
Saat setelah aku meneleponnya, rasa yang saat ini kurasakan yaitu rasa bimbang dan resah...
Karena saat itu sekilas aku berpikir ingin mengungkapkan perasaanku padanya langsung didalam telepon..
Namun rencana itu langsung dihalangi oleh pemikiran yang terlalu sempurna, bahwa mengungkapkan perasaanku padanya di sebuah telepon terkesan jelek dan seperti aku tidak berani untuk mengucapkannya langsung.
Dan setelah itu aku berpikir, jika Senki yang saat itu datang ke rumah Sakura, mungkin dia sudah lebih dulu mengungkapkan perasaannya...
Tetapi aku tidak boleh langsung menyimpulkan hal semacam itu, sebaiknya aku hanya perlu membereskan semua masalah ini nanti.
"Bagaimana jika aku mengungkapkan perasaanku besok... saat aku sedang menemaninya pergi... tapi apa yang harus aku katakan? aku sama sekali tidak pernah mengungkapkan perasaanku kepada orang, dan juga aku hanya tahu hal itu didalam novel atau anime yang bertemakan cinta... itupun berisi pernyataan yang sangat tidak masuk akal, mana mungkin aku mau melakukan seperti yang ada didalam anime... itu mustahil bagi orang sepertiku."
Memikirkan itu semua membuatku mengantuk hingga tidak tersadar aku pun sudah tertidur...
......................
Pagi harinya, aku seperti biasa berangkat sekolah dengan berjalan kaki... karena jaraknya yang cukup dekat, aku tidak perlu menaiki sepedaku.
"Ao, selamat pagi."
Diujung jalan, dia menungguku dan menyapa pagi dengan senyumannya yang tidak pernah bosan aku melihatnya.
"Pagi."
"Apa tidurmu cukup nyenyak? wajahmu terlihat lesu seperti itu."
"Hanya terlalu memikirkan banyak hal, tidak terlalu penting."
"Kamu masih ingat dengan syarat semalam bukan?."
"Ya, aku masih ingat... memangnya kau ingin pergi kemana?."
"Ada deh."
"Dengar ini, aku tidak ingin pergi ke tempat yang jauh jauh hari ini, karena malam ini aku hanya ingin belajar untuk ulangan besok."
"Aku paham kok, lagipula tempatnya tidak jauh."
"Kalau begitu baiklah."
Dan kami pun berangkat bersama ke sekolah, dengan diriku yang masih berpikir bagaimana cara ungkapan perasaan yang baik dan benar... saat ketika aku menatap wajahnya dari samping yang begitu cantik seperti biasa... aku masih saja terpukau dengan dirinya... hingga dia berbalik mengarah ke diriku dan kebingungan akibat aku yang melamun melihatnya.
"Ada apa?." Dia hanya bertanya dengan tersenyum tipis kepadaku.
"Eh, tidak, tidak ada."
"Apa ada yang aneh denganku?."
"Tidak kok, aku hanya... sedang melamun saja."
"Kamu terlalu banyak melamun, sepertinya kamu sangat lelah."
"Tidak apa apa, aku sudah terbiasa."
"Kebiasaan buruk kamu itu harus dihilangkan."
Dia membuka tasnya dan mengambil sesuatu didalamnya.
"Kamu mau?." Dia memberikan sebuah permen mint kepadaku.
"Boleh?."
Dia mengangguk pelan untuk membalas perkataanku.
"Terima kasih."
Aku pun menerima permen itu dan memakannya.. terasa begitu dingin menyelimuti seluruh mulutku... aku benar-benar menyukai rasa ini.
"Bagaimana kau bisa mempunyai permen rasa mint ini? permen seperti ini sudah sangat jarang dijual di toko."
"Aku mempunyai seorang teman dari kecil, dan dia juga menyukai rasa mint... sepertimu."
"Kau memiliki banyak teman masa kecil, dan juga yang menyukai rasa mint sangat jarang."
