
"P-Perasaanku?!."
"Iya... bagaimana menurut kamu?."
"M-Menurutku... a...a...aku."
Dia tidak bisa berhenti bergetar...
"Apa dia suka membuatmu marah? nenek khawatir dengan caranya bergaul... dari dulu dia tidak pernah mempunyai banyak teman... karena sifatnya yang terlalu mengunci dirinya sendiri..."
"..."
"Meskipun begitu, dia adalah anak yang baik... dari kecil... dia hanya mempunyai Sakura dan seorang anak laki-laki... setiap hari mereka bertiga selalu bermain bersama... dan itulah yang membuat nenek khawatirkan... karena dia orang yang tidak pernah memikirkan dirinya sendiri jika membantu orang yang ia hargai... beberapa kali Aoyama seringkali terluka parah, hilang, maupun terluka karena hewan... tapi nenek percaya Aoyama adalah anak yang kuat... mungkin itulah alasan mengapa ia selamat dari kecelakaan parah saat kecil...."
Setelah mendengar nenek berbicara, Yuuki pun tersenyum.
"Aoyama juga sering membantuku berkali-kali... meskipun dia begitu menyebalkan... dan juga sulit memahami isi pikirannya... tetapi... aku tidak bisa berbohong jika dia selalu menyelamatkanku... dia merubah hidupku yang kupikir akan selamanya terkurung dalam keputusasaan... tanpa ada dia, mungkin aku tidak bisa berpikir bagaimana aku sekarang..."
Nenek melihat Yuuki dengan bahagia... dan perasaannya menjadi lega.
"Apa yang nenek katakan benar... Aoyama selalu menutup dirinya sendiri dan mengambil rasa sakit seseorang untuk dia simpan sendiri... aku... tidak ingin seperti itu."
"Kalau begitu... Yuuki bisa melakukan sesuatu padanya bukan?."
"Sesuatu?."
Nenek mengangkat kedua tangan Yuuki diantara kedua telapak tangan beliau.
"..."
......................
Setelah pembicaraan yang cukup panjang, akhirnya Yuuki keluar dari ruangan pasien.
"Apa yang sedang kau bicarakan begitu lama dengan nenek?."
Aku yang sudah menunggunya keluar didepan pintu ruangan.
"Tidak ada." Dia menjawabnya dengan wajah yang sangat terlihat bahagia.
"Wajahmu tidak menggambarkan seperti tidak ada apa apa..."
"Sudahlah, jangan memikirkan hal yang tidak perlu dipikirkan... nenekmu memanggilmu didalam, cepatlah masuk!."
"Nenek memanggilku?."
"Iya, cepat masuk!.'
"Baiklah baiklah..."
saat aku masuk, Yuuki langsung menutup pintunya lalu tersenyum lembut dan pergi.
Nenek memanggilku karena keadaannya yang sudah membaik, dan dia meminta untuk pulang kerumah.
Sebelum itu aku meminta dokter untuk mengecek lebih baik lagi agar kondisi nenek memang baik baik saja.
Lalu dokter mengatakan kondisi nenek sudah baik baik saja dan memberikan beberapa obat vitamin untuk beliau.
Saat pulang, lagi lagi Kuchima membantu kami untuk mengantarkan kerumah... begitupun juga dengan mereka bertiga yang menyusul menggunakan transportasi umum.
Semuanya datang kerumah karena atas kemauan nenek untuk membalas kebaikan mereka dan membuatkan makan malam karena jam sudah menunjukkan pukul 18.25 malam...
"Nenek, apa nenek baik baik saja? baru saja pulang dari rumah sakit, jangan memaksakan diri, biar aku saja yang memasak makan malam."
"Tidak perlu, nenek sudah baik baik saja... lagipula teman temanmu kesini karena nenek ingin memasak makanan untuk mereka."
"Kalau begitu bagaimana jika Sakura, Nami, Mai dan Yuuki membantu nenek didapur?." Mereka berempat datang kedalam dapur mendekati aku dan nenek.
"Kalian ingin membantu nenek memasak?."
"Um! tentu saja, Mai ingin membantu nenek."
"Yuuki ingin melihat masakan buatan nenek, jadi sekalian untuk membantu."
"Agar lebih cepat, dan juga agar nenek tidak kelelahan."
"Biarkan para gadis membantu nenek, aku akan menjadi penyicip makanan ya? haha!."
"Kalau begitu nenek tidak keberatan... Aoyama temani teman temanmu saja ya." Balas nenek dengan ramah seperti biasa.
"..."
"Tenang saja, kami bisa menemani dan membantu nenek memasak kok, jadi kamu bersama yang lainnya saja... tidak perlu khawatir."
"Baiklah... terima kasih."
Sakura membalas dengan senyumannya.
"Jarang sekali aku melihat Aoyama dengan mudah mengikuti apa yang aku ucapkan... ini adalah sebuah keajaiban.." Yuuki merasa jika dia mendapatkan sebuah pencapaian.
"Berisik..."
"Ahaha! Aoyama, apa kamu sedang tersipu malu?." Begitupun dengan Nami yang ikut menggodaku.
"Huh... lebih baik aku pergi saja."
"Kalau begitu tunggu dengan tenang ya!."
Lalu aku meninggalkan mereka berempat membantu nenek memasak di dapur..
