
"Satu kartu lagi!!."
"Touya! apa kamu berbuat curang?! kartumu cepat sekali habis!."
"Hahahaha! jangan meremehkanku kalau tentang bermain kartu."
"Uh... kartuku masih ada 8."
"Yuuki, menurutku itu sudah lumayan sedikit."
"Tidak benar, bagaimana kartu punyam- apa itu!??."
"Sakura, kau ini ingin bermain atau mengumpulkan kartu, hampir dua bungkus kartu ada ditanganmu."
"A-Aku sebenarnya baru akhir akhir ini bermain kartu, jadi yaa... seperti ini."
"Kasihan sekali Sakura..."
"Tenang saja! tidak ada yang bisa kuajarkan tentang kartu kepada orang lain!."
"Sekarang giliranmu, Aoyama."
"Perasaan... aku ingat kita disini ingin membahas tentang tugas liburan..."
"Y-Yah... bermain pun juga baik untuk merilekskan otak!."
"Kau kenapa Aoyama? apa kau takut jika aku mengalahkanmu?."
"Benar juga, kartu milik Aoyama tinggal tiga kartu."
"Huh... aku hanya ingin memperingati kalian agar tidak lupa."
"Kalau begitu cepat jalan, aku akan segera memenangkan permainan kartu yang sudah aku kuasai i-."
Aku langsung menaruh ketiga kartu tersebut.
"Woah."
"Yang benar saja? Aoyama langsung menang?."
"M-Mustahil... k-kau pasti berbuat curang kan? Aoyama!."
"Sudah kalah, tinggal banyak bicaranya saja?."
"S-Sial..."
"Kalau begitu kita berhenti bermain disini terlebih dahulu, dan menyelesaikan tugas kalian."
"Enak sekali ya~ Sakura dan juga Aoyama sudah menyelesaikan tugasnya..." Sambil memegang pipinya dengan kedua tangannya.
"Diberikan waktu dua bulan, memangnya kau kemana saja?."
"A-Aku itu selalu sibuk setiap harinya!."
"Huh... kalau begitu jangan malas dan cepat kerjakan tugasnya."
"Cih! dasar tidak pengertian."
"K-Kalau begitu aku akan membantumu, jangan marah padanya ya?." Sakura berusaha menenangkan Yuuki yang marah seperti kucing.
"Oi yang disana... sampai kapan kau terpuruk karena kalah?."
"Aku tidak ada semangat untuk mengerjakan tugas..." Karena kekalahannya, dia berjongkok diujung ruangan sambil menghadap tembok meratapi kekalahannya.
"Kalau begitu tidak ada waktu lain untuk meminta bantuanku."
"Baiklah~." Dia berjalan lemas kearah kami seperti tidak makan beberapa bulan.
Setelah beberapa jam sejak mereka datang kerumahku, akhirnya mereka mulai mengerjakan tugas sekolah mereka...
Sebelumnya saat mereka datang, mereka langsung bermain dan membuang-buang waktu...
Aku dan Sakura sudah menyelesaikannya dari beberapa hari yang lalu, jadi aku hanya membaca novel novel yang kusuka sambil menemani mereka...
Sedangkan Sakura sedang memasak untuk makan siang kita didapur.
"Aoyama."
"Hm?."
"Coba kamu lihat ini..."
Yuuki memanggilku dan menunjukkan isi bukunya.
"Bagaimana?."
"Cara yang kau lakukan sudah benar... tetapi jawabannya masih perlu dihitung kembali."
"Oh~ baik, terimakasih!."
"Ya." Aku lanjut membaca novelku.
"..."
"Mencari kesempatan dalam kesempitan." Touya yang duduk didepan kami, melihat kami seperti mempunyai dendam padaku.
"Tidak ada hubungannya denganmu, cepat kerjakan."
"Cih."
Dan mereka melanjutkan tugas mereka, sedangkan aku berpindah dari membaca novel menjadi menulis beberapa materi yang aku cari dari beberapa artikel...
