
"Bagaimana denganmu?."
"Apa maksudmu..."
"Jangan terlalu kaku padaku... kita sudah saling mengenal sejak lama... apa ingatanmu hilang sebagian?."
"Yah... aku memang membuang semua ingatan tidak berarti itu..."
"Jangan merasa kau sudah berada ditempat yang aman walaupun ini adalah rumahmu." Dia menggertakku.
"Aku tidak akan mengganggap diriku lebih kuat karena hal sepele seperti wilayah... dan juga aku tidak perlu meladeni dirimuu sekarang."
"Jangan berharap kau bisa menghindar dengan tenang... dimana Sakura?."
"Apa yang kau bicarakan? Sakura? kenapa harus bertanya padaku?."
"Dia sudah pulang beberapa bulan yang lalu... jadi tidak mungkin dia tidak menemuimu.."
"Darimana kau tahu jika dia sudah pulang?."
"Aku menyusulnya dua bulan yang lalu... dan mereka mengatakan jika Sakura sudah pindah dari sana."
"Kau... menyusulnya."
"Aku lebih baik darimu karena masih mengharapkannya... kau hanya bisa merebutnya dan membuangnya begitu saja."
"Aku sudah menahan diriku dari tadi... tetapi kau selalu berbicara omong kosong." Aku merubah tatapanku lebih serius.
"Oh... begitu? perkataan apa yang membuatmu mengatakan aku hanya omong kosong? sudah jelas jika kau hanya memainkan perasaannya tanpa memberikan usaha nyata kepadanya!."
"Memainkan perasaannya huh? aku sudah tidak peduli dengan apa yang kau katakan... aku sedang sibuk sekarang jadi jangan mengganggu waktuku... jika kau ingin mencari Sakura, jangan kesini... aku bukan siapa siapanya.."
"Kau..."
Emosi diantara kami berdua kini sudah meluap hingga pada saatnya bisa tumpah kapan saja.
"Aoyama!." Seseorang dari luar gerbang rumahku memanggilku.
"Yuuki..."
"Jadi seperti ini... jadi ini memang yang sudah kau sebut omonganku hanyalah omongan kosong?." Dia melihat seorang gadis lain dan langsung berpikir jika dia adalah seseorang yang dekat dengan Aoyama.
"Aku tidak akan mengungkit masalah ini lagi... aku sudah tidak peduli dengan apa yang kau katakan maupun pikirkan... yang jelas aku tidak pernah memainkan perasaan orang meskipun aku tidak pernah mengenalinya."
"Aku tidak akan membuat onar di kerajaanmu... karena aku sudah tidak ingin melihat wajahmu yang berpura pura mencari perhatian dari orang lain."
"Terima kasih atas kunjungannya." Balasku terhadap intimidasinya.
Dia hanya mengerutkan keningnya saat perkataannya tidak bisa memancing emosiku dan pergi dari sana.
Dia sempat melirik sekilas Yuuki yang berada didepan gerbang rumahku, lalu dia hanya memberikan tatapan rendah padanya.
"Aoyama... dia."
"Bukan siapa siapa... apa yang sedang kau lakukan disini?."
"Aku... aku hanya ingin mengajakmu makan siang dirumahku... Sakura yang mengatakan kepadaku... tapi sepertinya kamu sedang sibuk."
"Yah, seperti yang kau lihat... aku tidak bisa menerimanya, maaf."
"Tapi... apa ada yang terjadi denganmu?."
"Tidak ada apa apa... sudah, aku masuk dulu."
"Y-Ya..."
Lalu tanpa basa basi aku langsung masuk dan menutup pintu rumahku tanpa melihatnya kembali.
"Huh... hari yang buruk... sepertinya." Aku duduk dan menghela nafasku setelah mengalami sebuah kejadian yang tidak pernah ku inginkan.
Aku menatap layar hitam ponselku sambil memikirkan kembali kejadian ini.
"( Aku tidak menyangka dia berada disini... merepotkan sekali...)"
