
*Ceklek
*Tap tap tap
*Sreett
"Kenapa kau diam diam menyelinap kedalam tempat tidurku?."
"Ketahuan ya.."
"kau masuk beberapa menit setelah aku mematikan lampu.."
"Aku kira kakak sudah tidur lelap karena kelelahan.."
"Meskipun aku sudah tertidur, aku tetap sadar jika ada seseorang yang masuk kedalam kamarku.."
"Kalau begitu, aku juga sudah mengantuk.." Sambil membenarkan posisi tidurnya.
"Apa umurmu ini masih belum terlihat, sampai ingin tidur disamping kakaknya?."
"Memangnya kenapa? apa salah?."
"Meskipun kau bilang seperti itu.."
"Hanya semalam..."
"Tidak, pindah ke kamarmu.."
"Aku sudah tidak mempunyai tenaga.."
"Jangan berbohong, jika memang tidak mempunyai tenaga, lalu mengapa kau berjalan kesini.."
"Aku hanya ingin tidur semalam denganmu, kenapa tidak boleh?."
"Jelas tidak, kau sudah beranjak dewasa, lagipula umur kita tidak beda jauh.."
"Tapi jika adik dan kakak itu wajar.."
"Tidak jika sudah remaja..."
"Huuhh menyebalkan... kalau begitu biarkan aku disini sebentar untuk mengobrol denganmu.."
"Apa yang ingin kau bicarakan?."
"Tadi saat aku sedang mencuci piring, ayah meneleponku.."
"Baguslah kalau seperti itu... dia masih peduli dengan anaknya sendiri.."
"Tapi dia juga menanyakan kabar tentangmu.."
"Katakan saja jika aku sudah layak untuk mengurus diriku sendiri."
"Apa kamu tidak ingin memberitahukannya?."
"Untuk apa? tidak ada gunanya jika aku memberitahu hal ini kepadanya.."
"Jika begitu, apa... kamu akan meninggalka-."
"Apa yang sedang kau katakan.."
Suara jangkrik yang terus berbunyi mengisi kesunyian malam hari.
"Jika mereka datang untuk mengambilmu, aku akan mempertahankan bahkan hingga diriku sebagai resikonya.."
"Kenapa kamu sampai segitunya melindungiku? padahal aku ini.."
"Walaupun mereka adalah orang tuamu, dan aku adalah saudara tirimu... tetapi aku sudah menganggapmu sebagai saudara kandungku, maaf jika aku egois, mengambilmu dari orang tuamu... tetapi aku tidak akan membiarkan mereka terus membuatmu seperti bukan anaknya.."
Dia menggenggam bajuku dengan sangat erat dan tidak ingin menampakkan wajahnya.
"Tenang saja, jika memang mereka ingin mengambilmu, mereka harus belajar kembali menjadi orang tua yang baik selama seratus tahun.."
Dia tertawa kecil sambil meringankan kekuatan eratan tangannya.
"Hanya seratus tahun?."
"Memangnya kau elf yang bisa hidup ribuan tahun.."
"Jika memang aku adalah seorang elf, apa yang kamu lakukan?."
"Apa yang aku lakukan? bukannya jika kau adalah seorang Elf, kau tidak akan bertemu denganku?."
"B-Benar juga... kalau begitu aku tidak ingin menjadi apapun, seperti ini saja sudah cukup.."
"Padahal jika kau mempunyai waktu hidup yang sangat lama, itu akan membuatmu melakukan banyak hal, memenuhi segala sesuatu yang tidak sempat kau lakukan, menikmati hidup dengan apapun rintangannya, mendapatkan banyak sekali hal yang tidak pernah kau dapatkan saat memiliki sedikit umur, lalu--."
Saat aku sedang terbawa suasana menceritakan hal yang tidak penting, seperti menceritakan dongeng, dia langsung tertidur di sampingku dengan sangat lelap.
"Huh, sudah kukatakan jangan tidur disini.."
Lalu aku bangun dari tempat tidurku, dan menyelimutinya dengan hangat lalu meninggalkannya didalam.
