My Youth Bond Increase!!

My Youth Bond Increase!!
Chapter 85



*Buk!!


Suara yang begitu nyaring hingga membuat seisi ruangan seketika sunyi...


"Aoyama..."


"Dia..."


Azumi yang jatuh tersungkur karena kerasnya pukulanku kearah wajahnya hingga terlihat bekas yang begitu parah dan darah yang keluar dari kedua hidungnya.


"Tuan!!."


Aku mendekati Yuuki dan Sakura sambil membungkuk untuk meraih kue yang sudah berantakan.


"Maaf, aku pinjam ini.."


"Aoyama... sudah, aku baik baik saja..."


"Aku tidak melakukan ini untukmu... aku hanya tidak menyukai wajahnya saja."


"..."


Aku mengambil sisa kue tersebut dan berjalan kearah Azumi yang masih merasa kesakitan.


"K-Kau!! bagaimana sampah sepertimu ada disini?!!!."


"Makan kue ini..." Aku dengan datar menyuguhkan kue yang sudah hancur itu padanya dengan halus.


"Jangan bercanda!! sampah sepertimu berani beraninya melawanku!! kau akan menyesalinya!!."


"Berhenti mengoceh... makan kue ini."


"Bagaimana bisa pengawal Yuuki berani menyerangnya..."


"Apapun itu, aku sangat senang melihat ini! Shota... setelah ini kita juga harus maju."


"Sepertinya begitu."


"Memakan sampah yang diberikan oleh sampah? mana mungkin aku ma-."


*Brak!


Kue itu langsung kulempar tepat diwajahnya hingga wajahnya tertutup oleh adonan kue yang sudah hancur.


Semua orang langsung terkejut dan mulai meninggalkan tempat ini satu persatu.


"Beraninya kau menyakiti Tuan!!!."


Aku berdiri langsung menarik dasi dan membuka jasku lalu memberikannya kepada Sakura...


"Maaf, aku tidak bisa menahannya... biarkan ini terus berlanjut hingga mereka puas." Sambil melipat lengan kemeja putihku.


"Kurang hajar! kalian semua! cepat habisi dia!." Azumi sudah berdiri dengan wajahnya yang dipenuhi oleh krim adonan kue.


"Rasakan ini!!."


Salah satu dari mereka menyerangku, tetapi aku berhasil menangkisnya dan langsung meninju perutnya hingga terjatuh, dan datang lagi satu persatu... mereka begitu kuat meskipun sudah terkena pukulan beberapa kali.


Saat aku sedang sibuk dengan yang lain, dua orang lainnya juga ingin menyerang titik butaku.


"Arrghh!."


"Ugh!!."


"Apa kalian ini membuat kerusuhan disini huh?! silahkan saja! aku akan menghajar kalian satu persatu hingga puas!."


"Ini adalah tempat saudara kami, jika ada yang membuat kericuhan... ini sudah menjadi urusan kami."


"Shota... Tsukasa..."


"Ckk!!!."


Kini ruangan yang besar itu hanya diisi oleh kami dan anak buah Azumi, semua tamu sudah pergi dan entah kemana.


"Maaf, saya membuat masalah."


"Apa itu yang ingin kau katakan sekarang?."


Kami bertiga sudah dikepung dan dikelilingi oleh 8 orang yang sudah berada didalam.


"Tuan Azumi! sebaiknya anda menghentikan perbuatan anda sekarang." Sakura mencoba untuk membuat Azumi tidak menimbulkan masalah lagi.


"Ha?! jangan harap! mereka akan langsung dihabisi oleh para bawahanku yang sangat ku-."


"Arrghh!!."


"Guhukk!!."


"Aakhhh!."


Berbanding terbalik dengan apa yang Azumi harapkan, justru delapan pengawalnya terlihat kewalahan menghadapi ketiga orang itu..


Tsukasa memang ahli dalam bidang bela diri karena ayahnya memiliki puluhan perguruan bela diri yang tersebar diseluruh dunia.


Dan Shota meskipun tidak ada sesuatu hal yang spesial dalam bidang itu, dia tetap mampu menghadapi beberapa pengawal yang besar itu.


Kami terus memberikan pukulan kepada mereka yang masih keras kepala untuk menghajar kami... karena sekalinya mereka berhasil memukulku, rasanya cukup sakit karena kekuatannya yang besar.


"Dasar kalian orang lemah!! melawan tiga orang saja begitu sulit!!."


"Azumi... sebaiknya hentikan ini semua." Sayu berdiri dan mendekati sedikit Azumi.


"Heh! kau bisa apa? beraninya menyuruhku untuk berhenti!."


"Aku mempunyai rekaman cctv yang sudah ada disekitar tempat ini... jika aku melaporkan kepada pihak berwajib, ini akan membawa masalah pada keluargamu sendiri." Sambil menunjukkan layar ponselnya yang terdapat rekaman itu.


"B-Beraninya kau mengancamku!!."


Dia berlari dan bersiap ingin memukulnya, sehingga Sayu terkejut dan tidak sempat untuk lari.


"Aku akan membungkamnya!."


*Tap!!


Sebelum pukulannya mengenai Sayu, aku berhasil menahan lengannya itu dengan genggaman yang sangat sangat keras.


