My Youth Bond Increase!!

My Youth Bond Increase!!
Chapter 55



Libur sekolah...


Hal itu adalah sesuatu yang sangat ditunggu-tunggu setelah berjuang dari sebuah ujian yang mempertaruhkan kenaikan kelas...


Aku cukup lega karena aku percaya diri dengan ujian yang sudah aku kerjakan semua.


Dan hari ini adalah hari yang aku nanti nantikan setelah semua yang sudah terjadi selama akhir semester kelas satu.


Dan kebetulan Mai sedang sibuk dengan ujian masuk sekolah SMA...


Dari kemarin hingga tadi malam aku mengajarkannya materi materi sesuai dengan ujian masukku setahun yang lalu...


Aku memberikan beberapa... tidak, maksudku puluhan soal soal yang lebih banyak dari jumlah soal dalam ujian masuk itu.


Dia berusaha sangat keras untuk masuk ke SMA yang sama denganku, yaitu SMA Asterisk.


Aku sebagai kakaknya tidak akan membiarkannya begitu saja... aku juga berjuang sebisaku untuk mengajarkannya.


Maka dari itu dia sibuk dirumah nenek untuk ujian masuk dan tidak datang kerumahku hari ini.


*Nittt Nittt


Suara alarm berbunyi cukup keras di telingaku, aku langsung terbangun dengan nyawa yang masih tertinggal...


Rasanya ingin kembali tidur karena cuaca didalam kamarku sangat sejuk.


Tetapi aku tidak bisa melupakan ada turnamen game online pagi ini dan aku harus segera bersiap siap untuk itu... hadiah juaranya lumayan banyak untuk menambah uang tabunganku.


Aku memaksa badanku untuk berdiri dari tempat tidur dan membuka jendela kamarku.


*Klek!


*Wuushhhhhhh


"Uhh... sepertinya pagi ini lebih dingin dari biasanya." Saat aku berbicara, embun putih yang keluar dari mulutku menandakan bahwa cuaca pagi ini lebih dingin dari biasanya, karena sekarang sudah mulai musim gugur...


Aku menutup kembali jendelaku dan keluar dari kamarku.


*Tap tap tap


Isi rumahku yang sunyi ini, hanya terdengar suara kakiku yang berjalan kearah dapur.


Aku membuka laci atas didapur untuk mencari sarapan.


"Serealnya habis? huh... keluar rumah rasanya malas sekali.."


Mengetahui beberapa bahan makanan yang habis, aku mencuci muka dan mengambil jaket sedikit tebal untuk pergi ke minimarket terdekat.


"Huhh... dingin." Aku menghembuskan nafasku di kedua telapak ku dan menggesek kedua telapak tangannya.


Saat aku membuka pintu gerbang kecilku, dari sebelah sana dan diwaktu yang sama dia juga baru saja keluar.


"Ao... selamat pagi." Saat dia melihatku dan memberikan senyuman pagi nya kepadaku.


"Pagi."


Dia berjalan mendekatiku.


"Belanja?."


"Ya, aku sedang kehabisan bahan."


"Kalau begitu kita sama."


"Benarkah?."


"Um... aku ingin membuat sarapan untuk kita berdua, tapi kehabisan gula."


"Kenapa kau tidak menyuruhnya?."


"Aku yang menyuruhnya agar aku saja yang membeli, aku juga tidak memikirkan hal itu."


"Seperti kau sekali."


Lalu akhirnya kita berdua bersama pergi ke minimarket untuk berbelanja bahan yang ingin dibeli.


.


.


Setelah kita sudah membeli apa yang dibutuhkan, kita berdua kembali pulang bersama lagi karena memang rumah kami berdua bersebelahan.


"Hari ini, cukup dingin ya."


"Ya... rasanya aku ingin hibernasi seharian."


"Justru olahraga adalah yang paling penting... kamu tidak boleh tidur seharian."


"Tenang saja, aku tidak ingin menghabiskan waktu berharga ini hanya untuk tidur seharian."


"Apa kamu ingin pergi?."


"Apa aku terlihat seperti itu?."


"Aku hanya menebaknya."


"Masih ada tugas yang dikerjakan, dan juga sudah lama sekali aku tidak belajar penuh."


"Padahal hari libur... tapi kamu masih memikirkan untuk belajar."


"Biar saja... ini memang kebiasaanku."


"Apa aku boleh ikut?."


"Tidak."


"Ehh kenapa?."


"Yang ada kau hanya menggangguku saja, aku tidak ingin belajar sekarang, dan juga bukannya kau bisa belajar dengan Yuuki?."


"Tapi jika dilakukan bertiga pasti lebih baik.."


"Aku pikir, sendiri lebih baik."


"Setidaknya tolak dengan memberikan keuntungan sedikit, aku sudah berusaha untuk mengajakmu."


"Kau yang mengajakku duluan... aku tidak perlu memberikan keuntungan."


"Jahat sekali."


