
*Bummm!!!
"Aku bukanlah orang yang meninggalkan seseorang hanya demi diriku sendiri!."
"Aoyama..."
"Siapa bocah satu ini? darimana dia datang?."
"Kau yang mengatakannya... kau yang berpikir seperti itu... kau yang menyalahkannya..."
"..."
"Apakah aku pernah mengatakan satu hal pun masalahku padamu?."
"Kenapa dia malah mengoceh, kalian hajar dia!."
Tiga orang dari mereka berlari kearahku, satu persatu datang menyerangku.
"Kau akan merasakan hal yang sama dengan bocah itu!."
"Jangan menggangguku.."
*Bukk!
Aku yang berdiri diatas tumpukan tong itu langsung melompat dan menendang salah satu kepala dari ketiga orang itu hingga tidak sadarkan diri.
"Dasar bocah kurang aja!." Beberapa orang kini mulai maju.
Dia mengayunkan tongkat bisbol kearahku.
*Buk!
Tapi aku menahannya dengan lenganku, hingga rasanya tulangku hampir retak.
"Tck!." Aku meninju Wajahnya tepat pada hidungnya.
"Arghh!."
Satu lagi menendang bahuku hingga aku terdorong dan dia langsung mengayunkan batang kayu padaku.
Aku langsung menghindari serangannya dan langsung menyerang celahnya pada bagian samping perutnya.
"Ugh! aku kesulitan bernafas!."
Lalu aku mendekati Senki untuk menolongnya.
"Tidak ada waktu untuk berdebat... kuharap kau masih bisa bergerak." Aku mengulurkan tanganku padanya.
"Uhuk! aku tidak lumpuh.." Lalu dia memegang tanganku untuk berdiri.
"Memangnya kalian berdua bisa apa? apa aku hanya mempunyai anak buah yang sedikit? lihatlah!."
Hampir lebih dari sepuluh orang datang dari pintu belakang dengan wajah wajah menyeramkan mereka.
"Kita tidak bisa kabur kan?."
"Menurutmu?."
"Aku seperti mengulangi kejadian yang sama seperti dulu... tapi mungkin ini akhirnya."
"Kau ingin mati tanpa bisa melihatnya?."
"Memangnya aku punya kesempatan untuk melihatnya?."
"Entahlah."
"Haha... aku masih merasa sebal melihat tingkah lakumu yang cuek."
"Aku sudah terbiasa dengan itu."
"Apa kalian sudah selesai berbicara?! kalau begitu, kalian akan mati disini!!."
Kami berdua dikelilingi oleh beberapa orang dengan senjata tumpul ditangan mereka.
"Aoyama.' Dia memberikan tanda padaku.
"Ya." Aku mengangguk memahami maksudnya.
Sebuah kesadaran bagiku saat melihat dari mataku sendiri langsung padanya...
Dia tidaklah berubah... dia hanya tidak bisa melihat kesalahan pada dirinya...
Tidak ada seseorang yang bisa merubahnya, dan sendirian melihat dunia selama ini...
Selama ini aku tidak menyadarinya, dan hanya bisa menyalahkan sebuah permasalahan yang entah siapa yang harus mempertanggung jawabkan kesalahannya.
.
.
"Aku... masih saja terlihat pengecut... aku sudah melakukan hal yang ilegal untuk mendapatkan sertifikat beasiswa itu untuk hadiahnya... bodoh sekali."
"untuk kali ini aku tidak akan menyangkalnya... tapi aku percaya kau bertujuan baik untuknya... aku juga minta maaf atas semuanya."
"Hentikanlah... aku sudah melupakan semuanya..." dia berdiri dan meregangkan badannya.
"..."
"Baiklah, aku akan pergi... aku tidak akan melakukan hal bodoh lagi.. dan juga..."
"..."
"Seharusnya kau bisa menjaganya untukku..."
Dia menepuk pundakku dengan senyuman perpisahan.
"Kau tidak ingin bertemu dengannya?."
"Tidak perlu... aku tidak bisa menunjukkan wajahku padanya... aku tidak pantas..."
"..."
"Sakura pasti tidak akan mementingkan hal itu... hanya ingin kau bersama kita kembali."
"Aku tidak bisa... Dari awal kau sudah mengetahuinya, kalau aku... tidak bisa lagi bersama dengan kalian."
"..."
"Semuanya sudah berubah, maka dari itu kita juga harus berkembang, kau melakukan apa yang telah kau lakukan, dan aku memperbaiki apa yang telah aku lakukan..."
"Kita bisa melakukannya bersama."
Dia hanya menggelengkan kepalanya dalam diam, seakan tidak ada yang bisa ia katakan lagi untuk menyangkal hal itu.
"Jadi... kau akan pergi."
"Mungkin kita bisa bertemu kembali, didalam dunia yang sempit ini."
"..."
"Baiklah, sampai bertemu kembali... Aoyama."
"Senki... jangan bertemu denganku saat kita masih menyukai orang yang sama.."
"..."
"Aku akan mengingatnya... pasti."
