
"..."
"..."
Kesunyian ini terus berlanjut... ketika aku menghunuskan pisaunya.
"Huh... memangnya siapa yang ingin membunuhmu? kau terlalu berharap."
"Aoyama, kamu membuatku hampir jantungan."
"Aku hanya ingin mencoba ketajaman pisaunya, yah... cukup tajam."
Setelah kesunyian itu, semua kembali dalam situasi yang baik... karena aku tidak mencoba melukainya, namun aku menusuk pisau itu ke kaki meja yang menjadi sandarannya.
Dia masih merasa syok akibat apa yang aku lakukan dengannya, hingga dia kembali mengatur nafasnya.
Aku berjalan menuju ke tempat duduk yang aku duduki sebelumnya, dan mengambil ponsel yang masih dalam keadaan merekam suara.
Aku memberhentikan rekamannya dan memutarkan kembali ke waktu saat aku berbicara dengan Adam berdua didalam ruangan ini.
"Tuan Sakamura... sebaiknya kau harus mendengarkan rekaman ini terlebih dahulu."
"..."
Aku pun memutarkan kembali rekaman disaat Adam berbicara denganku.
"Sakamura yang bodoh itu terus bergerak untuk diriku, dan pada akhirnya aku bisa mendapatkan dua keuntungan dalam satu arahan kepada orang bodoh!."
"Sudah kuduga, kau juga akan menghancurkan keluarga Sakamura."
"Memangnya kenapa? orang bodoh akan selalu jatuh, sampai dia tidak bisa melakukan apa apa, dan mati seperti anjing kelaparan!"
"Tidak... mungkin."
"Sejak awal kau sudah menjadi alat untuknya menghancurkan keluarga Nijiro, lalu sekarang keluarga Shiraishi... dan setelah dia berhasil menghancurkannya... selanjutnya adalah dirimu."
"..."
"Kau telah membuat dirimu sendiri jatuh secara perlahan, dan semua yang telah kau rencanakan menjadi sia sia nantinya... meskipun kau berhasil menyatukan keluarganya dengan keluargamu, itu akan menjadi mudah baginya untuk langsung menjatuhkan dirimu bersama mereka."
"..."
"Namun jika kau ingin... cukup bekerja sama denganku, untuk memberitahukan dimana Celestia disekap... aku yakin ini akan lebih baik dari apa yang telah kau pilih."
"..."
"Beritahu aku dimana dia."
.
.
.
"Apa yang akan kita lakukan lagi?"
"Aku sudah memberikan pesan dimana tempat Celestia berada ke Kuchima... dan kalau bisa aku ingin minta tolong guru untuk membantu mereka membuka jalan, karena pasti disana banyak penjaga dari bawahan Sakamura disana."
"Kalau begitu oke, aku akan segera kesana... tapi kamu ingin kemana?"
"Aku ingin pergi ke aula tengah, untuk menemui Yuuki disana, dan memberitahukannya."
"Bukankah seharusnya aku bersamamu dan membantumu? karena disana pasti akan ada lebih banyak orang."
"Tapi disana juga banyak tamu undangan, kekerasan langsung di depan para tamu tidak akan mungkin dilakukan."
"Benar juga, yaudah kalau begitu aku akan membantu mereka yang ada diatas."
"Baik..."
"..."
"Guru Baki."
"Ada apa?"
"Terima kasih... lagi lagi aku diselamatkan oleh anda."
"Haha, ini sudah menjadi pekerjaanku!"
"Seperti biasa... pekerjaan anda tidak ada yang benar."
"..."
Dia tersenyum kecil dan pergi untuk membantu Kuchima dan Touya pergi untuk menyelamatkan Celestia.
Dan aku kembali ke Sakamura yang saat ini sedang termenung diam dalam keadaan tangan yang sudah diikat olehku.
"Aku ingin anda tenang disini, semua akan baik baik saja jika anda tidak melakukan sesuatu yang buruk."
"Kau... bukanlah Kizuku Aoyama."
"..."
"Sejak awal aku sudah mencurigai dirimu... dari awal... sejak aku melihat wajahmu itu.. aku selalu teringat seseorang yang menjadi trauma bagiku."
"Aku belum ingin mengurus masalah ayahku denganmu sekarang... karena semua sudah berjalan sesuai dengan takdirnya."
"..."
"Jangan lari dari ruangan ini."
Aku langsung berjalan menuju pintu luar, namun perkataan dirinya langsung membuatku terdiam.
"Adikmu... juga selamat dari kecelakaan itu."
"..."
......................
"Berlutut dan angkat tangan kalian keatas!"
"Kuchima... sudah saatnya untuk memberontak bukan?"
"Tapi..."
