
Sebuah hari yang baru kini mulai mendatangi diriku...
Mungkin kehidupanku kini semakin meningkat dan mulai memiliki perkembangan dalam masa remaja diriku ini.
"Hooaamm..."
"Kamu mengantuk?."
"Um... sepertinya... begitu."
"Mungkin karena kamu kelelahan? apa rapat nanti aku yang menggantikan kamu saja?."
"T-Tidak perlu... justru aku tidak ingin merepotkanmu."
"Tapi aku khawatir karena kamu juga sudah kelelahan dari kemarin... dan juga jalan-jalan bersama gadis lain."
"K-Kau masih memikirkan soal itu?."
"Aku hanya bercanda... lagipula untuk apa aku cemburu... kalau aku sudah memiliki kamu dengan status yang tetap.."
"Baiklah baiklah, sekarang kau sudah senang?."
"Mungkin jika ada kata yang bisa mengutarakannya... itu bisa melebihi dari kata senang."
"Tidak perlu sebuah perkataan juga... aku sudah bisa melihatnya."
"Hm? kamu sudah merasa kalau aku sangat mencintaimu?."
"Jadi kau tidak mencintaiku?."
"A-Aku tidak mengatakan seperti itu!."
"Lalu?."
"Cinta..."
"Aku tidak mendengarnya..."
"A-Aku... sangat... mencintaimu."
Padahal aku berencana untuk mengerjainya, tapi justru aku yang merasa hatiku begitu terguncang akibat melihat wajahnya yang sedang malu sangatlah imut.
"U-Um..."
"Kenapa kamu hanya merespon seperti itu! jadinya disini aku yang hanya mencintaimu!."
"T-Tapi..."
"Aku tidak mau dengar kecuali balasan dari perkataanku."
"..."
"..."
"Baiklah... aku juga sangat... mencintaimu."
Seperti sepasang kekasih yang berjalan bersama dengan auranya yang bisa dirasakan oleh orang sekitar...
Wajahnya yang memerah saat aku membalas perasaannya, membuatku ikut merasa malu karena berada ditempat umum.
Lalu kita berdua berangkat kesekolah dengan sangat dekat, hingga sepanjang perjalanan, dia tidak pernah ingin melepas tanganku...
"Kau memang sangat menyukai tanganku?."
"Um!."
"Tapi aku sempat memikirkan hal ini... apa kau ingin memberitahu hubungan kita kepada yang lain?."
"Bagaimana menurut kamu?."
"Aku tidak masalah dengan hal itu... hanya saja rasanya cukup merepotkan jika mereka tahu akan hal dadakan seperti ini..."
"Benar juga sih... kalau begitu hanya disekolah kita menahan perasaan kita... bagaimana?."
"Kau yakin?."
"Memangnya kenapa?."
"Aku takut kau tidak bisa menahan rindu denganku."
"Hm... sepertinya benar... tapi setelah itu, aku bisa melakukan sebebasnya untuk melepas rindu padamu."
"A-Ampuni aku.."
"Tetapi sepertinya kita memang harus menyembunyikannya pada yang lain ya."
"Kalau kau inginnya seperti itu, aku tidak akan protes."
"Um.."
Lalu kita sepakat untuk menyembunyikan sebuah ikatan yang telah terikat satu sama lain ini kepada yang lain... biar hanya kita berdua yang tahu... betapa besarnya ikatan ini...
Kini hidupku telah lebih berubah...
Entah mengapa semua ini terjadi begitu saja saat kami saling menghubungkan perasaan kami satu sama lain...
Sekarang aku bukanlah seorang remaja perjaka yang memiliki masa lalu yang buruk setelah mendapatkan tolakan darinya beberapa tahun yang lalu...
Karena aku sudah mendapatkan hatinya yang selama ini masih aku simpan dan tidak bisa dibuang begitu saja...
Aku begitu senang, karena tidak ada yang lebih menyenangkan selain bersamanya...
Perempuan cantik dan imut dengan sikapnya yang terkadang terlihat tegas dan polos, dibaliknya dia adalah seseorang yang memiliki perasaan yang sangat dalam dan ingin dimanjakan...
"Sakura, maaf! beberapa hari ini aku sedang sibuk dengan urusan keluargaku... jadi aku tidak bisa menemanimu beberapa hari yang lalu."
"Tidak apa-apa kok... lagipula urusan keluargamu lebih penting bukan?."
"Y-Ya... seperti itu..."
"Apa ada sesuatu yang terjadi?."
"Tidak kok... hanya saja... pertemuan pribadi antar kepala keluarga dan anaknya."
