My Youth Bond Increase!!

My Youth Bond Increase!!
Chapter 37



Hari kedua festival ini masih berlanjut dengan semangat para murid untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dialami sekarang...


Semuanya sedang sibuk didalam sekolah yang sudah tertutup... agar acara ini bisa dinikmati oleh semua orang, dan juga demi para murid yang bersenang senang dihari inilah mereka harus bersama sama untuk bekerjasama...


"Ketua, tiga titik tempat sudah dibangun tempat foto dengan letak posisi yang paling terbaik disini, bagaimana dengan hiasannya?."


"Baguslah... untuk hiasannya kalian bisa menggunakan lukisan atau dari barang barang berwarna, tunjukkan kreativitas kalian.."


"Baiklah, kita akan melakukan sebaik mungkin.."


Pengerjaan beberapa tempat foto sudah hampir diselesaikan dengan cepat, ini karena antusias para murid yang sangat menginginkan acara yang mereka lakukan...


.


.


.


Pada waktu yang sama, didalam ruang rapat, beberapa orang sedang mengurusi tugas mereka yang sudah diberikan Kuchima...


Mencetak poster, mencatat data, menandatangani beberapa berkas, dan pekerjaan pekerjaan dengan masalah yang sama...


Tidak terasa sore hari begitu cepat selesai... matahari mulai memberikan sinar penutupnya di langit jingga...


Sinar berwarna jingga matahari menyinari lapangan dengan hangat, bahkan sinarnya sampai menembus kaca jendela ruangannya... tetapi meski perlahan sinar itu menghilang, semangat para murid tidak akan mudah ikut terbawa hilang sekejap oleh kehangatannya..


"Bukannya lebih baik kau istirahat sebentar?." Aku menaruh kaleng kopi hangat diatas mejanya...


"Kamu juga?."


"Aku sudah menyelesaikannya dibawah... sisanya pekerjaan yang lain.."


"Terimakasih kopinya.." Dia akhirnya beristirahat dan mengambil kopi itu lalu meminumnya.


"Aku hanya mengambilnya didepan, kau saja yang tidak ingin mengambilnya.."


"Mau bagaimana lagi, aku tidak menyadarinya.."


"Kau terlalu serius, saking seriusnya bukan seperti dirimu yang biasa.."


"Begitu juga denganmu... justru kamu yang bukan seperti dirimu yang biasa.." Sambil menaruh selembaran kertas ke tumpukan kertas yang masih belum ditandatangani.


"Tugas seperti ini sudah biasa aku lakukan dari dulu... karena aku tidak pernah belajar kelompok atau semacamnya.." Aku mengambil tempat duduk disebelahnya dan membantunya menadatangani lembaran kertas itu.


"Apa yang kamu lakukan?."


"Kau tidak melihatnya?."


"Bukan, maksudku itu adalah tugasku.."


"Bagiku ini hanyalah menempel tinta hitam diatas kertas..."


"Tidak... bukan itu....baiklah, lupakan saja.." Dia memalingkan wajahnya dan lanjut mengetik didepan komputer.


Lalu kita berdua fokus kepada apa yang sedang dikerjakan didepan mata, sambil sedikit sedikit mengobrol dengan santai.


"Omong omong, dimana adikmu Mai?." Dia bertanya kepadaku sambil menarikan jarinya diatas keyboard seperti sudah biasa mengetik didepan komputer.


"Dari siang tadi dia sedang bersama Sakura... tadi dia memberikanku pesan, katanya dia akan kesini berapa menit lagi.." Sambil menandatangani dengan cap tanda sekolah disetiap lembaran kertas itu.


"Jadi itulah mengapa kamu kesini.."


"Benar.."


"Jawabannya tidak bikin puas.." Wajahnya merajuk sambil tetap melihat layar komputer.


"Apa yang sedang kau katakan?."


"Tidak, itu tidak penting.."


"..."


Tidak ada yang bisa dibicarakan kembali, situasinya menjadi sangat canggung... hanya melakukan hal yang sama berulang kali juga membuat situasinya semakin tidak menyenangkan..


Saat dia melakukannya sendiri sebelumnya, dia bisa sangat fokus dan tidak ada sedikitpun membuang-buang waktunya... tetapi berbeda lagi keadaannya saat aku berada disampingnya sedang membantu menandatangani lembaran yang dia ketik...


Aku adalah orang yang tidak akan terganggu oleh situasi jika sedang melakukan sesuatu, jadi itu yang membuatku tidak sadar akan situasi canggung ini...


Beberapa kali dia melirikku dalam beberapa menit ini, tapi aku sama sekali tidak menyadarinya... sebaliknya didalam pikiranku sambil menandatangani kertas itu, mataku membaca sekilas apa saja tentang isi dari apa yang ia ketik dengan fokus...


Dalam beberapa saat dia melirikku, dia menyadari ada sebuah bekas luka panjang dibagian leher kiriku, dia melihatnya dengan penuh rasa penasaran.


"Aoyama.."


Saat dia memanggilku, konsentrasi diriku pudar dan membuat aku tidak bisa melakukannya dengan baik..


"Ada apa?."


"Tidak... itu... bagaimana kamu bisa mendapatkan luka di lehermu?.." Dia menunjuk leherku.


"I-Itu hanya kebetulan aja kebetulan! dan juga biasanya kamu menggunakan pakaian yang kerahnya agak tinggi, sekarang kamu tidak memakai seragam yang kerahnya tinggi.." Dengan entengnya dia mengatakan itu.


