
Malam hari didalam kelasku, aku duduk diatas bangku sambil mendengarkan musik dengan earphone biru ku...
Meski hal ini adalah hal yang tidak biasa dilakukan murid pada malam hari disekolah, tetapi untuk malam terakhir festival budaya sekolah, kami diizinkan untuk memakai gedung sekolah ini hingga besok dengan bebas dan tentunya tetap di jaga oleh pihak keamanan sekolah.
Jadi tentu saja jika mungkin aku akan pulang saja kerumah dan melakukan segala hal urusan yang ada dirumahku.
Karena suatu alasan yang merepotkan, terpaksa aku harus berasa disini entah sampai kapan atau mungkin saja hingga besok pagi aku berada didalam gedung sekolah ini.
Sekolah kami terlalu bersih dan rapih, jadi tidak ada tempat yang tidak diurus dan membuatnya menjadi ruangan menyeramkan atau terkutuk... karena juga memang sekolah ini terlalu terang meski beberapa tidak dinyalakan untuk menghemat listrik untuk menyinari beberapa area sekolah hingga ruangan kelasku seperti tidak terlihat dan hanya karena hitam gelap dari luar.
Aku menyalakan ponselku dengan lesu, seperti tidak ada tenaga sama sekali untuk pergi mengambil sekaleng kopi atau hal lainnya agar tidak membuatku mengantuk.
"Membosankan.. " Kata itulah yang terus menerus menggenang didalam kepalaku seperti hanya menatap layar ponsel yang semakin lama cahayanya redup dan akhirnya layar itu mati dengan sendirinya.
Didalam ruangan yang gelap tanpa bisa mendengar suara dari luar, aku tidak menyadari jika ada seseorang yang mendekatiku perlahan dari belakang tanpa bersuara sedikitpun.
Tanpa aku sadari, dia sudah berada tepat dibelakang kepalaku yang sedang duduk sambil memejamkan mataku dengan tenang...
Seharusnya aku bisa menyadari angin maupun hawa keberadaannya, karena cukup lelah aku tidak bisa merasakan hal hal seperti itu sekarang.
Perlahan dia meraih salah satu earphone yang menutup telingaku di bagian kiri.
Lalu perlahan membuka earphone tersebut dan berbisik kepadaku... tepat di telingaku.
"Hei.. " Suaranya yang halus menggelitik telingaku hingga membuatku merinding sekujur tubuh.
Aku yang sontak terkejut dan langsung bangun dari bangku tersebut dan melihatnya.
"Sakura... hampir saja jantungku ingin lepas.. "
"Kamu terkejut?. "
"Jangan melakukan hal aneh ditempat gelap seperti ini... untung saja itu aku.. "
"Hm~ bagaimana jika itu bukan kamu?. "
"Aku tidak tahu, mungkin saja kau berakhir bersamanya?. "
"Menurutmu begitu?. "
"Seharusnya.. " Aku melepaskan earphone yang sebelah kanan masih berada di telingaku.
"Aku mengira kamu sudah pulang... "
"Kalau begitu apa ada yang ingin kau lakukan? kembali kedalam kelas yang gelap ini. "
"Tidak ada yang ingin aku lakukan kok.. "
"Lalu?. "
"Menurutmu kenapa aku kesini?. " Dia mendekatiku yang sedang berdiri bersender di dinding kelas.
Wajahnya mendekatiku dengan tatapan yang mengharapkan jawaban menarik untuknya.
"Mana aku tahu, seseorang sepertimu itu sangat merepotkan untuk dipikirkan.. " Dengan datar aku berusaha mengatakannya.
Lalu dia memasang wajah kecewa sambil berjalan mundur.
"Sekarang kamu sudah tidak seperti dulu lagi... apa beberapa tahun ini kamu mengalami sesuatu?. "
"Tidak ada... mungkin hanya perasaanmu saja. "
"Perasaanku ini selalu benar adanya... kamu ingin tahu? apa yang aku rasakan saat ini?. "
Lagi lagi dia mendekatiku dan kali ini jaaraknya sangat tipis hingga membuat pikiranku runtuh.
"L-Lebih baik hentikan... sudah kukatakan jangan melakukan hal yang aneh di tempat seperti ini.. "
Mencoba untuk menahan diriku, aku perlahan mendorong mundur tubuhnya dari depanku.
Tetapi dia justru memegang lenganku yang sedang berusaha untuk mendorongnya dari pundaknya yang terlihat sangat halus.
"Justru ditempat seperti ini... bukannya lebih baik?. "
Dia bukan seperti Sakura yang biasanya... menurut kalian seperti itu... tetapi memang itulah sifatnya.
Dari dulu dia selalu ahli dalam merubah kepribadiannya menjadi sesuatu hal yang tidak bisa dipikirkan.
Terkadang dia menjadi gadis polos yang pemalu, pelayan yang patuh, orang yang tangguh, bahkan yang agresif seperti ini... tapi sepertinya kalian sudah melihat sifatnya yang seperti ini saat aku bertemu dengannya kembali pertama kali saat aku baru saja diberikan pekerjaan oleh ayah Yuuki untuk menjaganya bersama dengan dia.