Pikiranku sudah terganggu olehnya, dan rasanya ingin bermain gim pun tidak ada niat...
"Belajar saja deh..."
Dan aku pergi ke kamarku untuk mengalihkan pikiranku untuk belajar, agar aku bisa melupakan masalah ini sebentar.
*Niiitt Niittt
Baru saja aku ingin duduk, dering ponselku berdering diatas meja.
"Hm?." Aku pun terpaksa menunda lagi belajarku dan menjawab teleponnya.
"Halo, Aoyama... bagaimana kabarmu?." Suara yang terdengar dari ponselku adalah suara Kuchima.
"Kuchima... kabarku biasa biasa saja... ada apa?."
"Em begini... kamu tahu bukan? sekarang kita sedang menyelenggarakan acara penggalangan dana itu?."
"( Ah iya... acara itu.) Ya, aku tahu... memangnya kenapa? apa ada masalah?."
"Untungnya sih tidak ada masalah yang serius disini..."
"Lalu?."
"Aku meneleponmu untuk menawarkan bergabung kesini untuk membantu kami... karena sepertinya kita sedang kekurangan orang untuk membantu."
"Maksudmu, aku membantumu kesana?."
"Iya... tapi kalau kamu sedang sibuk tidak apa apa... aku bisa mencari yang lain."
"..." Beberapa detik aku memikirkan ajakannya.
"Baiklah, aku kesana... 20 menit tidak masalah?."
"Benarkah?! tidak masalah kok, kita juga masih bisa bertahan."
"Baiklah, aku segera kesana."
"Ya, terimakasih banyak."
Lalu aku menutup teleponnya dan segera bersiap siap untuk pergi.
Aku berpikir untuk melakukan suatu pekerjaan yang sibuk mungkin bisa menghilangkan pikiranku saat ini, jadi aku bisa membantunya dan sekalian melihat lihat disana...
......................
"Aoyama!." Kuchima menyambutku didepan pintu.
"Bagaimana keadaannya? masih lancar?."
"Sangat lancar... bagaimana? kamu ingin membantu? melihat lihat acaranya saja juga tidak masalah... aku mengajakmu karena kupikir jika ada yang sedang bosan dan bisa mengisi waktunya disini."
"Kebetulan memang aku juga sedang tidak ada kesibukan... jadi aku bisa kesini, dan juga aku ingin membantu kalian saja... tidak enak jika hanya melihatnya."
"Oh baiklah, masuk daja kebelakang dan wakilku akan memberikan tugas yang masih kosong."
"Oke." Lalu aku pergi kebelakang untuk menawarkan bantuanku untuk acara penggalangan dana lansia ini.
Acara ini sangat baik dan berjalan dengan lancar... ini adalah sebuah kebaikan dan kelebihan dari siswa sekolah Asterisk yang memiliki visi dan misi yang diterapkan diluar sekolah maupun didalam area sekolah.
Tidak heran jika sekolah ini memiliki nama dan akreditasi yang sangat tinggi... aku merasa jika bisa menggapai sesuatu dengan mudah jika bersekolah disini...
Aku pun mengikuti saran yang diberikan wakil ketua OSIS itu untuk membantu membawa barang barang dari luar.
Selain itu aku juga membantu melayani para lansia dan orang tua duduk ditempat yang sudah disiapkan, membawa makanan, membantu persiapan pertunjukan, dan hal lainnya.
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 13.25 dan acara ini pun selesai tanpa ada masalah yang besar.
"Aoyama, terima kasih atas bantuannya... teman temanku yang lain ingin merayakan keberhasilan acara terakhir semester ini... kamu ingin ikut?."
"Ah tidak, aku tidak usah... aku juga membantu kalian bisa mendapatkan banyak wawasan dan pembelajaran dari acara ini."
"Tapi kamu juga boleh ikut dengan kita, karena kamu sudah membantu kita jadi kita akan mentraktirmu." Dari belakang wakil ketuanya juga mengajakku.
"Tapi." Aku merasa enggan untuk menerimanya.
