
"Nenek! nenek! jangan tinggalkan kami nek!. "
"N-Nenek! tunggu, aku akan memanggil dok-."
Tiba tiba tanganku tersentuh oleh tangannya yang lembut dan keriput... aku merasakan pegangannya yang begitu lemah, dan aku membalasnya dengan menggenggam pada tangannya dengan kedua tanganku.
"Nenek, nenek akan baik baik saja... bertahanlah!. "
"Aoyama... Mai... sepertinya... nenek tidak bisa... bertahan lebih lama lagi. "
"Tidak! nenek tetap disini bersama Mai dan kakak!."
"... "
"Mai... nenek sangat berterima kasih atas semua yang telah Mai berikan... kepada nenek... kamu selalu merawat nenek dengan lembut... dan kamu selalu mengkhawatirkan setiap keadaan nenek... nenek yakin, Mai bisa menjadi seseorang yang sangat baik... karena kamu adalah cucu nenek yang paling nenek sayangi sepenuh hati.. "
"Nenek... aku tidak ingin seperti ini... "
"Kamu...harus bisa menjaga kakakmu ya..."
"... "
"Aoyama... setiap apa yang kamu lakukan... nenek akan terus mendukungmu hingga nenek bisa melihatmu berhasil dengan apa yang kamu inginkan... kasih sayangmu yang begitu besar, sudah nenek terima dengan sepenuh hati... tetapi... kamu harus lebih memikirkan perasaanmu sendiri... sekarang kamu sudah mempunyai banyak orang yang bisa mendukungmu saat nenek sudah tidak bisa mengelus rambutmu dengan baik... jangan selalu bertengkar dengan adikmu... tetap sayangi dia... dan nenek ingin... kamu memaafkannya... karena dia juga adalah seorang ayah yang tidak bisa kamu lepaskan... maaf ya...jika nenek tidak bisa melihat kelulusanmu nanti..."
"... "
Kami berdua tidak bisa menahan air mata yang kini mengalir melewati wajah kami...
"Kalian adalah cucu nenek yang paling nenek sayangi... Terima kasih atas semua waktu yang kalian berikan... maaf jika nenek tidak bisa membuatkan kue untuk kalian lagi... sekarang nenek sudah membuat kalian tumbuh menjadi seseorang yang hebat, maka sudah saatnya untuk nenek beristirahat..."
"Nenek! Mai tidak ingin kehilangan nenek! Mai tidak mau!."
"... "
Aku tidak bisa berkata-kata... mulutku seperti terjerat satu sama lain, dan hanya ada air mata yang menetes diatas tangannya yang lembut...
Ditengah itu, pintu ruangan terbuka...lalu, Sakura dan Yuuki yang datang dan masuk kedalam langsung menghampiri nenek disana...
Aku melepaskan tangannya dan memberikan Sakura untuk menggenggam tangannya untuk terakhir kalinya.
"Nenek?! n-nenek... ini aku, Sakura.."
Dia langsung menggenggam tangan nenek dengan erat dan menempelkan tangan nenek pada bibirnya yang sudah basah akan air matanya.
"Sakura... maaf ya... nenek hanya bisa menemanimu sampai disini... kamu gadis yang sangat baik... dan satu satunya orang yang pertama kali berteman dengan Aoyama dan menemaninya... nenek sangat berterimakasih. "
"Tidak, harusnya Sakura yang berterimakasih dengan nenek... nenek sudah membuat hidupku penuh dengan kasih sayang yang nenek berikan kepadaku... Sakura... sangat menyayangimu."
Dari ujung pipinya yang mengkerut karena senyuman terakhir yang beliau berikan... dan tarikan nafasnya yang sudah menuju pada hembusan terakhir..
"Terima kasih... nenek... benar benar sangat... bahagia... "
Dan akhir dari hidupnya yang sangat berkesan kepada kami... dan kini telah selesai...
Malam yang dingin dipenuhi dengan air mata...
Suara Elektrokardiogram yang sudah berbunyi tanpa adanya sebuah jeda...
Dan suara nafasnya yang tidak lagi terdengar...
Hari ini... beliau menghembuskan nafas terakhirnya... dengan rasa syukur yang begitu besar... dia meninggalkan sebuah kenangan manis terhadap kami...
"Nenek... "
"N-Nenek!."
Tangisan yang sudah tak tertahankan lagi, dan ruangan yang kini dipenuhi oleh kesedihan...
Aku tidak bisa menahan air mataku...
Kakiku begitu lemas, hingga aku terduduk dan menangis dalam diam sejadi-jadinya..
Yuuki langsung memeluk tubuhku begitu erat, hingga aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, selain bersandar padanya...
Sakura dan Mai yang menangis disampingnya yang kini sudah meninggalkan kita semua... dengan meninggalkan sebuah senyuman hangat yang masih terhias pada wajahnya yang keriput...
