My Youth Bond Increase!!

My Youth Bond Increase!!
Chapter 139



*Tok! Tok! Tok!


Setelah pulang sekolah, Mai datang ke rumahku, disaat dia mengetahui masalah ini, dan juga hari ini aku tidak ada kabar apapun, begitu juga dengan aku yang tidak ada disekolah...


Beberapa kali dia memencet bel dan mengetuk pintunya, sama sekali tidak ada jawaban...


Namun saat dia memegang gagang pintunya, dengan mudah pintu tersebut langsung terbuka.


Begitu dia melihat pintu yang tidak terkunci, dia langsung berlari masuk kedalam rumahku.


"Kakak! Kakak!."


Dia mencari-cari diriku yang dimana seluruh ruangannya begitu gelap... tidak ada cahaya sama sekali, dan juga seluruh tempat begitu berantakan.


"Kaka-."


Saat dia sampai didalam kamarku, dia langsung terdiam saat melihat diriku yang sedang terduduk ditepi kasur, hanya diam tak bergeming... tatapan kosong yang begitu dingin... benar-benar seperti mayat yang begitu lemas.


"Kakak..."


Mai begitu syok... karena kini dia kembali melihat kakaknya, seperti tiga tahun yang lalu...


Dia benar-benar tidak bisa menahan air matanya dan bergegas memelukku yang begitu dingin dan lemas...


"..."


Suara tangis yang terdengar di telingaku, membuat bola mataku bergeser untuk melihatnya yang sedang memelukku erat dari samping.


"Mai..."


"Maaf... kali ini aku tidak bisa... membiarkan kamu seperti ini... aku tidak mungkin meninggalkan kamu seperti dulu... sekarang aku ada disini."


"Meskipun aku sudah pernah merasakannya... ternyata masih terasa berat."


"..."


"Aku seperti jatuh pada lubang yang sama... bodoh sekali."


"Kamu sudah berjuang dengan baik... saat itu pun sama... kamu sudah memberikan yang terbaik."


"..."


"Maka dari itu... kamu tidak perlu menahannya... berhentilah memaksakan hatimu."


"..."


Setelah mendengar perkataannya, tiba-tiba air mataku keluar dan aku benar-benar tidak bisa menahannya kembali...


Seluruh tubuhku sudah tidak bisa menahan semua ini... dan aku menangis didalam dekapannya...


Dia terus memelukku dan mengusap kepalaku dengan lembut...


Dan menemani diriku sampai waktu yang begitu lama...


......................


"Kakak, makanannya sudah siap."


Wangi harum dari masakannya.. aku sudah lama tidak merasakan hal ini, saat dia sudah tidak tinggal disini lagi.


"Kamu harus makan yang banyak... dari pagi tadi, kamu sama sekali belum makan bukan?."


"Terima kasih." Ucapku dengan suara yang pelan dan lemas.


Aku pun memakan masakannya yang tidak pernah gagal soal rasa...


"Enak sekali..."


"Syukurlah..." Dia tersenyum sembari menatapi wajahku diseberang meja makan.


"Ada apa?."


"Tidak... hanya saja aku ingin melihat wajahm- maksudku wajah Kakak..."


"Aku pikir, kita berdua sudah bisa memikirkan apa yang diri kita inginkan... jadi kamu tidak perlu menahan dirimu."


"Baiklah... kalau kamu mengatakan seperti itu..."


Aku pun melanjutkan makanku sambil terus dilihat olehnya...


.


.


"Kamu tidak pulang?."


"Setelah aku membereskan rumah ini..."


"Maaf, aku jadi merepotkanmu."


"Kamu memang selalu seperti itu, jika tidak ada aku, mungkin rumah ini sudah seperti gudang tak terawat."


Aku tersenyum dan mengelus kepalanya karena terbawa suasana.


"Benar juga."


"A-Apa yang kamu lakukan??."


Wajahnya langsung memerah dan bicaranya gelagapan.


"Kenapa?."


"T-Tiba tiba melakukan hal seperti ini..."


"Bukannya sudah biasa?."


"Memangnya aku masih anak-anak!."


"O-Oh ya... sekarang kamu tidak suka seperti itu, maaf."


"B-Bukannya tidak suka... hanya sedikit terkejut saja."


"Kenapa wajahmu menjadi memerah seperti itu..."


"B-Berisik! sudahlah... aku ingin membereskan dapur."


"..."


Dia pun langsung pergi meninggalkanku ke dapur.


Setelah semua pekerjaan telah ia selesaikan, dia pun berencana untuk pulang.


"Kamu ingin pulang?."


"Um, lagian aku sudah mengerjakan semuanya, dan juga kamu sudah terlihat baikan sekarang."