Saat aku pergi ke ruang tamu, aku melihat Touya yang sedang menelepon seseorang, dan Kuchima yang sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya.
Saat Touya sudah selesai menelepon, aku langsung bertanya padanya.
"Adikmu?."
"Ah, iya... dia ada dirumah dengan temannya karena mereka sedang kerja kelompok."
"Kerja kelompok malam?.'
"Rumah teman temannya berjarak dekat dengan rumahku, jadi hal seperti itu sudah biasa."
"Ouhh..."
"Begitulah... untung saja semuanya baik baik saja."
"Melihat nenekmu, aku jadi mengingat nenekku yang mirip dengan beliau..."
"Mirip?."
"Ya! karena beliau mengatakan jika aku tampan! bwahahah!."
"Tingkat kepercayaan dirimu sangat tinggi... aku pikir itu menyedihkan... apa tidak ada gadis yang pernah mengatakan tampan kepadamu?."
"Tolong jangan melanjutkan perbincangan ini kembali." Seketika dia langsung lemas.
"Perubahan emosinya cepat sekali."
Bersamaan dengan itu, Kuchima selesai dengan pekerjaannya lalu memasukkan laptopnya kedalam tas.
"Oh! Kuchima... sudah selesai?." Tanya Touya.
"Ya, akhirnya aku selesai." Sambil meregangkan tubuhnya hingga terdengar bunyi tulang akibatnya.
"Kau bilang ingin berhenti menjadi ketua Osis."
"Rencananya seperti itu... tapi aku belum menemukan pengganti yang cocok.."
"Kenapa tidak orang ini saja?." Touya merangkulku langsung.
"Aku sudah pernah menolaknya... jadi aku tidak bisa."
"K-Kau menolaknya?? kenapa?! padahal jika kamu menjadi ketua OSIS, aku ingin menjadi wakil ketuanyaaa."
"Aku tidak bisa, lagipula kenapa tidak kau saja?."
"Tanggung jawab nya terlalu besar! aku tidak akan sanggup, maka dari itu aku ingin menjadi wakilnya saja."
"Memangnya kenapa?."
"Aku bisa mendapatkan beasiswa untuk kuliah ditempat yang bagus! bwahahah!."
"Tebakanku benar... kau hanya ingin mendapatkan keuntungannya saja."
"Hehe."
"Keuntungan menjadi anggota OSIS tidak hanya itu... kalian juga mendapat rekomendasi dari berbagai tempat jika kalian mempunyai suatu penghargaan."
"Rekomendasi?? woah!.'
"Jangan hanya melihat keuntungannya saja... pekerjaannya juga tidak kalah banyak dari keuntungannya..." Aku menyadarkan Touya untuk tidak tergiur dengan keuntungan saja.
"Ahaha, benar kata Aoyama... bahkan menjadi wakil anggota juga tidak mudah... mereka membantu pekerjaan ketua jika sedang izin atau sakit."
"Sayang sekali..."
"Satu satunya jalan hanya perlu belajar... tidak ada jalan pintas untuk kesuksesan."
"B-Baik..."
Lalu kami melanjutkan perbincangan kami dengan banyak hal hal yang bahkan tidak ada hubungannya dengan pendidikan...
Sampai 30 menit kami menunggu, akhirnya tiba juga saat saat kita dipanggil oleh mereka ke meja makan.
"Hmm!! wanginya sangat membuatku lapar!."
"Makanlah, kita sudah memasak yang banyak."
"Kalau begitu selamat makan!!."
Kami semuanya langsung mengambil banyak lauk dan nasi, lalu mencobanya.
"Mm!! enak! rasanya sangat menakjubkan!."
"Benar! kalau seperti ini aku akan menambah sepuasnya."
"Enak sekali..."
"Bagaimana? enak kan? ini semua adalah usaha para gadis yang membantu nenek memasak... saking bersemangatnya mereka, nenek hanya dapat memberikan intruksi saja."
"Karena Sakura sudah lama tidak memasak bersama nenek, jadi berlebihan."
"Mai lebih senang jika bisa memasak bersama!."
"A-Aku juga."
"Aku sendiri pun juga kagum dengan kalian... lain kesempatan kita memasak bersama lagi ya!."
"Kalau begitu aku bisa makan enak lagi!.'
"Kau hanya ingin makannya saja."
"Jika boleh aku juga ingin lagi!.'
"Ah, kakak pun juga sama dengan Touya!."
"Ahaha."
Melihat suasana diatas meja makan yang sangat ramai, membuat hati beliau begitu tersentuh... hingga meneteskan air mata.
"N-Nenek? ada apa? kenapa nenek menangis?." Mai yang melihatnya langsung terkejut.
Begitupun dengan yang lain saat menyadarinya.
"Tidak... nenek hanya terharu bahagia... nenek benar benar tidak menyangka... Aoyama... mempunyai banyak teman yang sangat baik."
Semuanya tersenyum saat mendengar beliau yang bahagia menikmati momen ini.
Aku yang tidak bisa berkata apa apa hanya bisa memberikan sedikit rasa senang.
"Kalau begitu, ayo makan lagi... jangan sungkan, masih ada banyak disini."
"Yooosshhh!! aku akan menghabiskannya!."
"Bukan untukmu semua!!.'