My Youth Bond Increase!!

My Youth Bond Increase!!
Chapter 38



"Aoyama... selamat untukmu, bapak sangat bangga dengan prestasimu membawa nama sekolah kita menjadi yang terbaik.."


"Pak guru terlalu memuji... saya hanya melakukan apa yang saya bisa lakukan.."


"Kamu adalah anak yang baik... bapak harap kamu bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan kelak.."


"Terima kasih atas doanya, saya juga berterimakasih dengan guru... tanpamu saya tidak mempunyai koneksinya.."


"Haha, baiklah baiklah... kamu boleh pulang... sekali lagi terima kasih.."


"Baik... saya pamit dulu.."


Aku berjalan keluar dari ruang guru dengan membawa segala bentuk penghargaan, hal ini sudah terasa seperti biasa saja untukku... setiap bulannya aku selalu berada disini... diberi penghargaan dan ucapan selamat karena menjuarai olimpiade maupun lomba tingkat nasional atau internasional akademik...


Itu memang hal yang harus aku syukuri... meski aku juga tidak mengharapkan seperti itu ada didalam hidupku... aku hanya ingin menjalani kehidupan yang aku inginkan... bersekolah, bekerja, mengambil beasiswa, kuliah diluar negeri, lalu mencari pekerjaan yang menghasilkan banyak uang tanpa menguras banyak tenaga... meski itu terdengar kurang baik.


Dikelas aku selalu dianggap seperti orang gila belajar, tidak pernah ingin berbicara, bermain, bahkan makan siang bersama...


Saat aku kelas 2 SMP, dimana hari itu adalah hari terakhir aku bersekolah dengannya... aku sempat mengambil libur sekolah selama satu bulan dirumah... tetapi nyatanya hampir setengah tahun aku disana, mengurung diri didalam kamar layaknya orang bodoh setelah ditinggal oleh orang tersayangnya...


Selama itu aku menemukan banyak hal yang merubah diriku ini menjadi seorang yang menyedihkan...


Bahkan aku tidak pernah sempat mengurusi diriku sendiri, diam didalam dan hampir melupakan dunia luar...


Adikku selalu melihatku dengan tatapan kesedihan... meskipun begitu, dia selalu datang ke rumahku membawa makanan yang dibuatkan oleh nenek dan melakukan pekerjaan rumah dirumahku sendiri...


Aku tidak pernah mengetahui jika dia selalu kerumahku, karena memang aku selalu berada didalam kamar... dan beberapa bulan tidak pernah melihatnya..


"Payah sekali... turnamennya hanya seperti itu bagaimana bisa semudah ini..." Setelah tiga hari tanpa berhenti aku mengikuti liga turnamen dari seri game RPG... dan memenangkan sejumlah uang yang lumayan banyak untuk menaikkan level karakter gameku...


"Ah... aku lupa, besok ada Olimpiade online pelajaran kesukaanku... malam ini sepertinya aku harus belajar lagi.."


*Kruyuk kruyuk


Tidak terasa tiga hari hanya meminum air putih tanpa makan nasi sedikitpun.. perutku sudah terasa seperti keluar untuk mencari makanan sendiri.


"Makan dulu saja deh, lagipula materinya hanya materi biasa... tapi aku juga butuh uangnya agar bisa membeli manga baru.." Berpikir untuk menunda belajarku sejenak dan keluar kamar untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan didalam kulkas atau makanan instan.


"Oiya, aku juga sudah lama tidak melihat Mai... ya sudahlah, dia sudah besar dan mungkin tidak akan pernah ingin bertemu dengan kakaknya yang sangat menyedihkan..."


Aku pun keluar dari kamarku yang sudah aku tinggali berminggu-minggu tanpa keluar dari ruangan itu...


Tetapi disana aku terkejut, semua ruangan bersih tidak ada serpihan debu sama sekali, hingga aku seperti bermimpi... baju kotorku yang sudah terlipat dengan rapi, piring kotor yang sudah tertata bersih di tempat, dan lantainya yang tidak ada serpihan debu sama sekali.


"Aneh sekali... aku sudah berbulan-bulan tidak membersihkan rumah ini... tapi kenapa semuanya terlihat sangat bersih?."


Tidak sempat berpikir lebih lama, aku menyadari ada suara mesin cuci yang sedang menyala didapur, aku pun segera mengeceknya....


Saat aku berada disana... semua kecurigaan ini sekejap menghilang setelah aku melihat seseorang yang sedang tertidur diatas meja makan dengan memegang ponselnya yang sedang memutar video resep masak makanan ikan kesukaanku dulu.


Aku mendekatinya dan semakin dekat terlihat tidurnya yang sangat pulas karena kehabisan tenaga...