*Ting!
Tiba tiba suara notifikasi berbunyi dari ponsel Kuchima, dan dia mengambil ponsel itu dari kantungnya secara diam diam.
Mereka berdua melihat dengan jelas isi pesan dariku... lokasi tempat dimana Celestia berada.
Dan Touya tersenyum kecil sambil melebarkan matanya.
"Kalau begini, kita bisa bergerak bukan?"
"Ya!"
Salah satu penjaga datang mendekati mereka..
"Berlutut seperti yang sudah aku kata-"
*Buk!!
"Argh..."
Touya langsung memukul perut penjaga itu hingga jatuh tersungkur.
"Sudah saatnya kita mulai!."
"Semuanya! tangkap mereka berdua langsung!"
Keadaan didalam ruangan itu langsung ricuh, dan semua penjaga secara bersamaan datang menghampiri mereka berdua.
"Kak Tsukasa! Kak Shoto, kita akan keluar dan menemui Celestia!"
Kuchima memberikan informasi kepada mereka yang jaraknya sedikit jauh, dan setelah mendengar itu, Shoto dan juga Tsukasa juga mulai bergerak membantu mereka berdua.
Tsukasa yang langsung maju kedepan untuk menghajar satu satu penjaga dengan bela dirinya yang sangat lihai dan cepat, dia bisa membuka jalan menuju pintu luar.
Sedangkan Shiro tetap berada didekat kedua saudara perempuannya untuk melindungi sekitar mereka.
"Kak Sayu, Natsu, kalian berdua jangan jauh jauh dariku."
"Baik."
"U-Um!."
Mereka pun menghabisi satu persatu penjaga yang datang, dan saling mendekat satu sama lain agar bisa saling membantu.
Saat Tsukasa dan Kuchima saling memunggungi, Tsukasa memastikan untuk bertanya kepada Kuchima.
"Apa kalian sudah tahu tempatnya?"
"Ya, Aoyama sudah memberikan pesan kepadaku dan juga tempatnya."
"Dimana?"
"Dek kapal sebelah kanan setelah keluar dari ruangan ini, dan kita akan kebawah."
"Tapi kita juga membawa dua perempuan."
"Aku akan menemani kak Sayu dan Natsu pergi ke luar kapal diatas, kalian bertiga pergi saja." Shoto langsung bergabung dan menawarkan dirinya yang melindungi Sayu dan Natsu.
"Kalau begitu aku akan menemani mereka berdua kebawah, kau harus hati-hati."
"Ya."
Setelah mereka berhasil keluar dari ruangan, keduanya langsung berpisah karena arah tujuan mereka berbeda.
Sayu, Natsu, dan Shiro pergi keatas untuk keluar dari dek kapal karena di bagian luar kapal masih banyak tamu tamu undangan yang berada disana.
Lalu Touya, Kuchima, dan Tsukasa yang menemani mereka berdua kebawah dek kapal untuk menyelamatkan Celestia.
Karena Shiro dan mereka berdua berlari mengarah ke luar, semua penjaga itu berpikir untuk mengejar kelompok Kuchima yang berlari menuju lebih dalam kapal.
"Sepertinya mereka semua lebih ingin mengejar kita."
"Kalau begitu bagus, kak Shoto dan yang lain tidak akan dikejar oleh mereka lagi."
"Tapi kita juga harus mencari cara agar bisa meloloskan diri dari puluhan penjaga itu."
Saat mereka ingin berbelok arah, tiba tiba ada seorang pria besar yang juga berlari berlawanan arah dengan mereka.
"W-Woaah!"
Semuanya langsung terkejut dan berhenti berlari bersama dengan pria besar itu.
"Eh? Guru Baki??"
"Nak Touya! akhirnya aku menemukanmu."
"Touya, kamu mengenalnya?"
Kuchima dan Tsukasa merasa kalau melawan pria besar ini adalah hal yang mustahil.
"Tenang saja, guru Baki orang yang baik!."
"Um, seperti yang Nak Touya katakan, kalian harus lanjut pergi untuk menolong teman kalian... biar aku yang mengurus mereka."
Guru Baki berjalan dengan santai melewati mereka bertiga sambil membunyikan jari jari tangannya yang sudah siap untuk menghajar pantat penjaga itu satu persatu...
"Kuchima, kak Tsukasa, ayo!"
Mereka bertiga langsung pergi meninggalkan guru Baki yang mengurus semua penjaga itu.
Saat para penjaga itu berhenti berlari karena melihat seorang pria besar yang menghalangi jalan mereka, semuanya langsung maju tanpa melihat perbandingan antara mereka dan juga guru Baki.
"Baiklah, siapa yang ingin belajar denganku?!"