
"Aoyama, bagaimana tugas kelompokmu?."
"Ya, berjalan dengan baik."
"Untung saja aku satu kelompok dengan Sakura, jadi semua berjalan dengan lancar.."
Sudah seminggu sejak aku pergi bersama Yuuki ke taman Akuarium, dan sekarang adalah hari terakhir tugas kelompok itu dikumpulkan...
Lalu aku dan Touya sedang bermain game online bersama setelah ulangan harian untuk meringankan pikiran yang sudah dipenuhi oleh banyak materi.
Tetapi yang paling membuatku semakin pusing mungkin adalah sifat Sakura yang beberapa hari ini seperti menghindariku dan tidak terlalu banyak bicara padaku...
Aku juga sudah berusaha untuk mencoba mendekatinya dan berbicara padanya, tetapi dia selalu memberikan alasan ada urusan ataupun sedang sibuk... jadi aku tidak bisa memaksanya.
"Hei Aoyama! kenapa disaat stage terakhir kau justru begitu lemah? ada apa dengan kau?."
"Oh, maaf..."
"Kau ada masalah?."
"Setiap hari aku selalu ada masalah."
"Berarti ada yang tidak beres denganmu."
"Sepertinya kau benar..."
"Tetapi alangkah baiknya kau tidak terus menerus memikirkan masalah itu... dan juga, apa kau tidak ada makanan ringan? aku sangat lapar.."
"Apa seperti itu caranya kau meminta sesuatu dirumah orang lain?."
"Tidak, kecuali dirumah sahabatku saja.."
"Huh... tunggu disini, aku ingin pergi ke minimarket sebentar."
"Baiklah, jangan lupa belikan minuman yang segar!."
Karena permintaan darinya yang tidak tahu diri dan seenaknya dirumah orang lain, aku pun terpaksa pergi ke minimarket yang jaraknya tidak terlalu jauh dari sini.
"Dasar, seenaknya saja dia bertingkah dirumahku... jika bukan dia mungkin aku sudah mengusirnya."
Saat aku mengeluh sambil membuka pagar rumahku, secara bersamaan aku juga melihat Sakura yang baru saja keluar dari rumah Yuuki.
Sontak aku terdiam dan begitupun juga dengan dirinya, tapi tak lama kemudian dia berjalan dengan santai melewatiku tanpa menyapaku sama sekali.
"Apa kau benar-benar marah denganku?."
"..."
Dia pura pura tidak mendengarnya dan lanjut berjalan.
Tapi beberapa detik kemudian saat aku merasa tidak bisa berbicara dengannya, dia pun berhenti berjalan.
"Kali ini... aku berikan kamu waktu untuk berbicara."
Dan dia lanjut berjalan tanpa menungguku.
"Yang benar saja..."
Aku pun sedikit berlari untuk lebih dekat dengannya, dan kami berjalan bersamaan.
"Kau ingin ke minimarket?."
"Begitulah."
Dia masih menjawabku dengan jutek.
"Apa kau marah karena aku mengingkari janjiku?."
"..."
Dia tidak menjawab pertanyaanku.
"Kalau begitu aku minta maaf, tetapi aku melakukannya karena kau yang menyuruhku... jadi aku masih tidak tahu apa salahku."
"Kamu tidak salah apa apa."
"Lalu, kenapa kau marah padaku?."
"Aku hanya ingin marah saja denganmu."
"Ha?? itu tidak masuk akal."
"Memang benar, tapi aku merasa jengkel saja saat melihatmu.."
"Apa kau bisa sedikit lebih jelas? aku tidak salah apa apa tetapi kau marah denga-."
Tiba tiba dia berhenti dan berbalik arah kearahku, wajahnya begitu dekat denganku... aku langsung terdiam begitu melihat matanya yang berkaca-kaca.
"Lalu, apa kamu ingin mengobati perasaanku?."
"..."
"Apa kamu bisa membuatku bahagia?."
"Sakura..."
Saat dia sudah tidak bisa menahan air matanya, saat air matanya ingin keluar, dia bergegas berbalik badan dan menghapus segera air matanya.
"Sudahlah, lupakan saja..."
Dia langsung berjalan dengan cepat meninggalkanku, dan aku langsung menyusulnya.
"Sakura, kalau memang seperti itu... apa yang kau ingin aku lakukan, agar kau tidak marah?."
"..."
Dia tidak menjawabnya, aku bukanlah tipe orang yang bersemangat dan terus mencoba untuk melakukan suatu hal... maka dari itu aku menyerah dan membiarkannya seperti itu.
"Baiklah, aku tidak akan mengganggumu."
Aku langsung mundur menjaga jarak darinya agar dia tidak terus menerus merasa emosi.
Begitu juga dengan didalam minimarket, aku yang sudah selesai mengambil semua yang aku butuhkan, langsung membayarnya menuju kasir, hingga aku terpikirkan suatu hal yang meskipun tidak terlalu berguna.