Kejadian yang berulang-ulang, dan perpisahan yang kembali datang...
Andai saja kita bisa kembali bersama-sama seperti dulu... namun dirinya tidak ingin kembali merasakan rasa bersalahnya ketika melihatku dengannya...
Sampai kapanpun, dan bagaimanapun... tidak ada yang bisa kita berdua lupakan... yaitu perasaan yang telah tersimpan begitu dalam.
......................
*Niitt Niittt
Suara alat medis yang berada disebelahnya mengisi kesunyian didalam ruangan ini...
Aku dan Kak Danki berdiri tepat didekatnya... saat ini, dia sedang memperjuangkan hidupnya selama ini.
"Senki... kamu mengatakan padaku sendiri... kalau kamu akan mengingatnya."
"..."
"Semua janji yang telah kita buat sedari dulu... kamu sudah memegangnya sampai saat ini... hingga aku tidak tahu apa kamu telah melakukannya atau tidak."
"Bagaimana caranya agar aku bisa mengetahuinya... jika kamu seperti ini."
"..."
"Dan bagaimana caranya... aku bisa memberitahukan kepadamu... tentang Sakura."
Apa yang telah aku lakukan selama ini... membuatnya bahagia? menemani hidupnya? menjaga dirinya? apa semua itu setara dengan apa yang telah Senki lakukan untuknya.
Selama ini apa aku hanya memikirkan diriku?.
Apa seharusnya aku tidak merubah diriku sejak awal?.
Seharusnya aku tidak bertemu dengan mereka semua dari awal...?.
Atau... seharusnya aku tidak selamat saat kecelakaan itu...
"Memangnya... apa yang kau rasakan selama ini!!??."
"..."
"Bagaimana bisa... pikiran seperti itu ada didalam kepalamu..."
"Kenyataannya memang seperti itu... takdir yang aku jalani ini hanyalah sebuah kesalahan..."
"Jadi... Apa sedari awal... kau hanya membohongi diriku... apa kau benar-benar orang seperti itu? Aoyama!!."
Dia mendorongku hingga aku terjatuh dan terhantam ke dinding ruangan...
"..."
"Apa yang kau lakukan..."
"Seharusnya kau mengerti... namun kau berkata seperti itu, seolah kau tidak pernah mengerti..."
*Aku ingin mengerti...
Aku ingin dimengerti...
.
.
"Aoyama... apa kau pikir, dengan menyalahkan takdirmu sendiri, itu akan membuat mereka senang?."
"..."
"Jika kau menyesali semua hal yang telah kau lewati... tidak hanya aku... Nami, Kuchima, Mai, Yuuki dan juga Sakura, atau mungkin lebih banyak lagi orang yang mengisi waktu bersamamu... mereka tidak akan senang mendengar itu, bodoh*!!."
*Benar...
Aku tidak ingin menyesalinya lagi*...
"Senki... dulu kehidupanku hanyalah kehampaan yang begitu sunyi, hingga aku berpikir ingin mengakhiri hidupku.."
"Sampai saat itu, kau mendatangiku... dan kalian mengubah hidupku seketika."
"Maaf kalau aku bersikap dingin dan cuek kepada kalian... sejujurnya, aku sama sekali tidak beranggapan negatif kepadamu."
"..."
"Hingga saat itu, aku merasa begitu jatuh dan tidak bisa bangkit kembali... sekilas aku merasa iri denganmu."
"Namun selama kehidupan yang telah aku jalani sejak dia menolak dan meninggalkanku... meninggalkan kita."
"Aku bertemu dengan banyak orang... mengisi keseharian yang... menyenangkan."
"Awalnya aku merasa terganggu, namun adanya mereka didalam kehidupanku... mengisi gelapnya hatiku, dan mewarnai hidupku."
"Sama seperti aku bertemu denganmu dulu... lagi lagi aku ditolong oleh orang lain."
"Kamu benar... aku seorang pengecut... aku tidak bisa melakukan apa-apa... hanya mengikuti alur yang Tuhan buat untukku, dan menikmatinya."
"Jujur saja, semua itu sangat menyenangkan... aku ingin kamu juga bisa merasakannya... tidak ada pertemanan yang merusak hidupmu."
*Niitt Niitt
"Jika kamu bisa melewati semua ini... andai saja.."
"Aku ingin kamu melihat dunia ini, dengan caraku melihat mereka... kamu bisa bahagia, kita bisa bahagia... tanpa ada yang tersakiti."
"..."
Aku benar-benar mengatakan apa yang ingin kukatakan... semua itu keluar dengan sendirinya.
"..."
Andai saja dia bisa mendengarnya...
"..."
*Niitt Niitt Niitt!
".!!."
"Aoyama! tangannya..."
"..."
Apa yang kulihat benar-benar nyata...
"Senki... Senki!."
"..."
Tangannya yang kaku dan pucat, jari-jarinya bergerak satu persatu... nafasnya terdengar mengisi seluruh ruangan.
Apakah harapan benar-benar nyata...
"Ao...yama."