"Tidak apa apa, jangan membedakan dirimu yang sudah membantu... kita semua adalah murid sekolah bukan?." Teman temannya yang lain juga ikut mengajakku.
Setelah mendapatkan ajakan dari mereka semua, aku jadi merasa tidak enak untuk menolaknya... jadi terpaksa aku menerimanya.
"Baiklah baiklah... aku ikut."
"Yosh! langsung jalan ke restoran!."
Lalu kita semua pergi berjalan ke tempat yang sudah dipesan oleh mereka.
"Aku senang kita semua bisa menyelesaikannya... ini semua juga berkat bantuanmu." Sambil berjalan, Kuchima memberikan perkataan terima kasih padaku.
"Aku hari ini memang sama sekali tidak ada kesibukan... jadi acara ini mungkin juga ada untungnya."
"Tidak biasanya kamu ingin ikut seperti ini? sebetulnya aku juga sudah heran dari awal saat kamu benar benar datang... tapi aku tidak menanyakan lebih awal."
"Aku juga tidak tahu... mungkin saja aku butuh pekerjaan yang mengisi hari hariku?."
Aku tidak bisa mengatakan jika aku ingin berhenti memikirkan masalah tadi pagi, dan berharap tidak ingin bertemu dengannya kembali.
......................
"Bersulang!!!."
*Clink!
Semuanya berkumpul didalam restoran daging yang ditraktir oleh para kakak kelas OSIS...
Aku hanya bisa mengikuti alurnya yang sangat-sangat tidak bisa kuikuti...
Sejujurnya ini pertama kali aku merayakan sebuah acara meskipun hanya dengan para kakak kelas dan para OSIS...
Aku mengamati pembicaraan beberapa orang dan kebanyakan dari mereka membicarakan tentang masa depan mereka yang setahun lagi ataupun dua tahun lagi akan meninggalkan masa SMA mereka dan mengejar tujuannya lebih dekat lagi.
"Kau, Aoyama bukan?." Seseorang disamping tempat dudukku mengajakku berbicara.
"Ah, ya...benar."
"Maaf, sebelumnya aku belum memperkenalkan diriku... Gutaku Naku, aku sekretaris OSIS divisi dua... panggil saja Naku."
"Kizuku Aoyama, panggil saja sesuka senior."
"Baiklah Kizuku... tapi jangan memanggilku senior, panggil namaku saja... aku orangnya tidak perlu formal."
"Kalau begitu baiklah... Kak Naku?."
"Naku saja..."
"O-Oh...ya... Naku."
"Benar!."
..."( *Apa apaan situasi yang berat ini... aku tidak...
bisa beradaptasi disini... terlalu sulit*.)"
Aku terus mendengarkan ceritanya agar aku tidak terlihat seperti orang yang aneh sendirian...
Meskipun ini terlalu sulit dihadapi oleh orang awam sepertiku, tetapi setidaknya aku sudah berusaha malam ini.
......................
Waktu sudah menunjukkan pukul 22.50 dan malam ini menjadi malam yang melelahkan untukku... aku sudah berada didepan rumahku sendiri...
Aku melihat secarik kertas dibawah pintu rumahku, mungkin saja itu Mai... atau Touya?
Aku memungut kertas itu dan terdapat beberapa tulisan disana.
"Maaf, tadinya aku ingin membicarakan sesuatu padamu... tapi sepertinya kamu sedang pergi, kalau boleh besok aku pergi menemuimu kembali... dari Sakura."
"..."
Setelah aku membacanya, aku hanya memberikan sedikit respon lalu langsung masuk kedalam untuk beristirahat.
Aku langsung menjatuhkan badanku keatas tempat tidurku yang sangat nyaman.
"Hari ini mungkin terlalu berlebihan... melelahkan sekali.."
Dan pada akhirnya...
Hari ini pun sudah diisi dengan kesibukan lain yang kualami.
Meskipun aku masih memikirkannya, tetapi pikiranku sudah lelah untuk berpikir.