My Youth Bond Increase!!

My Youth Bond Increase!!
Chapter 121



"Apa yang sedang kau lakukan?."


Seketika tubuhnya merinding karena suara yang aku buat.


"Tidak! ini! aku hanya! p-pokoknya aku tidak bermaksud yang seperti itu!."


Tetapi responku hanya datar dan dengan santai mengeringkan rambutku yang baru saja selesai mandi.


"Eh..?."


"Ada apa?."


"Kamu... tidak... marah?."


"Untuk apa aku marah? kalau kau memang ingin tidur disana, tidak apa apa."


Karena rasa malunya yang sudah tidak bisa tertahankan, dia pun langsung pergi dari tempat itu.


"Masa bodoh! aku ingin pulang sa-."


Saat dia ingin pergi, aku langsung menahan lengannya agar dia tidak pergi.


"Kau ingin kemana?."


"A-Aku ingin... pulang."


"Apa kau tidak lihat atau mendengar suaranya? diluar sedang hujan."


Karena semua itu yang membuat perhatiannya hanya kepadaku, jadi dia sama sekali tidak sadar akan suara hujan..


"..."


"Lagipula Yuuki tidak ada dirumah malam ini bukan? jika kau masih sakit, siapa yang akan merawat kau?."


"..."


"Maka dari itu, untuk malam ini sepertinya kau menginap disi-."


"Kenapa..."


"Ha?."


"Kenapa kamu melihatku seperti orang yang berbeda?! kenapa kamu menjadi sangat baik dan memanjakanku?! kenapa kamu terus saja membuatku tidak bisa tenang??!."


"..."


"Aku tidak bisa menahannya... aku sudah tidak sanggup.."


"Sebaiknya kau tenang du-."


Tiba tiba aku didorong olehnya hingga terjatuh diatas tempat tidurku, lalu tubuhnya naik keatas tubuhku.


"Sakura..."


"Kumohon... jangan katakan hal lain lagi..."


Dia menjatuhkan tubuhnya perlahan diatas tubuhku, lalu memelukku begitu erat.


Entah kenapa tiba-tiba aku merasa sangat gugup dan tidak bisa menahannya dalam posisi seperti ini.


Aku bisa merasakan tubuhnya yang begitu ringan dan siara nafasnya yang tepat disamping telingaku.


"Tolong... peluk aku dengan erat..."


"Eh, tapi..."


Tiba tiba pelukannya menjadi sedikit lebih bertenaga dan sangat kencang.


"Aa- baiklah baiklah."


Dengan gugup aku memeluknya dan saat lenganku sudah seluruhnya menempel pada tubuhnya, dia langsung sedikit terkejut karena aku menyentuhnya secara tiba tiba.


"Maaf."


Dia hanya menggelengkan kepalanya..


"Rasanya seperti kembali seperti dulu..."


"..."


Aku bisa merasakan tubuhnya yang begitu halus dan ringan...


"Ao... apa kamu... menyukai Yuuki?."


"A-Apa maksudmu?."


"Kamu mempunyai perasaan padanya?."


"Aku tidak ingin menjawab hak seperti itu sekarang ini...."


"Jika memang begitu... aku tidak keberatan untuk diperlakukan seperti adikmu... aku sangat bahagia hingga tidak bisa berkata-kata.."


"..."


"Aku sudah sangat menantikan hal ini begitu lama... dan kali ini aku bisa menyentuhmu... Ao.."


Ditengah-tengah situasi ini, aku langsung menarik tubuhnya dan membuat terbaring hingga sekarang aku yang berada diatasnya.


"T-Tung-."


"..."


Aku menatapnya begitu dalam hingga dia tidak bisa memalingkan matanya kembali dan terus terkunci pada mataku.


"Apa kau tidak suka?."


"Bukannya seperti itu... kau sangat tiba-tiba."


"Jadi, tidak mau?."


"..."


Dia mengangguk kecil dengan wajah merah tomatnya, dan dia memejamkan matanya.


Wajahku yang perlahan mendekati wajahnya, hingga dia semakin tidak berani untuk membuka matanya.


"..."


Dan saat itu dia merasakan sebuah kehangatan tepat diatas dahinya.


