My Youth Bond Increase!!

My Youth Bond Increase!!
Chapter 204



*Ikatan... adalah suatu hal yang menghubungkan suatu perasaan ke perasaan lainnya.


Ketika kedua perasaan tersebut perlahan menjadi sebuah perasaan sejati, maka ikatan itu akan menjadi lebih kuat.


Namun ketika salah satu dari perasaan itu mengecil, maka ikatannya juga akan melonggar, hingga perlahan akan putus...


Seperti hidupku yang selalu tergantung pada sebuah ikatan yang berbeda-beda, dan juga ikatan yang sejak awal bukan diciptakan dari keinginan diriku.


Awalnya aku merasa begitu murka dan iri, ketika melihat orang orang yang menikmati hidup mereka dengan sebuah ikatan yang normal sebagaimana mestinya...


Aku merasa begitu iri, sampai sampai aku mengutuk hidupku sendiri...


Mengapa aku diberikan kesempatan untuk hidup?


Aku terus mempertanyakan hal ini kepada diriku setiap saat...


Meskipun diriku tidak memberikan jawabannya langsung, namun jawaban tersebut secara perlahan-lahan muncul sedikit demi sedikit...


Dimulai dari satu dua kenangan, hingga ke tiga empat, dan berlanjut hingga tak terhingga*.


*Tap Tap Tap!


"Haahh hahh hahh."


"..."


Ditengah keramaian kota, aku terus berlari tanpa memperdulikan sekitarku...


Keringat yang terus mengucur di sekujur tubuhku, juga dengan dadaku yang sudah begitu sesak...


Namun aku tetap berlari dan terus berlari, meskipun itu sudah melebihi batas ku.


Aku terus berlari karena sebuah harapan...


Harapan yang masih ada tersimpan untukku...


Maka dari itu kali ini, aku tidak akan melepaskan harapan itu kembali...


"..."


"Apa kau akan terus berlari hingga puluhan kilometer kedepan?"


Sebuah mobil menghalangi jalanku dengan terdapat seseorang yang mengemudikannya.


"Akasa..."


"Naiklah, aku akan mengantarmu kesana... kakak."


"..."


Tanpa pikir panjang aku langsung menaiki mobilnya, dan dia langsung menancap gas dengan cepat untuk mengantarkan diriku sampai ke tujuan.


"Kita akan sampai dalam dua puluh menit, apa kakak ingin mampir ke suatu tempat dulu?"


"Sebenarnya ada tempat yang ingin aku kunjungi terlebih dahulu."


"Kalau begitu katakan dimana tempatnya."


"Apa kamu bisa mengantarkan ku ke toko perhiasan?"


"Baik, aku akan mengantarmu kesana."


"..."


.....................


Sementara itu, tempat dimana Yuuki masih berdiri, sambil melihat matahari yang ingin menghilang, dan ombak laut yang terus bergerak sambil memberikan hembusan angin yang lembut.


"Kenapa kau tidak ingin mendapatkannya?"


Ditengah itu, Azumi menghampiri dirinya yang sedang sendirian disana... setelah dia sedikit mendengar percakapannya denganku dan mendekatinya ketika melihatku langsung pergi berlari meninggalkannya.


"Karena ada seseorang yang lebih pantas dariku... dan aku tidak akan bisa menggantikan posisinya."


"Kau tidak akan bisa mengulangi hidupmu lagi..."


"Karena itu, aku tidak akan memilikinya."


"..."


"Aku sangat mencintainya... namun aku tidak akan bisa mendapatkan perasaannya... karena aku... bukanlah pilihannya."


"..."


"Aku pun tidak akan bisa merebutnya darimu kan... Sakura."


......................


*Tap tap tap!


*Tap tap tap!


"..."


Setelah aku berlari melewati tangga gedung yang cukup panjang, akhirnya aku sampai tepat berada di depan ruangan itu.


tanganku bergetar... itu sudah pasti.


Karena setelah melewati waktu yang lama... ketika aku sudah bersiap untuk melupakannya seperti dulu.


