My Youth Bond Increase!!

My Youth Bond Increase!!
Chapter 183



"Mmphh!."


Penglihatannya yang begitu gelap karena kepalanya yang ditutup oleh kain hitam, dan mulutnya dibungkam oleh ikatan kain...


Tangannya diikat bersama kursi yang saat ini ia duduki, hingga kain yang menutupi kepalanya akhirnya terbuka.


Cahaya dari lampu ruangan yang membuat matanya silau, namun dia bisa melihat seseorang yang berdiri di depannya.


"Selamat siang, nona Celestia."


"..."


"Yah, saya rasa ini adalah pertemuan yang cukup emosional... karena sudah begitu lamanya saya melihat diri anda yang kini sudah tumbuh begitu besar."


Orang itu dengan santai menduduki meja yang berada di depannya dan berbicara santai kepadanya... sedangkan Celestia menatap orang itu penuh dengan dendam yang tidak pernah ia lupakan pada masa itu.


Orang itu yang melihat tatapannya langsung tersenyum seakan dirinya begitu puas bisa melihat seseorang yang telah ia hancurkan menatap dirinya penuh dengan dendam.


"Jangan dingin seperti itu, aku hanya ingin mengajak dirimu untuk mengobrol santai saja... oh iya, aku lupa membuka mulutmu ya."


Dia membuka ikatan kainnya hingga melepaskan mulut Celestia dari bungkam kainnya.


"Apa yang kau perlukan dariku?."


"Perlukan? hmm... sepertinya sebelum itu ingin bertanya satu hal padamu."


"..."


"Bagaimana perasaanmu saat itu, begitu melihat semua yang telah terjadi menimpa keluargamu?."


"..!!." Seketika wajah Celestia berubah menjadi sangat marah bercampur dengan kesedihan yang masih meninggalkan trauma kepadanya.


"Saat itu benar-benar menjadi momen yang terus teringat didalam kepalaku, begitu aku melihat sendiri dengan mata kepalaku... kehancuran yang terjadi."


"..."


"Dari awalnya itu semua adalah kesalahan ayahmu sendiri... karena dirinya tidak ingin menerima tawaran sempurna yang saya berikan, dan juga dia menolak mentah mentah perkataan saya, didepan banyak orang."


Dia terus berbicara hingga bangkit dari meja dan berjalan-jalan kecil mengelilingi ruangan ini...


"Aku tahu, bagaimana perasaanmu saat itu... bersedih, ketakutan, pasrah, dan tidak menerima kenyataan yang terjadi tepat di depan matamu."


"..."


"Masa lalu memang biarlah berlalu, dan saya sudah berusaha untuk melepaskan kalian dari genggaman saya, dan saya mengira semua akan berjalan begitu lancar tanpa adanya masalah yang timbul akibat perlakuan kecilku padanya... namun siapa yang menyangka, putri kecilnya yang saat ini berada di depanku... sedang berusaha untuk membalaskan dendam ayahnya."


"Apa yang sedang kau katakan... aku sama sekali tidak menger-."


Dia langsung menarik rambut Celestia hingga wajahnya mendongak menatap wajah pria yang telah menghancurkan keluarganya.


"Dengar perkataanku bocah, kau telah bermain-main dengan orang yang salah... memangnya apa yang saat ini kau perbuat, bisa membuatmu menang huh?."


Tatapannya begitu dalam hingga timbul rasa takut yang muncul didalam diri Celestia... tangannya bergetar namun dia berusaha untuk menenangkan dirinya.


"Sekarang, jangan banyak bertingkah dan beritahukan pada saya... dimana surat surat itu?." Pria itu bertanya padanya dengan mendekatkan wajahnya lebih dekat hingga dia bisa bercermin dari.bopa matanya yang hitam dan bulat... terlihat sebuah ketakutan yang tersimpan dari tatapannya.


"Aku... tidak tahu-."


Dia mulai menarik rambutnya lebih keras dan membuatnya mengerang kesakitan.


"Arkh!."


"Sudah saya bilang, untuk jangan bermain-main dengan diriku, dimana surat surat itu?."


"Sampai... kapanpun kau bertanya padaku... hasilnya sama saja, aku tidak tahu tentang itu."


"Tch!."


Dia menarik rambutnya kesamping hingga Ida terjatuh ke samping bersama kursinya.


*Bruk!