Saat dia membuka matanya... dia melihat tanganku yang sudah menyentuh dahinya dan rasanya begitu membuatnya tenang.


"Syukurlah... kau sudah membaik."


"Eh?."


Aku segera berdiri dari atasnya dan dia pun sedikit kebingungan dengan apa yang telah terjadi.


"Aku akan tidur dikamar adikku... jadi kau bisa tidur disini saja."


"T-Tunggu..."


Suaranya yang tidak bisa mencapai diriku, dan akhirnya sosokku sudah tidak terlihat lagi didepan matanya.


Perasaan serasa digantungkan olehku dan dia menyentuh dadanya yang sedari tadi merasakan sesak dan jantungnya tidak berhenti berdetak dengan kencang.


Selama ini dia menahan nafasnya hingga dia terus menarik nafas dengan berat dan tidak bisa menahan semua yang dia telah pendam.


................


"( Apa yang sudah aku lakukan... hampir saja aku kelepasan... untungnya aku masih bisa menahan diri... bodohnya diriku, disaat dia sedang sakit, aku masih sempat-sempatnya memikirkan hal kotor...)"


Meskipun begitu, laki-laki tetaplah laki-laki, dan mereka tidak bisa melepaskan sebuah hasrat didalam pikirannya jika terjadi sesuatu yang seperti itu...


Menahannya saja sudah sangat berat, dan meninggalkan Sakura sendirian disana sedikit membuat diriku yang lain merasa telah membuang-buang kesempatan...


"( Kalau memang sebenarnya... dia memiliki perasaan padaku... apa yang seharusnya aku lakukan tadi...)"


Sambil berbaring diatas tempat tidur milik Mai dan didalam kamarnya, aku melamun sambil menatap langit-langit...


"Lebih baik aku langsung tidur saja..."


Aku sudah begitu sulit untuk berpikir jernih, dan pada akhirnya aku mencoba untuk tidur meskipun pikiran ini masih sangat sulit.


*Klek...


*Tap...tap...tap..


Suara pintu yang perlahan terbuka dan langkah kaki menuju tempat tidurku membuatku kembali terbangun... aku yang sedang terbaring menghadap kearah sebaliknya, dan tidak bisa melihatnya yang diam diam masuk kedalam kamar.


Lalu aku merasakan selimutku yang seperti tertarik dan dia menaiki tempat tidur itu secara perlahan...


Saat ini dia berada dibelakangku... dan aku hanya bisa berpura-pura untuk tidak menyadarinya.


Tetapi meskipun aku sudah berusaha untuk berpura-pura sudah tertidur... tiba tiba kedua tangannya memelukku dari belakang dan aku bisa merasakan seluruh tubuhnya menyentuh tubuh bagian belakangku.


Tangannya yang sedari tadi terus bergerak membelai tubuhku, dan tidak berhenti seperti sengaja untuk membuatku menyadarinya...


"Kenapa kau menyelinap kedalam kamarku..."


Mendengar suaraku, dia langsung berhenti untuk menggerakkan tangannya.


"Bukannya aku sudah bilang untuk istirahat... kau masih belum sepenuhnya pulih.."


Dia tidak menjawab perkataanku, dan tangannya kembali bergerak mengelus perutku hingga hampir menuju kebawah...


Rasanya begitu tak tertahankan dan seperti tubuhku bergerak dengan sendirinya langsung bangkit dan berbalik hingga tubuhku berada diatasnya...


Sekarang aku bisa melihat wajahnya... wajahnya yang penuh dengan keringat dan nafas beratnya yang sudah tidak teratur.


"Sakura..."


Nafsu diriku kini telah memuncak dan perlahan aku mendekati wajahnya yang sudah nampak dekat dengan wajahku.


Tetapi lagi lagi aku tidak bisa melakukannya... aku sedikit mundur dan menjauhkan wajahku darinya...


"Maaf... ini tidak benar."


Melakukan hal seperti ini dengan orang yang tidak memiliki perasaan padaku... ini hanya seperti sebuah pemaksaan sepihak...


Disaat aku yang masih ragu untuk menetapkan perasaanku... tangannya kini mengelus wajahku lalu kedua tangannya melingkari leherku yang berada diatasnya.


