
"Lelah sekali... setelah semua yang sudah aku lakukan, akhirnya aku bisa kembali pulang..."
Aku membuka pintu rumahku dan disana aku melihat ruang tamu yang menyala, padahal sebelum aku pergi tadi pagi, aku sudah mematikan semua lampu dirumahku.
Aku yang kebingungan langsung berjalan perlahan masuk sambil memanggil Mai yang mungkin dia datang ke rumah.
"Mai? kamu disini?."
Aku berjalan dan kini sudah berada didalam ruangan.. hingga aku menoleh keseluruhan tempat, namun aku tidak melihat siapa siapa.
"Ao? kamu sudah pulang?."
Suaranya yang begitu lembut, datang dari belakangku...
Tubuhku seakan bergetar karena terkejut akan suaranya yang ada disini.
Saat aku menoleh kebelakang, dirinya yang sedang memegang sebuah alat memasak dengan memakai celemek putih sedang tersenyum manis kepadaku.
"Sakura... K-Kamu..."
"Ada apa? oh iya, aku sedang memasak makan sarapan untukmu, tunggu sebentar ya."
Dia kembali berbalik kearah dapur untuk memasakkan sarapan untukku... namun tanpa sadar aku langsung memeluknya dari belakang dengan sangat erat.
"Ao, apa yang kamu lakukan?."
"Sakura... aku pikir kamu sudah pergi meninggalkanku! aku pikir tidak bisa bertemu denganmu lagi!."
Perasaan gembira yang tiada tara ini terus mengalir diseluruh tubuhku, tidak ada yang bisa aku pikirkan saat ini... Hanya ada perasaan senang disaat bisa memeluknya kembali.
"Apa yang kamu katakan? aku terus berada disini kok.... bersama denganmu."
"Tetapi kemarin... kamu meninggalkanku."
"Aku tidak pernah meninggalkanmu... sampai kapanpun itu."
"Aku sangat senang mendengarnya."
"Tetapi aku rasa... kamu menjauhiku secara perlahan."
"Apa maksudmu?."
"Kamu mulai melupakanku, dan sudah tidak memikirkan diriku lagi."
"Aku tidak melakukan hal seperti itu.."
"Kamu melakukannya..."
"..."
Tanpa sadar dirinya yang berada didalam pelukanku, secara tiba-tiba menghilang begitu saja.
"Sakura? kamu ada dimana?!."
Aku langsung terkejut dan menggelengkan kepalaku kesana kemari mencari keberadaan dirinya.
"Aku senang.."
"..!!."
Aku langsung berbalik kebelakang kearah suara tersebut ada...
Dia berdiri dengan tatapan yang begitu ringan, hanya tersenyum tipis sambil melihatiku.
"Kamu menuruti permintaanku... namun hatiku cukup terluka begitu melihatmu secepat itu berpindah hati."
"Apa yang kamu katakan?."
"Sekarang kita sudah memiliki perasaan yang berbeda... aku hanya bisa kembali melihat dirimu dari jauh."
Dari ujung rambutnya, mengeluarkan sebuah percikan cahaya putih yang mengkilap..
"T-Tunggu Sakura! jangan pergi!!."
Aku berusaha untuk menggapainya namun kakiku terasa tidak bisa bergerak satu inci pun...
"Bagaimanapun juga aku tidak akan pernah melupakanmu, dan aku tidak akan pernah melupakan perasaan ini..."
Tubuhnya sebagian menghilang menjadi sebuah cahaya putih yang berterbangan...
"Tidak!! Sakura!! jangan pergi kumohon!."
"Semua itu karena satu hal yang bisa membuatku terus mempertahankan perasaan ini.."
"..."
"Karena aku mencintaimu."
"Sakura!!!."
Tiba-tiba aku bangkit dari tidurku, lalu menatap diriku yang penuh dengan perban dan luka lebam..
Tempat yang tidak aku tahu, seperti didalam ruangan apartemen...
"( Aku... berada dimana..)"
Perlahan aku bangkit dari tempat tidur lalu berjalan ke ujung ruangan, yang memiliki sebuah meja dengan banyak sekali peralatan diatasnya.
Tempat yang sedikit berantakan, namun semuanya ditata begitu rapi pada tempatnya.
*Klek!
Pintu ruangan yang terbuka membuatku sedikit terkejut..
"Anda sudah sadar..."
Ternyata orang yang menyelamatkanku saat aku pingsan adalah Erlic, selepas aku kembali mengingat bertemu dengannya tadi malam.
"Erlic... kamu yang membawaku?."
"Anda jatuh pingsan saat berada ditengah jalan, dan saya tidak bisa membawa anda pulang kerumah anda karena jaraknya yang cukup jauh."
"..."
"Jadi satu-satunya cara hanya membawa anda kedalam apartemen saya."
