My Youth Bond Increase!!

My Youth Bond Increase!!
Chapter 134



"..."


"Kakak!."


Suara yang datang dari belakangku langsung datang menghampiriku saat aku berbalik kearahnya.


"Mai..."


*Buk!


Saat dia menghampiriku, tiba tiba saja dia memukulku dengan tas sekolahnya.


"Kenapa kamu memukulku?!."


"Setelah lama tidak bertemu, kamu seenaknya saja menjadi juri dan dengan santainya melihat adiknya sendiri sambil tersenyum!."


"M-Memangnya itu salah?."


"Tidak salah sih, tapi tiba tiba datang menemui Mai dengan menjadi seorang juri... itu benar-benar tidak bisa dipercaya."


"Banyak hal yang terjadi, dan aku ditugaskan menjadi juri didalam acara tersebut.."


"Apa karena kak Sakura dan juga kak Yuuki?."


"..."


"Pasti kakak memiliki masalah lagi dengan mereka bukan? huh... kakak selalu saja tidak bisa diandalkan jika tentang memiliki hubungan dengan perempuan manapun."


"Kamu pun juga seorang perempuan."


"Kalau Mai berbeda... Mai sudah mengenal kakak lebih lama dari siapapun... jadi kakak lebih bisa merasakan hal yang nyaman jika berbicara dengan Mai bukan?."


"Kamu sangat percaya diri sekali.."


"Tapi... Mai sedikit khawatir dengan kakak... saat beberapa hari yang lalu.. kakak jatuh pingsan tepat setelah aku pergi... apa kakak tidak apa-apa?."


"Aku baik-baik saja... namun... ada sesuatu hal yang saat itu datang kepadaku."


"Datang? maksudnya?."


"Sekarang... aku sudah mengingat semua yang terjadi... saat kecelakaan itu, maupun sebelumnya..."


"E-Eh...??."


"Aku telah mengingat semuanya... keluargaku... dan kamu benar... aku memiliki seorang adik laki-laki."


"Tunggu! pelan-pelan! aku masih belum bisa memikirkan semua itu!."


"Kenapa kamu harus memikirkannya?."


"Karena itu adalah ingatan kakak! akhirnya kakak mengingat semuanya!."


Wajahnya terlihat begitu senang, setelah mendengar ingatanku yang sudah kembali seutuhnya.


"Syukurlah... tapi akhirnya, Mai sudah tergantikan ya..."


Disaat kebahagiannya tadi, seketika berubah menjadi sebuah perasaan yang tergantikan.


"Apa yang kamu katakan? bagaimanapun juga aku tetap kakakmu."


"Tapi kakak sudah memiliki adik kandung yang sebenarnya bukan? dan juga kakak akhir-akhir ini tidak pernah menemui Mai disekolah maupun saat wisata sekolah ini... padahal Mai sudah lama ingin mengenalkan kakak dengan teman-teman baru Mai.."


"Yah... akhir-akhir ini memang aku sedang sibuk membantu acara ini, jadi tidak sempat menghubungimu... ( Aku tidak bisa mengatakan, kalau aku memang sengaja tidak ingin bertemu dengannya karena sekarang dia memiliki dunia barunya, dan aku tidak boleh terus menerus menyusahkan dan bergantung pada-).."


"Kakak bohong.."


"E-Eh??."


"Mai tahu saat dimana kakak berbohong hanya dari wajah kakak saat berbicara..."


Karenanya yang begitu pintar mengetahui perasaanku yang sebenarnya, sepertinya aku tidak bisa menyembunyikan apapun darinya.


"..."


"Apa kakak sengaja menjauhi Mai karena tidak ingin teman-teman Mai menganggap Mai memiliki kakak yang mencurigakan, mengerikan, menyebalkan, dan tidak bisa bersosialisasi dengan baik."


"K-Kenapa kamu justru menyebutkan semua kekurangan kakakmu?."


"Aku tidak mengatakan itu adalah kekurangan yang dimiliki oleh kakak.."


"..."


"Semua yang kakak miliki... adalah sesuatu yang menyelamatkan masa lalu Mai yang kelam... karena dengan adanya kakak... mungkin dulu Mai tidak akan bisa seperti ini.."


"Mai..."


"Karena itu..."


Matanya meneteskan air mata yang telah ia tahan selama ini...


"Jangan menganggap diri kakak buruk didepanku... meskipun orang lain beranggapan seperti itu, Mai sama sekali tidak peduli akan hal itu!."


"Itu... tidak boleh... aku tidak ingin membuatmu memiliki lingkungan sosial yang buruk hanya karena keegoisanku..."


"..."