"Kalau begitu aku beruntung, aku bisa menemukan dua orang penyuka rasa mint."
"Itu bukan sebuah penghargaan."
"Tapi, aku pikir-pikir... kamu dan dia memiliki sifat yang hampir sama, karena dia juga tidak suka berada ditengah keramaian... dan juga orangnya sangat mudah khawatir."
"Aku tidak mudah khawatir sepertinya."
"Tapi yang aku lihat seperti itu."
"Kau hanya memaksa mencocokkan sifatnya denganku saja."
"Tapi memang benar-benar mirip tahu! tapi yang membedakannya dia seorang perempuan."
"Apapun itu tetap berbeda."
"Kapan kapan aku bisa mengenali dia kepadamu, karena beberapa hari lagi aku aka-."
Saat dia terbawa suasana dan hampir mengatakan kalau dia ingin pergi...
"Kau akan apa?."
"Tidak, maksudku... aku akan meneleponnya... karena sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya."
"Ohh."
Berkali-kali dia hampir salah dalam berkata, namun untungnya dia masih bisa membenarkan perkataannya... dia benar-benar sulit untuk menutupi masalah tersebut padaku...
Karena didalam pikirannya memang hanya diisi oleh hal itu... dan keraguan yang kini ada didalam pikirannya membuat dia sulit untuk berbicara santai padaku.
.
.
Sampai di sekolah, aku dan Sakura langsung berjalan ke kelas... karena saat aku duduk, bunyi bel langsung berbunyi dan hampir saja kita berdua telat pergi ke sekolah.
Namun ada keanehan yang membuatku melihat ke sekeliling kelas...
Itu pun juga dirasakan oleh Sakura, saat kita saling bertatap di bangku kita masing-masing...
Yaitu hari ini ada seseorang yang tidak masuk, dengan bangkunya yang masih kosong.
......................
"Kira-kira sekarang... dimana Senki berada.."
"Entahlah, apa mungkin dia sedang sakit?."
"..."
"Kau tahu sesuatu?."
"T-Tentang apa?."
"Tentang dia... kemarin kau terakhir kali bertemu dengannya kan?."
"Aku juga... tidak tahu saat ini dia kenapa... dia juga tidak mengangkat teleponku tadi saat jam istirahat, bagaimana denganmu?."
"Aku... tidak..."
"Begitu ya."
Kita berdua sedikit khawatir tentang keadaannya, namun apa yang bisa kita lakukan, bahkan dia tidak memberikan kabar apapun kepada kami.
Yang aku pikirkan hanya berencana ingin mendatangi dirinya ke rumahnya malam ini.
"Jadi bagaimana? dimana tempat yang ingin kau datangi?."
"Hm... apa kita perlu mengganti seragam kita?."
"Mungkin lebih cepat lebih baik, tapi semua sesuai dengan apa yang kau inginkan... karena hanya kau yang tahu tempatnya."
"Tidak perlu, disana juga mungkin banyak siswa siswi sekolah seperti kita."
"Aku semakin takut dengan tempat itu."
"Tidak apa apa, ikut saja denganku."
Dia tersenyum padaku begitu manis, hingga aku hanya bisa menerima permintaannya begitu saja... tanpa memperdulikan diriku sendiri.
Dan kami pun menaiki kereta karena tempat yang dia inginkan tidak berada di daerah ini...
"Ah... aku tidak memiliki tiket kereta."
"Kamu bisa memakai kartu milikku."
"Eh? tidak apa apa?."
"Um, aku mempunyai dua... kartu ini bisa kamu gunakan sampai beberapa tahun kedepan."
"H-Hebat sekali..."
Aku pun berhasil masuk dengan menggunakan kartu miliknya.
Dan ini pertama kalinya aku menaiki kereta, karena aku tidak pernah pergi kemana-mana, sejauh aku pergi itupun hanya menggunakan sepedaku.