"..."


"..."


"Maaf, aku tidak akan berbuat apa apa... jadi jangan mengikutiku.." Semakin curiga..


"Eh, b-bukan itu maksudku... bukan karena apa apa tapi... tapi... b-bukan seperti yang kamu pikirkan beneran! serius! aku tidak berbohong! aku bukannya selalu melihatmu seperti itu! aku hany-." Dia menjadi panik dengan yang dia katakan.


"Aku hanya bercanda, jangan terlalu dipikirkan... aku juga tidak terlalu peduli.." Dengan datar sambil terus melakukan pekerjaannya...


"Um... ya... m-maaf.."


"Ini hanya luka biasa, baru terjadi beberapa tahun lalu jadi masih membekas disini..."


"..."


"Tapi mendapat luka disitu... bukannya cukup berbahaya?." Wajahnya menjadi khawatir.


"Memang sedikit berbahaya... ternyata aku masih bisa terus hidup... aku pun juga bingung.." Selama aku fokus terhadap tugas yang berada didepan mataku, aku mengatakan hal yang tidak jelas.


Wajah khawatirnya melihat ekspresiku yang terlihat lebih suram dari biasanya, orang seperti dia tidak mungkin tidak memikirkan perasaan orang lain.


"Ah, tunggu sebentar.." Dia membuka tasnya dan mengambil sesuatu dari dalam.


Lalu dia memberikan sebuah permen yang dia ambil dari tasnya kepadaku.


"Nih... biasanya jika sedang seperti ini, aku suka sekali memakannya sambil melakukan sesuatu.."


"Oh... terima kasih.." Aku mengambilnya dari tangannya.


"Kamu suka dengan rasa mint bukan? aku juga suka dengan itu.." Dia tertawa kecil dengan kepeduliannya terhadapku.


"Menurutku rasanya sangat menyentuh hidung dan itu membuatku nyaman.." Sambil memakan permen rasa mint itu.


"Kamu benar, tapi yang terbaik itu jika meminum air saat permennya habis.." Senangnya dia saat sedang membicarakan tentang kesukaannya.


"Benar benar... tapi terlalu banyak memakan ini, tenggorokanmu bisa sakit.."


"Tidak aku sangka kamu begitu peduli denganku.." Dia sedikit terkejut.


"Aku salut dengan tingkat kepercayaan dirimu itu.."


"A-Apa maksudmu?."


"Entahlah.."


"Hmph!." Dia kembali ke posisinya didepan komputer dan lanjut mengetik.


"Tapi... terima kasih... permennya.." Aku mencoba mengatakannya dengan tulus tapi tetap saja ekspresiku selalu datar sedikit merasa harga diriku terkuras..


dia terkejut, tangannya berhenti mengetik dan entah kenapa dia menjadi merasa sangat senang mendengar itu..


"Um... sama sama.." Senyumnya yang tidak ia perlihatkan itu, dia merasa lega dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


Hari ini masih berlanjut dengan kesibukannya...


Langit sudah seutuhnya gelap... tetapi lampu disekolah kami menerangi seluruh area dimana semua murid masih melakukan tugas mereka..


Meski tidak bisa melakukan semaksimal sesuai ekspektasinya... tetapi semuanya yakin bahwa mereka melakukan ini untuk kesenangan mereka sendiri...


.


.


.


Selang beberapa waktu lamanya... semuanya berjalan dengan lancar... tempat foto, menempelkan brosur, dan membangun tempat tempat lainnya sudah berhasil dibuat mereka...


Aku tidak percaya bisa melakukan pekerjaan sebanyak ini... dan bekerja sama dengan yang lainnya melakukan banyak hal...


Menempelkan poster di area luar sekolah yang gelap dan membuat kelompok untuk melakukannya... mengecat kayu kayu yang akan dibuat menjadi kolase buatan ditempat titik foto, membuat beberapa kata kata dari sebuah balon besar, dan menempelkannya dilantai paling atas gedung sekolah hingga sangat terlihat terpampang diatas...


Sungguh tidak terpikirkan untuk pergi dari sini saja, dan itu sama sekali tidak terpikirkan didalam kepalaku... karena kesibukan yang tidak ada kesempatan untuk berpikir seperti itu...


Melakukannya memang sangat merepotkan, tetapi aku selalu melakukannya tanpa mengeluh sedikitpun...


Pada waktu pukul 20.10 mereka semua sudah membersihkan area yang menjadi pekerjaan mereka dan pulang kerumahnya masing masing... disaat sekolah sudah mulai sepi dan kosong, hanya aku yang berada disebuah ruangan kelasku sambil istirahat dengan penerangan hanya cahaya bulan diatas yang menembus kaca jendela tempatku duduk diatas meja...


Aku memejamkan mataku dan perlahan merasakan hawa dinginnya yang menghembus dari luar jendela kelasku...


Mungkin ini adalah salah satu kebiasaanku yang sangat aku sukai... menikmati suasananya sambil mendengarkan alunan lagu yang masuk kedalam kepalaku... sambil berpikir apakah ini hal yang harus disyukuri didalam hidupku... dan apa aku bisa menjalani hidupku dengan meninggalkan masa laluku yang tidak bisa diingat...


Setiap aku memikirkannya... hatiku merasa seperti ditekan oleh sesuatu yang lembut, dan kedamaian seketika ini menjadikanku sebagai orang yang paling tenang di hidupku...


Jika bisa aku ingin terus berada didalam kegelapan yang menenangkan ini... bahkan untuk selamanya.