu."


"Tapi aku... telah melakukan kesalahan yang tidak bisa dimaafkan!"


"Itu hanya menurutmu, namun tidak dengan kami... apa yang telah kau perbuat juga, aku sudah mengetahui semuanya."


"..."


"Tentang surat yang bersamaan datang dengan undangan acara pernikahan ini... aku pikir ayah Shiraishi memberikan kode akan hal itu, namun ternyata salah."


"..."


"Kau yang memberikan surat itu kepadaku... bahwa kau memberikan kepadaku kesempatan untuk hal ini, dan juga... aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu."


"..."


"Terima kasih... sudah merawat adikku dengan baik."


"!!"


Aku menepuk bahunya setelah aku berjalan melewatinya... pelabuhan ini menjadi sangat ramai, dipenuhi oleh orang orang yang turun dari kapal, juga dengan para polisi...


Tidak hanya itu, dia datang ketika aku sudah berada didalam ruangan istirahat sendirian...


"Aoyama?! syukurlah kau disini, mereka mengatakan kau sedang dirawat disini... maaf karena aku begitu telat untuk bergerak, namun semuanya telah berhasil, dan semua masalah telah selesai berkat bantuan darimu... aku sangat sangat berterimakasih."


Dia membungkukkan badannya dengan berterimakasih di hadapanku... dan aku berdiri sambil mendekatinya..


Begitu dia sadar, dia kembali berdiri dan terkejut...


"..."


Aku yang berjalan mendekatinya, dan langsung memeluknya dengan erat.


"Syukurlah... kamu baik baik saja, Akasa."


"!!"


"Maaf karena aku terlambat mengetahuinya, maaf karena aku tidak bisa menemukan dirimu dengan cepat, maaf karena aku tidak bisa menolong dirimu."


"..."


"Syukurlah aku bisa bertemu denganmu disini... syukurlah."


Perlahan tangannya juga bergerak dan memelukku perlahan.


"Kakak..."


"Pasti kamu sudah melewati banyak sekali penderitaan... maaf karena aku tidak bisa hadir di dekatmu."


"Kakak... aku minta maaf karena tidak memberitahukan kepadamu langsung... karena aku... masih merasa tidak percaya, kalau aku masih bisa bertemu denganmu."


"Tidak apa apa, aku mengerti akan hal itu."


"Apa kakak baik baik saja?"


"Ya... aku baik baik saja."


"Aku merasa sangat senang... bisa melakukan hal untuk ayah dan ibu, bersama kakak."


"Ayah dan ibu pasti sangat bangga padamu, aku pun merasa sangat bangga... saat mengetahui dirimu."


"..."


Saat aku berhasil menangkap Sakamura... dia menjelaskan semua hal tentang keluargaku, juga dengan adikku yang masih hidup.


Dia mengatakan kalau Erlic adalah adik kandungku yang diselamatkan oleh Azumi... saat mendengar hal itu, sejujurnya aku merasa begitu terkejut... dan pada hal yang sama aku juga tidak percaya bahwa dirinya benar benar seorang adikku.


Namun sekarang aku sudah menemukannya... maka dari itu... aku sudah puas.


.


.


.


Setelah beberapa jam saat kejadian tersebut, semua sudah terkendali dengan baik...


Dan kami masih berada di pelabuhan tersebut, hingga menjelang sore hari.


Saat aku ingin pergi menemui yang lainnya, ditengah jalan aku bertemu dengan Touya.


"Aoyama, bagaimana keadaanmu?"


"Aku baik baik saja, bagaimana dengan Kuchima?"


"Saat itu Kuchima langsung tidak sadarkan diri karena menahan sakit pada lukanya, jadi dia langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat."


"Begitu ya... kalau begitu kita harus segera menemuinya-"


"Tunggu dulu, kau ingin kemana?"


"Kemana? tentu saja ke rumah sakit."


"Kamu memang akan pergi ke rumah sakit, tapi bukan yang itu."


"Ha? apa maksudmu??"


Dia tidak menjawab pertanyaan dariku, dia hanya tersenyum aneh, seperti ada hal yang disembunyikan padaku.


"Pokoknya, cepatlah ke depan, Yuuki sedang menunggumu."


"Kau bertingkah sangat aneh."


"Karena aku aneh, kau pasti akan terkejut."


"..."


Aku benar benar dibuat kebingungan dengan perkataannya, namun aku tidak terlalu memikirkannya dan pergi ke depan untuk menemui Yuuki.


Di luar, cahaya jingga dari matahari yang ingin tenggelam membuat mataku benar benar silau.


Namun aku bisa merasakan hangatnya... dan juga perasaan yang cukup lega.


Aku bisa memenuhi keinginannya, dan saat ini aku sudah mengabulkan harapannya.


Aku harap dia akan senang...


"Aoyama."


Saat aku masih menatap pemandangan laut yang indah itu, Yuuki memanggilku dari belakang dengan tampilannya yang sudah berganti pakaian gaun itu.


"Touya bilang ada yang ingin kamu katakan."


"Um..."


"..."


"Awalnya aku merasa aku sudah tidak bisa berbuat apapun lagi... tapi ternyata aku masih mempunyai harapan."


"..."


"Meskipun ada beberapa harapanku yang pupus secara bersamaan sih."


"Kamu masih memikirkannya? maaf kalau hal itu membuatmu memikirkannya."


"Justru aku merasa lebih lega, karena aku sudah mengetahui kebenarannya... sejak pertama kita bertemu... aku berharap ingin bersamamu menjalankan banyak waktu yang panjang, aku harap kita bisa bercanda dan saling menjahili seperti saat itu, namun sekarang aku telah melihat... isi hatimu yang sebenarnya."


"..."


"Apa kamu benar benar, mencintai Sakura?"


"Kenapa kamu mengatakan hal itu sekarang?"


"Hanya ingin memastikan."


"Huh, benar benar merepotkan."


"..."


"Aku sangat mencintainya... sampai detik ini pun, aku tidak akan pernah bisa melupakan dirinya, rasanya sulit untuk membuang semua ingatan ini, sangat sulit hingga aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan."


"..."


"Namun kalau aku terus berpikiran seperti itu, sama saja aku bisa membuatnya bersedih, maka dari itu... aku akan tetap mencintainya, didalam hatiku yang sudah aku simpan begitu dalam.


"Dia pasti sangat senang."


"Aku harap seperti itu."


"Kalau begitu aku harus memberikan ini padamu."


Dia memberikan sebuah pita yang sebelumnya telah aku berikan kepadanya... pita milik dirinya.


"Kenapa kamu mengembalikannya kepadaku?"


"Karena aku tidak pantas memiliki barang yang paling berharga bagimu, juga bagi dirinya."


"Tapi... aku memberikan ini untukmu, karena dia pasti senang melihatmu menggunakan benda ini."


"Bagaimana kamu bisa tahu, kalau dia akan senang?"


"Yah... karena kamu adalah sahabat masa kecil yang paling disayangi olehnya."


"Lebih baik kamu melihat jawaban darinya langsung."


"Ha? apa yang kamu katakan?"


"Sakura... sedang menunggumu."


"..."