Namun... dirinya kembali datang ke hidupku... dan memberikan diriku kesempatan kedua.


Dan sekarang...


Dia kembali memberikan kesempatan padaku...


*Sreett!!"


Aku langsung membuka pintu itu dengan cepat, dan tubuhku terpaku diam sambil melebarkan mataku, dan mulutku tidak bisa tertutup.


Bahkan sinar cahaya matahari terbenam pun tidak cukup untuk menutup mataku...


Karena sosok gadis yang sedang terduduk diatas tempat tidur, sambil melihat pemandangan langit jingga di jendelanya.


Tangan kecilnya masih terlihat kecil, bahkan semakin kecil dibandingkan saat terakhir aku melihatnya... dan juga rambutnya yang panjang itu kini telah berubah menjadi lebih pendek sepanjang sampai bahunya.


Lalu wajahnya menoleh suara pintu yang terbuka... dan melihat diriku dengan senyuman lembut yang selalu aku dambakan.


"Kenapa kamu hanya berdiri disana saja?"


"..."


Dengan langkah kecil... aku berjalan perlahan mendekatinya...


Aku tidak bisa mendeskripsikan perasaan yang aku rasakan saat ini... rasanya benar benar tidak bisa dibayangkan.


"Kamu... masih berada disini..."


"Aku masih ada disini..."


"..."


"Aku pulang... Ao."


Seketika tubuhku bergerak sendiri untuk memeluknya dengan sangat sangat erat, hingga perasaan ini telah aku temukan...


Ya... perasaan yang telah bertahan sejak dulu... dan aku merasakannya disini.


"Sakura... Sakura... Sakura..."


"Aku ada disini..."


"Aku sangat merindukanmu..."


"Aku juga, sangat rindu padamu."


Aku kembali melihat wajahnya... dan dirinya tersenyum begitu indah kepadaku.


"Terima kasih, sudah menungguku terlalu lama."


"Asalkan kamu masih berada di sini... aku akan tetap menunggumu."


"Oh ya... ada yang ingin aku berikan kepadamu."


"Hm? apa itu?"


Aku mengambil sebuah kotak kecil yang ada di kantung celanaku, lalu aku membukakan tutupnya di hadapannya.


Saat melihat isinya, matanya begitu berbinar binar dan terpasang ekspresi yang teramat senang di wajahnya.


"Cincin ini..."


"Sakura... sebenarnya saat itu, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu, namun kamu menghilang pergi dariku... hingga aku merasa begitu jatuh."


"..."


"Namun itu sudah menjadi masa lalu, dan nyatanya kamu masih berada di depanku... dirimu yang paling aku cintai."


"..."


"Meskipun aku sudah terlambat sangat jauh, namun aku hanya bisa mengatakannya sekarang."


"..."


"Sakura... Apa kamu ingin... menjadi kekasih hidupku?"


"Aku mau... aku mau menjadi kekasihmu, Ao!"


Mulai hari ini... aku menemukan sebuah ikatan baru...


Setelah panjangnya perjuanganku... untuk mendapatkan dirinya...


Dan aku telah mendapatkan dirinya, lalu...


Menjalin sebuah ikatan bersamanya, hingga seterusnya...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Beberapa hari kemudian


"Akhirnya, kita bisa kembali bersekolah setelah mengalami banyak hal... jujur saja, liburan kemarin terasa sangat panjang, kau pasti juga merasakan bukan, Aoyama?"


"Yah... setelah semua yang sudah terjadi."


"Tetapi mereka berdua masih belum masuk hingga hari ini, kapan mereka mulai bersekolah lagi ya."


"Keadaan mereka masih belum terlihat baik, kita hanya bisa menunggu saja."


"Tapi sebenarnya kau sangat menantikan dia untuk datang bukan?"


"Itu bukan urusanmu."


"Haha! kita sudah ada di tahun ketiga bersama, jadi jangan sungkan untuk menjadi terbuka."


"Sayang, kamu mau temani aku pergi belanja?"


"Boleh, aku akan menemani kamu sampai kapanpun itu."


