
Hari yang sangat meriah dan banyaknya orang yang menikmati festival ini...
Semua yang berada disini dengan berbagai ragam perasaan yang mereka miliki...
Bahkan tanpa melihatnya juga....mendengarnya saja sudah membuatku merinding...
Tetapi suaranya kini menjadi sedikit lebih sunyi...
Hanya ada beberapa orang yang sedang berbincang...
Tetapi suara anginnya masih bisa didengar meski aku tidak bisa menikmatinya...
Didepan mataku terlihat seorang gadis dengan gaun pendek berumbai...
Aku tidak bisa berkata-kata dalam sekejap melihatnya...
Hingga dia berbalik kearahku dan menyadari keberadaanku..
"Ao... ternyata kamu sudah disini.."
Dan begitupun aku yang sudah mengontrol pikiranku.
"M-Maaf menunggu.."
"Tidak... kamu datang tepat waktu..."
Waktu yang telah berjalan kini menjadi perlahan berjalan...
Aku hanya memikirkan satu atau dua hal yang mengganggu pikiranku saat berjalan disampingnya..
Bagaimana aku bisa berada disebelahnya? bagaimana aku pantas disini? bahkan ada orang yang lebih baik dariku...
"Berapa jam aku bisa meminjam kehadiranmu?." Dia menatapku sambil berjalan dengan senyumannya.
"A-Apa yang ingin kau kunjungi... aku hanya akan mengikutimu.." Aku mengalihkan pandanganku...
"Hm... aku tidak bisa memikirkan apa apa lagi, karena mungkin seperti ini saja sudah memenuhi permintaannya.."
"Lalu?.."
"Kalau begitu, kamu hanya perlu mengikutiku saja.."
"..."
Berada disebelahnya selama tidak diketahui waktunya... bagaimana aku bisa bertahan dengannya..
Mengikutinya berjalan, hingga sadar bahwa kita berdua pergi keluar area sekolah didepan sana..
"Kau ingin pergi kemana?."
"Aku ingin pergi ke beberapa tempat... maka dari itu kamu harus menemaniku."
"Tetapi hal seperti ini-."
"Aku sudah terlihat seperti bukan seorang murid disekolah ini... jika mengajakmu keluar pasti akan baik baik saja.."
"Tetap saja.."
"Mau mengeluh sebanyak apapun, kamu tetap mengikutiku bukan?.."
"Aku tidak akan membohongi perkataanku juga.."
Dia membalas dengan senyuman...
Dan kita pun sudah melewati area sekolah, dan aku hanya bisa mengikuti apa yang dia inginkan...
Hingga beberapa menit kita sudah berjalan... dia berhenti didepan sebuah kafe yang cukup besar.
"Kamu ingin masuk?." Melihatku yang hanya berdiri didepan pintu masuk.
"Ah ya... aku masuk."
Tempatnya cukup sepi untuk ruangan yang cukup besar ini... semuanya terlihat sangat klasik, bahkan ada beberapa hal yang bisa dilakukan selain makan dan minum.
Lalu kami berdua mengambil tempat duduk diujung ruangan dengan posisi yang saling berhadapan ditemani dengan sebuah aquarium besar dengan beberapa ekor ikan yang sangat indah...
"Permisi... silahkan pesanannya." Pelayan itu datang untuk meminta pesanan kami.
"Aku susu coklat panas dan croissant satu... Ao?.."
"Kopi susu saja.."
"Tidak ingin yang lain?."
"Aku tidak terbiasa sarapan.."
"Kalau begitu croissant nya satu lagi, dan kopi susu nya satu.."
"Baik, mohon ditunggu.." Sambil pergi dan membuatkan pesanannya.
"Sudah kukatakan jika aku tidak terbiasa sarapan.."
"Itu tidak sehat untuk tubuhmu... jadi aku ingin kamu sarapan.."
"Huhh.."
"..."
Suara detak jarum jam kuno itu berbunyi seperti sebuah melodi...
Membuat keheningan kami berdua terlihat sangat jelas...
Aku hanya diam menatapi ikan yang bergerak didalam aquarium.
"Maaf jika aku memaksamu untuk memenuhi permintaanku.."
"Apa yang kau bicarakan... ini sudah janjiku sebagai rasa terimakasih telah menemani Mai kemarin.."
"Tapi aku sedikit sedih... Ao tidak sadar dengan pakaian yang sudah kupilih Berjam jam.."
"Aku sudah bertahun-tahun mengenalmu... jadi terlihat sama seperti biasanya."
"Begitu ya.." Dia terlihat tersenyum memaksakan situasi.