"Jangan mengatakan hal konyol, aku sedang tidak berniat untuk melakukan hal seperti ini.." Sambil melepaskan pegangan nya.
"Sayang sekalii.. kalau begitu aku akan menunggumu hingga kamu berniat.. "
"Hal seperti itu tidak akan terjadi.. "
Lalu dia berjalan kearah jendela luar sambil melihat pemandangan diluar kaca jendela itu dengan hawanya yang sangat tenang.
Saat waktunya, angin berhembus dari luar dan menerbangkan rambut panjangnya itu hingga terlihat sangat menawan sosoknya yang berdiri disinari oleh cahaya rembulan malam itu.
"Berarti apa yang kau lakukan selama ini sebegitu menyenangkan hingga tidak merasakan lamanya waktu. " Balas ku sambil duduk diatas meja.
"Bagaimana denganmu?. "
"Setiap harinya semakin lama semakin berjalan lambat... hari hari yang melelahkan ini seperti terus ingin menemaniku disini.. "
"Tetapi menurutku, semua ini tetap menyenangkan... bahkan aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu seperti ini. " Dia merapihkan rambutnya yang tertiup angin dengan mengelus nya kearah belakang telinga.
"Tidak ada waktu yang bisa diulang kembali... jika memang benar adanya, aku hanya ingin menghabiskannya dengan melakukan hal yang aku inginkan. "
"Berkencan denganku?. "
"Jangan berharap terlalu tinggi... lagipula masih banyak orang yang ingin pergi bersama orang sepertimu.. "
"Mengatakan hal seperti itu... sedikit membuatku curiga denganmu.. " Senyuman nya memberikan kesan indah di pandangan.
"Tidak ada hal lain yang aku pikirkan melebihi batas pikiranku saat ini. "
"Begitu... aku sedikit mengurangi nilai kepekaanmu itu.. "
"Terserah yang kau bicarakan... tetapi aku bukan orang yang munafik, perkataanmu itu ada benarnya juga.. "
"Eh?. "
"Soal waktu yang berjalan begitu cepatnya... menghabiskan waktu yang menyenangkan dengan sangat cepat hingga ingin meminta waktu lebih banyak lagi hari ini... seperti itu. "
Dia melihatku dengan penuh perhatian.
"Dan juga, terima kasih untuk tadi siang... adikku menjadi merepotkan waktumu.. "
"Tidak... justru aku senang bisa bersenang-senang dengan Mai lagi.. "
"Jika itu yang kamu rasakan, berarti syukurlah... aku merasa sedikit bersalah tidak menemaninya berkeliling disini.. "
"Masih ada hari terakhir... kamu bisa melakukannya besok.. "
"Kau benar... "
"... "
"Jadi... saatnya aku menagih permintaanku.. "
"Ha?. "
"Permintaanku sebagai hadiah balasan dari menemani adikmu berkeliling bukan?. "
"Tidak... kapan aku mengatakan yang seperti itu.."
"Kamu yang memintaku dan mengatakan itu?. "
"Tapi aku tidak memberikan permintaan kepadamu. "
"Jadi begitu? kamu tidak ingin memberikan satu permintaan saja kepadaku?. " Tatapannya seolah menghipnotisku dengan paksa.
Setelah dia menatapku begitu lama dengan wajah memelas nya, terpaksa aku tidak bisa menolaknya.
"Baiklah baiklah... hanya satu dan yang hanya bisa kulakukan saja. "
"Kalau begitu... " Tubuhnya bersandar di tubuhku sambil mengambil ponselku yang berada di kantung celanaku.
Lalu dia melakukan sesuatu pada ponselku yang tidak bisa aku lakukan untuk menentangnya.
"Pada jam ini... aku ingin kamu menemuiku ditaman belakang..." Dia menunjukkan sebuah timer waktu pada pukul 09.00 esok pagi didalam ponselku, lalu dia memberikan ponsel itu kepadaku kembali.
"Kenapa aku harus menemuiku pada jam segitu?."
"Makanya datang saja... aku akan menunggumu disana.. " Lalu dia berjalan melewatiku dan pergi keluar kelas untuk kembali ke aula sekolah..
"... "
"Apa maksudnya semua ini... " Sambil menatap timer yang sudah dipasang olehnya.
.
.
.
"( Sepertinya aku terlalu berlebihan tadi... tetapi jika itu untuknya, tidak ada hal yang berlebihan untuk kuberikan kepadanya.. ehem.) Suasana hatinya yang sangat senang, berjalan kembali ke aula sekolah untuk menemui yang lainnya... tetapi saat dia berjalan, dia menginjak sesuatu di kakinya.
" Eh? ini.. " Dia memungut benda yang dia tidak sengaja menginjaknya yang ternyata itu adalah sapu tangan berwarna merah muda dengan motif bunga mawar merah darah.
"Ternyata dia benar benar kesini... ceroboh nya.. " Dengan lembut dia tersenyum saat mengetahui sapu tangan yang berada di lantai tersebut.
Sorry karena sudah 5 hari lebih tidak upload chapter... karena beberapa hal jadi saya tidak mempunyai waktu untuk membuatnya..