Aku pergi ke dapur dan membuat secangkir kopi panas sambil duduk di sofa ruang tengah.
*Slurrpp
"Bagus, aku tidak bisa tidur..."
Sambil menatap layar ponselku didalam ruangan yang gelap tanpa penerangan sedikitpun, aku memikirkan apa yang Mai katakan beberapa waktu yang lalu, tentang kedua orang tuanya yang sudah maju untuk mengambil anaknya.
"Apa aku salah untuk menjaga seseorang yang bukan saudara kandungku..."
......................
Dua belas tahun yang lalu, saat aku dan keluargaku pergi dalam wisata pertama kali yang diadakan oleh orang tuaku... aku sangat senang mendengarnya, mereka semua ingin merencanakan piknik pagi diatas bukit dengan nuansa alam yang sangat menarik menurut rumornya.
Menurut berita cuaca, hari itu sangat cerah tanpa adanya cuaca ekstrem yang akan datang, seakan wisata keluarga kita diberikan sebuah kebebasan tanpa adanya masalah.
Dengan semangat aku yang berumur Lima tahun dan adikku yang masih berumur tiga tahun membantu ayahku untuk mengemasi barang barang bawaan kami kedalam mobil Van ayahku.
Dalam perjalanan kami bernyanyi dan bermain untuk mengisi waktu kami diperjalanan yang jauh.
Tetapi apa yang kita harapkan kini tidak sesuai dengan keadaannya.
Untuk sampai keatas bukit, kita harus melewati beberapa tebing yang sedikit curam dan jalannya cukup sempit, terpaksa kita hanya bisa melewati jalan itu.
Tidak disangka apa yang diberitakan berita cuaca dengan cuaca sekarang sangat berbanding terbalik...
awan mulai gelap hitam, angin yang melewati kaca mobil kami sangat kencang, suara riuh pohon yang tertiup angin sangat membuat kebisingan yang mendadak disekeliling kami.
Semakin kita berjalan, keadaannya makin memburuk.
Badai yang sangat kencang terus menerus membuatku ketakutan, dan ibuku menenangkan aku dan juga adikku bahwa tidak akan ada yang terjadi dan ayah akan terus melindungi kita.
Apa yang ibu katakan Itu membuatku tenang, karena aku selalu percaya apa yang ibu katakan, dan perkataannya tidak pernah bohong.
Tetapi...
Kini untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa perkataannya itu tidak benar...
Tanah yang membuat jalan kita hancur karena badai yang besar.
Sebelum terjadinya kecelakaan kedua orang tuaku dengan cepat melindungiku dengan menaruh barang yang tebal disekeliling badanku agar tidak terkena benturan.
Saat itu aku tidak terlalu bisa melihat dengan jelas disekelilingku..
Dan disaat itu juga mobil kami terperosok masuk kedalam jurang yang cukup curam.
Orang tuaku mengatakan beberapa kata yang saat itu tidak aku dengar dengan jelas, aku hanya bisa melihat mereka tersenyum kearahku dengan wajah yang sangat terlihat lembut.
Hal itu terjadi cukup cepat, aku tidak bisa mengatakan apapun selain memanggil ayah dan ibuku dan adikku yang menangis kencang, mereka hanya mengatakan kata tenang hingga suara itu berhenti saat mobil kita sudah jatuh dan hancur dibagian depan karena mobil dengan keadaan jatuh dibagian depan terlebih dahulu.
Saat terjadi benturan diatas tanah, aku langsung tidak sadarkan diri, pandanganku mulai pudar dan pikiranku mulai kosong.
.
.
.
Beberapa waktu kemudian, aku terbangun diatas tanah yang lembab dan penuh dengan daun daun ranting pohon, kepalaku sangat sakit, aku tidak tahu apa yang baru saja terjadi padaku, mata yang berkunang kunang, badan bergetar akibat rasa sakit, telinga berdengung kencang yang membuat pikiranku penuh dengan kebingungan... dengan panik aku langsung memanggil kedua orang tuaku berkali kali.