Disela-sela waktu, Sakura menyediakan beberapa cemilan dan juga minuman jus untuk kita bertiga, selagi menunggu masakan yang ia masak...
Waktu terus berjalan, dan ia berlalu begitu cepat...
"Mmhhh!! akhirnya selesai!." Sambil meregangkan tangan dan punggungnya, Yuuki menutup bukunya dan memasukkannya kedalam tas.
"Kepalaku sudah tidak bisa berpikir lagi..." Begitupun juga dengan Touya.
"Masih ada beberapa hari lagi, kalian bisa bersenang-senang bukan?."
"Kalau begitu kita bersenang-senang bersama!."
"Jangan bawa bawa orang lain... kau saja sendiri."
"Huuuhuuu, sama sekali tidak asik!."
"Terserahmu."
Saat kita sedang beristirahat, aroma yang harum memenuhi seluruh ruangan satu persatu.
"Hm... bau nya sangat wangi."
"Kalian semua, makanan sudah siap!."
"Uwohh makan! ayo Aoyamaa!."
"Huh... jaga sopan santunmu sedikit."
"Mau bagaimana lagi, aromanya sungguh menggugah selera! ayo!."
Dia langsung berjalan duluan menuju meja makan.
"Aoyama, ayo."
"Ya..."
Saat aku juga ingin pergi ke meja makan, tiba tiba ponselku berdering.
"Maaf... aku harus menelepon terlebih dulu."
"Ouh baiklah, kami tunggu."
"Ya."
Aku pergi keluar sebentar untuk menjawab telepon dari Mai.
"Halo... Mai, ada apa?."
""Kakak, apa kamu ada dirumah?."
"Tidak, aku ada dirumah Sakura."
"Kak Sakura? kakak sedang apa?."
"Mengerjakan tugas liburan sekolah... yang kemarin mereka meneleponku."
"Ouh..."
"Memangnya ada apa?
"Bisakah kakak membeli obat batuk? nenek sedang sakit dan tidak berhenti batuk."
"Nenek sedang sakit?? apa kamu sudah mengecek suhu badannya?."
"Sudah, suhu badannya normal."
"Tapi jika kakak masih ada urusan dengan yang lain, aku bisa membelinya sendiri kok."
"Kau jaga nenek saja... tunggu saja aku."
"Baiklah kalau begitu."
"Dah."
"Um."
Aku pun langsung mematikan teleponnya.
"Aku harus bergegas..."
.
.
.
"Aoyama... kamu darimana saja? makanannya hampir dihabiskan oleh Touya."
"Nyam nyam... kau sangat lama nyam."
"Tenang saja, aku masih membuat banyak kok."
"Uh... maaf, aku tidak bisa ikut makan dulu sekarang."
"Eh?." Yang tadinya Touya sangat lahap, sekarang dia berhenti menggerakkan tangan dan mulutnya.
"Ada apa?."
"Aku harus bergegas kerumah Mai... nenek sedang sakit jadi aku ingin membelikannya obat."
"N-Nenek sedang sakit?!! apa sakitnya parah??." Sakura terlihat ikut khawatir.
"Hanya batuk saja... maka dari itu aku ingin membelikan obat batuk."
"Aoyama, sakit yang dialami orang dewasa dengan lanjut usia itu berbeda... walaupun hanya batuk, kamu harus dengan benar merawatnya... bagaimana jika membawanya kerumah sakit saja?."
"Terima kasih, tetapi untuk sekarang tidak ada gejala lainnya... jadi aku saja yang merawatnya."
"Begitu ya... baiklah."
"Kalau begitu kenapa kau diam saja? cepat segera pergi kerumah Mai." Ucap Touya yang masih mengunyah makanannya.
"Kalau begitu aku pergi, terima kasih."
"Um, hati hati."
Aku pun bergegas untuk pergi ke apotek untuk membeli obat batuk untuk nenek, tidak lupa juga aku membeli makanan untuknya dan juga Mai agar perut mereka terisi.
Saat aku membeli makanan untuk mereka, tiba tiba secara tidak sengaja aku menjatuhkan ponselku saat aku ingin mengambilnya dari kantung.