Kami berdua berjalan sambil menikmati udara dingin di pagi hari ini... angin sejuk nya serasa menyelimuti tanpa menyakiti tubuhku sama sekali karena tidak terlalu dingin.


Tapi tiba tiba Sakura berhenti berjalan dan aku menyadarinya.


Aku melihatnya saat dia sedang melamun sambil melihat beberapa anak kecil yang sedang bermain di taman bermain.


"Rasanya aku merindukan masa kecilku saat melihat mereka."


"Kau sedang mengingat masa lalu?." Aku pun ikut berhenti.


"Um... tapi saat melihat mereka, aku jadi ingat saat kamu hanya ingin bermain bersamaku dan tidak ingin bergabung dengan yang lainnya... lalu kita bersama sama bermain pahlawan pahlawanan... dan juga aku masih ingat saat kamu dikejar oleh seekor anjing dan langsung memanjat sebuah pohon besar."


"Bisakah kau lupakan itu?."


"Aku ingin terus menyimpannya didalam kenanganku... bagaimana dong?." Dia menatapku dengan sangat menggoda dengan kecantikannya yang seperti berkilau.


"Y-Yah, kalau begitu terserahmu... aku juga tidak berhak untuk melarangnya."


"Ehem hahaha, aku hanya bercanda... wajahmu jangan pucat begitu."


"Itu tidak lucu, ayolah cepat, cuacanya sangat dingin, aku akan meninggalkanmu." Aku lanjut berjalan pulang.


"Iya iya tunggu dong."


Saat kami masih berjalan, Sakura tidak ada henti-hentinya untuk mengajakku berbicara... apalagi berbicara tentang sesuatu yang tidak mengenakkan.


"Ao... apa kamu ingat dia?."


"Dia? siapa?." Aku bingung dengan yang ingin ia tanyakan.


"Itu loh, yang pernah bersama saat kita kelas satu SMP... si ??? teman sekelas kita."


Setelah dia mengatakan itu, rasanya aku mengingat masa masa buruk itu kembali terpikirkan di kepalaku.


"Aku tidak tahu... saat kau pergi, aku sudah tidak melihatnya lagi.."


"Benarkah? apa dia juga ikut pindah sekolah ya."


"Entahlah, lagipula kenapa kita membicarakan orang lain, masih banyak orang penting yang bisa dibicarakan ." Aku mengatakannya dengan datar.


"Ada apa? kamu seperti menghindar, tidak ingin membicarakannya."


"Tidak ada... hanya tidak baik jika kita membicarakannya bukan?."


"Benar juga... baiklah, aku tidak mengungkitnya lagi."


"Baiklah, aku duluan.." Tidak terasa kita sudah berada didepan rumahku.


"Tunggu, Ao!." Dia memanggilku saat aku ingin masuk kedalam.


Aku menoleh kearahnya.


"Nanti aku main kerumahmu ya!."


"Tidak akan, aku tidak menerima tamu siapapun." Lalu aku langsung bergegas masuk kedalam rumahku.


"Ah~."


......................


*Slurrpp


"*Ayo berjuanglah!!."


"Langsung serang secara bersama*!!."


*Victory!!!


"*Ao, kau sangat hebat! terima pertemanan kita!."


"Good game!!."


"Ayo main lagi! Ao yang membawa kemenangan untuk kita*!."


"..."


"Berisik sekali... apa mereka tidak tahu kalau mereka sangat membebani tim?."


Sembari menyeruput kopi panasku, aku berada diatas sofa dan bermain game online yang sudah menjadi kebiasaanku.


"Satu kali lagi, aku akan pergi belajar setelah i-."


......................


Tidak terasa aku keterusan bermain hingga naik satu tingkat pangkat akunku.


"Ah... seharusnya aku tidak ikut bermain lagi dengan mereka..."


Aku pun langsung mematikan ponselku dan pergi kedalam kamarku untuk mengerjakan soal soal pembelajaran..


Saat aku menaruh beberapa buku diatas meja belajarku, tiba tiba dering teleponku berbunyi.


"Sakura? kenapa dia?."


*Ting tong


Secara bersamaan, bel rumahku juga ikut berbunyi.


"Apa itu dia? kenapa harus meneleponku."


Aku pun mengangkat teleponnya sambil berjalan ke pintu rumahku.


"Ada apa? sudah kukatakan jangan kerumahku."


"Bukan itu! aku ingin memberitahukan sesuatu!."


"Kau ada diluar kan? aku akan membuka pintunya."


"Diluar bukanlah aku!."


Sebelum Sakura mengatakan itu, aku sudah terlanjur membuka pintu luarku.


*Sreett


"Itu dia, saat meneleponku dia menanyakan alamat rumahmu."


"Sudah lama tidak bertemu... Aoyama."


"Ao? halo? kamu masih disana?." Aku tidak memberikan jawaban kepada Sakura karena seseorang yang berada didepan pintu rumahku.


"..."


"Senki... Murasaki Senki."


"Aku senang kau masih mengingatku... apa kau tidak senang? sang perusuh?."