"Aahh~ terima kasih!"


Sejak beberapa hari itu, hubungan antara Touya dan Nami menjadi semakin dekat... hingga mereka pacaran.


"Kalau begitu Aoyama, aku ada urusan penting, jadi jangan marah padaku karena aku tinggalkan kau sendirian ya."


"Siapa juga yang ingin ditemani olehmu, sana pacaran sepuasnya."


"Hahaha! jangan sampai kehilangan kendali karena menunggunya setiap hari."


Mereka berdua pun pergi pulang berduaan seperti sepasang pengantin baru yang masih hangat hangatnya.


Dan aku terpaksa pulang sendirian lagi, setelah sudah satu Minggu aku tidak melihatnya lagi... karena ada urusan yang harus dia selesaikan, bersama dengan Yuuki.


Musim semi sudah datang, dan aku bisa merasakan hangatnya suasana ketika berjalan pulang ke rumah.


Aku menantikan dirinya datang... namun tidak dengan sebuah kecemasan.


Karena aku sudah memilikinya, dan aku tidak akan melepaskannya kembali.


Sebelum pulang kerumah, aku menyempatkan diriku untuk mengunjungi seseorang...


"Hari ini aku masih belum bertemu dengannya, tapi aku tetap akan menunggunya dengan tenang... aku membayangkan saat dulu kita bertiga masih bersama... dan sampai akhir pun... kau masih berarti bagiku... Senki."


Aku duduk didepan makamnya, membersihkan dedaunan dan menaburkan bunga diatasnya... sambil memberikan doa untuknya, agar dirinya bisa tenang disana.


"Kalau begitu aku pergi dulu, kapan kapan aku akan mengajaknya kesini untuk bertemu denganmu... bagaimanapun juga Sakura bisa terus hidup berkatmu... aku sangat berterimakasih... aku akan menjaganya seumur hidupku, sampai jumpa... sahabatku."


.


.


.


Aku pernah merasa berpikir apa itu sebuah ikatan? ikatan dalam suatu hubungan. Dari sebuah keluarga, saudara, teman, maupun seorang pacar.


Aku pikir dulunya semua itu adalah sebuah hal yang tidak berguna dan aku tidak membutuhkan hal semacam itu didalam hidupku.


Namun aku akan menarik semua kata kataku, bahwa ikatan didalam hidup seseorang itu sangatlah berguna.


Bagi perasaan orang maupun diriku sendiri, aku menikmati semua itu dengan perasaan yang begitu gembira.


"Iya iya, aku juga sudah ingin pergi berangkat sekolah..."


"Kalau tidak aku telepon, mungkin kamu sudah kebablasan dan mereka menunggumu lama?"


"Ya sudah kalau begitu aku akan berangkat, kamu juga harus bergegas, Mai."


"Um! sampai jumpa di sekolah... Aoyama."


"Huh... sampai sekarang pun dia masih sama merepotkannya."


"Kakak sudah mau berangkat sekolah?"


"Ah ya, tolong jaga rumah."


"Baik."


"Oh iya, besok kamu juga sudah mulai masuk sekolah kan?"


"Iya, besok aku akan mulai sekolah."


"Kalau begitu aku akan menemanimu besok."


"Baik, terima kasih."


"Ya..."


Hidupku sekarang sudah sangat berbeda dari beberapa tahun yang lalu... entah kenapa aku sudah tidak merasakan perasaan yang sama berulang kali, seperti diriku yang dulu.


"Aduh, sudah tahun terakhir tapi kamu masih saja telat bangun, kita berdua sudah menunggu lama disini tahu!"


"Maaf maaf, aku benar-benar mengantuk sampai lupa waktu."


"Huh, paling kamu sibuk teleponan dengan Sakura sampai larut malam kan?"


"Y-Yuuki!"


"I-Itu juga atas kemauan diriku sendiri."


Aku sudah tidak akan mengeluh kepada hidupku lagi...


"Selamat pagi... Ao."


"Pagi... Sakura."


"..."


Karena aku sudah tidak lagi sendirian


......TAMAT......