My Youth Bond Increase!!

My Youth Bond Increase!!
Chapter 198



"Aku serahkan dia sekarang padamu..."


"Ya, terima kasih atas bantuannya."


"Tidak perlu berterimakasih."


Kakaknya Yuuki pun pergi dari ruangan kamar yang meninggalkan diriku berdua dengannya.


Aku melihatnya berdiri membelakangi diriku karena merasa malu saat menangis cukup lama, dan tidak sadar bahwa aku mendengarnya.


"Sudah lama aku tidak melihatmu..."


"..."


"Apa ada yang ingin kamu ucapkan? setelah pergi tanpa bicara apapun kepadaku..?"


"Kenapa kamu masih peduli denganku...?"


"..."


"Padahal aku sudah sengaja menjauhimu dan tidak memperdulikan dirimu, tapi kamu terus keras kepala untuk mencari keberadaanku."


"Memangnya apa yang bisa aku lakukan?"


"..."


"Kamu ingat... hari dimana saat itu aku menawarkan diriku sendiri untuk membantumu... menjagamu... dan menemani dirimu?"


"..."


"Sejak saat itu aku tidak pernah berpikir untuk meninggalkan dirimu, dari awal aku hanya ingin merubah seseorang yang begitu keras kepala, sama sepertiku."


"..."


"Bahkan sampai sekarang pun... aku masih berpikir untuk bagaimana aku bisa merubah sifat menyebalkan darimu itu, dan juga hal yang membuat dirimu tidak bisa memilih pilihanmu sendiri... sama sepertiku dulu."


"Aku bisa melakukannya sendiri... itu semua demi keluargaku."


"Kamu tahu, perkataan yang baru saja kamu katakan, sama sekali tidak seperti dirimu yang sebenarnya..."


"M-Memangnya kenapa?! setiap orang pasti bisa berubah kapan saja.."


"Tapi kamu sendiri tidak ingin merubah dirimu, sama seperti diriku yang tidak ingin melihatmu seperti ini."


"Aku tidak bisa melakukan apapun selain hal ini, dengan ini aku bisa mempertahankan keluargaku... dan memangnya... kamu tahu apa..."


"Aku tidak perlu mengetahui apapun, namun aku bisa menyelesaikan semuanya... sama seperti biasanya."


"Tidak... lebih baik kamu tidak ikut campur dan jangan berhubungan denganku lagi..."


"Huh... beginilah sulitnya berbicara denganmu."


"..."


Aku yang berada dibelakangnya pun mendekatinya, dan langsung memegang salah satu lengannya.


"A-Apa yang kamu lakukan??"


"..."


Aku tidak menjawab pertanyaannya dan terus melanjutkannya dengan mengangkat tangannya lalu membuka sarung tangan putih yang menutup tangannya yang terasa halus.


Aku mengambil sesuatu di saku celanaku, lalu memberikan benda itu kepadanya.


"Aku ingin memberikan ikat rambut itu padamu."


"Ini..."


Dia tahu, benda yang paling berharga bagus sahabat kecilnya sendiri... yaitu sebuah pita rambut.


Dia melihatku dengan mata sayu dan merasa begitu prihatin, namun dia tidak ingin menunjukkan perasaannya kepadaku kembali.


"Sebenarnya aku ingin menyimpan itu... namun rasanya agak aneh, kalau apa yang telah aku berikan, telah kembali ke tanganku."


"Tapi... aku pun juga tidak bisa menerimanya."


"Maka dari itu kamu harus memakainya, aku pikir itu cocok denganmu saat ini."


"J-Jangan bercanda... aku tidak ingin menerima ini."


"Jika kamu tidak ingin menyimpannya... maka aku tidak akan percaya padamu bahwa kamu adalah teman masa kecilnya."


"Memangnya kenapa..?"


"Karena setiap melihatmu... aku selalu merasa bahwa kamu, sangat mirip dengannya."


"Apa maksudmu..."


"..."


"Bagaimanapun aku masih sangat mencintainya."


"..."


"Sangat mencintainya hingga aku sulit untuk melupakannya... Sampai saat ini pun... dadaku masih terasa sesak ketika mengingatnya... Namun aku tahu kamu juga merasa seperti itu, karena kamu juga mengenal dirinya, dari kecil bukan?"


"..."


"Maka dari itu aku mohon, untuk menyimpan benda itu untukku, atau ini bisa menjadi permintaan terakhirku padamu."


