
*Ding dong! Ding dong!
Suara bel rumahku yang terus menggangguku saat aku sedang merapikan pakaianku untuk bersiap pergi kesekolah.
Kupikir itu adalah Mai, tetapi ternyata dia...
"Mai, sudah kubilang tunggu seben- Yuuki...?."
"S-Selamat pagi Aoyama..."
"Apa kau menungguku terlalu lama sampai memencet bel rumahku? maaf kalau begitu."
"T-Tidak! kupikir, alangkah baiknya jika aku menyapamu langsung... seperti itu."
"..."
Dia berbicara padaku, tetapi matanya bahkan tidak berani menatapku.
"Dimana Sakura?."
Aku menoleh sekitar, tetapi tidak melihatnya... justru aku melihat wajah Yuuki yang tiba-tiba agak terlihat marah.
"Ada apa?."
"Tidak ada... Sakura sedang ada urusan sedikit, jadi katanya dia akan menyusul.."
"Oh.."
"Sepertinya kau sedang ingin berangkat bersamanya ya..." Nada suaranya yang berbeda dari beberapa menit yang lalu membuatku bingung.
"Tidak juga... hanya saja biasanya kau pergi bersamanya."
"Begitu..."
"..."
Karena perjalanan ini diantara kita begitu canggung dan aku melihatnya yang masih sedikit merajuk, aku langsung memanfaatkan kesempatan ini untuk berbicara padanya.
"Maaf, soal kemarin... rasanya aku salah paham."
"Kemarin yang mana maksudmu?." Dia masih merajuk..
"Yang itu... saat aku terjatuh diatasm-."
"K-Kenapa kamu masih membawa cerita itu!." Dia menutup mulutku dengan kedua tangannya, dan wajahnya yang merah merona.
"Mwemangnya swalah?."
"A-Aku hanya tidak ingin mengingatnya lagi saja!."
Lalu dia melepas tangannya dari mulutku.
"Kau tidak bilang jika tidak ingin mengingatnya lagi, dasar merepotkan."
"Tetapi... saat itu... apa yang ingin kamu lakukan, jika waktu itu terus berlanjut.."
Dia berjalan pelan didepanku, dan mengatakan itu seolah memberikanku persoalan yang begitu sulit.
"Kenapa... kau begitu ingin tahu." Aku tidak bisa mengatakannya...
"Karena, aku harus tahu..."
Jalanan di pagi hari ini begitu sepi dan sunyi, hanya ada kita berdua ditengah jalanan itu... cuaca yang sedikit dingin dan suara dedaunan yang bergoyang karena hembusan angin kencang...
"K-Kau tidak perlu tahu... lagipula tidak ada gunanya mengetahui hal itu."
Tidak puas dengan jawabanku, dia berbalik kearahku dan mendekatkan tubuhnya padaku seperti bersandar didepan tubuhku.
"A-Apa yang kau lakukan??."
"Ternyata benar... ini bukanlah sebuah kebetulan."
Saat beberapa detik dia mundur dan sedikit menjauh dariku.
"Yuu-."
"Ayo cepat, jika tidak kita akan telat masuk sekolah..."
Dia langsung berjalan cepat dan menghindar dari pertanyaanku.
Meskipun kejadian itu terjadi begitu saja, tetapi aku bisa mengingatnya dalam kurun waktu yang lambat... rasanya seperti terjebak didalam jam waktu... dan tidak bisa melupakan secepat menghapus sebuah tulisan menggunakan penghapus...
Akhir akhir ini memang ada yang aneh dengan diriku...
.
.
.
"Baiklah anak anak, semua tugas sudah saya berikan pada kalian, untung kelompoknya, kalian mencari pasangan kalian sendiri setelah ini, dan sepulang sekolah saya harap kalian sudah menentukan pasangan kalian."
Akhirnya muncul... dimana tugas yang sangat dibenci oleh seorang introvert khususnya sepertiku... tugas yang harus dikerjakan oleh kerja sama dengan orang lain... dan pada akhirnya hanya dirimu yang mengerjakan tugas itu... hal itu membuatku mengingat kembali disaat aku duduk dibangku sekolah menengah... para cowok hanya akan bermain dan menyuruhku untuk mengerjakan tugas itu... untung saja saat itu, Sakura berada didalam kelompok dan jadi kita berdua mengerjakannya bersama...
Setelah guru keluar dari ruangan kelas, semua murid langsung rusuh dan bergegas mencari pasangan kelompok mereka... aku tahu, jika aku hanya akan mendapatkan sisanya, beruntung atau tidak, tetap saja aku akan mengerjakannya sendirian...
Aku yang masih santai duduk dikursiku sambil membaca buku, sempat sedikit melihat situasi dan benar saja, Sakura, Touya dan juga Yuuki lebih banyak dikerumuni orang untuk dijadikan pasangan kelompok mereka...
Karena terlalu gaduh, aku pun berencana berpindah tempat ketempat biasanya aku bersantai sendirian...
"Pembagian kelompok apanya... sangat konyol."
Meskipun dunia ini mempunyai aturan untuk setiap manusia saling bekerja sama pun, hal itu tidak akan ada yang tercipta... karena sifat dan pikiran manusia itu berbeda-beda, contohnya orang sepertiku... aku bisa melakukan apa saja sendirian, tidak perlu bantuan siapapun untuk mewujudkan suatu tujuan bersama sama...