"Tapi itu cukup bagus... seperti biasa terlihat indah cantik." Dengan suara yang tidak terlalu keras aku memujinya.
Dia malah tersipu malu karena serangan balik yang tidak dia kira..
"..."
Akhirnya pesanan kami sudah sampai dan siap disantap didepan kami.
Sakura mulai dengan menyeruput susu coklat panasnya.
"Ini sangat enak..."
"Ya... kualitasnya sangat bagus.." Begitupun denganku.
"Um..."
Lalu kami menikmati makanannya dengan perlahan-lahan...
Sambil berbincang-bincang hingga tidak terasa sudah satu jam kita berada disini... lalu aku membayar bayarannya meski dia beberapa kali mencoba menghentikan niatku, tetapi aku lebih keras kepala dan pada akhirnya aku tetap yang membayarnya.
Lalu kami keluar dari kafe tersebut..
"Kemana lagi kita?."
"Aku sudah merencanakannya.." Sambil membuka ponselnya.
"?."
......................
"Kau masih menyukai ini?."
"Um... aku juga masih melakukannya beberapa kali..." Dia membuka sepatunya dan mengganti dengan sepatu khusus untuk bisa masuk kedalam..
Saat kita sudah beristirahat di kafe, kita langsung akan mengeluarkan energi untuk bermain tenis meja berdua.
"Apa skillmu sudah menurun?." Sambil mengikat rambutnya.
"Jangan bercanda... aku masih bisa mengalahkanmu beberapa kali."
"Kalau begitu..."
Dia melakukan servis pertamanya kearahku dengan cepat...
"Boleh juga.." Semakin memanas, aku mulai serius bermain..
Dia terlihat menikmatinya dengan senang... sambil mengeluarkan keringat diwajahnya, tetapi dia tetap fokus untuk melihat bolanya.
Suara pantulannya sangat nyaring dengan dicampur suara decitan sepatu yang sudah kami pakai khusus untuk bermain tenis meja.
Hingga beberapa menit sudah berlalu, dan kelelahan kita berdua menghasilkan pemenang yaitu aku sendiri..
"Padahal sedikit lagi aku bisa melewatinya.."
"Percobaan yang bagus... tapi tidak sebaikku."
Dia menatapku dengan kesal karena kekalahannya..
"Aku ingin membeli minuman didepan..."
"Um.." Dia yang masih mengambil nafas karena kelelahan.
.
.
.
"Nih.." Aku menyerahkan sebotol minuman ion kepadanya
"Terima kasih.."
Lalu kami berdua duduk di bangku dekat tempat tenis meja itu sambil beristirahat.
"Ini terasa menyenangkan... aku tidak percaya bisa melakukan semua ini denganmu seperti dulu saat kita setiap pulang sekolah.."
"..."
"Waktu itu yang kalah akan mendapatkan hukumannya... dan aku selalu saja kalah darimu."
Dia mengingat masa lalu dengan tersenyum.
"Kalau begitu... apa kau ingin hukumannya?."
"Eh?."
"Hukuman seperti dulu... karena kau kalah."
"T-Tunggu... tidak ada kesepakatannya kan?.."
"Kau benar juga... sayang sekali."
"Untung saja.." Dia tertawa dengan pelan dan terlihat sosoknya yang sangat menawan dari samping..
Tetapi dengan cepat aku menyadarkan diriku dan melihat jam di ponselku..
"Sudah jam segini... leboh baik kita segera kembali kesekolah."
"Kamu benar.."
Saat aku ingin membuka pintu ruangannya, dia memegang tanganku dengan cepat, hingga aku berbalik kepadanya.
"Terima kasih... sudah ingin menemaniku hari ini.."
Tiba tiba dia menarik tanganku lalu mencium pipiku saat aku kehilangan keseimbangan karena tarikannya.
"Itu hukumanku tadi..." Suaranya yang langsung berada didekat telingaku membuatku hanya bisa terdiam..
Dan dia pergi keluar begitu saja saat aku masih berpikir tentang apa yang dia lakukan sebelumnya.
Aku tidak bisa berbicara apa apa tentang itu, dan sepanjang jalan dia hanya berbicara yang lain denganku seperti orang yang tidak tahu apa apa.
Kecantikannya, keimutannya, kebaikannya, dan lainnya yang dia berikan saat ini hampir membuatku terjerumus jurang kenikmatannya...
Menemaninya berjalan jalan saat ini tidak terlalu buruk kupikir mengatasi tingkahnya itu.
Tetapi karena apa yang tadi dia lakukan membuatku berpikir sangat merepotkan gadis itu...
Untung saja dia imut...