My Youth Bond Increase!!

My Youth Bond Increase!!
Chapter 186



3 Hari sebelum acara pernikahan...


*Ding Dong!


"..."


*Klek!


"Ah, selamat datang..." Begitu beliau membukakan pintu untuk kami, matanya langsung tertuju pada kedua gadis yang ada di depannya.


"Kemarin anda mengatakan kalau cukup kesulitan mengerjakan gaun pernikahannya sendirian, karena biasanya Celestia selalu membantu anda... sekarang mereka ingin membantu anda agar anda bisa mengerjakannya lebih ringan."


"Maaf Tante, nama saya Kizuku Mai, saya adiknya Aoyama."


"Saya Hiranami Nami, saya adiknya Kuchima."


"Owhh, ternyata dua gadis cantik ini ingin membantuku, aku sangat merasa senang."


"Jika ada yang anda perlukan, anda bisa mengatakan kepada saya atau adik saya."


"Terima kasih ya."


"Tidak apa apa, saya akan berusaha sebisa mungkin untuk membantu anda."


Karena kejadian kemarin, membuatnya terpaksa melanjutkan tugasnya untuk membuat gaun pernikahan acara, dan waktu yang tinggal beberapa hari lagi, membuatnya cukup kewalahan.


Maka dari itu Mai dan Nami berencana untuk membantu beliau, agar pekerjaannya selesai lebih cepat.


Aku tahu Mai pernah diajarkan menjahit pakaian oleh Nenek, dan Nami pun juga mengatakan kalau dirinya lumayan ahli dalam bidang tersebut, maka dari itu ini adalah kebetulan yang baik.


"Kalau begitu, ayo masuk."


"Maaf, tapi saya setelah ini ada urusan... jadi tidak bisa mampir lebih lama."


"Oh begitu ya, baiklah kalau begitu."


Beliau pun masuk bersama Nami kedalam toko.


"Kalau begitu, aku juga ingin masuk."


"Kalau ada apa apa, atau mendapatkan telepon dari orang orangan mereka, jangan lupa untuk memberitahukan padaku."


"Um, aku tahu."


"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu."


"Ya, hati hati."


Aku pun kembali ke mobil bersama dengan yang lainnya, dan meninggalkan mereka berdua disana untuk membantunya.


"Sekarang, apa yang ingin kamu lakukan?." Tanyaku setelah masuk kedalam mobil.


"Sore ini, aku punya tugas dari Tuan Azumi, jadi... bagaimana denganmu?."


"Aku... sepertinya tidak ada."


"Berhubung Kuchima juga saat ini sedang ada urusan pribadi, jadi aku akan mengantarmu pulang saja."


"Tolong bantuannya."


"..."


Karena saat ini tidak ada kerjaan yang harus aku lakukan, aku pun berencana untuk beristirahat di rumah dan Erlic mengantarkan diriku pulang menggunakan mobilnya.


"Maaf, aku membuatmu menjadi sangat sibuk... seharusnya semua ini berjalan dengan baik, namun tidak disangka ada perubahan dari rencananya."


"Apapun bisa terjadi, dan juga aku terpaksa untuk melakukan ini, jadi sudah bukan tanggung jawab darimu lagi."


"Kebetulan saja, setelah acara pernikahan nanti, kau sudah mulai kembali bersekolah bukan?."


"Yah... seperti itulah."


"Apa anda ingin... berencana melanjutkan pendidikan anda dan meneruskan bisnis milik keluarga Kizuku?."


"Aku tidak kepikiran sampai disana, namun... itupun aku tidak mungkin melakukan hal tersebut... karena aku hanyalah seorang anak angkat, dia lebih mempercayai Mai karena Mai adalah anak kandungnya."


"Aku mengerti..."


"Kamu sendiri... apa kamu ingin terus bekerja dibawah Azumi?."


"Aku tidak tahu, bagaimana kedepannya nanti... sampai kapan aku melakukan hal seperti ini."


"..."


"Aku hanya memberikan sedikit saran, ada baiknya untukmu kembali bersekolah di SMA."


"Tapi, aku sudah mempelajari pelajaran yang terpenting didalam hidup, aku tidak perlu belajar lebih banyak lagi, apalagi bersekolah."


"Aku tahu, tapi bersekolah tidak hanya bertujuan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, namun mencari pengalaman dan membangun karakter menjadi lebih baik lagi."


"Apa kau sedang membicarakan tentang dirimu sendiri?."