Malam itu begitu dingin... hingga rasanya begitu membekas didalam hati...
Seseorang yang telah memberikanku cinta dan kehangatan yang amat besar... dan menjadikanku sebagai kebanggaannya...
Tawanya yang menenangkan, dan untaian lagu yang beliau nyanyikan saat aku kecil...
Masakannya yang memanjakanku, hingga tatapannya yang memberikanku kedamaian...
Seseorang yang bisa menggantikan arti kata sebuah orang tua untukku...
Sampai kapanpun aku tidak bisa melupakan perasaan itu...
......................
Hari setelah pemakaman beliau... aku membereskan barang barang yang ada dirumah yang penuh dengan kenangan itu...
Aku bisa melihat semua kejadian yang terukir didalam ingatanku...
Kehangatan didalam rumah ini menjadi lebih terasa...
Aku berjalan menuju kamarnya... dan melihat sebuah bingkai kayu yang sudah sedikit berdebu... aku meniup dan membersihkan debu yang menutup sebuah foto yang sudah lama tidak aku lihat...
Foto itu yang didalamnya terdapat foto Nenek, Mai dan juga aku saat kita berdua masih kecil...
Aku berjalan menuju dapur tempat dimana beliau memasakkan makanan untuk kami saat kami lapar... dan aromanya yang masih aku ingat serasa tercium kembali didalam ruangan kosong tanpa kehadirannya.
Saat aku membawa barang barang miliknya dan memasukkannya kedalam kotak, aku melihat sebuah buku bertuliskan "Resep" didepannya.
Aku membuka setiap halaman, dan semua itu adalah makanan yang telah aku rasakan dari masakannya... aku tersenyum karena mengingat masa masa itu... dan aku menyimpan buku itu didalam tas ku...
"Sepertinya semuanya sudah dibawa... tidak ada barang yang bisa aku ambil lagi... "
Aku menatap ruangan yang telah menemani hari hariku saat kecil... dan rencananya semua perabotan ini akan dijual dan rumah ini juga akan direnovasi untuk dijual kembali...
Meskipun begitu, aku tidak akan melupakan semua kenangan yang ada didalam rumah ini...
"Kakak... apa semuanya sudah dibereskan?."
Mai yang datang dari luar dan menghampiriku yang masih berdiri disana.
"Sudah..."
"Pada akhirnya rumah ini tidak bisa dipertahankan..."
"Mau bagaimana lagi... disini sudah tidak ada siapapun yang akan tinggal... "
"Aku masih ingin... merasakan semua keseharian yang aku lakukan seperti beberapa hari yang lalu... "
"Karena kau tinggal disini lebih lama dariku. "
"... "
"Mai... Aoyama..."
Dia memanggil kami berdua untuk segera meninggalkan rumah ini... karena kini... rumah yang penuh dengan kenangan manis... sudah bukan lagi tempat dimana aku bisa mencari kenyamanan ku..
.
.
.
Aku dan Mai kembali pulang kerumahku menaiki mobilnya, dan sesampainya disana... saatnya aku merasakannya lagi sebuah perpisahan.
"Kakak... "
"Kamu akan lebih baik jika bersamanya... tenang saja, kita tetap akan bertemu lagi disekolah ataupun jika kau mau memintaku untuk menemanimu berbelanja... dan kamu bisa datang kapan saja kesini... "
"Apa kamu benar benar tidak ingin tinggal bersama-sama... "
Dia uang berasa didepan bangku mobil, menurunkan jendela mobilnya dan bertanya kepadaku.
"Aku akan tinggal disini hingga lulus nanti... dan setelah itu... aku akan ikut denganmu."
"Begitu... aku akan menunggum-."
Dia terdiam begitu melihat anak angkatnya yang membungkuk dihadapannya...
"Maaf, aku telah berbuat sangat buruk kepadamu... aku akan berusaha untuk bersikap baik layaknya seorang anak..."
"Hingga kapanpun itu... kamu tetapi menjadi anakku, dan kamu sudah menemani Mai hingga saat ini... aku juga berterimakasih atas itu..."
"..."
"Jika kamu membutuhkan sesuatu, jangan segan segan untuk memberitahukan hal itu kepadaku..."
"Baik."
Lalu dia menjalankan mobilnya meninggalkanku yang kini sudah akan tinggal berpisah dengan Mai...
"Huh... pada akhirnya... aku tetap sendirian."
Aku masuk kedalam rumahku, dan mematikan semua lampu dan menutup jendelaku, hingga seluruh rumahku begitu gelap karena tidak ada cahaya dari manapun...
Dan aku duduk diujung ruangan kamarku, sambil melipat kedua tanganku dan menenggelamkan wajahku disana...
Setelah semua yang sudah aku alami... aku tidak bisa menahan diriku... pada akhirnya aku hanyalah aku... dan aku tidak bisa melakukan apapun... hanya bisa merenungkan semua yang sudah terjadi...