
"Aoyama, jangan lupa setelah ini kita harus rapat." Ucap Touya mengingatkan diriku.
"Ya... aku akan segera kesana..."
Touya yang pergi terlebih dulu karena aku masih merapihkan buku buku milikku kedalam tas dan ingin menyampaikan pesan kepada Mai karena aku tidak bisa pulang dengannya.
"Aoyama..."
Saat aku masih sibuk dengan ponselku, diluar kelas saat semua murid sudah mulai berhamburan keluar sekolah untuk pulang, Yuuki menghampiriku dengan ragu.
Aku hanya meliriknya dan menyimpan kembali ponselku untuk mendengarkannya.
"Aku tahu... hal ini cukup sulit untuk dilakukan, tapi... apa aku boleh membantumu? meskipun sedikit tapi, ada yang bisa aku lakukan.."
Saat kami sedang berada diluar pintu kelas, aku sedikit melirik Sakura yang masih duduk dan melihatku yang sedang mengobrol dengan Yuuki, tetapi setelah itu dengan wajah yang masih murung dia memalingkan matanya.
Aku yang melakukan hal ini untuk agar dia baik baik saja... tetapi begitu juga dengan Yuuki, aku tidak bisa memberikan tanggung jawabku kepadanya.
"Maaf... sepertinya tidak bisa."
"Tapi aku-."
"Rapatnya ingin segera dimulai, aku pergi dulu."
Aku pun mencoba menghindarinya, dan syukurlah aku bisa melakukannya... rasanya sedikit bersalah tetapi hanya itu yang bisa aku lakukan...
.
.
.
Sesampainya disana, aku masuk kedalam ruangan rapat tersebut dan hampir lebih dari separuh orang yang sudah sampai disini...
Dan aku melihat Celestia yang melambaikan tangan kepadaku di ujung sana, dan dia menyuruhku untuk duduk disebelahnya dengan isyarat menunjuk sebuah bangku untukku...
Sebenarnya masih ada satu yang melakukan hal yang sama seperti itu, tetapi dia langsung menarik tangannya kembali saat melihat orang yang melambaikan tangannya kepadaku adalah gadis cantik yang pakaiannya begitu mencolok seperti seorang model, maka dari itu dia atau bisa aku katakan Touya menyerah untuk memanggilku.
Jujur aku ingin duduk didekatnya, tetapi tiba tiba tempat itu sudah diambil dan Touya justru membolehkannya... aku langsung berpikir jika dia ingin merencanakan hal yang aneh aneh setelah melihat matanya yang serasa tidak bersalah karena tidak ingin memberikanku tempat duduk disampingnya, dan terpaksa aku harus duduk disamping Celestia.
Padahal dia tahu betapa sulitnya diriku yang berbicara dengan seorang perempuan apalagi ditempat yang begitu ramai ini...
"Ternyata kamu juga ikut dengan rapatnya.."
"Karena itu aku sudah mengatakannya bukan?."
"Um, kata kata Aoyama sudah tidak bisa aku ragukan lagi."
"Y-Ya... asal jangan terlalu berlebihan..."
"Hehe.."
Aku yang duduk disampingnya terus mengobrol dengannya, dan entah kenapa jika aku mengobrol banyal hal tentang novel dan hal lainnya aku merasa begitu mudah dan sangat nyambung jika berbicara dengannya...
Mungkin karena kita sama sama penyuka novel, ataupun karena aku lebih santai jika membahas tentang apa yang aku suka, tetapi perbincangan yang begitu ringan ini terjadi seakan-akan seperti air yang mengalir dimanapun wadahnya...
Setelah beberapa menit kemudian semua orang sudah berkumpul dan akhirnya rapat setelah pulang sekolah dimulai.
......................
"Uhhh lelah sekali..."
"Itu sudah jelas... disana kau berbicara begitu banyak, karena kau yang menjadi orang pentingnya."
"Aku tahu hal itu, tetapi, semua orang disekolahmu sangat pintar dalam menjalankan sesuatu hal hingga mereka bisa membicarakan sesuatu yang meskipun hanyalah hal kecil sekalipun... jika aku bersekolah disini aku menyerah..."
"Namanya juga sekolah yang terkenal dengan banyak orang-orang penting yang bersekolah disini.."