"Entahlah, sama seperti apa yang kau katakan... aku terlalu banyak melihat hal hal yang seharusnya tidak dirasakan oleh anak SMA biasanya."


"Tapi kau ada benarnya juga... mungkin aku akan memikirkannya nanti."


"Baiklah."


Setelah aku berbincang-bincang ringan dengannya di sepanjang perjalanan, akhirnya aku sampai di depan rumahku.


Dan sudah cukup lama aku tidak menikmati waktu sendiri seperti ini, rasanya sudah bertahun-tahun saking lamanya.


Seperti biasa, isi rumah ini sangat rapi, karena ulah dari Mai... dan aku semakin kehilangan hal untuk menghabiskan waktuku..


Aku pun bersantai dan merebahkan tubuhku diatas sofa, sambil memainkan ponselku.


Tidak sengaja aku membuka kontak milikku, dan melihat nama kedua orang yang sudah lama tidak pernah ada di sini, bahkan aku sudah tidak pernah menyebutkan namanya lagi sekarang.


Yuuki yang dari awal selalu mengganggu keseharianku, dan tidak pernah membiarkan diriku kesepian... dia selalu mencari obrolan yang tepat, sampai sampai aku heran, untuk apa dia melakukan hal tersebut.


Dan saat itu aku bisa mengetahuinya, perasaannya yang sebenarnya...


Aku masih bisa membayangkan saat itu, dia mengungkapkan perasaannya, dan aku masih belum menjawab perasaannya sejak lama.


"Jika dipikir pikir... sejak aku sudah terbiasa menghadapi sifatnya yang menyebalkan, sekarang rasanya cukup kesepian begitu dia sudah tidak ada disini... huh... betapa ironisnya diriku, sekarang mengharapkan momen itu kembali terjadi."


Jika dibandingkan saat ini dengan beberapa bulan yang lalu ketika kita masih melakukan keseharian bersama sama, rasanya masa itu lebih menenangkan... tidak ada masalah dan yang aku pikirkan hanyalah kesibukan untuk kesenangan diriku maupun kita bersama.


Saat aku masuk kedalam kamarku dan merapihkan buku buku tahun kedua, aku tidak sengaja menjatuhkan selembar kertas, dan ternyata itu adalah surat yang Sakura berikan saat terakhir kali kita bertemu.


"Kenapa aku masih menyimpan ini..."


Melihat rangkaian kata-kata dari isi surat itu saja sudah cukup membuatku mengingat dirinya, wajahnya, sikapnya, tawa dan senyumannya, bahkan sampai rasa masakannya.


Aku tidak ingin mengingatnya kembali, karena selain rasa senang dan bahagia begitu membayangkan masa masa indah itu, di hati yang terdalam ku merasakan sebuah rasa sakit yang menutup semuanya didalam hatiku.


Aku sudah berusaha untuk melepaskannya, dan mengikhlaskan dirinya pergi...


Itulah yang ingin aku usahakan, bahwa selama ini aku pernah sekali berusaha untuk melupakannya, saat dirinya pergi menghilang dariku ketika aku mengungkapkan perasaanku pertama kali saat SMP.


Namun sampai saat dia kembali, aku masih belum bisa membuang perasaan yang berharga ini pergi jauh jauh dari kehidupanku.


Aku berharap kali ini aku bisa melupakannya...


Melupakan semua ingatan yang terukir bersamanya... dan menjalani kehidupan yang baru, dimana aku masih memiliki banyak orang yang mendukung diriku.


Dan sampai nanti aku akan menjalani hidupku, dan berhasil melupakan dirinya...


"..."


Saat aku memasukkan surat itu kedalam sebuah buku yang selalu aku baca, aku berencana untuk menyimpan buku tersebut didalam sebuah kotak... kotak yang tidak akan pernah ingin aku buka kembali.


Namun ditengah itu, aku tidak sengaja menemukan sebuah foto... foto keluargaku.


Dan aku kembali teringat tentang masalah adikku, hingga aku memikirkan kembali soal berbicara dengannya, ayahnya Mai.


Maka dari itu aku kembali ke ruang tamu dan mengambil ponselku kembali...


Lalu mencoba untuk meneleponnya.


*Niitt Nitt!


*Klek!


"..."


"Ada apa...?"


Aku tidak menduga bahwa dia ingin mengangkat telepon dariku...


"Ada sesuatu... yang ingin aku bicarakan padamu... langsung."