
*Tok! Tok! Tok!
"Kakak, sudah pagi, cepat ba-."
Sebelum Mai menyelesaikan katanya, tiba tiba pintunya langsung terbuka dan membuatnya sedikit terkejut.
"Selamat pagi! Mai."
Aku langsung berjalan melewatinya setelah mengelus kepalanya sebagai salam di pagi hari.
Dia pun kebingungan dengan sikap diriku hari ini seperti ada hal yang sangat menyenangkan.
"Aoyama, kamu sudah bangun?."
"Sudah Nek."
"Ada apa? kelihatannya kamu sedang gembira hari ini?."
"Tidak apa apa, hanya suasana hatiku sedang baik saja hari ini."
"Baguslah kalau begitu."
"Kakak, aneh sekali."
"Mm.. ada apa memangnya?." Ucapku membalasnya sambil memakan roti lapis buatan nenek.
"Beberapa hari yang lalu kakak sangat murung dan tidak ingin bersekolah, sekarang... semangat sekali, memangnya apa sedang ada hal yang menarik di sekolah kakak?."
"Tidak."
"Kalau begitu, ingin membeli game baru."
"Tidak juga."
"Aahh... pasti tentang Kak Sakura."
"T-Tidak juga, sudahlah, aku ingin bergegas berangkat ke sekolah."
Setelah selesai makan, aku langsung mengambil tas sekolahku dan langsung berpamitan dengan mereka berdua.
Hari ini bukanlah hari dimana aku bisa bahagia, namun hari ini adalah hari yang menjadikan sebuah pilihan untukku.
sebuah penantian untuk melihat sebuah penentuan...
Selama aku berjalan, yang ada didalam pikiranku hanyalah pemikiran optimis dan percaya diri, jika aku bisa melakukannya...
Namun aku sedikit heran... biasanya Sakura pergi ke sekolah sangat pagi, dan hari ini kebetulan aku berangkat sekolah lebih pagi dari biasanya, namun aku tidak melihatnya sedikitpun.
Dan tiba-tiba sebuah mobil sedan hitam melewatiku, dan sedikit menarik perhatianku begitu aku melihatnya.
"( Apa mungkin, Sakura juga mempunyai mobil kaya seperti itu? mungkin saja, keluarganya ternama, dan orang tuanya cukup terkenal... kalau dipikir-pikir, aku dan dia terlihat sangat jauh perbedaannya... tidak boleh! untuk hari ini aku harus memikirkan satu hal saja!..)"
.
.
"Ao..."
"Ada apa Sakura?."
"Perasaan... tadi bukannya Aoyama??." Ibu Sakura yang tidak sengaja melihat keluar, dan melihatku yang berjalan disana.
"Kenapa tidak sekalian dia berangkat bersama kita saja?." Ayah Sakura berencana ingin menghentikan mobilnya untuk mengajakku naik kedalam mobil.
"T-Tunggu."
"Ada apa?."
"Sepertinya... itu bukan Ao."
"Benarkah? kita lihat dulu saja."
"Nanti aku bisa telah pergi ke sekolah, aku rasa dia sudah lebih dulu berangkat ke sekolah."
"..."
"Benar juga, kalau begitu aku lanjut saja."
"Ibu sudah lama tidak melihatnya, nanti saat kamu bertemu dengannya, jangan lupa memberitahukan kepada ibu ya."
"Um... aku mengerti.."
Bukan sebuah kesengajaan buruk Sakura melakukan hal itu... justru dia tidak ingin aku tahu jika orang tuanya ingin ke sekolah untuk mengambil surat perpindahan sekolah.
Dan karena janji yang dia ucapkan, dia tidak ingin aku mengetahuinya... atau belum boleh mengetahuinya...
......................
Seperti biasa, aku selalu datang ke sekolah hampir telat dan begitu aku masuk kedalam kelas, tiba tiba bel sekolah berbunyi untuk memulai jam pelajaran.
Aku bergegas duduk dan menyiapkan buku, sampai aku tidak sadar jika dia sudah berada disana.
Aku melihatnya beberapa saat, namun dia tidak pernah menolehkan wajahnya kearahku, meskipun aneh, namun aku tidak ingin memikirkan hal semacam itu sekarang.
.
.
*Kringgg!!!
"Sakura."
Saat aku memanggil namanya, dia sedikit terkejut dan langsung berbalik kearahku.