"Benar... jika kau tidak ingin memberitahukan dimana surat-surat itu berada padaku... aku bisa melakukan hal lain yang mungkin bisa meredakan amarahku saat ini."


Dia kembali datang mendekati Celestia yang masih tersungkur di lantai, dan membuka ikatan tangannya.


Lalu dia menarik Celestia dan memaksanya untuk berdiri.


"Lepaskan aku!."


"Kau sendiri yang akan menyesalinya!."


*Bruk!


"Arrhh!."


Celestia semakin ketakutan dan nafasnya semakin tidak teratur dan berat... rasanya dia bisa melihat kilas balik pada saat dirinya melihat toko milik keluarganya yang terbakar dilahap oleh api bersama dengan ayahnya didalam sana.


Hal itu semakin membuatnya merasa buruk, dan sudah tidak bisa berpikir dengan tenang.


"( Tidak... aku tidak bisa!!..)"


"Dimana surat surat itu?."


"A-Aku.. tidak ta-."


*Plak!


Seketika salah satu tangannya menampar wajah Celestia begitu dirinya menjawab pertanyaannya.


"Kuhk!."


Urat yang terlihat menonjol di dahi dan leher pria itu menandakan bahwa amarahnya telah berada diatas batas, hingga tidak segan-segan untuk menampar dirinya begitu saja.


"Dengar ini baik baik, saat ini... kau sudah tidak bisa melakukan apapun, dan begitu kau sadar... aku akan menghancurkan hidupmu sekali lagi, dan membuat dirimu sudah tidak bisa bertahan untuk hidup lagi."


Sedari awal Celestia begitu kehilangan akan kesadarannya, hingga dirinya bisa melihat batang bayang ayahnya yang berada dibalik kelopak matanya...


Air matanya yang mulai muncul membuat matanya berkaca-kaca, dan rintihan kesakitan akibat lengannya yang sudah mulai memerah akibat pegangan erat dari pria yang berada di depannya.


Seakan dia sudah pasrah akan hidupnya, dan tidak sanggup lagi untuk berbicara.


"Aku yakin, kau dengan orang yang bersamamu saat di acara malam itu... aku bisa mengingat wajahnya sangat baik, aku akan mencari orang itu, dan merasakan hal yang lebih buruk dari ini."


"..."


Seketika dirinya kembali teringat... jika tujuannya bersama yang lainnya untuk menghancurkan pria yang berada di depannya itu.


Demi menolong orang-orang yang telah masuk kedalam jebakannya, dan membantu temannya yang sudah menyadarkan dirinya... dan dia kembali teringat akan arti seorang teman.


Matanya yang kosong kini kembali memberikan sebuah cahaya harapan dan tatapannya kembali normal.


Giginya yang menggertak sambil tersenyum menyeringai di hadapan orang itu.


"Memangnya... apa yang bisa kau lakukan?."


"..."


"Kau tidak akan bisa melakukan apapun yang kau inginkan, hingga hari esok... kau akan menerima semua ganjaran dari apa yang selama ini telah kau lakukan... Adam."


Omongannya membuat Adam seorang pemilik perusahaan Adam itu semakin marah, dan melepaskan kedua tangan Celestia...


Namun dia langsung mencekik Celestia dengan kedua tangannya begitu erat.


"Khk!!."


Celestia berusaha untuk melepaskan cekikan darinya, namun dia tidak memiliki energi untuk menarik kedua tangannya yang besar.


"Aku akan melihat, sampai kapan kau bisa bersuara!."


"Khkk! ( Rasanya sangat sesak... nafasku... sudah tidak sanggup lagi..)


Wajahnya yang perlahan berubah menjadi biru, dan cekikan darinya semakin lebih keras...


Pada saat itu yang didalam pikirannya hanyalah bagaimana dia bisa membalas semua perbuatan yang telah menghancurkan keluarganya...


Dan dengan ini dia sudah tidak bisa berbuat apapun, dan berusaha untuk bernafas...


Sampai dirinya sudah tidak sanggup menahannya kembali...


*Tok! Tok! Tok!


*Sreett!!


Tiba tiba pintu ruangan itu terbuka, dan spontan Adam melepaskan cekikan nya.


"Uhuk! uhuk!."


Celestia terjatuh hingga terbatuk-batuk, setelah terlepas dari jeratannya.


"Tuan, ada seseorang yang ingin berbicara dengan Anda dari telepon."


"Siapa..."


"Seorang pemilik perusahaan busana Celles...Kalistya Kineri."


"..."