"Aku yang menginginkan hal itu! maka aku akan menerima semua resikonya."


Mendengar perkataannya, aku langsung memeluknya dengan erat karena rasa sakit yang aku rasakan sekarang ini tidak ingin membiarkan dirinya menjalani kehidupan yang sulit..


"Apa yang kamu katakan bodoh!."


"Eh?."


Untuk pertama kalinya... dia mendengar kata tersebut keluar dari mulut kakaknya.


"Kamu adalah adikku... apapun kenyataan dan kondisinya... kamu tetaplah adikku... sampai aku menemukan seseorang yang pantas untuk menjagamu, aku akan melakukan segala hal agar kamu memiliki kenangan hidup yang indah bersama banyak orang... maka dari itu... jangan berkata seperti itu lagi, kamu mengerti?."


"..."


Aku melepaskan pelukanku dan memegang kedua pundaknya dengan lembut... saat aku melihat wajahnya yang basah karena air matanya yang terus menetes di pipinya..


"Kamu mengerti?."


Dengan berat dia menganggukkan kepalanya sesaat kesedihan yang dia alami terasa pada diriku.


Aku menghapus air mata yang membasahi pipinya, dan merasa begitu lega saat pada akhirnya kita bisa saling melepaskan perasaan kita masing-masing.


"Sebaiknya kita berkumpul dengan yang lain... karena kita sudah ingin pulang."


"Um."


"Kamu harus merapihkan barang bawaan milikmu bukan? kalau begitu aku pergi merapihkan barang barang milikku juga."


Saat aku ingin pergi kembali ke penginapan, suaranya memanggil namaku saat sekian lama aku tidak mendengar hal itu...


"A-Aoyama..."


Aku terkejut dan berbalik kearahnya yang kini sedang memalingkan wajahnya dariku.


"Ma-tidak... aku berpikir... jika saja kita tidak ditakdirkan menjadi saudara... mungkin aku ingin bersamamu sebagai seseorang yang bisa berada disisi kamu selamanya!." Senyumannya yang begitu manis dan parasnya yang cantik... aku rasa gadis sepertinya yang begitu sempurna, juga akan menjadi seorang pendamping hidup yang sempurna juga... namun...


"Apa yang kamu katakan? apa kamu ingin mengutarakan perasaan kepada kakakmu sendiri?."


"S-Setidaknya kamu merasa sedikit tergoyahkan!."


"Itu tidak akan terjadi."


"..."


"Itu karena... aku sudah sangat sangat bersyukur kamu menjadi adikku selama ini..."


"Um! aku juga bersyukur... mendapatkan seorang kakak yang merepotkan sepertimu."


"Kalau begitu, sampai nanti pulang dari sini."


"Apa aku boleh mampir ke rumahmu?."


"Eh... bukannya seseorang yang memiliki perasaan lain kepada kakaknya dan telah mengungkapkannya masih sanggup untuk bersamanya?."


"A-Aku hanya ingin mampir dan juga memang biasanya seperti i-."


"Datanglah..."


"..."


"Datanglah kapanpun kamu mau... aku akan menunggumu disana."


"Um... terima kasih."


"..."


Setelah aku meninggalkan sebuah senyuman, aku pun pergi untuk kembali berkumpul...


"( Aku sangat berterimakasih padamu... disaat aku berada didalam kekosongan... kamu mengisi kekosongan itu untuk pertama kalinya... mungkin jika kamu orang yang pertama kali aku temui dan bukan sebagai seorang saudara... aku pun berpikir akan menyukaimu dan ingin memilikimu juga... tetapi, aku tidak menyesalinya... aku tidak menyesali semua kenangan yang kamu berikan... sampai kapanpun itu... aku akan menjadi seorang kakak untukmu..)"


Sebuah dunia baru yang saat itu aku miliki... begitu kosong dan gelap...


Aku seperti sebuah wadah kosong yang baru saja diciptakan tanpa kenangan maupun perasaan...


Namun seseorang yang pertama kali mengisi wadah kosong tersebut.. adalah Mai... seseorang yang membutuhkan sebuah kehangatan yang tidak pernah ia rasakan meskipun memiliki kedua orang tua...


Ikatan yang saling membutuhkan satu sama lain, itu adalah kita berdua...


Aku membutuhkannya didalam hidupku yang hampa, namun dia membutuhkan diriku untuk hidupnya yang kesepian...


Walaupun takdir yang telah mengembalikan ingatanku ini kembali...


Namun semua kenangan itu tetaplah berada didalam hatiku...


Dan aku...


Tetap akan menjadi seorang kakak yang akan terus memperhatikannya dibelakang panggungnya..