"Kamu sendiri?."
"Aku hanya seorang remaja biasa... tidak ada yang spesial."
"..."
Dia yang masih membungkukkan tubuhnya karena lemas, tiba tiba terpikirkan sesuatu sampai dia kembali ceria lagi...
"Aoyama! bagaimana kalau aku ingin membaca novel di rumahmu?."
"Eh?."
"Um! aku ingin melihat semua novel yang kamu punya!."
"Begitu ya... tidak ada pilihan lain.."
Dia langsung kembali lemas dan tidak bertenaga...
"Mungkin jika lain waktu, sepertinya aku bisa."
"Benarkah?."
"Jika ada waktu..."
"Aku tahu kalau kamu tidak pernah salah, jadi aku ingin meminta nomor kontak milikmu."
"Sudah aku katakan, jangan terlalu berlebihan..."
"Tidak apa-apa..."
Lalu kami saling bertukar kontak saat kita tidak bisa melakukan rencana itu bersama, jadi dia berpisah saat berada di stasiun kereta denganku... karena arah tujuan kami berbeda.
Saat aku sudah turun dari stasiun dan tinggal berjalan beberapa menit lagi, aku pun sekalian memberikan pesan untuk Mai karena aku sudah ingin sampai...
"Aneh... kenapa panggilanku tidak diangkat olehnya?."
Aku mencoba memanggilnya lagi, tetapi tetap saja tidak ada jawaban.
Rasanya aku sedikit berpikir yang tidak-tidak hingga merasa khawatir... jadi aku mempercepat sedikit jalanku agar bisa sampai disana secepatnya.
.
.
.
*Tok! tok! tok!.
Aku mengetuk rumah nenek saat aku sudah sampai dengan tergesa-gesa, hingga bajuku penuh dengan keringat... tetapi tidak ada yang keluar dari sana..
Saat aku kembali ingin mengetuk pintunya, dan menarik gagangnya... aku langsung terkejut karena pintu itu tidak dikunci sama sekali.
"Eh?."
Aku perlahan masuk kedalam dan suasananya begitu sunyi tanpa suara sedikitpun.
"Nenek? Mai? apa kalian didalam??."
Aku berjalan mengitari ruangan ruangan yang ada dirumah ini hingga ruangan terakhir yaitu dapur aku melihat banyak sekali makanan diatas meja, tetapi terdapat satu makanan yang masih belum matang tetapi sudah jatuh berantakan dilantai.
Hatiku semakin merasa sangat khawatir saat melihat hal itu... lalu aku langsung bergegas keluar dan tidak lupa sambil tetap menelepon Mai...
Dan aku menutup pintu rumah sangat rapat, lalu entah kemana aku ingin pergi... karena aku tidak tahu kemana mereka pergi...
Perasaanku semakin tidak nyaman dan terus menerus dihantui oleh rasa khawatir sembari meneleponnya.
*Niiitt Niitt
*Klek!
Dan akhirnya panggilanku diterima oleh Mai dan seketika aku langsung bertanya tentang apa yang terjadi sekarang ini..
"Mai, kenapa rumah nenek sangat berantakan? kalian semua ada dimana??."
"Kakak...."
Suaranya yang serak seperti sudah menangis begitu lama dan tangisannya masih terdengar di telingaku.
"Mai, t-tenanglah... bicarakan baik baik... apa yang terjadi??."
Rasanya hidup ini begitu memiliki sebuah rasa yang begitu pahit hingga aku tidak berani untuk merasakannya... tetapi kehidupan ini memaksa diriku untuk mencoba semua rasa yang ada di dunia ini... sungguh aku tidak berniat untuk merasakannya...
Karena rasa tersebut begitu pahit hingga aku tidak tahu cara agar bisa menghilangkan rasa pahit itu dengan seketika...
Tubuhku membeku dan telingaku seperti mendengar suara frekuensi yang berbeda...
Hal yang tidak bisa aku bayangkan dan tidak ingin aku rasakan ini... akhirnya telah datang pada waktu yang tidak tepat...
"Nenek kritis... dokter mengatakan... nenek sudah tidak bisa menahan hidupnya lagi untuk hari ini..."
Oh tuhan... bagaimana rasanya aku bisa menghilangkan rasa pahit ini..