Tetapi sama sekali tidak ada jawaban yang menenangkan diriku.
Saat aku berdiri dengan sempoyongan untuk melihat keadaannya, sungguh disayangkan bahwa mobil yang kita kendarai dan terjatuh, sudah habis terbakar dan padam karena air hujan...
Seluruh badanku kesakitan dan penuh luka luka yang cukup membuat rasa sakit yang sangat mendalam... bahkan aku tidak sempat untuk mengetahui apa penyebab rasa sakit ini...
Yang bisa kulakukan hanya memanggil ayah dan ibuku berkali kali, berkali kali, dan terus menerus walau tidak ada jawaban sama sekali.
Suaraku sangat serak, dan kepalaku sangat pusing seperti berputar putar menaiki sebuah wahana...
Saat mencoba mencari orang tuaku didalam bekas mobil itu, nyatanya tidak ada tanda tanda sedikitpun tentang mereka.
Aku yang berpikir bahwa mereka berdua mungkin sudah selamat duluan daripada diriku sendiri, aku pun mencari mereka berdua ke tengah hutan.
Dengan ketakutan aku berjalan menelusuri hutan yang sangat gelap sambil menahan tubuhku agar tidak terjatuh.
Perlahan dengan perlahan aku berjalan, dengan waktu yang lama dan cukup lama, hingga aku merasa haus dan kelaparan.
Aku tidak sanggup untuk berjalan maupun berdiri lagi, dan akhirnya aku terjatuh diatas tanah dan didalam hutan sendirian.
.
.
.
"Hei, apa kamu tidak apa apa? kenapa kamu ada disini?."
Suara perempuan yang membangunkanku membuatku terkejut.
Dan itu juga membuat dia terkejut hingga ingin menangis..
Aku tidak bisa melakukan apa apa, dan badanku masih terasa cukup sakit...
Bahkan ingin berdiri pun tidak ada tenaga sama sekali, sampai beberapa kali aku mencoba, tetap saja aku terjatuh.
Dia yang melihatku berusaha untuk berdiri, lalu pergi tanpa memberikan kata kata apapun.
Rasa haus dan lapar yang sangat berat, dan rasa sakit yang masih tertinggal di seluruh badanku, membuatku tidak bisa berpikir apa apa.
Dan aku pun pingsan kembali karena tidak ada yang bisa aku konsumsi untuk mengisi perutku.
.
.
.
"Aoyama..."
"Aoyama..."
Suara mereka yang berada didalam mimpiku, membuatku terbangun syok.
Aku terbangun diatas kasur yang hangat, dan membuatku bingung kenapa aku bisa berada disini dengan bajuku yang sudah diganti dan tempat yang nyaman.
Dan saat itu ada seorang nenek yang masuk kedalam ruanganku...
"Oh, kamu sudah bangun.."
Dia meletakkan nampan yang diatasnya terdapat minuman dan sepiring makanan...
"Siapa namamu nak?.."
Aku hanya bisa melamun menatapnya dan tidak berbicara...
"Kamu tidak ingin berbicara? tidak apa apa, jangan dipaksakan, nenek tidak memaksakanmu.."
"Ao...yama.."
Aku mengatakan namaku yang sebelumnya aku tidak mengingatnya... lalu seketika aku mengingat namaku melalui mimpi yang aku alami sebelumnya.
"Namamu Aoyama ya? kalau begitu kamu harus makan terlebih dahulu, wajahmu terlihat kurus kering begitu.." Sambil memberitahukan senyuman yang lembut.
Aku sedikit ketakutan, tetapi aku merasa bahwa beliau adalah orang yang baik... lalu aku mengangguk dan ingin meraih piring itu, tetapi tanganku tiba tiba terjatuh seperti tidak sanggup mengangkatnya.
"Sini, biar nenek yang akan menyuapimu... kamu duduk nyaman saja disitu.."
Lalu beliau mengambil piring itu dan mulai menyuapiku...
