
"..."
"Apa ini?."
Aku mempertanyakan tentang apa yang mereka berdua lakukan, namun saat kita bertiga menghampiri tempat dimana mereka berdua katakan, ternyata mereka sengaja membuatku mendatangi mereka karena ingin bermain di pantai.
"Karena kita berada disini, bukan liburan namanya jika tidak bermain di pantai."
"Tapi kita sedang wisata sekolah..."
"Bukannya kunjungan kuil adalah yang terakhir? jadi mumpung sore ini sedikit hangat, bagaimana kalau kita makan daging panggang disana?."
Touya menunjuk sebuah restoran yang berada dipinggir laut yang cukup besar.
"Kelihatannya bagus.."
"Tapi Touya, bukannya kamu bersama Nami?."
"Oh orang itu... katanya dia dipanggil oleh kakaknya, jadi dia tidak ikut."
"Jadi hanya kita berempat?."
"Benar sekali, kalau begitu cepat, sebelum tempatnya penuh."
"Kenapa tiba-tiba sekali ingin memakan daging panggang dipinggir pantai saat sore hari..."
"Ah, kalimat itu terdengar bagus."
"..."
Dan kami berempat pun kini memutuskan untuk makan siang meskipun sudah agak telat karena sekarang sudah menunjukkan pukul 15.45 dan angin laut mulai berhembus dengan perlahan.
*Nittt!! Niitt!
Diperjalanan tiba-tiba suara dering telepon berbunyi yang berasal dari Yuuki.
"Maaf, aku ingin mengangkat telepon dulu."
"Oh, baiklah.."
Dia pun mengangkat teleponnya dan aku tidak bisa mendengar apa yang sedang ia katakan, namun aku bisa melihat raut wajahnya yang berubah drastis begitu murung.
Sakura yang juga menyadarinya pun langsung mempertanyakannya.
"Ada apa?."
"Maaf... sepertinya aku tidak bisa ikut dengan kalian... karena ada sedikit urusan."
"Kalau begitu, kita berkumpul kembali nanti ma-."
"Maaf... aku juga ingin memberitahu, kalau aku tidak bisa ikut wisata sekolah ini lagi, aku juga akan memberitahukan kepada pihak osis."
"Tunggu, kenapa??."
"..."
Yuuki tidak bisa memberitahukannya, karena dia memang tidak sanggup untuk mengatakannya...
Aku melihatnya dengan yakin, jika sesuatu terjadi padanya, dan dia tidak bisa mengatakan hal itu kepadaku dan juga Sakura.
"Kalau begitu baiklah... aku juga akan memberitahukan jika kamu ada urusan mendadak."
"Aoyama..."
Aku mengatakan hal yang menurutku hanya bisa dikatakan seperti itu... karena dia tidak akan mau membuka permasalahannya, maka dari itu kita hanya bisa membantunya keluar dari permasalahannya dari luar.
"..."
Aku berjalan mendekatinya, dan dia sedikitpun tidak berani untuk menatapku.
"Kalau kamu ingin seperti itu... berarti kamu sama saja seperti dulu... tidak mempercayaiku dan melanggar janjiku."
Aku bisa melihat benaknya yang langsung bergetar dan ekspresinya yang begitu dalam.
"..."
Dia pun pergi meninggalkan kami dan dia tetap bersikeras untuk tidak merubah sikapnya.
"Aoyama, apa yang kamu lakukan??."
Sakura yang tidak paham dengan apa yang lakukan langsung mempertanyakannya.
"Dia ingin pergi, kita tidak boleh memaksanya kan?."
"Tapi! kamu... dan aku juga..."
Touya yang tidak ingin ikut campur akan permasalahan ini hanya bisa diam dan tidak ingin berkata-kata.
"..."
Langit kini sudah berubah warna menjadi jingga oranye, dan angin sejuk yang berhembus dari arah laut pun mulai terasa sedikit kencang...
"Maaf... aku juga akan pergi..."
"..!!."
Disana aku langsung terkejut dengan apa yang dia katakan dan langsung melarangnya untuk pergi.
"Apa yang ingin kamu lakukan?!."
"Aku ingin menemaninya.."
"Kamu harus mengerti! dia sendiri tidak ingin melibatkan kita dalam masalahnya!."
"..."
"Kamu harus lebih mengerti tentang perasaannya... Ao."
"..."
Dia pun juga pergi dari wisata sekolah ini untuk mengejar Yuuki... aku tidak tahu apa yang salah denganku, namun pilihanku ini tidak ada yang salah... karena dia benar-benar tidak ingin membuatku ikut campur dengan masalahnya.