Dan aku selesai membayar semuanya lalu bergegas pulang dan tidak menunggunya selesai.
......................
"Semuanya jadi 650 ribu rupiah."
"Tunggu sebentar."
Dia ingin mengambil uang dari dompetnya, tetapi penjaga kasir mencoba memberitahukan sesuatu padanya.
"Eh? tapi saya belum memberikan uang."
"Tetapi semua belanjaan anda sudah terbayarkan, dan anda tidak perlu membayarnya lagi."
Sekejap dia kebingungan hingga dia sadar siapa yang melakukan hal ini.
"Kalau begitu, terima kasih."
Setelah keluar dari minimarket, dia langsung berlari mengejar seseorang yang membayar semua belanjaannya.
.
.
.
"Tunggu! Ao!."
Saat aku berjalan pulang, tiba tiba seseorang memanggilku dari belakang yang ternyata dia adalah Sakura.
"Ada apa? bukannya kau sedang tidak ingin berbicara padaku?."
"Apa kamu yang membayar belanjaan milikku?."
"Tidak."
"Jangan berbohong, aku tahu pasti itu adalah kamu."
"Kalau begitu, apa kau bisa membuktikannya? seperti aku akan memaafkanmu kalau kamu jujur padaku, seperti itu..."
"..."
Dia tidak bisa berkata-kata dan berdiri sambil memegang tas belanjaannya.
"Kalau tidak bisa berarti bukan aku, dah, aku harus bergegas pulang karena Touya menungguku."
Aku kembali berjalan pulang seakan tidak mempedulikannya.
"Kamu sangat menyebalkan."
"Terima kasih atas pujiannya." Sambil mengangkat tangan kananku dan memberi gerakan seperti hormat dua jari sebagai rasa terima kasihku.
Aku tahu apa yang aku lakukan terlihat sedikit kejam, tetapi aku adalah orang yang sudah mengenalnya dari kecil, dan aku tahu setiap sudut dari sifatnya, pikirannya, maupun kebiasaannya.
Maka dari itu aku melakukan ini karena suatu alasan, dan mungkin itu akan berhasil jika aku lakukan terus menerus.
......................
"Kau lama sekali, darimana saja?."
"Berisik, aku tidak ingin mendengar hal itu dari mulutmu."
"Ahaha, maaf maaf, kalau begitu aku sangat berterimakasih atas kebaikan Aoyama yang begitu besar."
"Itu semakin terdengar menjengkelkan."
"Ya sudah, lebih baik berikan snack itu padaku, aku sudah sangat lapar."
"Makan dan diamlah."
Aku memberikan snack kepada Touya yang sedang duduk bersantai sambil bermain game diatas sofa rumahku.
"Rasa bawang? apa kau tidak memiliki yang lain?."
"Apa kau tidak belajar bersyukur?."
"Tapi~ Aoyama... aku tidak begitu suka bawang, kau kan sudah tahu akan hal itu."
"Siapa yang tahu tentang itu."
Aku melemparkan kepadanya snack yang lain saat aku sedang merapihkan yang lainnya.
"Nah, ini dia yang aku cari! terima kasih temanku!."
"Sudah kubilang makan dan diamlah."
"Apa kau tidak ingin bermain? mumpung aku masih belum memulainya."
"Tunggu sebentar, aku ingin mengambil gelas untuk minumannya."
"Oh iya! sekalian gelas untukku!."
"Kau benar-benar seenaknya saja disini..."
"Tiket VIP khusus sahabat!."
"Huh..."
Aku pun pergi kebelakang mengambil dua gelas untuk minuman yang sudah aku beli di minimarket tadi.
Tetapi sebelum itu aku mengambil ponsel didalam kamar untuk bermain, karena sebelum aku pergi aku meletakkannya didalam kamarku.
.
.
"Ini dia, terima kasih lagi."
"Cepat undang aku."
"Baiklah, kau sangat tidak sabar untuk melihat kehebatanku ya."
"Omong kosong, daritadi kau hanya membebani tim saja."
Aku mengambil snack dan memakannya sambil kita bermain game.
Ditengah permainan tiba tiba Touya memberitahukan sesuatu padaku.
"Aoyama, apa kau masih ingat? orang yang kau tolong beberapa minggu yang lalu, yang babak belur dan lapar."
Aku langsung paham dia sedang membicarakan Lawliet Erlic, asisten dari Azumi.
"Kenapa tiba-tiba membicarakannya?."
Bersamaan dengan aku yang mengambil snack, dia juga mengatakan sesuatu yang membuatku terdiam.
"Kemarin aku bertemu dengannya dan mengobrol banyak hal padanya."
Tanganku langsung terdiam dan melihat kearahnya, dia juga terdiam karena kebingungan.
"Ada apa?."