My Youth Bond Increase!!

My Youth Bond Increase!!
Chapter 147



"A-Aw! pelan pelan sedikit.."


"Bagaimana kamu bisa terluka seperti ini?!."


"Ceritanya sedikit panjang... dan juga kamu datang ke rumahku tanpa memberitahukan hal itu padaku."


"Apa salahnya aku datang ke rumahmu? dan juga saat aku datang, kamu tidak ada disini, aku sangat khawatir menunggumu sampai ketiduran."


"Maaf..."


"Lain kali aku tidak ingin melihatmu babak belur seperti ini! kamu mengerti?."


"..."


"Kakak? aku bilang apa kamu mengerti?."


"Baiklah, aku mengerti."


"..."


Beberapa saat yang lalu...


Aku mendekati sofa tersebut, untuk mengecek suara kecil yang terdengar dari tempat itu.


"..."


Begitu aku mengeceknya, ternyata disana terdapat Mai yang sedang tertidur diatas sofa dengan posisi meringkuk.


Aku pun merasa lega namun juga sedikit memiliki kesedihan akibat melihat mimpi yang sama dengan kenyataan, namun hasilnya berbeda.


Hingga setelah itu Mai terbangun karena merasa terganggu, lalu melihatku yang babak belur dan langsung terkejut sembari kedalam dapur untuk mengambil kotak obat.


.


.


"Jadi... apa kamu bisa menceritakan alasan wajahmu seperti ini?."


Setelah selesai mengobatiku, dia langsung duduk didepanku dan melipatkan tangannya sambil menatapku seperti ingin menginterogasi diriku.


"Apa aku harus... mengatakannya?."


"Kamu tidak ingin mengatakannya padaku?."


"Bukan seperti itu, namun... hanya pertengkaran biasa."


"Pertengkaran biasa tidak akan membuatmu seperti ini, dan juga pertengkaran bukanlah kebiasaan kamu."


"..."


"..."


Dia melebarkan matanya untuk memaksakan diriku menyerah dan memberitahukan yang sebenarnya.


"Baiklah... aku akan mengatakannya kepadamu."


"..."


"Kemarin... aku pergi ke rumah kediaman Azumi."


"Azumi?! kenapa Kakak pergi kesana?!."


Emosinya langsung meluap setelah aku mengatakan kata Azumi didalamnya... karena dia pun sudah tahu, kalau Azumi memang sangat membenciku dari satu tahun yang lalu.


"Karena saat ini aku ingin mencari tujuanku saat ini... dan satu-satunya hal yang aku pikirkan adalah Yuuki.'


"..."


"Saat ini, keluarganya sedang berada dalam masalah, dan juga Erlic Asisten dari Azumi meminta bantuanku."


"Setelah tuannya membuat kakakku babak belur seperti ini... dia masih ingat meminta bantuan kakak..."


"Semuanya tidak seperti yang kamu pikirkan... Azumi bukanlah orang yang buruk."


"Kenapa kakak mengatakan seperti itu? semua luka lebam ini berasal darinya! apa kakak mengerti hal itu??."


"Aku tahu... tetapi dia mempunyai alasan untuk berbuat seperti itu, dan juga setelah itu aku jatuh pingsan, lalu Erlic membawaku ke apartemennya... jika bukan karenanya aku bisa tergeletak di jalanan sampai pagi.."


"..."


"Maka dari itu... jangan menyimpan amarah kepadanya."


"Lalu... apa hubungan semua itu dengan Kak Yuuki?."


"Beberapa minggu setelah ujian berakhir... Yuuki akan dipaksa menikah dengan Azumi."


"..."


"Dan menurut Erlic, kepala keluarga Sakamura memiliki rencana buruk untuk menghancurkan bisnis keluarga Shiraishi, disaat dia sudah menikahkan kedua anak dari keluarga besar."


"Tetapi... kenapa dia memberitahukan kepadamu?."


"Karena itu bukanlah keinginan Azumi... dia hanya menjadi boneka dari ayahnya, apa yang ayahnya perintahkan... Maka Azumi harus menurutinya."


"..."


"Mungkin hal itu terdengar buruk karena dia pernah mencoba mengganggumu, tetapi aku berusaha untuk melupakan hal itu agar aku bisa merubah pandanganku terhadapnya."


Wajahnya masih terlihat tidak begitu yakin dengan apa yang aku katakan, namun aku pun masih berusaha untuk menerimanya... karena selama ini, perbuatannya yang tidak tahu berasal dari pikirannya sendiri ataupun faktor lain sudah begitu kelewatan hingga aku merasa tidak bisa memaafkannya.