Disaat melewati beberapa stasiun memang banyak orang yang masuk dan keluar, terkadang satu gerbong dipenuhi oleh orang orang hingga aku berdiri berdesak-desakan...
Pengalaman pertama memang tidak bisa dibayangkan dan disamakan dengan bayanganku.
Saat kita sudah sampai di stasiun tujuan, kita berdua turun lalu aku menggunakan kartu itu kembali untuk keluar...
"Sakura, ini kartunya."
"Kenapa?."
"Kenapa? aku ingin mengembalikan kartu milikmu."
"Aku kan memberikan kartu ini untukmu."
"Eh? tidak tidak, aku tidak bisa menerima kartu yang terlihat sangat mahal ini."
"Tidak apa apa kok, aku tidak memakai kartu itu... daripada sayang karena tidak dipakai, lebih baik aku memberikan ini padamu, mungkin kamu akan memerlukannya nanti."
"Kalau begitu... terima kasih."
"Um."
Perjalanan yang cukup panjang, namun tidak begitu terasa karena dia selalu berbicara kepadaku, dan waktu yang kita habiskan ini tidak membuatku menyesalinya... justru aku ingin momen seperti ini bisa menjadi momen yang bisa aku lakukan setiap hari dengannya... sambil melihat tangannya yang mengayun, aku sangat ingin menggenggamnya, dan bergandengan tangan bersamanya...
Terdengar seperti sebuah permintaan yang mungkin saja aku bisa lakukan, setelah aku bisa mengungkapkan perasaanku kepadanya setelah ini... hingga jika semuanya telah berhasil, aku akan benar-benar bisa memegang tangannya.
"Apa kamu tahu... aku sudah lama tidak merasakan hal seperti ini, karena memang aku tidak pernah berlibur bersama orang tuaku, namun aku tidak pernah menyayangkan hal tersebut dan membenci hal itu... karena aku tahu, kalau mereka mempunyai alasannya tersendiri dengan hal tersebut... sibuk dengan pekerjaan mereka, dan sesekali menyempatkan waktunya yang sibuk itu untuk menemaniku... aku tidak akan pernah menyalahkan mereka atas diriku."
"..."
"Karena itu, aku mempunyai orang orang yang sangat dekat dan menjadi teman baikku... seperti Senki... sahabatku... dan juga kamu."
"Yah, aku hanya melakukan apa yang bisa aku lakukan... dan aku pun mempunyai orang yang bisa menemani hidupku, tanpa adanya kedua orang tuaku.. namun aku masih memiliki nenek dan Mai."
"Aku tidak?."
"Memangnya kau ingin menemaniku?."
"Atas hal apa?."
"Hidupku..."
"..."
Aku sengaja mengatakan hal itu, meskipun dia mengerti tentang arti yang aku katakan, namun dia hanya diam sepertiku...
"( Seharusnya aku tidak mengatakan itu... bisa bisa aku merusak suasana hatinya saat ini..)."
"Jika memang benar... mungkin, aku akan menemanimu?."
"Eh? K-Kau tidak serius mengatakan hal itu bukan?."
"Bagaimana jika aku serius mengatakannya?."
"..."
Aku kehabisan kata-kata, dan hanya bisa melihat wajahnya yang terlihat serius, atau tidak... aku tidak bisa memastikan hal itu.
"Aku hanya bercanda, kenapa kamu menganggap hal itu serius." Sambil tertawa dia menepuk-nepuk pundakku.
"Huh... lagipula aku memang tidak mengharapkan dari awal."
"Benarkah? wajahmu terlihat tidak seperti itu."
"Dari awal wajahku tidak pernah berubah."
"Benar juga... matamu masih terlihat seperti orang yang mengurung nasib yang buruk."
"Ya ya... ( Hampir saja aku termakan oleh triknya... menyebalkan sekali...)."
"Kita sudah sampai."
"..."