
"Hahaha! anda bisa saja, lagipula kita blablabla."
"Jangan seperti itu, semuanya hanya menjadi blabla."
Kuchima berjalan melewati beberapa orang orang penting yang sedang sibuk sibuknya mengobrol satu sama lain, dan tujuannya sekarang hanya untuk mendekati meja yang berada di depan sana.
"Hei, anda terlihat buru buru seperti itu, mau kemana?." Salah satu dari mereka mencegatnya dan terlihat dia sudah sedikit mabuk karena terlalu banyak minum.
"M-Maaf, saya hanya sedang ingin kebelakang."
"Ehh, jangan sungkan seperti itu, ayo minum dengan kami."
"Hei bodoh, lihat dia, dia terlihat masih muda... maafkan teman saya, dia kalau sudah mabuk memang sedikit sulit dikendalikan haha."
"B-Baik haha."
"Anda ingin pergi kemana?."
"Saya hanya ingin... bertemu dengan kenalan saya, tapi sulit mencarinya di sekitar sini."
"Begitu ya, saya bisa membantu anda."
"T-Tidak perlu, tapi saya berterimakasih atas kebaikan anda."
"Anda terlihat masih muda, jangan terlalu terhasut dengan ajakan orang orang disini ya."
"Y-Ya... terima kasih atas pengertian anda."
Begitu banyak orang yang mencegat dirinya, meskipun semua itu masih bisa diatasi... semakin dekat dengan meja itu dia semakin sulit untuk mencari alasan kembali jika ada orang yang berbicara dengannya.
Namun dia harus melakukannya secepat mungkin dan kembali menemui Celestia yang sedang menahan kepala keluarga Sakamura disana.
Hingga dia sudah sangat dekat dengan meja besar tersebut dan berhenti tepat didekatnya.
Sambil mencari cara untuk menyamar dalam kerumunan, dia sengaja mengambil secangkir sirup diatas meja perjamuan dan berdiri didekat meja milik Sakamura dan berpura-pura sedang minum bersantai disana.
Sedangkan matanya sibuk melihat satu persatu kertas yang berhubungan dengan informasi terkait masalah yang aku butuhkan.
Matanya yang berkeliaran mencari sebuah petunjuk, dan akhirnya dia melihat sebuah kertas yang menarik perhatiannya.
Dan tidak salah lagi, itu adalah sebuah kembar kertas bukti kerja sama dari perusahaan Adam dan keluarga Sakamura, lalu terdapat sebuah kertas yang menempel dibelakangnya... yaitu sebuah perjanjian yang sudah tertulis atas nama keluarga Shiraishi beserta Sakamura dan perusahaan Adam menjadi penanggung jawabnya.
Lembaran itu benar-benar sebuah petunjuk informasi yang sangat tepat, dan sekarang Kuchima harus memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa mengambil kertas tersebut dengan diam diam.
Dirinya melihat sekitar dan memang semuanya disibukkan oleh kesibukan mereka masing-masing, namun Kuchima tidak ingin mengambil resiko untuk bergerak mengambil kertas itu begitu saja.
Yang ada didalam pikirannya yaitu dia harus mendapatkan sebuah tawanan sebagai penutup pergerakannya seperti pengalihan yang lebih besar dari obrolan obrolan mereka semua.
Dan disaat itulah dia mulai memakai sebuah masker dan topinya, untuk menyamar karena dirinya sudah begitu banyak berbicara dengan orang orang, dan jika ketahuan, maka akan menjadi masalah pada Celestia.
Tidak lupa dia memakai kacamata putih dan benar benar tersamarkan dengan sangat baik, karena banyak orang orang di sekitarnya yang memakai sebuah kacamata, topi meskipun hanya beberapa orang yang memakai masker untuk beberapa hal kondisi.
Lalu disana lah Kuchima memulai pergerakannya, yaitu menumpahkan sirup yang ia pegang ke awah lantai yang cukup jauh dari nya dan meletakkan gelas tersebut di tempat lain.
Sambil menunggu dia bersiap untuk mendekati kertas yang berada diatas meja milik Sakamura.
*Bruk!
"Ada apa itu?."
"Dia terjatuh terpeleset."
"Apa dia sedang mabuk?."
"Hahaha ada ada saja."
"..."
Semua pandangan jauh dari dirinya yang kini sedang meraih beberapa lembar kertas yang saling tertempel, dan bergegas untuk memasukkan kedalam jas hitamnya dengan rapih.
Semua masih begitu ramai dan Kuchima kira semua ini akan berhasil dengan begitu lancar.
"Apa yang anda lakukan?."
"..!!."
Sebuah tangan yang menepuk pundaknya dari belakang sungguh membuat diri ya sangat terkejut sampai terdiam.
Dia pun berbalik dengan berusaha untuk bersikap cukup normal, dan menghadapi orang yang menepuk pundaknya.
"Ahahah, saya tersesat ditengah acara yang besar ini, sangat besar.. ( Aku harus berpura-pura untuk mabuk..)"
Sebuah keajaiban karena diatas meja tersebut juga ada sebuah gelas kecil khusus wine dan Kuchima langsung mengambilnya seakan dia habis meminum segelas wine.
"Hei, apa anda sedang mabuk?."
Dia melihat Kuchima yang begitu sempoyongan dan matanya berkedip-kedip seperti benar-benar tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.