"A-Apa ini!? lepaskan!!."


"Seberapa pengecutnya kau hingga menyerang seorang wanita?."


"Lepaskan!! kalian semua! cepat bantu a-."


"Percuma saja kau memanggil pengawal lemahmu!."


"Sebaiknya hentikan perbuatanmu, Azumi."


"Sialan!."


"..."


Tangannya yang masih dipegang erat erat, langsung kulepaskan hingga terjatuh.


"K-Kalian para rendahan tidak tahu diri! aku akan membalas kalian!!."


Sambil terpincang-pincang dia berjalan keluar bersama para pengawalnya, dan langsung pergi menjalankan beberapa mobil yang berderet didepan rumah.


"Huh.... hampir saja... terima kasih sudah menolongku."


"Tidak masalah."


"Shota! Tsukasa! kalian berdua apa tidak mengerti? kenapa kalian masih ingin bertengkar!."


Natsu menarik telinga kedua orang itu sambil mengomelinya.


"Natsu, sudahlah... mereka juga mempunyai cara mereka sendiri untuk melindungi saudaranya." Ucap Sayu melerai mereka.


"Betul apa kata Sayu! cepat lepaskan! sakit sekali!."


"Huh... aku pun juga khawatir dengan kalian tahu!." Sambil melepaskan tangannya.


"Maaf, lagipula aku tidak bisa membiarkan Aoyama sendirian melawan mereka semua."


"Benar! mereka sangatlah pengecut hingga ingin menyerang secara ramai!."


"Yang terpenting semuanya sudah aman dan tidak ada masalah lagi... namun sayangnya acara ini sudah selesai, semua tamu sudah pergi."


"Maaf, karena saya membuat keributan disini."


"Apa yang kau katakan? semua ini berkatmu dan kami bisa menolong Yuuki..."


"Jika seperti ini, kita tidak perlu khawatir dengan keamanan Yuuki, karena dia sudah mempunyai pelindungnya."


"T-Tidak, aku tidak begitu diharapka-."


Tiba tiba Tsukasa menepuk pundakku dengan sedikit kencang.


"Bela dirimu cukup bagus, dan kau bisa diandalkan... sepertinya kau memang cocok untuk menjaga saudara kami."


"Ehem, apa memang hanya ingin jadi pelindungnya saja." Natsu mengatakan itu sambil memandang kearah lain.


Semuanya hanya tersenyum saat mendengar itu.


"( Sungguh... apa aku harus membalas candaannya?..)"


Saat kami sudah menyelesaikan permasalah disini, Sakura datang dari dalam dan menghampiriku.


"Ao, apa kamu baik baik saja? apa ada yang terluka?."


"Yah... seperti yang kau lihat."


Wajahku juga penuh dengan luka lebam karena terkena beberapa pukulan dari mereka.


"Apa sakit? aku akan mengobatimu!." Sambil mencoba menyentuh lukanya.


"A! apa kau tahu luka ini ini sakit?."


"M-Maaf, aku begitu khawatir."


Mereka yang melihat kelakuan Sakura kepadaku, seperti melihat sebuah hal yang sedikit disayangkan.


"Sepertinya dia sudah mempunyainya.."


"Benar... sayang sekali."


"Padahal aku sudah ingin mendukung sepenuhnya."


"Ya... perasaan tidak bisa dipaksa."


"( Apa aku begitu terlihat seperti itu?...)"


"Benar juga, dimana Yuuki?." Tanya Natsu yang sedang mencarinya.


"Dia sedang berada di kamarnya... karena kejadian tadi membuatnya sedikit lemas, dan sepertinya dia sudah begitu kelelahan sampai langsung tertidur di kamarnya."


"Begitu ya... kalau begitu kita bisa tenang."


Meskipun masalah ini terjadi begitu saja, siapa sangka Yuuki begitu tertekan karenanya... padahal aku hanya melakukan apa yang ingin kulakukan... tidak ada yamg bisa menghina perasaan seseorang... karena itulah aku memukulnya, tetapi aku sadar jika hal itu sudah terlalu kelewatan.


"Ao, apa kamu bisa menemaninya didalam? aku masih harus membersihkan acara ini."


"Apa aku boleh membantumu?."


"Aku juga."


Sayu dan Natsu menawarkan bantuan pada Sakura.


"T-Tetapi, saya tidak bisa menerima hal itu."


"Sudahlah... biarkan kami membantu ya?."


"Baiklah kalau begitu, terima kasih banyak." Sakura pun pasrah dengan permintaan mereka berdua


"Kalau begitu kami juga ingin menjengu-."


Saat dengan santainya Tsukasa ingin mengatakan sesuatu, tiba tiba Natsu menyikut perutnya.


"A-Ada apa?!."


Natsu memberikan kode agar dia membiarkanku untuk sendirian kesana.


Dan Tsukasa langsung mengerti apa yang dimaksud olehnya.


"A-Ah benar juga... aku juga ada urusan, benar kan Shota? kau juga ikut denganku."


"Eh? ya..." Dengan polosnya Shota yang tidak tahu apa apa pasrah didorong oleh Tsukasa.


"Jadi, Aoyama, tolong temani Yuuki ya?."


"Apa... aku benar-benar sendirian?."