Saat aku sedang membuka mulutku untuk memakan makanan itu, tidak terasa air mataku jatuh mengalir melewati pipi kecilku ini...
Meski air mataku mengalir seperti adanya, tetapi ekspresiku hanya datar seperti tidak ada yang terjadi dengan diriku.
Nenek yang melihatku seperti itu, menaruh piringnya dan memelukku dengan erat.
"Kamu pasti sudah berusaha ya, jangan khawatir... sekarang kamu tidak akan mengalaminya lagi.."
Dia yang sepertinya sudah mengetahui kecelakaan yang dialami didekat jurang itu, dan mengetahui jika aku adalah korban dari kecelakaan itu.
Saat situasi sudah tenang, beliau mulai memberikanku makanan lagi hingga aku memakannya sampai habis tidak tersisa...
"Kamu istirahat saja disini, nenek akan merawatmu sampai sehat.."
Tak lama kemudian, pintu itu terbuka dan muncul anak perempuan yang sangat imut melihat kami berdua didalam.
"Mai, masuk kesini... Aoyama ingin bertemu denganmu.." Nenek memanggilnya tetapi dia langsung menutup pintu kembali.
"Dia anak yang pemalu, tetapi dia itu anak yang sangat baik..."
Aku mendengarnya dan hanya memberikan ekspresi datar.
"Aoyama, apa kamu ingat apa yang kamu lakukan sebelum ini?."
Aku menggelengkan kepalaku sambil menahan sedikit rasa sakit akibat mencoba apa yang beliau katakan karena aku tidak mengingat apapun tentang hal ini..
"Kalau begitu tidak perlu dipikirkan kembali, istirahat sebentar dan pulihkan dirimu ya, nenek keluar sebentar.."
Aku mengangguk dan kembali pada posisi tidur, lalu beliau pergi keluar kamar...
.
.
.
Hari demi hari aku tinggal disini, dan kini tubuhku sudah sembuh sepenuhnya, aku bisa berjalan dan berlari...
Tetapi setelah beberapa hari ini, kedua orang tua itu selalu bertengkar dan membuat nenek bersedih setiap saat.
Juga Mai yang selalu berada didalam kamarnya dan tidak ingin keluar dari sana...
Lalu tiba saat mereka berdua sedang membicarakanku tentang aku yang berada disini..
Mereka yang sedang adu mulut tidak sengaja mengatakan jika kedua orang tuaku ternyata masih selamat dari kecelakaan itu, lalu tewas tepat didepan mereka.
Mendengar hal itu membuatku terkejut dan tidak sengaja menyenggol gelas plastik yang berada diatas meja, membuat mereka melihat aku yang sudah mendengarnya.
"Aoyama..."
"K-Kalian..." Badanku bergetar hebat seakan ada yang ingin memaksaku untuk melakukannya..
"Tunggu Aoyama, ini semua bukan yang kamu pikirkan.." Ayah Mai yang panik karena pembicaraannya telah didengar.
"Kenapa... kalian... tidak memberitahu kalau... ayah dan ibuku masih ada..."
"Maaf, dengarkan penjelasan kami terlebih dahulu."
"T-Tidak... aku... aku.. ingin... bertemu... dengan... dengan siapa..." Seketika pikiranku kosong, seakan semuanya langsung terhapus begitu saja didalam kepalaku..
*Brukk!!
Lalu aku jatuh pingsan didepan mereka dengan hal yang tidak pernah bisa aku pikirkan... semuanya seperti hanya ilusi mimpiku saja... tidak ada satu keping ingatanku tentang mereka yang bisa aku rasakan...
......................
Dan pada saat itu, Aoyama yang dulu bukanlah orang yang sama seperti Aoyama dengan nama keluarga Kizuku...
Meski aku membencinya, dan tidak pernah percaya dengan apa yang dia katakan, hingga saat mereka berdua berpisah... meninggalkan Mai begitu saja dengan nenek... itu sudah cukup membuatku untuk tidak mempercayai apapun dari mereka...
Bahkan hanya sekecil gula pasir ingatanku terhadap masa lalu yang kualami...