
"Sepertinya sampai disini sudah aman."
"Huh, syukurlah... aku sangat lelah."
"Kamu baik-baik saja?"
"Um, hanya sedikit kelelahan saja."
Setelah kejadian kecil yang membuat para tamu keluar dan pergi dari acara kecil yang diselenggarakan oleh kepala keluarga Sakamura, menjadi kesempatan baik bagi mereka berdua untuk pergi dari tempat itu.
Dan setelah itu mereka berlari untuk menjauh dari mansion tersebut dan langsung berjalan menuju kearah pulang.
Meskipun ini adalah sebuah hal yang cukup sulit untuk dilakukan, namun mereka berdua berhasil membawa pulang sebuah informasi yang sangat penting, bahkan surat ini bisa saja menyelesaikan permasalahan-permasalahan ini langsung.
"Kamu mendapatkan hal yang sangat bagus!.'
"Benarkah?"
"Tidak salah lagi, ini adalah barang bukti dalam kejahatan yang dilakukan oleh pihak Sakamura dan pendukungnya perusahaan Adam... Semuanya tertulis didalam surat perjanjian ini."
Celestia membaca setiap baris dan memerhatikan setiap kata dalam rasa lega dan senang, karena akhirnya usaha mereka berdua memiliki hasil yang sangat baik.
"Maaf."
"Kenapa?."
"Karena aku mengorbankan dirimu bersama orang itu, dan... kamu mengalami sesuatu hal yang buruk."
"Tidak masalah... lagipula semua hal yang buruk itu belum terjadi, dan kamu datang tepat waktu... M-Memang benar rasanya aku sedikit ketakutan hingga tidak tahu harus berbuat apa, karena orang itu adalah kepala keluarga Sakamura, dan yang bisa aku lakukan hanyalah berharap sebuah keajaiban, hingga keajaiban itu benar-benar datang bukan?"
"Kamu benar." Kuchima membalas senyum dari Celestia begitu mereka saling bertatapan.
"Kalau begitu, apa kita langsung pulang, atau mengantarkan surat ini terlebih dahulu?."
"Aku akan mengantarkan dirimu pulang, dan aku sendiri yang akan memberikan surat surat ini pada Aoyama."
"Kenapa seperti itu?."
"Aku tidak ingin membuatmu lebih sibuk dari semua ini, karena apa yang dikatakan orang lain jika seorang pemilik busana terkenal kelelahan?"
"Jangan menggodaku seperti itu, ataupun memujiku terlalu berlebihan, semua hal ini juga karena bantuan darimu, aku tidak mungkin bisa melakukannya sendiri."
"Karena itu, sebagai ucapan terima kasih dariku, aku ingin mengantarkan kamu pulang sampai ke rumahmu."
"Kamu tidak apa-apa sendirian mengantarkan surat tersebut kesana?."
"Tidak apa-apa, jika semua sudah selesai, aku akan menghubungimu."
"Baiklah, sepertinya aku tidak mempunyai pilihan lain."
"..."
Dan pada akhirnya Kuchima mengantarkan Celestia terlebih dahulu untuk pulang ke rumahnya.
.
.
"Terima kasih, sudah mengantarkan aku pulang."
"Sama sama, aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan."
"Um, kalau begitu hati-hati begitu pergi kesana."
"Ya, aku akan berhati-hati..."
Setelah berpamitan, Kuchima pun pergi untuk memberikan surat surat tersebut kepadaku.
................
"Aku setahun lebih tua darimu, dan kamu harus memanggilku Kak Mai."
"H-Ha? aku kesini tidak untuk memanggil dirimu!."
"Oh begitu... Aoyama, sepertinya anak ini memang tidak bisa berada disini."
"Kenapa kau seenaknya menentukan bisa atau tidaknya aku disini?."
"Aku adalah adiknya."
"Aku tahu itu tapi, kau hanya adik tirinya."
"Memangnya, kamu siapanya Aoyama?."
"Aku..."
Seketika Erlic tidak bisa melanjutkan perkataannya, karena suatu hal yang tidak bisa dia katakan.
"Sudahlah, Mai... Erlic kesini untuk melakukan sesuatu hal yang penting, jadi setidaknya terima dia sebagai seorang tamu."
"Benar, kau harus menerima diriku sebagai seorang tamu, ingat, tamu lebih penting daripada status hubungan dirimu dengan Aoyama."
"Kuhk! menyebalkan sekali... baiklah! jika itu yang kamu mau." Mai pun langsung pergi kebelakang dengan sedikit amarah yabg tersimpan karena menghadapinya.
"Maaf tentang adikku, namun aku harap dia tidak berbuat yang berlebih-lebihan denganmu."