"..."


"Kamu pasti masih menganggap diriku ini sebagai orang yang berharga untukmu... tapi untuk kali ini... lihatlah aku sebagai seorang gadis... aku salah mengatakan hal itu... aku... tidak ingin hanya menjadi sebagai seorang adik darimu... Ao... aku mencintaimu.."


Ahh... sepertinya kali ini aku sudah tidak bisa menahannya lagi... aku telah berpikir seperti itu...


"Mmhh!."


Aku langsung menciumnya hingga dia sedikit terkejut dengan perlakuan diriku ini yang begitu tiba-tiba.


Nafasku begitu sesak... tetapi rasanya begitu ringan hingga aku merasa sudah tidak bisa menarik kembali pikiran jernih yang ada didalam kepalaku.


"Mmhh!... haahh! haaah..."


Disaat aku melepaskannya... kita berdua langsung menarik nafas yang sudah begitu berat... aku menatap matanya yang berkaca-kaca, dan sudah tidak bisa berkata apapun karena perlakuan tersebut...


Tanganku mulai bertindak dengan sendirinya, dan mengelus dengan perlahan benda yang halus dan sangat lembut itu.


Aku bisa mendengar suara rintihan kecilnya yang sudah tidak bisa dipertahankan.


"J-Jangan.."


Lalu aku kembali pada mulutnya yang kini sudah mengeluarkan suara yang begitu merangsang pikiranku lebih dalam dan kembali memainkan keduanya secara bersamaan.


"Mmpphh!!."


"Mmpphh... pwahh! haahh!."


Dia yang sudah menikmati setiap gerakan yang aku lakukan dan sekarang tanganku mulai menuju kearah miliknya yang paling penting baginya.


"I-Itu, tidak!."


"Ahh!"


.


.


.


"Kali ini, kamu akhirnya melakukannya."


"Maaf, selama ini aku membuatmu menunggu begitu lama."


"Tapi aku senang... apa yang telah aku inginkan selama ini, akhirnya menjadi milikku seorang."


"Kau... ingin melanjutkannya?."


"Malam ini... mungkin aku butuh sedikit kehangatan."


Dia memelukku dengan lembut seakan menerima perlakuan yang akan aku berikan kepadanya.


Didalam tubuhku terasa getaran hebat dan degupnya kencang yang tiada hentinya.


dan pada saat itu, aku mulai mengubah diriku, dan juga dirinya...


"S-Sakit..."


"Ingin berhenti??."


Dia menggelengkan kepalanya yang sedari awal sudah memejamkan matanya untuk merasakan hal itu lebih dalam.


"Aku... baik-baik saja..."


"..."


Malam itu benar benar sebuah malam yang berbeda... rasanya aku seperti sudah masuk kedalam dunia yang berbeda bersamanya..


Aku melihatnya yang sudah tertidur pulas disampingku, dan perasaanku kini menjadi begitu berbeda...


Seseorang yang selama ini aku cintai, saat ini dirinya telah membalas perasaanku yang telah hampir aku buang sejauh-jauhnya.


Aku menyentuh pipinya dengan jariku, dan berkali-kali menyentuhnya... dan apa yang sudah aku alami sekarang bukanlah sebuah mimpi...


................


"Mmhh... aduh duh! kepalaku sangat pusing..."


Aku terbangun di pagi hari yang cerah dan rasanya kepalaku begitu pusing hingga sulit untuk bangun...


Aku membuka mataku, dan melihat dirinya yang memasuki kamar dan mendekatiku.


"Ao... kamu sudah bangun?."


"Sakura..."


Dia tersenyum sangat lembut dan menyambut pagi ini dengan senyumannya.


"Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu..."


"Terima kasih..."


"Ada apa? melamun seperti itu?."


"Tidak... hanya saja... aku merasa seperti mengalami mimpi yang begitu... indah."


"Duh, kamu masih mengigau... cepat bersihkan badanmu dan setelah ini kita berangkat sekolah..."


"Benar juga... kalau begitu aku akan segera ban-mmhh!."


Tiba tiba dia langsung mengecup bibirku sembari memberikan senyuman manis.


"Selamat pagi... Ao."