My Youth Bond Increase!!

My Youth Bond Increase!!
Chapter 42



Kami berjalan kembali ketempat yang lain berada, jaraknya yang cukup jauh membuat keheningan situasi ini semakin terasa.


Aku dan Yuuki yang masih berjalan dengan gelapnya lorong dan dinginnya suhu ditempat ini membuat kita merasakan kedinginan yang cukup terasa.


"Uhh.. " Dia mengeluh sambil tetap memegang bajuku.


"Ada apa?. "


"Tidak... tapi disini cukup dingin. "


"Itu sudah jelas... tidak ada penghangat maupun lainnya disini. "


"Mm."


"... "


"Kau ingin beristirahat terlebih dahulu?. "


"Bagaimana kita bisa beristirahat ditempat yang gelap seperti ini. "


"Disini memang tidak mungkin... tapi sepertinya didalam sana bisa. " Aku berhenti di depan ruang tata usaha.


"Tidak dikunci?. "


"Entahlah."


Aku pun mencoba membuka pintunya untuk memastikan apakah pintu ini terkunci atau tidak...


*Ceklek


"Bisa?. "


"Sepertinya.. "


Aku membuka pintu itu perlahan... didalam sangat gelap hingga aku mencoba mencari saklar lampunya.


*Klek


Saat aku menekan tombol saklar nya, lampu didalam ruangan itu pun menyala.


"Benar benar bisa.. "


"Tetapi kita tidak bisa berlama lama disini.. " Aku berkeliling didalam ruangan itu mencari sesuatu yang dapat digunakan.


"Aku tahu.. " Lalu dia duduk diatas sofa.


"... "


.


.


.


"Pakai ini. " Aku memberikannya sebuah jaket cukup tebal yang aku temukan... terlihat bersih dan bisa dipakai.


"Memangnya boleh aku mengambil ini?. "


"Besok bisa kita kembalikan, jadi tidak perlu khawatir. "


"Baiklah."


Dia pun memakai jaket itu...


Tetapi saat dia melihatku yang hanya memakai kemeja sekolah yang tipis, membuatnya memberikan perhatian kepadaku.


"Apa kamu tidak kedinginan?. "


"Tidak terlalu... "


"Kamu yakin?. "


"Apa kau ingin memberikan jaket itu kepadaku lagi?. "


"Jika memang kamu membutuhkannya, aku tidak apa ap-. " Dia benar benar ingin melepas jaketnya.


"Tidak, maaf, aku hanya bercanda... aku tidak apa apa. " Aku menghentikannya.


"Tapi disini benar benar dingin.. "


"Aku sudah berkeliling gedung ini seperti olahraga, jadi aku tidak terlalu merasa kedinginan. "


"Aku... merepotkanmu ya?. "


"Kenapa kau mengatakan seperti itu?."


"Karena kamu mencariku... aku jadi merasa bersalah. "


"Jangan terlalu memikirkan hal yang merepotkan... bahkan aku tidak pernah mengeluh sedikit pun... "


"... "


Lalu dia berdiri dari tempat duduknya, dan berpindah tempat disampingku...


"Kenapa?. " Aku merasa sedikit terkejut dan bingung.


Tetapi dia tidak membalasku dan langsung menyentuh tanganku.


"Tunggu... "


Dia mengangkat tanganku dan menggenggam kedua tanganku dengan kedua tangannya.


"Kamu berbohong... tanganmu sangat dingin."


"Tapi aku benar benar baik baik saja.. "


"Jangan keras kepala... aku bisa membantumu sedikit."


Dia menggosok gosokan tangannya di kedua tanganku sambil meniupnya agar terasa lebih hangat...


Tangannya yang lembut itu terus membuat tanganku hangat... dan melihatnya dari jarak sedekat ini membuatku merasa sedikit canggung.


Tetapi beberapa saat kemudian dia berhenti menggerakkan tangannya dan terus menggenggam tanganku.


"... "


"Aoyama... " Dia memanggilku sambil menatap tangannya dengan gugup.


"A-Ada apa?. " Aku mencoba membuat wajahku lebih datar, tetapi situasi ini tetap membuatku sangat canggung.


"Apa maksudmu? aku tidak mengerti. " Aku langsung memalingkan wajahku.


"Aku hanya bertanya... kenapa kamu malah membuat kesan seperti ada yang disembunyikan.. " Pipinya menggembung seperti merajuk.


"Entahlah... aku tidak tahu tentang perasaan seperti itu... kau tahu bagaimana aku kelihatannya bukan?. "


"Memang benar... tapi bukannya kamu sudah mengenalnya cukup lama?. "


"Aku hanya mengenalnya cukup lama dan itu bukan suatu alasan yang bisa dijadikan sebuah rasa suka.. "


"Begitu... maaf, aku terlalu memaksamu. " Dia melepaskan genggamannya dan terlihat wajahnya sedikit murung disampingku.


