
"Mama! jangan tinggalkan aku sendiri!! mama!! aku takut! sangat gelap!! tolong aku!."
Dengan begitu jelas aku melihat... sosok ibuku yang pergi melangkah meninggalkanku... dan hal itu adalah mimpi yang sangat buruk...
Bagaimana aku bisa melihatnya kembali dalam masa lalu yang begitu sulit dilupakan..
"Mama!!."
Tiba tiba Yuuki berteriak dan bangun dari tempat tidurnya.
"Pagi... apa kau sedang mengalami mimpi buruk?."
"Eh? A-Aoyama!? kenapa kamu ada disini??."
Dan dia sadar jika tangannya sedang menggenggam tanganku lalu langsung melepaskannya.
"A-Apa kamu mencari-cari kesempatan saat aku sedang tidur?!."
"Jangan sembarang... justru kau yang memegang tanganku dan tidak ingin melepaskannya."
"Y-Yang benar?."
"Itu kenyataannya."
Dia pun kembali duduk dengan tenang...
"Maaf... tiba tiba saja aku merindukan seseorang."
"Apa itu ibumu?."
"Bagaimana kamu tahu?."
"Saat kau tidur, kau terus mengigau memanggil ibumu dan tidak ingin melepaskan tanganku."
"E-Eh? apa itu benar?? tolong lupakan itu! lupakan!."
Wajahnya memerah dan mencoba untuk membuatku melupakan kejadian tadi.
"Tenang saja, aku tidak akan mengatakan itu kepada siapapun..."
"S-Sebenarnya... baru saja aku bermimpi... saat mamaku meninggalkanku sendirian... didalam ruangan gelap dingin... aku begitu takut dan tidak ingin ditinggalkan olehnya."
Dia melipat kakinya seperti sedang meringkuk sambil melipatkan tangannya.
"Tapi nyatanya... mama meninggal saat aku berusia lima tahun karena kecelakaan pesawat... sebelum itu, aku menangis dan meminta agar mama mengajakku pergi, tetapi aku tetap dilarang dan kecelakaan itu terjadi... mungkin saja jika aku ikut, aku juga tidak akan bisa hidup hingga sekarang.."
"..."
Cara dia menyampaikan ceritanya sangat jujur dan terlihat ekspresi yang begitu mendalam...
"M-Maaf, aku malah curhat kepadamu."
"Tidak apa-apa... lagipula tidak ada yang bisa kulakukan... karena aku pun juga tidak ingat pernah merasakan bagaimana berbicara dengan orang tuaku."
"Bukannya... saat kecelakaan beberapa tahun yang lalu, kamu masih umur beberapa tahun?."
"Bagaimana kau bisa tahu?."
"S-Sakura yang menceritakannya kepadaku..."
"Huh, dia tidak pernah bisa diam..."
"..."
"Memang benar saat itu aku masih berumur lima tahun... tetapi... entah mengapa aku tidak bisa mengingatnya, ingatanku seperti terpotong dan masa lalu itu terbuang didalam kepalaku."
Saat aku melamun begitu lama, dia mencoba untuk memegangku untuk menenangkanku.
"Aoyama..."
"Tidak perlu khawatir, lagipula itu hanya masa lalu yang tidak ada hubungannya denganku saat ini sekarang... karena aku tidak membutuhkan apapun selain apa yang sudah aku miliki."
"Oh iya! bagaimana dengan acaranya? dimana para saudaraku?." Tiba tiba dia merasa khawatir dengan keadaan sekarang.
"Semuanya baik-baik saja, Azumi sudah pergi dan acaranya... terpaksa dihentikan."
"Begitu ya.." Terpampang jelas diwajahnya kecewa karena tidak bisa menjalankan acara itu dengan baik.
"Maaf, ini salahku."
"Eh? kenapa salahmu?."
"Aku memukulnya dan membuat acaranya berakhir berantakan... seharusnya aku tidak muncul saat i- aw! apa yang sedang kau lakukan?."
Saat aku sedang berbicara, tangannya itu memegang pipiku yang sedikit lebam dan membiru.
"Kamu sedang terluka! kenapa kamu hanya diam disini saja!."
"Ini hanya luka lebam kecil saja, tidak ada yang perlu diperhatikan."
"Tetap saja... duh, tunggu sebentar, aku ambilkan obatnya."
Dia keluar dari tempat tidurnya dan mengambil peralatan obat di kotak kesehatan utama persis didekat kamar mandinya.
"Duduk diatas sini." Sambil menepuk atas tempat tidur dan menyuruhku duduk disampingnya.
"Tidak perlu, lagipula aku bisa mengobatinya sendiri."
"Jangan keras kepala! cepat duduk disini, atau aku akan marah padamu."
Pada saat-saat seperti ini dia bisa menjadi tegas dan perhatian, mungkin karena sifat kekhawatirannya yang membuatnya seperti itu.
"Apa sakit?."
Dia mengobatiku dengan hati hati dan begitu lembut.
"Tidak..."
"Maaf, Azumi membuatmu terluka lagi."
"Ini juga pekerjaanku."
"Aku sudah melupakannya sejak lama."
"Maaf... karena kue itu hancur."