Aku sadar jika dia yang melakukan semua ini selama aku berada didalam kamar...


Aku sadar jika dialah yang selama ini selalu mengurusku seutuhnya...


Aku semakin merasa bahwa aku sangatlah bodoh dan tidak berguna... bodoh dan bodoh, hanya itu yang aku pikirkan saat melihatnya tertidur...


Aku sangatlah bodoh... hanya karena seseorang yang meninggalkanku... sampai lupa jika aku mempunyai seseorang yang membutuhkan seseorang yang menemaninya... padahal aku sudah berjanji... aku sudah berjanji kepadanya...


"Kau terlalu berlebihan.... Mai."


Aku terduduk dibawahnya dengan memikirkan perbuatanku...


Aku merasa bahwa diriku ini sudah tidak bisa hidup bahagia seumur hidupku... aku berpikir jika semua orang tidak pernah mempedulikanku... dan semua itu hanya pemikiran bodohku yang sudah dimakan oleh sebuah hal romantis yang tidak ada gunanya...


Aku melupakan seseorang yang masih mempedulikanku seutuhnya...


Tangannya yang masih bergetar kelelahan sambil tertidur diatas meja makan... waktunya yang terbuang sia sia hanya untuk mengurusi kehidupanku...


Aku memang tidak pernah bisa memahami perasaan orang lain... tetapi setidaknya...


Aku membuka lebar lebar mata menyedihkanku ini...


Aku memang tidak layak untuk berada didalam kehidupan masyarakat yang sangat membosankan seperti itu... tetapi meskipun begitu, aku sudah mempunyai sebuah janji sebagai seorang kakak...


Hal yang sudah hancur biarlah berserakan tanpa diperbaiki semula...


Biarkan aku tetap berjuang didalam kehidupan berlanjut ini..


Selama hidupku... masih ada sebuah tujuan yang harus aku lakukan...


......................


"Em... gawat! aku ketiduran! sudah jam berapa sekarang?." Dia terkejut setelah melihat ponselnya sudah menunjukkan waktu malam, dan dia belum membuat makan malam untuk kakaknya.


Tetapi dia sadar jika dia sedang memakai selimut hangat yang sebelumnya dia tidak pernah mengambilnya...


Dan juga dia mencium sesuatu yang harum dibelakangnya lalu dia langsung berbalik kebelakang yaitu dapur rumahku.


Disana sudah terdapat makanan yang masih panas didalam panci.


Lalu dia berdiri mendekati panci itu dengan kebingungan...


"Eh... sejak kapan aku memasak ini?."


*Ceklek


Pintu terbuka dari kamar mandi membuatnya terkejut mendengarnya.


"Mai, kau sudah bangun... kau belum makan kan? aku sudah memasakkan makanan kesukaanmu.." Aku tersenyum lembut saat melihat dia yang masih melamun melihatku seperti melihat hantu.


"Ka...kak.." Dia masih tidak percaya melihatku berubah seperti bukan diriku.


"Ada apa? kau sedang sakit perut?." Aku mendekatinya yang masih terpaku diam.


Tetapi refleks dia mundur menjauhiku karena masih syok melihat perbedaanku.


"Owh maaf... kau pasti masih tidak bisa menerimaku... karena hanya masalah sepele, aku menjauhimu selama beberapa bulan ini... tidak apa apa kau tidak ingin memaafkanku lagi... aku memang salah.." Aku mengatakan dengan senyum kecil dan mengatakan dari lubuk hatiku.


Tetapi dia justru terlihat tambah bersedih, mungkin karena aku yang berkata seenaknya seperti ini.


Tidak ingin menambahnya sedih, aku langsung mengalihkan pembicaraannya.


"Kalau begitu aku ambilkan makanannya untukmu..."


Aku pun berbalik ingin mengambil beberapa minuman.


"Kau ingin susu atau air putih sa-." Saat aku sedang ingin mengambil sekotak susu, tiba tiba dia langsung memelukku dari belakang..


"..."


Dia mengubur wajahnya dibelakang tubuhku..


"Mai..."


"Aku pikir aku tidak akan bisa dekat dengan kakak lagi..."


"Habisnya... kamu tidak ingin keluar bahkan mengangkat teleponku... aku sangat khawatir jika kamu tidak makan... jika kamu sakit... dan kamu tidak ingin bertemu denganku lagi.." Dia tersedu sedu dengan erat memeluk badanku.


"Bagaimana kau bisa memikirkan hal itu... aku tidak akan seperti itu.."


"Mm... aku tidak percaya denganmu..."


"Kau tidak percaya denganku?."


"Habisnya kamu seperti itu... apa kamu tidak tahu bagaimana khawatirnya diriku?."