"Tenang saja, meskipun begitu, sebenarnya dia orang yang sangat peduli dan baik, hanya sedikit merepotkan saja."
"A-Aku tahu."
"..."
"Apa kau, dan dia... sudah tinggal bersama disini sejak lama?."
"Tidak, dia disini hanya sesekali mampir kesini, dan kuta tinggal bersama terakhir kali sejak aku lulus SMP, dan ayahnya memberikan rumah ini sebagai tempatku sendiri."
"Syukurlah, kau diberikan kelayakan sebagaimana seorang anak."
"Memangnya kenapa?."
"T-Tidak, tidak ada apa apa..."
"Kamu sendiri... apa Azumi benar-benar mengurus hidupmu dengan layak?."
"Tempat tinggal, makanan, uang, kehidupan, segalanya yang ada meskipun terbatas, namun aku tidak merasakan kekurangan sedikitpun."
"Pastinya cukup berat untukmu menjalani kehidupan yang tidak seperti anak anak biasanya."
"Aku tidak mengeluhkannya, dan juga aku bukanlah seorang anak anak!."
"Yah, dengan semua yang telah aku lihat dari dirimu... mungkin aku tidak bisa menganggap dirimu seperti anak anak lagi."
"O-Omong-omong... soal masalah dirimu yang pernah kau katakan padaku."
"Ah... soal keluargaku? aku masih memikirkannya hingga saat ini, dan yang bisa aku pikirkan hanyalah berharap keadaan adikku yang tidak tahu keberadaannya sekarang, agar dia baik baik saja... sampai aku bisa menemukannya."
"..." Tampang yang tidak biasa diberikan oleh Erlic, seperti merasa sedih namun perasaannya seperti tertahankan oleh sebuah dinding yang cukup besar.
"Mungkin, aku memiliki rencana untuk bertemu dengan ayah Mai, dan membicarakan hal ini sekaligus masalah yang saat ini sedang kita selesaikan... aku yakin, beliau pasti mengetahui sesuatu tentang adikku maupun keluarga Sakamura."
"..."
"Ada apa?."
"Aku sedikit iri melihat dirimu... yang menjalankan segala hal dengan apa yang bisa kau lakukan, tanpa memerhatikan kondisi dari orang maupun dirimu sendiri."
"Apa itu sebuah pujian?."
"Mungkin saja... aku harap, kau bisa bertemu... dengan adikmu."
"Terima kasih."
"..."
"Dan juga-."
"Minumannya sudah datang~"
Tiba tiba saja Mai datang dengan membawa dua cangkir kopi dan dengan santainya dia melewati kita berdua lalu meletakkan kedua cangkir kopi tersebut diatas meja di depan kita.
"Terima kasih tuan tuan sekalian, saya harap pembayaran segera diberikan." Dengan nada cuek dia tidak melihat kita berdua sedikitpun.
"Panas!."
Erlic yang mencoba menyeruput sedikit kopi yang dibuat oleh Mai, namun bibirnya langsung memerah akibat kopinya yang terlalu panas.
Namun saat aku mencoba punyaku, suhunya tidak terlalu panas, bahkan sangat pas bagi diriku...
"Mai, apa kamu menyediakan dua kopi yang berbeda?."
"Tidak, aku tidak seperti itu."
"M-Maaf, sebenarnya aku memiliki lidah kucing... jadi ini bukan kesalahannya."
"Dengar itu? hmph!." Dia memalingkan wajahnya karena dirinya semakin marah padaku.
"Baiklah baiklah, aku minta maaf."
"Sudah seharusnya seperti itu sejak tadi." Dengan jutek dia duduk di dekatku namun dirinya enggan melihat kearahku sedikitpun.
Erlic yang melihat tingkahnya hanya bisa melamun karena melihat sebuah hal yang tidak pernah ia lihat seumur hidup.
"Meskipun hanya hubungan tiri, namun kalian cukup dekat ya."
"Memangnya kenapa? apa ada yang salah?."
"Aku hanya mengatakan hal itu saja, apa ada masalah?"
"Dengar ini, aku masih merasa tidak bisa mempercayai dirimu karena kamu adalah seorang asisten dari orang itu, maka dari itu, jangan mendekati Aoyama lebih dekat dari ini!." Dia menunjuk dirinya dan memperingatkan dirinya tentang itu.
Ternyata sampai sekarang Mai masih belum menerima Erlic karena beberapa kejadian di masa lalu yang membuatnya masih belum mempercayai dirinya.
"Aku juga tidak butuh peringatan darimu."
"Kalian ini, setidaknya untuk beberapa menit atau jam bisa sedikit akur."
*Ding Dong!