"Aku memang tidak ada hubungannya dengan masalah yang kalian alami... tapi aku pun paham dengan apa yang sedang kau pikirkan..."
"..."
"Sepertinya kita tidak jadi pergi makan... kau ingin apa sekarang."
"Maaf... aku ingin kembali ke penginapan saja."
"Baiklah, kalau begitu aku juga."
Sudah tidak ada nafsu untuk makan dan sekarang pikiranku hanya dipenuhi oleh banyaknya pertanyaan tentang diriku, dirinya dan dia...
......................
"Yuuki dan Sakura? kamu tidak tahu? mereka beberapa waktu yang lalu izin untuk pergi pulang.."
"Begitu ya.."
Saat aku mengecek ketempat penginapan perempuan, ternyata benar... mereka benar-benar pulang dan Sakura pun menemani Yuuki.
Kini yang aku rasakan hanyalah sebuah rasa bimbang dan merasa bersalah... namun aku tidak tahu dimana letak kesalahan terbesarku...
"Aoyama.."
"Kuchima.."
"Ternyata kamu ada disini, dari beberapa waktu yang lalu aku mencari kamu."
"..."
"Kamu sudah tahu... tentang mereka berdua."
"Begitulah."
"Siapa sangka, keluarga besar Sakamura datang menjemputnya."
"Eh? tunggu! apa maksudnya?."
"Kamu belum tahu?? situasi tadi sempat ramai karena kepala keluarga Sakamura datang untuk menjemput Yuuki."
"L-Lalu?."
"Saat itu aku memanggil Nami, namun Nami sedang tidak bersama Yuuki, jadi aku meneleponnya."
"( Saat itu, Yuuki mengangkat teleponnya yang berdering..)"
"Dan saat Yuuki datang, dia meminta izin dariku dan dia masuk kedalam mobilnya bersama dengan mereka, namun sebelum itu, Sakura juga ikut bersama mereka."
"..."
"Awalnya Yuuki menolaknya, namun karena Sakura bisa berbicara dengan kepala keluarga Sakamura dengan baik, jadi dia pun pergi bersamanya."
"Sakamura..."
"Maaf, aku sempat berpikir untuk tidak memperbolehkannya... namun kata-kata beliau sangat jelas dan memang seperti memiliki urusan penting dengan Yuuki, jadi aku tidak bisa menahannya."
"Tidak apa-apa... lagipula memang seharusnya seperti itu."
"Apa maksudmu?."
"Dari awal memang dia sendiri yang menginginkannya... aku pun juga tidak bisa membantunya sekarang.."
"Kenapa sekarang kamu menjadi lebih tidak percaya dengan dirimu?."
"..."
"Bukannya kamu itu pengawalnya? jadi kamu harus memahami setiap apa yang dia rasakan."
"Bagaimana..."
"Touya menceritakan semuanya padaku... maaf aku ikut campur dengan masalahmu, tapi semenjak beberapa hari yang lalu itu, aku menjadi penasaran dan mempertanyakan hal ini pada Touya... tentangmu, dan juga hubungan keluarga besar Shiraishi."
"..."
"Aoyama, sekarang kamu bukanlah seorang penyendiri yang hanya mengurus dirimu sendiri saja... kita semua pun bisa membutuhkan seseorang sepertimu... seperti tahun lalu saat kamu menyelamatkan adikku, lalu banyak hal yang telah kamu lakukan... kini kamu tidaklah sendiri."
Aku sedikit tersadarkan saat Kuchima memberikan sebuah kata-kata yang terdengar begitu nyata pada diriku.
"Saat ini ada seseorang yang juga sedang membutuhkanmu... maka lakukanlah apa yang biasanya kamu lakukan."
"..."
"Jangan kehilangan jati dirimu.."
Benar... meskipun ingatanku sudah kembali sepenuhnya... tetapi aku tetap menjalani hidupku yang telah berjalan meninggalkan kenangan lama, namun semua itu sekarang sudah menjadi satu tanpa ada yang terpecah belah lagi..
Aku pernah mengatakannya sendiri... diriku ini hanyalah diriku, dan diriku tidak akan menjadi diri yang lain..
Meski sebuah ingatan yang seharusnya menjadikannya kembali menjadi diriku yang dulu... namun ingatan yang sekarang pun tidak terlalu buruk...
"Aku mencarimu karena ada seseorang yang ingin bertemu denganmu."
"..."