Dan dia pun menurunkan tangannya yang sedang memegang ikat rambut tersebut, lalu menutupnya dengan kedua tangannya yang berada di dadanya.


Aku tersenyum kecil saat dia ingin menerima permintaanku.


"Aku ingin bertanya satu hal padamu."


"..."


"Apa jawaban yang akan kamu berikan kepadaku, saat hari itu... saat aku mengatakan kalau aku menyukaimu."


"..."


Sebuah penantian panjang bagi dirinya saat dia menyatakan perasaannya kepadaku saat itu, namun aku belum memberikan jawabanku pada dirinya meskipun dia sudah tahu... apa yang harus aku katakan kepadanya.


"Maaf... aku tidak bisa membalas perasaanmu."


Dia terdiam setelah mendengar hal itu, namun seketika dia tersenyum ringan sembari berbalik dan menatap wajahku.


"Syukurlah..."


"..."


Air mata yang sudah mengalir dan jatuh itu... secara bersamaan dengan senyumannya... seperti suatu hal yang tidak bisa aku duga.


"Syukurlah... dengan ini, aku sudah tidak berharap lagi."


"..."


Aku tidak bis berkata-kata begitu melihat wajahnya, semua perkataan di pikiranku seperti menghilang dalam sekejap...


"Saat pertama kali aku bertemu denganmu... aku pikir semuanya masih berjalan seperti biasanya... namun perlahan aku sadar, kalau adanya perubahan pada diriku setiap aku bersamamu... kamu seperti seseorang yang bisa mengubah diriku hanya dengan berada di dekatmu."


"..."


"Dan entah kenapa... perasaanku pun ikut berubah, hingga aku merasa kamu adalah orang yang membuatku berubah dan aku ingin bersamamu...."


"..."


"Aku pikir itu mudah, namun aku tidak ingin membuat hubungan dekat kita hancur hanya karena itu... namun justru aku salah, ketidakyakinan yang membuatku salah langkah... pada akhirnya aku tidak bisa mendapatkan kamu."


"..."


"Aku begitu mencintaimu, sangat sangat menyukaimu... sampai saat aku tahu itu, dadaku terasa begitu sesak, dan air mataku terus mengalir tanpa henti... aku tidak tahu harus bagaimana."


Ditengah tangis harunya, dia berjalan dan mendekatiku.... dengan menempelkan kedua tangannya didepanku, dan juga wajahnya yang tidak bisa aku lihat lagi karena dia menunduk bersandar di tubuhku.


"Andai saja aku bisa bersamamu... mungkin hidupku akan lebih menyenangkan dari apa yang sudah aku bayangkan... maaf karena aku terlalu merepotkan dirimu... aku... hanya ingin bisa lebih lama bersama denganmu... dan merasakan kebahagiaan ini meskipun hanya sementara."


Perasaan yang tidak pernah terbalaskan rasanya lebih perih dibandingkan perasaan yang tertolak, namun dirinya telah mengalami kedua hal itu, hingga di akhir dia mengakhirinya dengan tangisan.


Aku pernah merasakan fase pertama itu, dan rasanya begitu menyakitkan.... dunia seperti benar benar tidak berpihak bahkan melirik diriku ini.


Namun saat ini, seorang gadis yang mencintai diriku... menangis begitu saja sambil menenggelamkan wajahnya didepanku.


Tanganku bergerak perlahan untuk memeluknya dan menenangkannya... namun aku ragu untuk melakukannya...


Aku ingin mengatakan "Kamu sudah bekerja keras" sambil mendukungnya... namun keadaan dirinya yang seperti ini pun diakibatkan olehku.


Meskipun begitu...


Aku mengangkat tanganku dan memeluknya sambil mengelus kepalanya dengan lembut, seperti yang kakaknya lakukan kepadanya.


Aku tidak ingin membuang seluruh usahanya begitu saja, maka dari itu aku hanya bisa memberikannya sedikit perhatian.


"Kamu sudah bekerja keras, terima kasih karena sudah memiliki perasaan kepadaku..."


Dia terus menangis begitu mendengar perkataanku, dan aku terus memeluknya hingga dia kembali tenang...


Saat ini didalam hatinya sudah begitu rapuh, penuh dengan kesedihan dan kesepian...


Dan seperti pada akhirnya, kita berdua saling berusaha membuang perasaan yang ada didalam hati kami... untuk selamanya...