"Setidaknya untuk saat ini, aku hanya membicarakan hal ini kepada Erlic, tanpa sepengetahuan Azumi... Jadi tidak ada lagi kejadian seperti kemarin."


"Kamu yakin?."


"Tidak lagi babak belur seperti ini?."


"Mung...kin... ya."


"..."


Dia langsung memelototi diriku dengan pipinya yang menggembung.


"Baiklah baiklah, tidak lagi."


"Kalau begitu ya sudah... aku tidak mempertentangkan hal ini lagi."


Aku langsung merasa lega, karena Mai telah mendukung diriku, hingga aku semakin yakin dengan apa yang sedang aku lakukan.


Setelah mimpi itu, aku tidak bisa melihatnya sebagai dirinya yang sebenarnya... karena Sakura bukanlah orang yang seperti itu... dia lebih memperdulikan Yuuki lebih dari siapapun, dan aku yakin dia akan ikut senang jika mengetahuinya.


.


..


"Tok! Tok!


"Masuklah."


"Kamu sedang belajar?."


"Hm... ada apa?."


"Makan siangnya sudah siap, lebih baik kamu beristirahat dulu dan makan."


"Oh baiklah, aku segera kesana."


"Tapi aku tidak bisa makan bersamamu."


"Kenapa?."


"Ayah meneleponku tadi, dia bertanya keberadaanku... jadi aku mengatakan kalau aku sedang berada di rumahmu, dan setelah jam siang aku pulang."


"Apa saat berangkat kamu tidak memberitahukan kepadanya?."


"Karena terlalu pagi, aku tidak ingin membangunkannya yang baru saja tidur setelah bekerja hingga larut malam didalam ruang kantornya."


"Kalau begitu kamu harus cepat pulang, dia pasti sangat mengkhawatirkan kamu yang tidak memberitahunya."


"Tapi, kata Ayah sih... aku boleh lebih lama lagi." Sembari memegang kedua tangannya dibelakang dan melirik kearah lain.


"Tidak boleh, kamu harus pulang... dan juga kamu harus belajar bukan?."


"Aku bisa belajar disini kok."


"Kamu tidak akan fokus jika disini, begitu juga denganku... jadi lebih baik kamu pulang."


"Baiklah... sepertinya kamu sudah tidak ingin aku disini lagi kan?."


"Ha?."


"Kalau begitu aku akan langsung pulang.."


Dengan suasana hatinya yang berubah menjadi jelek, dia pun langsung meninggalkanku yang masih terduduk diatas kursi dan belajar.


"M-Mai, tunggu dulu, bukan seperti itu."


Aku mengejarnya hingga bisa memegang lengannya saat didepan pintu depan.


"Aku tidak mengatakan seperti itu."


"Tetapi kenyataannya kamu menginginkan aku pergi..."


"Tidak, aku hanya tidak ingin dia terlalu khawatir denganmu... dan juga disini kamu hanya sibuk dengan pekerjaan rumah... waktu belajarnya menjadi lebih sedikit."


"Biasanya juga aku bisa belajar dengan tenang disini... itu terjadi seperti biasanya, dan aku merasa tidak terganggu sama sekali, apa kamu hanya mencari-cari alasan?."


"Tidak mungkin... aku tidak seperti it-."


"Sudahlah, aku hanya tinggal pulang saja kan? kalau begitu aku pergi... jangan lupa untuk memakan makanan diatas meja."


Dia langsung menutup pintunya dengan sedikit kencang...


Aku terdiam terpaku dengan memikirkan apa kesalahanku disini...


Aku hanya ingin dia lebih lama bersamanya, karena aku hanyalah seorang saudara tirinya... Terdengar tidak baik namun itulah yang harus dilakukan.


Jika dia terlalu banyak menghabiskan waktunya denganku, aku khawatir jika dia tidak akan bisa beradaptasi dengan cepat ditempat lain... karena dia hanya selalu terpaku didalam satu tempat.


Bukannya aku tidak senang dan sengaja ingin membuatnya pergi...


Dengan rasa bersalah yang tidak menentu ini, aku berjalan ke dapur dan melihat makanan yang dibuatnya terlihat begitu lezat...


Aku pun duduk untuk menikmati makanannya..


"Apa aku... salah mengatakan hal seperti itu padanya..." Pikirku, sambil memakan masakannya yang sangat lezat.


.


.


Aku kembali kedalam kamar setelah selesai makan dan mencuci piringnya... namun aku masih memikirkan kejadian tadi yang membuatku menjadi sulit untuk memulai belajar.


"Huh... aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan..."