"Benarkah? seperti nya... tidak, atau iya, saya sudah tidak tahu lagi."
"Huh, siapa yang memberikan seorang anak muda ini segelas wine, benar benar saja."
"Tuan Adam, ada apa?."
"( Tuan... Adam?!!.)"
"Ini... kelihatannya seorang anak muda sedang mabuk, pasti mereka memaksanya untuk minum."
"..."
"Berikan dia air putih di belakang dan tanyakan kepadanya, siapa tahu dia bersama dengan orang tuanya atau walinya."
"Baik tuan."
Kuchima yang sedang mempertahankan aktingnya sebagai seorang pemabuk, dirinya juga begitu gemetar karena ternyata dia sedang menghadap dengan seorang musuh sebenarnya rencana dari masalah yang sedang dia lakukan... seorang pemilik perusahaan Adam.
Salah satu bawahannya pun membawanya pergi kebelakang untuk mengambil air putih, dan memberikan kepada Kuchima.
.
.
.
"Ahh... rasanya lebih baik."
"Anda, datang bersama siapa nak?."
"Saya? saya datang bersama kedua orang tua saya dan diundang kesini... namun saya terpisah saat ayah saya sedang mengobrol dengan teman-teman mereka."
"Sebaiknya anda kembali kepada orang tua anda, saya akan membawa anda untuk kesa-."
*Buk!
Tiba tiba Kuchima memukul belakang leher orang itu sampai jatuh pingsan, dan Kuchima langsung melihat ke sekitar tempat yang untungnya sangat sepi.
Dia menarik orang yang pingsan tersebut ke dalam tempat penyimpanan makanan lalu segera pergi dari sana untuk mencari Celestia.
......................
"Ini adalah tempat penyimpanan segala penghargaan keluargaku."
"Banyak sekali... anda memang sangat patut mendapatkan semua penghargaan seperti ini."
"Semua ini didapatkan dengan penuh kerja keras, saya sangat mengesankan semua ini."
"Saya tahu anda sangat berwibawa dan begitu berbakat, saya yakin, anda akan mendapatkan banyak penghargaan lagi."
"Bagaimana jika saya memberikan sebagian dari penghargaan ini... kepadamu?."
"Eh?."
"Benar... kamu bisa menikmati semua kekayaan milikku."
"K-Kalau itu, saya tidak bisa."
"Kamu terlihat sangat cantik, sebagai seorang model... sangat disayangkan kalau dirimu tidak bisa memilih sebuah masa depan yang lebih baik."
"..."
"T-Tapi, saya ingin berkeliling dan melihat tempat ini terlebih dahulu, saya sangat berkesan dengan apa yang anda suguhkan disini."
"Benarkah? masih ada banyak hal yang saya ingin tunjukkan kepada anda disini." Tanpa basa basi dia langsung menegang tangan Celestia sampai membuatnya sedikit terkejut dan reflek menarik tangannya kembali.
"Ada apa?."
"T-Tidak... saya hanya terkejut."
"Tidak apa apa, saya tidak akan melukai diri kamu sedikitpun..."
"..."
Tangannya mulai meraih lengan Celestia hingga kedua tangannya sudah menggenggam puncak dari pundaknya.
"M-Maaf, saya..."
"Tenang saja... tidak ada yang datang kesini, karena tempat ini sudah dijaga oleh bawahan saya."
Dia mulai memberanikan diri untuk mendekatkan wajahnya kepada Celestia, namun Celestia benar benar berusaha untuk menjauhkan wajahnya kepadanya.
"( Tidak... Aku tidak bisa mempertahankan lebih lama lagi...)"
Celestia yang begitu panik karena dirinya sudah bisa mendengar hembusan nafas orang itu karena saking dekatnya pipinya dengan wajah orang itu.
"( Kuchima... tolong aku!..)."
"Nona Celestia."
"..!!."
Mereka berdua langsung terkejut dan berpisah sedikit jauh setelah mendengar seseorang berbicara memanggil Celestia.
Dan orang itu muncul dari balik lorong dan membuat hati Celestia benar-benar sangat lega.
"Ternyata anda disini, acaranya sudah ingin dimulai, dan banyak yang mencari keberadaan anda, nona Celestia."
"..."
"B-Benarkah, maaf tuan Sakamura... sepertinya... saya harus mengikuti acaranya kembali."
"T-Tidak apa apa, tetapi... saya masih menunggu keputusan darimu."
Sebelum pergi, Celestia menunduk menghormati orang yang seharusnya tidak pantas untuk dihormati, dan pergi bersama Kuchima yang telah menyelamatkan dirinya di akhir akhir waktu.
Di sepanjang perjalanan Celestia nampak gemetaran, sampai Kuchima menyadari hal itu.
"Kamu tidak apa apa?."
"Tidak... kamu datang di waktu yang tepat, terima kasih."
"Maaf, karena aku mengorbankan dirimu."
"Tidak apa apa... dan juga, bagaimana?."
"Semuanya sudah sele-."
*Ting! Ting! Ting!
Suara alarm yang tiba tiba berbunyi di seluruh ruangan didalam mansion ini memenuhi setiap lorong.
"Sepertinya... semuanya sudah menyadarinya."
"Alarm ini... jangan jangan kamu."
"Semua akan baik baik saja... ikuti perkataanku dan kita akan selamat keluar dari tempat ini."
"..."
"Baiklah."