"Apa tujuanmu menanyakan hal seperti itu?. "


"Tidak ada... aku hanya ingin bertanya kepadamu saja. "


"Huh... aku benar benar tidak mengerti tentang isi pikiranmu... tapi satu hal yang perlu kau ketahui... aku hanya ingin melakukan hal yang bisa membuat satu keuntungan kepada satu pihak... maka dari itu aku tidak pernah mengharapkan sebuah kejadian maupun hal yang semacam itu. "


"Kamu mengatakan hal yang tidak perlu kamu ucapkan.. "


"Kau benar... itu terdengar aneh. "


"Tidak aneh jika kamu yang mengatakannya. " Dia tertawa kecil.


"Lebih baik terlihat seperti itu.. "


"... "


"... "


"Sudah cukup lama kita disini... ayo kita berjalan lagi kembali ketempat yang lain. " Sambil berdiri aku berjalan kearah pintu luar.


"Hei... Aoyama. "


Dia memanggilku dari belakang dan membuat aku berbalik kepadanya...


Tetapi tiba tiba dia langsung memelukku saat aku berbalik kearahnya.


"..." Aku terdiam tidak bisa berkata apa apa.


"Terima kasih... aku sudah merasa lebih baik... berkatmu. "


"Baiklah, aku bukan kakakmu atau ayahmu, jadi lepaskan tanganmu itu dulu. "


"Tapi, kamu suka yang seperti ini bukan?. "


"Darimana asalnya pernyataan yang aneh seperti itu?. "


"Entahlah... aku hanya menebaknya. " Lalu dia melepaskan pelukannya dan keluar dari ruangan itu.


"Benar benar merepotkan.. " Aku pun mematikan lampu itu dan menutup pintunya.


Kami lanjut berjalan kembali kepada murid murid yang lainnya, waktu sudah menunjukkan pukul 21.45 malam, dan suara hening malamnya itu pun berganti dengan suara jangkrik maupun angin yang melewati telinga kita.


......................


Setelah kami tiba di sana, beberapa orang sudah bersiap siap ingin pulang, karena mereka mungkin tidak bisa berada disini semalaman, dan yang lainnya berada didalam perpustakaan.


"Aoyama... Yuuki... syukurlah kalian kembali. "


"Aku bukan kembali dari bencana... atau memang bisa dibilang begitu?. "


"Sakura... maaf... aku-. " Tak bisa menyelesaikan kata katanya, Sakura langsung memeluknya saat berjalan kesini.


"Tidak apa apa... ini salahku, karena aku tidak bisa menjagamu.. "


Disaat mereka yang sedang melepas kekhawatirannya, Kuchima menghampiriku dengan membawa dua kaleng kopi dan memberikan satu kepadaku.


"Terima kasih... " Aku menerima kopinya.


"Sepertinya kamu habis mengalami hal yang sibuk.. "


"Entahlah... "


"Kadang perempuan itu sangat mudah sekali terbawa oleh perasaannya... kita sebagai kakak yang mempunyai adik perempuan bisa merasakannya.. " Dia memberikan sebuah candaan untuk membuatku tenang.


"Kau benar... tetapi terima kasih sudah membantu adikku tadi. "


"tidak apa apa... aku juga terkejut ada anak seumuran dia berada disini... "


"Aku lega jika kamu yang bertemu dengannya. "


"Ada apa ini? apa kamu sudah menerimaku menjadi orang yang baik?. "


"Aku hanya yakin jika ketua OSIS tidak pernah melakukan hal yang seperti itu.. "


"Sayang sekali ya... "


"Lalu, bagaimana dengan perkembangannya?. "


"Semuanya sesuai dengan rencana... sangat lancar, dan mereka sudah pulang hingga kembali kesini esok pagi. "


"Baiklah kalau begitu.. "


"Kamu tidak pulang juga?. "


"Aku tidak bisa pulang. "


"Memangnya kenapa?. "


"Kunci rumahku dipegang oleh adikku. "


"Ah... aku paham... aku paham.. " Merasa memiliki sesuatu yang sama, dia mengerti tentang hal ini.


"Aoyama... sebaiknya kita masuk menemui Mai dan juga Nami di perpustakaan. " Ajak Sakura yang sudah selesai berbicara dengan Yuuki.


"Ah ya Nanami (Note : Jika belum akrab/ diizinkan, tidak boleh menggunakan nama depan untuk memanggil.) benar, sebaiknya kita masuk kedalam perpustakaan saja. " Sambung Kuchima.


"Baiklah."


Lalu kami berempat masuk kedalam perpustakaan untuk menemui yang lainnya...


Malam yang mempersiapkan kemeriahan ini berlanjut dengan tenang, meskipun adanya sedikit kendala pada sebelumnya, untungnya semuanya selesai dengan cepat...


Aku terus melakukan hal yang jelas berbeda dengan karakterku... tetapi dengan mengeluh saja tidak bisa keluar dari situasi ini... aku hanya bisa mengikuti apa yang berada pada alurnya...