Maka dari itu... aku tidak akan pernah bisa mendapatkan pasangan kelompok dengan apa yang aku inginkan... jadi aku bisa bebas melakukan apa saja...
"Ternyata kamu disini! aku sudah mencarimu kemana mana! dasar!." Dia terlihat habis berlari dari kelas hingga kesini, dan nafasnya terengah-engah.
"Apa yang kau lakukan disini? guru sudah mengatakan untuk mencari pasangan kelompokmu sebelum jam pulang sekolah..."
"Maka dari itu aku kesini... Aoyama, apa kamu ingin... b-berkelompok denganku?."
Siapapun yang menjadi pasangannya pasti akan begitu beruntung, karena dia adalah primadona di sekolah ini... namun hal itu sama sekali tidak membuatku senang...
"Ada banyak murid dikelas kita, apa kau begitu yakin ingin satu kelompok denganku?."
"Kenapa kamu mengatakan seperti itu? a-aku hanya merasa kasihan melihatmu yang tidak mendapatkan kelompok... jadi dengan baik hati aku ingin satu kelompok bersamamu... ini hanya ada kesempatan seumur hidup loh."
"J-Jadi... kamu mau?."
"Begitulah."
Tiba tiba wajahnya tergambarkan rasa senang dan tersenyum begitu gembira.
"Kenapa kau begitu senang?."
"E-Eh? t-tidak! siapa juga yang senang."
"Wajahmu terlihat jelas seperti itu... justru aku merasa kasihan karena kau pasti ingin satu kelompok denganku dari awal bukan?."
"S-Siapa yang bilang! aku tidak merasa seperti itu!."
"Kau sangat mudah ditebak."
"Berisik! dasar menyebalkan!."
Aku tidak tahu apakah aku mendapatkan jackpot atau justru bom... tetapi satu kelompok dengannya menurutku tidak terlalu buruk... mungkin aku bisa melakukan pekerjaan sedikit saja...
"Ternyata sudah keduluan ya... sepertinya aku sedikit tidak beruntung..."
......................
Jam pulang sekolah...
"K-Kakak~."
"Ada apa? kau terlihat sedang kesulitan..."
"Di kelasku... aku selalu didekati dengan banyak lelaki... aku merasa tidak nyaman.."
"( Eh? dia sedang menghinaku atau memang sedang tersiksa dengan kepopulerannya? aku tahu dia itu sangat imut, tapi siapa yang berani mencoba mendekatinya? tetapi aku tidak pantas untuk marah... lalu apa yang harus aku lakukan?? )"
"Ah! ada Mai juga disini."
Mai menoleh kearah Yuuki dan juga Sakura.
"Kak Yuuki! kak Sakura! aku tidak sanggup terus menerus digoda oleh teman sekelasku!."
"Y-Yah... mungkin karena Mai terlalu imut?."
"B-Benarkah?."
"( Apa ada waktu untuk tersipu??! )"
"Tapi, Mai sangat terganggu apalagi saat belajar... apa kakak tahu? sudah ada lebih dari sepuluh surat yang selalu diberikan padaku..."
"S-Sepuluh?."
"Bahkan Yuuki sekalipun tidak pernah mengalami hal seperti itu..."
Mereka berdua hanya bisa membayangkan betapa terkenalnya Mai meskipun baru saja masuk disekolah ini.
"Hei, ada apa ini? apa aku ketinggalan sesuatu?."
Touya datang disaat waktu yang tepat...
"Kak Touya! apa kak Touya punya ide atau cara untuk agar tidak dikejar oleh teman sekelas?."
"Hmm... sepertinya aku ada satu atau dua cara."
"Benarkah?."
"( Jangan didengar... caranya hanyalah cara sesat... )"
"Kau hanya perlu mengatakan... maaf, aku sebenarnya menyukai kakakku saja." Sambil meragakan gerakannya seperti seorang gadis.
"M-Mana mungkin aku berkata seperti itu!."
"Tetapi kenyataannya benar."
"Um um."
"Apa aku tidak mendengar hal yang buruk didepanku persis?."
"Tidak tidak, itu adalah cara yang tepat.. jika begitu, mereka akan mengincar kakakmu dan segera menghilangkannya dari dunia ini."
"K-Kalau begitu aku makin tidak akan melakukannya!."
"T-Tunggu Touya! kalau seperti itu aku juga tidak setuju!.
"Aku juga!."
Mereka bertiga dengan kompak tidak menyetujuinya.
"Aku dikepung oleh penggemarnya..."
"Kamu hanya perlu mengatakannya saja, jika kamu tidak suka didesak seperti itu." Usul Sakura kepada Mai.
"Tapi..."
"Kamu boleh membalas mereka seperti apa... karena kamu adalah kamu, jadilah dirimu sendiri." Ucap Yuuki sambil mengelus pundaknya.
"Baiklah... besok aku akan berusaha!."
"Yosh! sebagai perayaannya, kita akan makan malam bersama dirumah Aoyama!."
"Wah! itu akan menarik!."
"Um! aku akan membantu mempersiapkan masakannya."
"Mai juga ikut!."
"Kenapa kalian membuat rencana tanpa persetujuan tuan rumahnya?."
"Hei hei Aoyama, tidak baik menolak suatu kesenangan orang lain tahu... kau pasti akan menerimanya kan?."
"Kau sangat menyebalkan..."
"Yeah! tuan rumahnya sudah mengizinkan!!."
Dan semua berakhir dengan aku yang terkena hal buruknya...