Saat dia mengatakan itu, aku tidak bisa berkata-kata karena takut menyakiti hatinya lagi.
"..."
"Padahal kamu sudah mengajariku dengan baik... tetapi aku tidak bisa membuat saudaraku mencobanya..."
"Terkadang didunia ini... tidak ada yang namanya keberhasilan instan... jika mendapatkan suatu kegagalan, itu berarti kita masih diberikan sebuah kesempatan...atau mungkin kegagalan itu menghindari kita dari sesuatu?."
"Apa memang hal seperti itu ada?."
"Entahlah... tetapi aku sering melihat hal seperti itu di novel yang sering aku baca."
Dia tertawa kecil...
"Kamu terlalu sering membaca novel.."
"Aku suka melihat kehidupan orang lain yang berjalan dengan lancar.."
"Memangnya kehidupanmu tidak?."
"Saat ini aku masih bilang tidak lancar...."
Kami terus mengobrol didalam kamarnya yang terasa sunyi, hanya ada suara kita berdua dan bunyi jarum jam yang terus menerus menjalankan waktunya dengan baik.
"Sudah... apa merasa baikan?."
"Ya... terasa jauh lebih baik, terima kasih."
"Tidak apa-apa... bagaimana jika kita kembali?."
"Kau benar."
Saat kita berdua keluar dari tempat tidur, tiba tiba kakinya terpeleset dan terjatuh kembali keatas kasur..
"Ah!."
Tetapi saat ia jatuh, dia menarik bajuku yang membuatku ikut terjatuh dan sempat menahan menggunakan tanganku agar tidak melukainya.
Tetapi justru itu membuat suasana berubah menjadi canggung, aku bertatapan langsung dengannya saat kita berdua sedang dalam posisi terjatuh diatas kasur... dan wajah kita terasa begitu dekat.
"M-Maaf! aku segera berdiri." Saat aku buru-buru untuk berdiri, tetapi dia menarik kerahku yang membuat tubuhku lebih terjatuh dan menyentuhnya.
"Yuuki, apa yang kau laku-."
Dia menutup mulutku dengan ibu jarinya, dan menatapku dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aoyama... sejak awal aku terus dihantui oleh rasa takut dan kesepian yang selalu ada di benakku... tetapi entah mengapa... saat seperti ini... aku merasa semua itu menghilang dan perasaan resah ini seketika hancur dengan detak jantungku yang berdebar kencang..."
"..."
Jujur saja... aku merasa ada yang menarik akal pikiranku dan membuatku tidak bisa berpikir dengan jernih...
Tatapannya yang begitu indah dan mata biru seperti berlian yang mengkilap karena air matanya melapisi matanya yang bulat...
Dan disaat saat yang mendebarkan... dia menutup matanya seakan-akan ia tidak ingin melihat apa yang akan aku lakukan selanjutnya...
Saat posisi seperti ini... aku bisa melihat bibir mungilnya yang begitu dekat, dan pipinya yang terlihat memerah seperti buah tomat.
Selama hidupku, aku hanya melihat adegan seperti ini didalam anime anime romantis yang dimana sang karakter utama berada dalam sebuah pilihan untuk mendapatkan masa depan yang akan ditentukan dari apa yang akan ia lakukan saat ini...
Apa aku akan merubah diriku untuk menjadi manusia yang memiliki masa remaja indah? jika memang benar seperti itu... apa aku benar-benar akan melakukannya?.
Perlahan-lahan wajahku bergerak lebih dekat kearah wajahnya itu... seperti aku tidak bisa menggerakkan tubuhku...
Aku bisa mendengar suara nafasnya yang sangat pelan...
Dan tinggal beberapa detik lagi saat aku bisa memulai masa remajaku yang baru...
Hanya beberapa detik saja...
*Tok tok tok!
Tiba tiba kami berdua dikejutkan oleh suara ketukan pintu yang membuat aku reflek langsung berdiri dari sana... begitupun dengannya.
"M-Masuk saja."
Lalu dia membuka pintunya yang ternyata adalah asisten rumah tangga disini.
"Maaf nona, saya kesini untuk memberikan sebuah berita yang sedikit tidak baik."
"Ada apa bibi?."
"Tuan Azumi dilarikan kerumah sakit... karena katanya tuan mengalami sakit perut setelah memakan kue... yang... yang dilemparkan oleh... tuan A-Aoyama."
Kami berdua saling pandang memandang kebingungan.
"Memangnya kenapa bisa seperti itu?."
"Karena... kue itu terdapat banyak sekali bubuk lada hitam yang tercampur didalam kue itu."
"Eh?."
Aku langsung melihat ke siapa lagi kalau bukan dia.
"Aku pikir... itu adalah bubuk cokelat..."
Seperti sedikit merasa bersalah, dia mengatakan hal itu sekarang.
"Sudah aku duga, pasti ada yang tidak beres..."
Hari ini pun dilewati dengan banyak hal yang begitu merepotkan, tetapi pada akhirnya tidak ada acara yang diadakan lagi dan aku langsung pulang karena tidak ingin ikut campur masalah dengan saudaranya...
Aku masih memikirkan... perkataannya yang membuatku tidak bisa melupakannya...