"A-Ao, ada apa?."
"Setelah sekolah berakhir, apa kau masih ingat?."
"Ah, um... aku ingat kok..."
"Seperti itu... dan juga a-."
"Maaf, aku ingin ikut dengan teman-temanku ke kantin, kita lanjutkan nanti ya."
"Y-Ya... baiklah."
Dia langsung pergi keluar kelas bersama teman-temannya, sedangkan aku masih terdiam disana untuk sedikit berpikir...
"Apa yang kau lakukan padanya?."
Dan setelah itu dia datang memberikan sebuah pertanyaan padaku.
"Apa maksudmu."
"Pagi ini, saat aku ingin berbicara padanya... dia menghindarinya dengan alasan, sudah dua kali hari ini aku yang kali ini dijauhi olehnya."
"Aku tidak melakukan apa apa."
"Tidak perlu berbohong... aku tahu kau mengatakan sesuatu padanya dan membuatnya menjauhiku kan?!."
"Jangan membawaku kedalam masalahmu... jika dia memang menjauhimu, mungkin itu adalah balasan baik untukmu."
"Sial! kau-."
Saat dia yang sudah begitu emosi ingin memukulku, namun semua yang melihat kita didalam kelas membuatnya terpaksa untuk menghentikannya.
"..."
"Tch!."
Dia pun pergi tanpa mendapatkan apapun, dan aku kembali duduk di bangku untuk menunggu jam istirahat berakhir...
"Huh... ( Aku tidak boleh terpancing olehnya... cukup untuk hari ini saja, aku tidak ingin berbuat masalah padanya...)"
Rasanya begitu berbicara dengannya, aku ingin sekali mengatakan jika semua yang dia bicarakan, hanyalah omong kosong..
Sekali saja aku ingin membuatnya sadar, jika masih ada kesempatan untuknya dan kita bertiga bersama kembali.
Namun mungkin itu adalah hal yang mustahil, jika aku mengungkapkan perasaanku lebih dulu darinya... dan menjadikanku seorang yang buruk.
Masih ada kesempatan baginya untuk memahami lebih perasaan Sakura, dan aku justru langsung melakukan hal ini dan meninggalkan dirinya.
Entah mengapa aku pun merasa tidak ingin melepas Sakura... dan secara bersamaan aku juga tidak ingin dia meninggalkan kita, dan itulah keegoisan diriku, yang tidak akan aku biarkan hal itu terjadi.
Aku harus bisa memilih, siapa yang harus aku pertahankan... dan siapa yang akan menjauhiku.
.
.
.
Waktu sudah menunjukkan pulang sekolah, dan susah saatnya aku harus lebih dulu pergi kesana...
Saat itu waktu berjalan begitu lambat, entah mengapa jantungku tidak siap untuk mengatakannya karena berdegup sangat kencang.
Diatas atap ini begitu sunyi dan hening... hanya ada suara hembusan angin dan suara suara jauh dari para murid dibawah sana.
Aku sudah yakin untuk melakukan ini, aku yakin dan aku tahu... semua ini akan terjadi cepat atau lambat.
Aku tidak ingin menunda kembali dan tidak lagi sebelum aku kehilangan dirinya.
"Ayolah Aoyama... aku tahu kau pasti bisa melakukannya... hanya katakan apa yang ada didalam pikiran dan hatimu saja... kau pasti bisa..."
Aku sedikit mempersiapkan diriku untuk melakukannya...
Semakin lama aku menunggunya, semakin cepat juga jantungku berdegup kencang, semua ini lebih menegangkan daripada melihat hasil nilai ujian.
Entah kenapa didalam pikiranku sempat berpikir bagaimana jika dia menolaknya, dan apa yang harus aku lakukan setelah itu...
Aku mungkin tidak akan sanggup untuk memperlihatkan wajahku lagi, dan beberapa lama kemudian aku sudah melihatnya pergi meninggalkan diriku bersamanya.
Mungkin itu adalah jalan terburuk yang bisa aku pikirkan sampai saat ini.
Namun aku langsung menggelengkan kepalaku dan menghapus semua pikiran buruk yang terus menghantuiku.
"Ayolah... jangan seperti ini."
*Kreett
Suara pintu besi yang menuju kedalam sekolah terbuka, dan aku langsung berbalik terkejut...
Dan tidak menyangka... waktu dimana aku bisa menentukan takdirku...
Sudah sampai disini...