"..."
Aku memungutnya kembali, lalu mencoba menyalakannya.
"Oh tidak... ponselku mati..."
Kejadian yang tidak terduga ini membuatku menjadi resah dan khawatir dengan nenek.
Setelah menunggu makanan itu selesai dibungkus, aku langsung pergi ke stasiun dengan cepat, agara tidak ketinggalan kereta.
Tetapi saat sesampainya disana...
"Keretanya... diberhentikan mendadak?."
Aku melihat sebuah papan dengan peringatan jika kereta diberhentikan operasi mendadak.
Aku pun bertanya dengan orang keamanan yang sedang mengatur para warga yang ingin naik untuk ditertibkan dan menenangkan mereka.
Dan orang itu mengatakan jika cuaca akan buruk dan badai hujan akan tiba... jadi sementara kereta tidak bisa dioperasikan karena ada kabut tebal dari embunnya...
"Jadi... bagaimana sekarang..."
Aku berdiri didepan pintu masuk stasiun sambil memikirkannya.
"Eh? Aoyama?."
Seseorang memanggilku dari belakang.
"Oh... Kuchima?."
"Sedang apa kamu disini? bukannya kereta tidak bisa dioperasikan?."
"Maka dari itu... aku sedang mencari kendaraan."
"Kamu terlihat terburu-buru... bagaimana jika aku antar saja?."
"Eh? aku?."
"Ya... kebetulan juga aku disini karena ingin menjemput Nami... dia juga tidak bisa naik kereta hari ini..."
"Kakak!."
Betul saja, dari dalam stasiun, Nami berlari kearah kita berdua sambil melambaikan tangannya.
"Hm? Aoyama? kamu juga disini?."
"Ya."
"Kalau begitu langsung saja."
"Tunggu dulu... memangnya tidak apa apa?."
"Tenang saja, Nami... kamu tidak keberatan kan? mengantarkan Aoyama terlebih dahulu? dia juga tidak bisa naik kereta."
"Kenapa harus sungkan? aku tidak keberatan kok!."
"Bagaimana?."
"Kalau begitu baiklah... terima kasih."
Lalu aku berhasil mendapatkan kendaraan untuk kesana dengan dibantu oleh mereka bersaudara...
......................
Didalam mobil san ditengah perjalanan, aku menceritakan semua, kenapa aku harus buru buru pergi...
"Jadi begitu... semoga tidak terjadi apa apa dengan nenekmu."
"Aku jadi ikut khawatir... tapi Mai adikmu berada disana kan?."
"Iya... dia juga ada disana menemaninya."
"Kalau begitu kita harus cepat bukan?."
"Tapi, aku sungguh berterimakasih dengan kalian."
"Sudah seharusnya kita saling membantu bukan?."
"Um! benar kata kakak!."
"Ya... kau benar."
10 menit memakan waktu perjalanan kita, dan akhirnya kita sudah sampai didepan rumah Mai.
"Kalian berdua tidak ingin masuk terlebih dahulu?."
"Eh? apa tidak apa apa?."
"Kalian sudah mengantarku... jadi aku harua membalas kebaikan kalian..."
"Kalau begitu mumpung kami ada waktu luang..."
"Aku juga ingin bertemu dengan Mai."
"Baiklah, kalian bisa memarkirkan mobilnya disebelah sana."
"Ok, kami akan menyusul."
Saat aku mengajak mereka untuk masuk, mereka pun mau dan ingin memarkirkan mobilnya terlebih dahulu, sedangkan aku akan masuk terlebih dahulu.
Aku membunyikan bel rumah dan tidak ada jawaban... lalu aku membunyikannya lagi yang kedua kali... tiba tiba pintu langsung terbuka.
"Mai?."
"Kakakk!!!." Mai langsung memelukku saat dia membuka pintunya.
"A-Ada apa? kenapa kau menangis? bagaimana keadaan Nenek?."
"Kakak!! n-nenek... nenek jatuh pingsan!."
"Apa?!!."