"Aku... berterimakasih."
"Bagaimana keadaan anda?."
"Oh, maaf."
"Aku baik-baik saja, dan juga terima kasih karena sudah membantu menyembuhkan lukanya."
"Tidak masalah..."
"Kamu sendirian tinggal disini?."
"Ah ya, namun aku lebih banyak meluangkan waktuku untuk bekerja."
"Kamu tidak bersekolah?."
"Aku sendiri yang memilih untuk itu, tetapi sebelum menjadi seorang asisten, aku mendapatkan pengajaran yang begitu panjang."
"Belum ada apapun yang bisa kamu pelajari, umurmu masih kecil... dan masih banyak waktu untuk hal seperti itu."
"..."
"Kalau memang itu yang kamu inginkan... aku tidak akan mempertanyakannya kembali, karena aku tidak berhak mengurusi hidupmu bukan?."
"..."
Raut wajahnya langsung berubah, namun dia tetap mempertahankan sikapnya seperti biasa.
Dan setelah semua perbincangan ringan ini, aku langsung memikirkan masalah itu kembali kepadanya.
"Erlic... sepertinya... aku ingin mengikuti rencana yang sudah kamu katakan waktu itu."
"Apa kamu yakin?."
"Yah... aku sudah memikirkannya selama ini, dan aku pikir ada yang harus aku lakukan."
"..."
"Apa semuanya masih sempat?."
"Ya... masih ada banyak waktu untuk itu."
"Syukurlah."
"Tapi sebelum itu... sebaiknya kamu fokus untuk ujiannya... Karena hal itu masih lebih penting dari hal ini."
"Tapi... apa tidak apa apa?."
"Pernikahannya masih dilakukan jauh jauh hari setelah ujian, dan kita bisa segera melakukan rencana ini setelah ujian."
"Kalau kamu mengatakan seperti itu, baiklah.."
"Dan juga kamu harus tetap fokus dalam mengerjakannya, aku tidak mau hanya karena masalah ini, membuatmu mendapatkan nilai buruk."
"Sepertinya kamu sudah menjadi lebih perhatian."
"Benarkah?."
"Ya... Aku rasa seperti itu."
"Oh ya, apa kamu ingin makan? tapi maaf saja, disini hanya ada makanan instan."
"Ah tidak apa apa, sepertinya aku ingin pulang saja."
"Begitu ya..."
Mengobrol dengannya membuatku merasa lebih tenang dan lega... karena semua keresahan ini sudah selesai, dan aku hanya harus menunggu waktu dimana aku akan melakukan apa yang harus aku lakukan.
Dirasa diriku sudah membaik, aku pun berencana untuk pulang agar tidak mengganggunya bekerja.
"Kamu ingin diantar? aku bisa mengambil mobil terlebih dahulu."
"Tidak, aku baik baik sa- tunggu... kamu bisa mengendarai sebuah mobil?."
"Ya... seperti itu."
"Anak berumur lima belas tahun sepertimu seharusnya tidak diperbolehkan untuk mengendarai sebuah mobil."
"Hanya jika ada keadaan yang darurat ataupun memang penting, aku hanya menggunakan mobil disaat saat seperti itu."
"Terima kasih atas perhatianmu yang memberikan kepentingan tersebut untukku."
"Kamu ingin membantuku untuk menyelamatkan Tuan Azumi, maka aku harus menganggap dirimu penting."
"Seperti itu..."
"...."
"Kalau begitu aku pamit."
"Baiklah, semoga beruntung untuk ujiannya."
"Ya.."
Setelah itu pun aku langsung berjalan untuk kembali je stasiun untuk pulang, karena masalah awal sudah terselesaikan dengan baik, hanya saja aku masih belum yakin dengan pilihan ini..
Benar atau salah, mungkin hanya waktu esok yang bisa menjawabnya...
......................
*Klek!
Aku yang telah sampai didalam rumahku pun berencana untuk segers berisitirahat sebelum belajar... Namun saat aku melihat lampu ruang tamu yang menyala, hal itu membuatku merasa kebingungan.
Aku merasakan syok karena aku pernah melihat kejadian seperti ini baru saja pagi tadi didalam mimpiku... saat aku bertemu dengan Sakura...
Dengan langkah kaki yang begitu berat, aku berjalan untuk masuk kedalam ruangan.
"..."
Jantungku berdegup begitu kencang, karena aku mendengar suara kecil dari balik sofa...
Perlahan aku mendekati belakang sofa tersebut untuk melihat apa yang ada dibaliknya..
"..."
Semakin dekat aku semakin bisa melihat tubuhnya, hingga aku berusaha untuk melihat wajahnya..
Dan disaat aku memberanikan diri untuk melihat... aku pun langsung mendorong wajahku untuk melihatnya lebih jelas...