"Jika ada apa-apa... jangan sungkan untuk mengatakan kepadaku... dan juga ada Aoyama yang bisa membantumu bukan?."
"Hm?."
"Menurutmu... apa Aoyama masih merasa terpuruk atas kejadian beberapa hari yang lalu?."
"..."
"Jika begitu, aku tidak ingin membuatnya merasa terganggu karena masalahku... jadi, tolong jangan beritahu kepada Aoyama tentang apapun ya?."
Pinta Yuuki kepada Sakura yang sekiranya bisa membantu Yuuki untuk membuatku tidak merasa memiliki tanggung jawan kepadanya.
"Kamu jangan khawatir... aku yakin... Aoyama tidak akan melepaskan tanggung jawabnya kepadamu... bukannya dia sudah berjanji untuk terus melindungimu?."
"Um..."
"Kalau begitu kamu bisa tenang."
Yuuki merasa begitu lega dan senang, saat Sakura mengatakan hal itu kepadanya...
Tetapi di sisi lain, mungkin menurutnya lebih sulit untuk mengatakannya kepadaku... karena cintaku telah dia miliki untuknya sekarang..
.
.
"Aoyama, apa kau sudah mengecek busana acaranya?."
"Sudah... aku pun sudah mengirimnya kepada ketua OSIS kemarin."
"Cepat sekali ya... kalau soal dengan gadis."
"Apa yang kau katakan? aku melakukannya agar bisa lebih cepat selesai..."
"Tapi aku merasa kau sangat dekat dengan orang itu."
"Mungkin karena dia juga menyukai novel yang kebetulan aku juga menyukainya."
"Enak sekali ya... bisa menemukan seseorang yang memiliki hobi yang sama."
"Justru aku hanya menganggapnya sebagai seseorang yang akrab dalam hal itu, tidak lebih."
"Eh~ aku semakin tidak yakin..."
"Kenapa kau memojokkan diriku seperti ini?."
"Habisnya... hari ini setelah pergi bersamanya kemarin... kau terlihat lebih bersinar dan tidak terlihat sangat buruk."
"Mungkin hanya perasaanmu saja.."
benar... hari ini diriku begitu senang hingga mungkin aku tidak bisa mempertahankan wajahku yang datar ini...
......................
"Aku... hampir saja ketahuan oleh Touya... ternyata kacamata bukan sembarang kacamata.."
Dia tertawa kecil sambil menggenggam tanganku dengan lembut.
"Dia bukanlah teman yang biasa... seharusnya kamu lebih bersyukur karena mempunyai seorang teman sepertinya bukan?."
"Yah... setiap aku tidak bisa melakukan apa yang seharusnya aku lakukan... dia langsung menggantikan diriku tanpa mengatakannya kepadaku."
"Jadi, setelah pulang sekolah... kamu masih mengadakan rapat acara?."
"Ya.. sekarang hanya tinggal dua hari lagi menuju acaranya... mungkin nanti akan menjadi semakin sibuk."
"Begitu ya..."
"Meskipun begitu, aku akan berusaha meluangkan waktuku untukmu."
"T-Tidak apa apa kok... takutnya justru kamu yang terlalu kelelahan."
"Aku tidak akan pernah lelah... jika bisa senantiasa melihatmu."
"Duh, jangan menggodaku terus!."
Lalu kita berdua terbawa oleh perasaan dengan ditempat taman yang begitu sunyi, kita saling memberikan cinta kita yang masih baru ini...
"O-Orang lain bisa melihat kita..."
"Tidak akan."
"Duhh... mmhh!.'
Aku menyentuh bibirnya yang begitu lembut dan hangat... sekali, dua kali, hingga entah berapa kali aku merasakannya...
"Ao..."
Wajahnya sampai berubah begitu merah dan nafasnya semakin berat.
"Mmph!! haahh!."
Setelah itu dia memelukku dengan lemas saat sudah melakukan hal itu.
"Setidaknya tunggi saat sudah dirumah.."
"Tapi, bukannya Yuuki sudah selesai mengurus keluarganya?."
"Kalau itu, aku akan mencari cara agar bisa menemui kamu."
"Baiklah... aku akan menunggu sedikit sa-mmhh."
Tiba tiba dia langsung membalas perbuatan yang aku lakukan tadi.
"..."
"Lagi..."
"Mmhh!."
Kami melakukannya berkali-kali karena tidak bisa menahan perasaan yang meluap-luap itu...
Pikiranku menjadi lebih ringan saat dia memberikan cintanya kepadaku langsung dengan sebuah ciuman...