"Tau tau... aku sangat mengetahuinya..."


"Jika tahu, kenapa kamu masih melakukannya.." Dia mencubit pinggangku.


"Aw! ya ya aku salah... aku minta maaf.."


"Apa kamu ingin berjanji tidak akan seperti itu lagi?."


"Kenapa janjinya begitu be- ah iya iya! aku janji! tidak akan seperti itu lagi.." Dia menambah kekuatannya sebelum aku menyelesaikan perkataanku.


"Seperti apa?."


"Seperti... "


"Hm?."


Aku sekarang paham... dia sangat menyeramkan jika sedang mengancam tanpa memperlihatkan wajahnya...


"Memangnya apa yang aku lakukan?."


Aku tidak bisa berpikir apa yang harus aku lakukan...


Dan mendengar jawabannya, dia terlihat diam dibelakang membuatku takut...


"Jadi begitu... kalau begitu.." Dia mengancamku dengan yang aku tahu tidak akan diberi ampun..


"B-Baiklah! aku akan lebih memperhatikan kesehatanku dan tidak akan begadang berlebihan, makan makanan yang tidak sehat, dan menjauhimu lagi.."


"Apa itu benar?."


"Benar... sangat benar..."


"Tapi, bagaimana aku bisa mempercayai perkataannya?."


"Huh... bagaimana jika.." Aku langsung berbalik kearahnya dan membuat dia terkejut.


Aku mendekatinya, membuat dia ketakutan dan seperti ingin menangis.


"Tu-Tunggu.."


"Bukannya kau ingin aku membuktikannya?."


"M-Maksudku bukan seperti itu..."


"Biar aku beritahu kepadamu... bagaimana kau bisa mempercayaiku.."


Semakin aku mendekatinya, dia tidak berteriak maupun memberontak, dia justru memejamkan matanya seperti pasrah dengan apa yang aku lakukan.


Saat dia menutup matanya, aku menjepitkan rambutnya dengan sebuah penjepit rambut kecil dengan motif biru berbentuk kucing, hewan yang dia sukai.


"Sepertinya sudah bagus.." Lalu setelah memakaikannya, aku mundur untuk melihatnya lebih jelas.


"Eh?." Saat dia membuka matanya, dia malah bingung.


"Kenapa?."


"T-Tidak... aku kira kamu ingin melakukan sesuatu.."


"Sesuatu? memangnya apa yang aku lakukan kepada adikku?."


"Tapi... ini.." Dia menyentuh penjepit rambut itu walaupun belum bisa melihatnya.


"Itu adalah bentuk kepercayaanku... jika aku melanggarnya, kau bisa membuang jepitan itu.."


"..."


"Aku minta maaf telah membuatmu khawatir... dan juga aku sangat berterimakasih kepadamu... aku sangat bersyukur bisa mempunyai adik yang sangat imut dan pengertian seperti ini.."


Tidak tahan dengan pujian yang kuberikan, dia berbalik badan tidak ingin melihatku.


"T-Tolong hentikan... aku tidak tahan mendengarnya!."


"Tapi aku benar benar mengatakan itu dengan sangat jujur.."


"Tapi itu membuatku tidak bisa menahannya!.."


"Menahan apa? apa ada yang masih janggal di hatimu? apa aku masih kurang mengatakannya?."


"Tidak... bukan itu.."


"Lalu?."


"Pokoknya jangan membahas ini lagi.."


"Tapi apa kamu memaafkanku?."


"Sudah! sudah daritadi!."


"Benarkah? aku pikir aku sudah tidak bisa melihat kecantikan dari adikku ini.."


"Bisakah kamu menghentikan perkataan itu? aku menjadi sangat malu.."


"Asal kau sudah memaafkanku... aku akan berhenti membicarakannya lagi.."


"B-Baguslah kalau begitu..."


"Tapi... terimakasih karena kamu sampai belajar dari video resep hingga ketiduran diatas me-."


"Aaa! jangan mengatakannya! aku tidak ingin mendengarnya lagi!!.." Dan hari itu... hanya diisi oleh Mai yang merasa ada asap yang keluar dari wajahnya karena saking malunya....


.


.


.


.


Sejak saat itu, aku sudah melupakan apa yang sudah bukan menjadi beban masalahku... walaupun masih sulit untuk langsung melupakan hal itu... tetapi dengan melakukan kegiatan yang aku selalu lakukan... membuatku kembali bersekolah dan fokus dalam menjalankan kehidupanku dimana hanya aku yang menikmati kehidupanku sendiri...


Aku akan selalu memegang janjiku untuk sebagai alasan mengapa aku akan terus hidup...


Dan meninggalkan semua hal yang tidak berguna dalam hidupku..