"Tapi, sekarang sudah hampir tengah malam... bahaya untuk gadis sepertimu keluar malam-malam."


"Sudah jelas, kamu harus menginap disini."


"Tapi, nanti ayah mencari-cari aku."


"Aku akan mengabarinya... jadi tidak perlu khawatir."


"Baiklah... aku akan menurutimu."


"Bagus..."


Karena hari sudah sangat gelap, aku tidak membiarkannya untuk pulang sendirian... karen rumahnya yang sekarang jaraknya sangatlah jauh... mungkin butuh satu sampai dua jam jika pulang sekarang.


"Kalau begitu aku ingin tidur duluan."


"T-Tunggu."


Dia menghentikan langkahku saat ingin masuk kedalam kamarku.


"Ada apa?."


"A-Apa aku... boleh... t-tidur bersamamu?."


"Ha? untuk apa?."


"H-Hanya ingin saja... lagipula tidak ada salahnya bukan?."


"Padahal kamu sendiri yang ingin menjadi lebih dewasa, tidur pun masih ingin ditemani."


"B-Biar saja! boleh kan?."


"Huh... asalkan jangan menggangguku."


"Um!."


......................


Malam ini, aku tidur berdua dengan Mai... namun entah kenapa mataku tidak ingin menutup, padahal kemarin malam aku benar-benar sama sekali belum tidur.


Kesunyian ini pun malah membuatku kembali memikirkannya...


"Mai, kamu masih bangun?."


Aku mencoba memanggilnya yang tidur membelakangiku.


"..."


Namun dia tidak menjawab perkataanku... mungkin dia sudah tertidur...


Aku pun kembali berusaha untuk memejamkan mataku lalu bergegas tidur, tetapi saat itu...


"Bukannya kamu sendiri yang bilang jangan mengganggumu?."


"Tapi saat ini aku yang mengganggumu, lupakan saja... lanjutkan tidurmu."


Dia pun membalikkan badannya dan saat ini kita saling berhadapan.


"Aku sudah terlanjur bangun... aku akan membencimu kalau kamu tidak mengatakannya."


"K-Kenapa seperti itu..."


"..."


"Huh... Entah kenapa, aku masih berpikir kesalahanku yang tidak bisa memberikan sesuatu kepadanya diakhir... membuat pikiranku terganggu."


"..."


"Dan semakin lama aku berpikir... sepertinya aku harus melakukan sesuatu dengan hal itu."


"Memangnya kenapa?."


"Aku tidak bisa melupakannya..."


"Kalau begitu, kenapa kamu tidak mengatakan sesuatu kepada mereka berdua dari awal?."


"Saat itu... aku masih belum bisa menyadari hal ini bisa terja- tunggu... berdua?."


"Um."


"Apa dari awal... kamu tidak memahami tujuan pembicaraan ini?."


"Bukannya tentang Kak Yuuki dan juga Kak Sakura?."


"B-Benar juga... kamu masih belum mengetahuinya.."


"Mengetahui apa?."


"Sudah dari beberapa minggu yang lalu, aku memiliki hubungan dengan Sakura."


"Eh..."


"Dan semenjak itu, mungkin alasan mengapa aku berubah... karena hidupku memang sudah berubah."


"Tunggu... kenapa... kami tidak memberitahukan hal itu?."


"Y-Yah... rasanya agak merepotkan kalau seperti itu... lagipula... hubungannya sudah berakhir..."


"..."


"Meskipun ini berlangsung hanya beberapa hari... tetapi kenangan itu benar-benar sulit untuk dilupakan."


"Aku benar-benar ingin terkejut, namun tidak bisa..."


"Maaf saja kalau aku memberitahukan hal ini tidak tepat."


"Tetapi aku senang... kamu bisa mendapatkan seseorang yang selalu kamu inginkan dari dulu."


"Ya... seperti itu."


"Jika kamu masih memiliki perasaan padanya... mungkin Kak Sakura juga masih memilikinya."


"Benar... namun, dia sendiri berkata... jika aku tidak bisa larut didalam perasaan yang nyaman ini... Tentu saja, aku tidak bisa melupakannya dengan sangat cepat... dari dulu pun... aku tidak bisa..."


"..."


"..."


"Kalau begitu..."


Tiba tiba tangannya menyentuh tubuhku, dan terus bergerak di dadaku..


Aku melihat tatapannya yang sedikit bergoyang, namun dia terus melakukan ini dan bangkit bergerak keatas tubuhku.


"..."


"Bagaimana kalau... Aku yang membantumu, melupakannya... dan membuatmu, menjadi milikku..."